POV Alexander Smith
Pagi ini aku bangun dengan suasana hati yang sangat damai. Suara azan disubuh hari yang masih dingin menggigit ini membangunkanku untuk beribadah. Ya, aku mulai ritual ibadah orang muslim sejak hari ini. Dari pelajaran yang aku dapat dari Pasha aku mulai bersuci dan mandi kemudian memakai pakaian terbaikku yang suci dan bersih. Meskipun aku belumlah suci betul karena aku belum dikhitan tetapi aku ingin memulainya subuh ini. Aku ingin meminta ampun kepada Tuhan penguasa jagat atas segala dosa dan khilafku selama ini.
"Daddy?" panggil Nikita yang juga ikut terbangun. Ia rupanya sudah lama mencari ku sejak ia bangun. Ia membawa kursi rodanya sendiri yang sudah terpasang tombol otomatis agar ia bisa mengoperasikannya sendiri jika membutuhkan sesuatu.
Gadis kecilku itu menghampiriku yang sedang sujud panjang merenungi segala kesalahanku selama ini. Puluhan tahun adalah waktu yang cukup lama yang aku habiskan dalam dunia hitam dan kemaksiatan.
"Daddy." Kudengar Nikita memanggil namaku. Aku bangun dari sujudku dengan air mata yang membasahi pipiku.
"Daddy menangis?" tanyanya sembari menghapus air mata yang tergenang dipipiku dengan jari-jari kecilnya. Aku memeluknya erat. Hatiku semakin menghangat melihat pandangan matanya yang hitam pekat itu. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat serta rambutnya yang pirang.
"Paula." tak sadar aku memanggil nama mamanya. ada rasa rindu dan sesal kembali menghantam sudut hatiku.
"Maafkan aku sayang." ujarku lagi dengan mempererat pelukanku pada putri kecilku Nikita.
"Daddy lepaskan aku." jerit Nikita yang merasa sesak dengan pelukanku.
"Oh, maafkan Daddy nak." ujarku kemudian mencium pipinya lembut.
"Kenapa kamu bangun cepat sekali. Ini masih sangat pagi sayang." aku rapikan rambutnya yang panjang ke belakang telinganya.
"Daddy, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nikita penasaran dengan posisi dudukku sekarang Yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Daddy sedang berdoa sama Tuhan, supaya ia memaafkan kesalahan Daddy." jawabku sambil tersenyum.
"Memangnya Daddy salah apa?" tanyanya lagi polos kemudian menguap karena rasa kantuk yang kembali menyerangnya.
"Karena Daddy dulu sangat nakal." jawabku singkat. Aku mulai berdiri dari dudukku dan mengantar Nikita kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Ia harus banyak istrirahat karena siang ini kami akan ke kota untuk bertemu dokter bedah. Aku yang akan dikhitan dan Nikita akan melanjutkan pemeriksaan keretakan kakinya.
Setelah Nikita kembali tertidur aku kembali ke ruangan yang tadi tempatku bersujud dan berdoa. Aku membereskan semua yang ada di ruangan itu sambil berdoa semoga hari ini segala urusan kami dimudahkan oleh sang Penguasa jagat.
Aku membangunkan Albert dan Maksim setelah aku menyiapkan sarapan di dapur.
Beef stroganof, yang sudah aku masak pagi ini, kuliner khas Rusia. Makanan khas negara ini merupakan sajian dari daging sapi. Citarasa yang didapat ketika menikmati stroganof adalah citarasa yang gurih, asin, pedas, dan sedikit asam. Yup, rasa asam didapatkan dari penggunaan saus khas Rusia yaitu smetan yang bercitarasa asam.
Daging sapi yang telah disiapkan kemudian ditumis bersama saus smetan, paprika, bawang Bombay, dan bubuk oregano.
Striganoff tidak hanya dapat dimasak dengan daging sapi, namun jika tidak ada daging sapi, daging ayam juga boleh.
Albert dan Maksim muncul di dapur dengan mengenduskan hidung mereka setelah mencium aroma masakan yang telah aku buat.
"Mmm Yummmy, aromanya menggugah selera." ujar Albert dengan wajah cerah. Kulihat ia langsung menarik kursi untuk duduk. Ia segera meraih piring kosong dan mengisinya dengan semangat.
"Paman Albert jangan makan dulu. Cuci tangan paman sampai bersih. Paman kan baru bangun tidur." suara Nikita yang nyaring menghentikan kegiatan Albert yang sudah nampak kelaparan.
"Baiklah nona kecil." ujar Albert sabar kemudian ia menuju wastafel mencuci tangan dan wajahnya.
"Nikita mau makan yang mana sayang?" tanya Maksim sambil memperhatikan semua menu yang ada di atas meja. Ada Pelmeni, makanan yang sekilas seperti siomay atau dimsum. Isinya adalah daging cincang, ikan, jamur dan yang lainnya. Dan dibagian yang lain ada Blini, jenis roti yang memiliki bentuk datar dan pipih. Terbuat dari adonan tepung gandum, susu, dan ragi. Karena bentuknya tipis sehingga terlihat mirip dengan crepe dari Perancis.
"Daddy Alex jago masak ya. Hampir semua menu ada di sini." kudengar Maksim memujiku takjub. Ia mungkin tak menyangka aku yang dulunya hanya bisa makan dan memerintah saja bisa membuat semua makanan ini tanpa bantuan seorang asisten.
"Daddy memang hebat. I love you dad!" jawab Nikita sembari mengirim cium jauh ke arahku dimana aku masih berkutat di depan kompor.
"Love you, too my darling." jawabku sembari menangkap ciuman Nikita dengan tanganku lalu membawanya ke dadaku. Kulihat Maksim dan Albert saling berpandangan dan tersenyum bersama. Bisa kulihat mereka berdua merasakan kebahagiaan yang aku rasakan dengan putriku.
Setelah sarapan yang sangat menyenangkan. Kami semua berjalan-jalan ke sekitar rumah. Aku mengajak Albert dan Maksim untuk berjalan-jalan berkeliling desa yang masih sangat damai dan hijau ini. Sedangkan Nikita seperti biasa aku titip bersama Aisyah.
Ada banyak pohon besar yang masih menaungi jalan-jalan setapak di desa ini. Sepanjang mata memandang, hanya kebun sayuran yang kami lihat. Hingga mata awas Maksim melihat suatu hal yang mencurigakan. Aku memandangnya yang segera meraih revolver dari balik mantel panjangnya.
"Ada apa?" tanyaku waspada.
"Ada salah satu mobil Black Shadow sedang menuju kemari." bisik Maksim dengan sikap waspada.
"Ayo kembali kerumah. Ada Nikita di sana." kami pun berlari ke arah rumah dan mengambil beberapa pucuk senjata.
"Mereka sepertinya tahu kamu ada di sini Mr.Smith." ujar Maksim sambil memeriksa ketersediaan peluru dalam revolvernya. Suaranya begitu tenang.
"Hmm mungkin saja. Kita harus memancing mereka ke tengah hutan agar warga di sini tidak menjadi korban." ujarku sambil memasukkan bom dan senjata api lainnya ke dalam sebuah tas besar.
"Bagaimana Nikita? semoga mereka tidak mengenal Nikita sebagai putrimu." ujar Albert yang membuatku tiba-tiba khawatir. Selama ini aku bisa berbuat semauku karena tidak ada orang yang ada di hatiku tetapi sekarang putri kecilku buah cintaku dengan Paula mungkin juga ada dalam bahaya.
"Aku harus menjemput Nikita." putusku lalu keluar dari rumah. Tetapi langkahku tiba-tiba berhenti ketika kudengar bunyi letusan dari arah barat rumah ini. Sebuah serangan bersenjata di masjid saat semua warga desa sedang melaksanakan sholat duhur berjamaah. Kami bertiga langsung berlari kearah letusan itu. Kulihat beberapa jamaah sedang terkapar bersimbah darah karena serangan black Shadow biadab itu.
"Apa maumu keparat!" teriakku dengan sebuah senjata kuarahkan kepada mereka yang ternyata sudah menahan Aisyah dan Nikita sebagai sandranya.
"Kami mau kepalamu Alex!" jawab Murphy dengan seringaian jahat. Ia menempelkan moncong pistolnya di kepala Aisyah.
"Daddy!" teriak Nikita ketakutan. Aku menggeram marah.
"Lepaskan mereka. Lawan aku satu lawan satu!" teriakku dengan rahang mengetat. Aku tak sanggup melihat Nikitaku ketakutan seperti itu.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey???
Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
mau tobat kasian ada lagi ujian berat
2024-09-24
0
Baihaqi Sabani
aduh dsini ad yg mau nyerang eeh mr.smith mau y d khitan
2022-08-10
4
Salpira Salpira
Astagfirullah
2022-07-31
2