POV Alexander Smith
Aku menyimak Nikita yang sedang membaca do'a sebelum makan. Sebelumnya aku tidak pernah mengucapkan apapun ketika ingin menyantap sesuatu tapi malam ini saat kami akan makan malam. Nikita menahanku yang akan menyuapkan makanan ke dalam mulutku.
"Daddy stop! tidak boleh makan kalau belum baca do'a." Aku menghentikan suapanku dan mulai menyimak celotehannya tentang pentingnya orang membaca do'a sebelum makan.
"Ibu Aisyah bilang kita harus membaca do'a sebelum melakukan sesuatu, termasuk makan." Oh jadi gadis bar-bar itu adalah gurunya Nikita, Hem.
"Kenapa?"
"Supaya makanan yang kita makan membawa kebaikan dan keberkahan, Daddy." jawab Nikita dengan wajah serius. Tanpa sadar bibirku berkedut dan tersenyum. Aku mulai berpikir dalam hati, apakah karena aku tidak pernah berdoa sehingga hidupku sukses tapi tidak ada kebaikan di dalamnya.
"Apakah ibu gurumu menjelaskan apa itu do'a?" tanyaku ingin tahu.
"Ibu Aisyah bilang do'a itu meminta dad, meminta apa saja kepada dzat yang menguasai bumi ini. Yaitu Tuhan." seketika hatiku dirambati getaran aneh. Aku tidak pernah mengenal yang namanya Tuhan dalam hidupku yang gersang ini dan juga tak pernah mau tahu. Untuk apa? aku bisa sukses tanpa campur tangan Tuhan.
"Daddy, ayo makan...supnya sudah dingin." Nikita membuyarkan lamunanku.
"Kamu sudah berdoa sayang?"
"Sudah. Daddy tidak mendengarkannya karena menghayal." jawab Nikita sedikit ketus, aku hanya tersenyum dan mulai melanjutkan makan malam ku. Setelah mencuci piring dan membersihkan dapur, aku menemani Nikita mengerjakan sebuah tugas sekolahnya.
"Aku ditugaskan mewarnai gambar ini dad." aku memperhatikan gambar hitam putih yang diberikan Nikita. "Bagus sekali gambarnya sayang." ucapku sembari duduk di sampingnya.
"Ini gambar ibu Aisyah." ujar Nikita dengan tangan mulai mengeluarkan pewarna dari dalam kotak pensilnya. Aku mengernyit karena sedari tadi Nikita hanya menyebut nama Aisyah saja,
"Apa dia gurumu? gadis yang sering ke rumah ini? putri paman Yusuf?" tanyaku beruntun karena tidak percaya kalau gadis bar-bar itu adalah seorang guru, aku pikir ia hanya gadis liar yang selalu berada di mana saja.
"Iyya dad. Kakak Aisyah guru di kelasku, ia pintar sekali menggambar dan menyanyi." jawab Nikita tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas gambar yang sedang ia warnai.
"Gadis itu seorang guru?" gumam ku tak sadar. "Kenapa dad?" tanya Nikita. ia menatapku tajam. Bola mata hitam pekat itu seolah menantangku. Ya Paula sedang ada di sini memastikan perasaanku dalam wujud Nikita.
"Tidak sayang, Daddy senang Ibu Aisyah mengajar Nikita jadi anak yang pintar. Nikita pun melanjutkan tugasnya mewarnai gambar sementara aku menerima panggilan dari Maksim yang katanya akan datang esok hari.
🍁🍁🍁
Pagi ini aku mengantar kembali Nikita ke sekolah. Zareema yang aku temui kemarin kini menjemput kami di gerbang. Ia dengan senang hati menawarkan dirinya mendorong kursi roda Nikita ke kelasnya karena salah satu aturan di sekolah ini adalah orang tua tidak diperbolehkan memasuki ruang kelas.
Aku menatap punggung mereka yang sudah menjauh dari tempatku berdiri. Entah kenapa aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku dari jauh. Aku yang terbiasa dengan hal seperti ini langsung menangkap basah orang itu. Dan ternyata ia adalah Aisyah. Gadis itu memperlihatkanku dalam diam dan tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Mr. Alex. Senang berjumpa dengan anda." ujar seseorang di belakangku yang ternyata adalah tuan Azzam, seorang pimpinan di sekolah ini.
"Ah, iya. Senang juga berjumpa dengan anda." jawabku berusaha berbasa-basi.
"Bisa kita bicara di dalam ruangan saya?" tawarnya sopan yang langsung aku setujui karena aku juga tidak ada kegiatan setelah ini. Maksim akan tiba setelah Nikita pulang dari sekolah.
"Baiklah Mr. Alex. langsung saja saya ingin mengatakan sesuatu tentang Aisyah." ujar Azzam tanpa basa-basi lagi.
"Aisyah? Putri paman Yusuf?" tanyaku untuk memperjelas. Ia mengangguk tetapi membuatku semakin bingung.
"Ada apa dengan gadis itu?"
"Jangan berpura-pura bodoh Mr.Alex." ujarnya dengan wajah menggelap.
"Mohon maaf tuan, aku betul-betul tidak mengerti maksud anda."
"Jangan mendekati Aisyah lagi. Sebaiknya anda menjaga jarak dengannya karena ia sebentar lagi akan menjadi istriku." entah kenapa kata-katanya yang seperti ancaman membangunkan sisi gelap dalam diriku. Aku tidak pernah diancam oleh pria pecundang seperti ini sebelumnya, seketika bibirku kurasakan tersenyum samar.
"Aku kira ini pembicaraan tentang urusan sekolah putriku, tuan."
"Mohon maaf anda bicara dengan orang yang salah." jawabku dan langsung berdiri tetapi Azzam berani mencengkeram kelopak coatku dengan keras.
"Jangan sampai Aisyah menolakku lagi gara-gara anda, atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya." geramnya mulai tersulut emosi.
"Oh, jadi gadis itu menolak anda?" aku menaikkan alisku sebelah bermaksud mengejek. Ia pun melepaskan tangannya dariku. Tubuhku jauh lebih tinggi darinya mungkin ia kesulitan karena harus berjinjit dihadapanku.
"Hem, aku jadi penasaran dengan gadis itu." gumamku sembari menatapnya yang sedang mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan pernah..." belum selesai ia mengancam aku sudah memotong kalimatnya.
"Kita lihat saja, siapa yang akan dipilih Aisyah, aku atau anda?" ujarku dingin kemudian berlalu dari hadapannya dengan langkah cepat.
"Menarik." gumamku dalam hati sambil tersenyum. "Beraninya ia mengancamku, meskipun aku tidak tertarik kepada Aisyah tapi kurasa itu perlu dipertimbangkan."
Di luar gerbang aku tanpa sengaja bertemu Aisyah yang sedang terburu-buru pulang. Ia mengendarai motor matiknya tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku sih cuek saja. Toh aku tak punya perasaan apa-apa pada gadis itu, aku cuma ingin membuat kepala sekolah sombong itu mengakui kekalahannya.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku, sisa 1 jam janjiku bertemu Maksim akan sampai. Aku pun mengemudikan mobilku ke arah perbatasan desa dimana ada sebuah Cafe di sana sebagai tempat persinggahan ketika orang melakukan perjalanan jauh.
Ternyata Maksim sudah menungguku dengan secangkir coklat panas di tangannya.
"Selamat siang Bos." Maksim menunduk sopan padaku. Meskipun secara resmi ia adalah bos yang sebenarnya.
"Ada apa Max?" tanyaku penasaran. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini hingga ia jauh-jauh datang kemari di cuaca masih sangat dingin ini.
"Anda masih ingat kelompok yang berani menyerang dan merampas senjata-senjata kita di kota X, ternyata menurut informasi mereka bersembunyi di sekitar daerah ini bos." aku menegakkan tubuhku karena rasa kaget yang luar biasa. Bukan rasa takut yang bergemuruh dalam hatiku tetapi rasa marah karena belum bisa lepas dari jeratan dunia hitam ini yang ternyata masih mengikutiku kemari.
"Lalu apa rencana mu Max?"
"Aku tidak mau mereka mengenali bos di sini." jawab Maxim singkat. Aku menarik nafas berat.
"Haruskah kita mencari tempat baru?" sungguh aku tak ingin lagi terlibat masalah seperti ini, yang aku takutkan mereka akan menyerang orang-orang yang tak bersalah jika tetap tinggal di sini.
"Berhati-hatilah bos."ujar Maxim sembari memberikan sebuah kotak yang berisi bermacam-macam Senjaya dan pelurunya.
"Untuk berjaga-jaga bos." ucap Maksim santai.
"Bagaimana kabar Nikita, bos?"
"Baik, ia sudah masuk sekolah."
"Wow, hebat!" mata Maksim berbinar bahagia. "Apa bos sudah menemukan calon mama untuk Niki, kurasa anda sudah semakin tua karena tidak pernah lagi melakukan itu." canda Maksim. Aku hanya tertawa mendengar kata-katanya. Ia benar, aku memang terlihat lebih tua karena gairahku kepada perempuan sudah tidak ada lagi. Entahlah bayangan Paula selalu menghantuiku.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Jangan lupa like dan komentar ya gaess.
Balasan kebaikan adalah kebaikan.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
belum tahu di Azzam Alex siapa beraninya
2024-09-24
0
Dahlia Anwar
maaf cerita nya ini di indo apa di mana ya ..
2024-01-21
2
Salpira Salpira
jgn lupa baca do'a...
2022-07-18
1