Dagestan, desa Rakhata pukul 9.00 waktu setempat.
Albert tiba di pagi yang sangat dingin itu setelah menempuh perjalanan mengarungi pegunungan Kaukasus sekitar empat jam dari kediamannya. Hari ini adalah jadwalnya mengantarkan obat-obatan untuk Nikita dan juga perlengkapan pakaian yang dibutuhkan oleh Alexander Smith yang telah beberapa Minggu tinggal di desa yang terletak di pegunungan ini tepatnya di desa Rakhata.
Beberapa pria yang ia lihat di jalan sedang memakai burka. Wanita di Desa Rakhata, selain menjadi ibu rumah tangga, juga bekerja sebagai pembuat kerajinan jubah tradisional bernama burka. Jubah burka terinspirasi dari seragam pasukan tentara Rusia pada Abad ke-18, ketika perang Kaukasus pecah di Dagestan. Terbuat dari bulu domba, membuat jubah burka terkenal akan daya tahannya menghadapi cuaca dingin ekstrem di Rusia , yang bisa mencapai minus 50 derajat celcius.
Wilayah Dagestan membentang dari daerah ketinggian, hingga ke tepi Laut Kaspia. Dagestan , juga berbatasan dengan negara Azerbaijan dan Georgia. Nama Dagestan berasal dari bahasa Turki dan Persia. "Dag" bermakna gunung , dan "stan" berarti daratan.
Albert memandang berkeliling keadaan tempat itu yang dipenuhi salju karena memang masih dalam suasana musim dingin. Ia merapatkan mantel dan kupluk yang ia pakai kemudian melangkah ke arah pintu rumah yang ia tahu dari Maksim adalah rumah tempat tinggal Alex dan Nikita.
Tok
Tok
Tok
Ia terus mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Apa mungkin penghuninya masih tidur di saat seperti ini?
"MR. Alex..." teriaknya ketika ia belum juga dibukakan pintu. Cuaca dingin membuatnya terasa membeku berada di luar. Ingin segera masuk dan menghangatkan diri di depan perapian atau setidaknya minum kopi panas.
"Yang punya rumah sedang ke pasar, tuan." ujar seseorang dari arah jalan setapak. Albert langsung berbalik dan melihat seorang gadis dengan mantel tebal menutupi seluruh tubuhnya beserta penutup kepala dari kain itu sedang tersenyum padanya.
"Terima kasih." jawab Albert sembari mengangguk ramah. Ia kemudian duduk di teras rumah itu menunggu.
"Nikita?" seketika Albert teringat Nikita. Ia kembali berdiri dan mengetuk pintunya lagi. Memastikan keadaan Nikita karena tidak mungkin Alex membawa Nikita ke Pasar dengan mendorong kursi rodanya ke sana.
"Niki!" teriak Albert kencang. Ia khawatir akan putri kecil itu yang mungkin masih ada di dalam sana.
Berulang kali ia berteriak sampai ia mendengar suara langkah dari belakangnya.
"Uncle Albert!" teriak Nikita senang. Kursi rodanya di dorong oleh gadis muda tadi.
"Halo sayang, apa kabar?" tanya Albert sembari mensejajarkan tingginya dengan Nikita yang sedang duduk di kursi roda.
"Baik uncle, di sini menyenangkan. Lihat! aku semakin sehat." jawab Nikita sembari menunjuk badannya yang kelihatan berisi.
"Uncle Senang mendengarnya." jawab Albert sembari tersenyum.
"Mari silahkan masuk, tuan" ujar Aisyah yang membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ia bawa. Albert menatap gadis itu dari atas ke bawah. Ada rasa penasaran di hatinya akan hubungan Mr. Alex dan gadis ini.
Apa mungkin ia telah move on dari Paula?
"Saya Aisyah tetangga sekaligus teman Nikita. Daddynya memintaku menjaga Nikita selama ia pergi ke pasar." ujar Aisyah cepat melihat tamu Mr. Alex yang belum pernah ia lihat sebelumnya ini memandangnya penasaran.
Mr. Alex tidak pernah meminta tetapi aku yang memaksanya, hihihi ralat hati Aisyah dari perkataannya barusan.
Albert tidak langsung masuk tetapi ia kembali ke mobilnya dan mengambil semua perlengkapan yang sudah ia siapkan dari kota. Ia kemudian menyimpan barang-barang itu di ruang tamu yang tidak begitu luas itu. Sampai Alexander tiba di rumah itu dengan membawa banyak belanjaan di tangannya.
Setiap hari Sabtu, pasar mingguan digelar di salah satu lapangan di Desa Rakhata. Biasanya hanya berlangsung dari pukul 9 hingga pukul 12 siang. Para penjual datang dari desa tetangga. Mereka menjajakan beragam barang kebutuhan, dari mulai bahan makanan hingga barang rumah tangga lainnya .
"Wah, Hebat. Daddynya Nikita sekarang bisa ke pasar sendiri." ujarnya saat melihat Alex memasuki rumah.
"Albert? kapan kamu datang?" tanya Alex sembari membawa barang belanjaannya ke dalam dapur.
"Baru saja bos." jawab Albert sambil mengikuti langkahnya ke dapur. Tetapi ia langsung mendapat tatapan tajam dari Alex. Ia tak mau dipanggil bos di depan penduduk di sini apalagi di depan seorang gadis bar-bar macam Aisyah. Bisa-bisa ia mencurigai sesuatu.
"Aisyah kamu bisa pulang." ujar Alex datar. Ia mengabaikan bibir gadis muda berusia dua puluh tahun itu yang mengerucut sebal.
"Dasar tembok!" ujar Aisyah sedikit keras. Nikita yang melihatnya langsung menutup mulut karena menahan tawa. Ia selalu jadi penonton jika daddy-nya tidak pernah sopan kepada Aisyah yang selalu rela menemaninya seharian bermain. Setelah melihat gadis itu sudah pergi. Alex pun langsung meminta Albert untuk duduk.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Alex dingin.
"Aku membawa obat-obatan untuk Niki bos. stok untuk satu bulan ke depan. Dan beberapa perlengkapan yang mungkin kamu butuhkan."
"Ini yang terakhir kamu datang. Aku tidak mau penduduk di sini mencurigai ku. Mereka tahunya aku itu orang miskin yang mendapat santunan!" ujar Alex sedikit kesal. Ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri di sini. Dan mengenai obat Nikita. Itu bisa ia beli di apotik terdekat. Ia tak mau kelihatan mencurigakan jika sering dikunjungi oleh pria kaya bermobil seperti Albert maupun Maksim.
"Maafkan aku bos." ujar Albert menunduk.
"Aku juga rindu sama Nikita." lanjutnya lagi dengan suara pelan.
"Ya sudah ayo makan bersama Niki. Aku akan panaskan makanannya." Alex berdiri dari hadapan Albert dan menuju ke dapur. Ia juga sudah sangat lapar karena ia belum sempat sarapan. Albert menatap punggung Alex yang sibuk memanaskan makanan di dalam Microwave.
"Hem, bos. Nampaknya kamu sekarang sudah bahagia tinggal di sini." ujarnya disela-sela suapan sup daging yang masih hangat itu.
"Seperti yang kamu lihat." jawab Alex santai. Ia memang merasakan warna baru dalam hidupnya selama tinggal di desa yang memiliki penduduk yang ramah dan welcome sama tamu.
"Dan gadis itu?" tanya Albert sambil melirik Nikita dari ujung matanya. Putri kecil itu sedang menyendok kuah sup borscht ke dalam mulutnya.
"Tidak ada. Makanlah dengan tenang." jawab Alex dengan tatapan tajam ke arah Albert.
"Aku tahu siapa yang kalian bicarakan." ujar Nikita tiba-tiba. " Kakak Aisyah adalah temanku bukan temannya Daddy." lanjutnya lagi dengan wajah yang lucu. "Kamu tahu paman Albert, Daddy selalu marah sama kakak Aisyah padahal kan dia teman yang baik." Albert tersenyum dengan ucapan Nikita.
"Kasihan Kakak Aisyah, nanti dia bosan ke sini lagi kalau Daddy suka marah-marah." bibir gadis itu dibuat manyun karena sedih.
"Niki habiskan makanmu sayang, setelah itu kita akan belajar bersama paman Albert." Alex segera memotong ucapan putrinya. Ia tak mau gadis kecil itu membongkar semua sifat buruknya di depan Albert.
"Apa Niki sudah mulai sekolah?" tanya Albert penasaran.
"Besok Daddy akan mendaftarkanku di sekolah baru paman." jawab Niki senang. Albert tersenyum, ada yang memghangat di dalam hatinya.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, jangan bosan mendukung karya receh ini ya gaess.
Like, Komen, dan Kirim hadiahnya. Itu saja.
Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
may22
kan dia sudah jdi anak desa🤭
2022-08-19
0
may22
🤣🤣🤣
2022-08-19
0
may22
gak ada apa² kok
2022-08-19
0