Albert dan Maksim saling berpandangan. Mereka saling mengirimkan perasaan sedih yang sama dengan bos mereka. Mata garang yang biasa mereka tampilkan kini tidak ada lagi. Yang ada adalah pandangan mata sendu dengan hati teriris sembilu.
Mereka bertiga adalah anak-anak angkat Johny Smith yang dilatih dan dididik dengan cara keras dan kejam. Mereka berasal dari latar belakang yang sama yaitu anak yatim yang hidup Luntang Lantung di jalan dan akhirnya ditemukan oleh the God father Johnny Smith. Ketua klan mafia terbesar di Rusia.
Alexander Smith adalah yang paling senior diantara mereka bertiga dilihat dari usia dan kemampuan serta lamanya ia mengabdi pada klan ini. Itulah kenapa Alexander lah yang diangkat menjadi ketua menggantikan Johny Smith memimpin organisasi besar ini.
Perlahan Maksim merengkuh tubuh tegap Alexander Smith seorang bos mafia kejam, dingin, dan arogan tetapi memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi jika berhubungan dengan kehidupan para anggotanya. Ia menepuk punggung Alexander pelan.
"Everything will be okey, " ujarnya pelan. Alexander hanya mengangguk. Ia melepaskan pelukan Maksim dan mulai kembali ke tampang dingin dan datar.
"Cari dokter terbaik di negara ini untuk Nikita!" titah Alex tanpa ada bantahan. Ia kemudian berlalu dari sana dan menuju ke tempat pemulasaraan jenazah. Ia ingin bertemu Paula untuk yang terakhir kalinya.
Albert segera menghubungi beberapa Rumah Sakit terbaik untuk mencari rekomendasi dokter yang dibutuhkan untuk pengobatan Nikita.
Maksim tidak tinggal diam Ia mengikuti kemana langkah Alexander Smith berjalan.
"Aku harap badai ini segera berlalu," bisik Maksim dalam hati. Setelah sekian lama bersama Alexander Smith baru kali ini ia melihat bos mafia itu kelihatan berbeda dan merasakan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya.
Dan sayangnya itu tidak bertahan lama karena ia sekarang berada pada titik terendah dalam hidupnya karena keluarga kecilnya itu.
"Apa mungkin Mr. Alex telah jatuh cinta pada Nyonya Paula tapi tidak menyadarinya," tanyanya dalam hati.
"Aaaakh perempuan selalu saja jadi misteri dalam hidupku," ujarnya lagi dengan pikiran menerawang.
🍁🍁🍁
Hari ini mereka bertiga sedang menunggu dengan rasa khawatir yang cukup tinggi terutama bagi Alexander Smith. Nikita putrinya sedang menjalani cangkok mata atau transplantasi kornea yang dilakukan untuk menghilangkan semua bagian kornea yang rusak. Bagian tersebut kemudian diganti dengan jaringan kornea yang lebih sehat dari mata pendonor yang cocok.
Setelah melakukan beberapa tes akan kesehatan dan kecocokan kornea mata yang akan dipasang mengganti kornea Nikita yang sudah rusak akibat insiden berdarah itu, hari ini dokter memutuskan akan memasang kornea Paula pada Nikita. Mereka sangat cocok sekali.
Maksim berusaha menyembunyikan hal besar ini karena permintaan Paula sebelum ajal menjemput.
"Max, jika seandainya aku tidak bisa bertahan, maukah kamu menolongku?" ujar Paula waktu itu.
"Katakan saja Paula, aku akan menolongmu semampu ku." ujar Maksim yakin. walaupun ia tahu ini pasti bukanlah permintaan tolong biasa.
"Jangan kremasikan tubuhku jika Nikita putriku belum selamat." ujar Paula sembari meringis menahan sakit pada dadanya. Maksim bergidik ia melihat ada darah yang mulai keluar dari hidung Paula. Segera ia mencari kain atau tissue yang bisa menghentikan lajunya darah itu yang semakin deras keluar.
"Bertahanlah Paula, aku tahu kamu pasti masih panjang umur." ujar Maksim panik. Ia segera menghubungi kembali tim Robin yang katanya sebentar lagi sampai.
"Kalau ada yang bisa aku berikan dari tubuh ini untuk Nikita, lakukan saja Max."
"Come on, Never say that Pal," ujar Maksim lagi ia tak mau mendengar Paula terus bicara. ia takut perempuan itu akan semakin kelelahan dan tidak akan bisa bertahan sampai di Rumah Sakit.
"Janji Max, dan jangan katakan ini pada Alex." ujar Paula lagi dengan suara terputus-putus.
"Bertahanlah Paula!" aku menggoncang tubuhnya yang sudah dipenuhi oleh darah segar yang keluar dari mulutnya.
Ciiiittt
Bunyi roda dan aspal yang bergesekan dengan sangat keras itu membuatku bernafas lega. Aku yakin itu pasti Robin CS. Aku segera memanggil orang-orang untuk membantu Paula keluar dari mobil.
Dalam perjalanan kami ke Rumah Sakit,. Paula sudah tak bernyawa lagi. Ia sudah tidak bisa merespon apa yang aku katakan. Apalagi darah yang keluar dari mulutnya membuatku semakin yakin kalau ia sedang berada dalam kondisi sangat mengenaskan.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud Pal, tapi aku akan melakukan permintaanmu." ujar Maksim dalam hati sembari menggendong tubuh Paula yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Daddy..." panggil Nikita setelah tersadar dari operasinya.
"Mommy..." panggilnya lagi dengan suara pelan. Alexander segera menghampirinya dan mencium keningnya lembut. Sejak kejadian naas itu baru kali ini ia mendengar lagi suara putrinya yang merdu.
"Ada apa sayang," tanya Alex dengan tangan masih menggenggam tangan mungil Niki yang bebas dari jarum infus.
"Daddy, ini gelap sekali. aku mau lihat Mommy," jawab Nikita merajuk.
"Kalau penutupnya sudah dibuka oleh dokter pasti Niki bisa lihat Daddy lagi." Alex berusaha menghibur Niki yang sudah gelisah dengan keadaan yang terjadi pada dirinya.
"Dad, mana mommy, aku ingin dengar suaranya."
"Mommy sedang tidur sayang,"
"Hemm baiklah, tapi kenapa kakiku juga tidak bisa bergerak?" Alex tidak bisa menjawab. Ia memberi kode pada Maksim untuk mengajak Niki bicara karena ia belum siap menceritakan yang sebenarnya pada Nikita.
"Maafkan Daddy sayang, aku harus pergi dulu," ujar Alex tetapi ia tidak kemana-mana melainkan duduk saja agak jauh dari Niki.
"Halo, my dear Nikita," sapa Maksim berpura-pura baru datang padahal ia sudah lama di sana menunggu Nikita siuman.
"Hi, uncle Max," jawab Nikita ceria. Ia suka kalau Maksim menyapanya.
"How' your day my princess?"
"Not good uncle, I can't see the world." jawab Nikita dnegan bibir manyun. Anak berusia 3 tahun itu terus mengoceh tiada henti membuat Maksim hanya bisa mengurut dada. Ia menatap Alex yang kadang tersenyum samar mendengar putrinya bercerita tentang hewan peliharaannya yang ada di rumah dan sedang menunggunya.
"Okey, Nikita sayang, it's time to meal," ujar Maksim saat melihat seorang perawat membawakan makanan untuk gadis cilik itu.
"Oh, no uncle. Saya akan menunggu Mommy menyuapiku," ujar Niki sembari terus menggeleng berusaha menolak suapan Maksim. Kebiasaannya selama ini Mommy Paula lah yang selalu menyuapinya setiap waktu makan tiba.
"Mommy sedang tidur, my princess." ujar Maksim mencari alasan
"No! aku tidak percaya sama uncle." gerutu Nikita dengan hati yang sangat rindu pada mommynya. Alex dan Maksim hanya bisa berpandangan dalam diam.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya baruku ini ya gaess. Like dan berikan komentarmu ya, kalau kamu punya bunga dan kopi bolehlah kirim untuk akoooh...agar aku lebih semangat update nya.
Nantikan terus kelanjutannya Si Hot Daddy ini yah gaess jangan kemana-mana
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Itin
Pas perban dibuka apakah mata Nikita tetap biru, atau sudah berubah jadi hitam seperti Paula?
2023-06-23
2
WaDoow
sangat sangat hati
2023-04-11
1
Irma sariany
sedih x cerita nya thor😭😭
2022-09-24
1