POV Alexander Smith
Hari ini aku memimpin rapat organisasi di markas besar kami di tengah kota. Aku memutuskan untuk mundur dari dunia hitam ini yang telah banyak memberiku banyak pelajaran hidup tentang kekerasan, kekuasaan, dan kekayaan tetapi juga sekaligus merenggut kebahagiaanku dengan seorang perempuan cantik dan sederhana, Paula Anderson, ibu dari putriku Nikita. yang terlambat aku sadari bahwa aku sangat mencintainya.
Aku membagi kekuasaan untuk Maksim dan Albert. Maksim menguasai jalur perdagangan senjata api ilegal sedangkan Albert menguasai bisnis alat-alat kesehatan. Mereka tetap harus menjaga daerah kekuasaan tetap aman dan berkembang.
Hari ini aku memutuskan untuk meninggalkan istana mewah yang selama ini kutempati beberapa tahun belakangan ini dengan Paula dan Nikita. Aku ingin mengubur kenangan-kenangan indah ku di sana bersama Paula.
Aku memerintahkan Maksim mencarikan sebuah rumah sederhana di sebuah pemukiman di desa yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota beserta keserakahannya. Aku ingin hidup normal dengan Putriku Nikita. Aku ingin ia tumbuh dalam kedamaian.
" Mr. Alex, Kami sudah menemukan sebuah tempat yang cocok untuk mu dan Nikita." ujar Maksim melaporkan hasil kerjanya seperti yang aku harapkan.
"Bagaimana suasananya Max?" tanyaku pada Maksim. Aku ingin mendengar ia menjelaskan tentang kondisi tempat baru itu sebelum kami betul-betul tinggal dan menetap di sana.
"Bagus bos. Khas sebuah desa yang asri dan penduduk yang ramah." jawab Maksim datar kemudian ia melanjutkan dengan sedikit senyum samar dibibir nya.
"Aku rasa anda akan menjadi petani yang sukses di sana."
"Terima kasih Max. aku harap itu betul-betul akan terjadi." jawab ku dengan pandangan menerawang. Pekerjaanku selama ini yang berhubungan dengan fisik tentu saja tidak akan menyulitkan ku menjadi petani atau peternak.
"Aku harap Niki juga menyukainya." tambahku lagi dengan seulas senyum terbit dibibir ku.
"Apakah urusan surat tanah atau apapun itu sudah beres Max?"
"Sudah bos. Cuma ada sedikit kendala sih." jawab Max sedikit ragu.
"Ada apa?"
"Anak pemilik tanah itu bersikeras tidak mau menjual tanahnya padamu bos. Katanya ia tidak suka akan penghuni baru yang mungkin saja akan merusak tatanan kehidupan mereka di sana."
"Terus? apa kamu melakukan tindakan kekerasan atau pemaksaan hingga akhirnya ia setuju?" tanyaku penasaran.
"Aku bilang saja berikan bosku satu kesempatan. Kalau anda bisa hidup rukun di sana dalam waktu sekitar 6 bulan Ia bisa saja menjual tanah pertanian itu kepada anda bos."
"Berarti tempat itu belum sah menjadi milikku, Max?" mataku mendelik tidak suka akan jalan pikiran Maksim. Aku tidak suka menjadi orang yang menumpang di tanah milik orang lain.
"Cari tempat lain! aku yakin masih banyak tempat yang aman dan damai untuk Nikita di bumi yang luas ini.'
"Maaf, bos. tapi daerah itu sangat bagus untuk perkembangan mental dan fisik Nikita. Cobalah untuk mendengarkan aku bos." pinta Maksim dengan penuh permohonan.
Aku menatapnya curiga, " Kamu sedang tidak merencanakan hal yang buruk kan?" tanyaku dengan Pandangan curiga.
"Oh, tidak bos. Mana berani aku mencari masalah dengan bos."
"Baiklah kalo begitu, 6 bulan...semoga Nikita betah tinggal di sana." jawab ku akhirnya dan kemudian bersama Maksim dan Albert kami menjemput Nikita di rumah sakit karena hari ini adalah hari kepulangannya.
"Daddy..." teriak Nikita bahagia. Ia sudah sangat cantik di sana duduk di atas kursi roda didampingi seorang suster dan seorang dokter.
"Hallo my sweet Niki," sapaku sembari mencium keningnya lembut.
"Daddy, kata dokter aku bisa pulang.' ujar Nikita dengan senyum terkembang. Bola mata hitamnya berbinar sangat indah. Sekali lagi hatiku menghangat. Paula seolah selalu mengikutiku dengan pandangan mata itu.
"Betul sekali sayang. Karena Nikita sudah sembuh." ujarku bahagia.
"Tapi kenapa aku masih duduk di atas kursi roda dad?"
"Itu karena kakimu masih belum kuat berjalan dulu, sayang."
"Sekarang waktunya kita pulang." jawabku sambil mendorong kursi rodanya ke arah mobil yang sudah siap membawa kami ke rumah baru.
"Terima kasih atas kebaikan kalian selama ini," ujarku kepada dokter dan suster yang merawat Niki selama hampir sebulan ini sebelum kami meninggalkan Rumah Sakit itu.
Mereka berdua pun membalas ucapanku dengan senyuman sambil memberi semangat kepada Nikita untuk tetap menjadi anak yang bahagia.
"Daddy rumah kita kenapa jauh sekali?" pertanyaan Niki ini sudah berulang kali ia tanyakan. Mungkin karena sudah capek duduk di atas kendaraan. Jarak rumah baru yang akan kami tempati dari rumah sakit tadi memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan.
"Akhirnya sampai," ujar Maksim dengan nada ceria. Aku belum turun dari mobil aku hanya mengamati keadaan rumah yang lebih tepatnya sebuah pondok minimalis terbuat dari kayu semi permanen. Bentuknya seperti rumah-rumah di sekitarnya. tidak ada pagar yang membatasi setiap rumah hanya terdapat tanaman bunga yang cukup rapi yang kemudian difungsikan sebagai pagar alami setinggi paha orang dewasa.
"Apa itu rumah kita, dad?' tanya Nikita yang sedang melongokkan kepalanya keluar jendela mobil yang sudah terbuka.
"Hemm, ya." jawabku singkat.
"Ayo turun Niki." ujar Maksim setelah mempersiapkan kursi roda Nikita terlebih dahulu. Aku bertugas menggendong tubuh mungil itu dan mendudukkannya ke dalam kursi. Aku lalu mendorong kursi itu ke dalam. Sedangkan Maksim membawa perlengkapan kami dan mengekor di belakang.
"Selamat datang penghuni baru." ujar seorang perempuan muda dengan senyum terkembang di wajahnya yang cukup cantik dan menarik. Aku mengernyit melihat penampilannya yang sedikit aneh dengan selembar kain yang ia jadikan sebagai penutup kepala.
"Hallo sayang?" perempuan itu menatap Nikita yang duduk di kursi roda dan menyapanya. Aku hanya diam tak menanggapi sapaannya yang cukup berisik.
"Hai, bibi?" ternyata Niki menjawab sapaan itu dengan sopan.
"Panggil saja aku kakak Aisyah, okey?" ujar perempuan asing itu lagi.
"Kita akan menjadi teman, kalau kamu tidak keberatan," lanjutnya lagi dengan ramah. Ia cukup menghalangi jalan kami ke dalam dengan basa-basi nya yang kurasa sangat berlebihan.
"Permisi nona aneh, biarkan kami masuk saja." ujarku sembari mendorong kursi Nikita terus ke depan menuju pintu utama agar ia segera menyingkir dari hadapan kami.
"Dasar pria tidak sopan." ujar perempuan itu kesal dengan suara sangat pelan tetapi aku masih sempat mendengarnya.
"Terima kasih pujiannya." jawabku sambil berlalu dari hadapannya. Kulihat ia menghentakkan kakinya kesal dari sudut mataku. Aku tersenyum samar. Aku heran akan budaya mereka yang baru pertama kalinya aku temui seumur hidupku. Aku disambut oleh para tetangga baru di desa ini. Mereka membawakan berbagai macam makanan dan minuman.
"Hallo, tuan Alex. Selama datang di kampung kami. Aku adalah kepala suku di kampung ini, aku Mohammad Yusuf." ujar salah seorang pria tinggi berambut putih dengan wajah teduh menenangkan. Aku hanya mengangguk tersenyum sambil melirik ke arah Maksim yang menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Beberapa orang memperkenalkan dirinya. Yang aku ingat ada bibi Sarah, Paman Raihan, dan gadis aneh tadi menyebut dirinya Aisyah. Nama-nama yang aneh dan penampilan yang aneh pula tetapi mereka cukup ramah. Untung bahasa kami sama kalau tidak aku pastikan Maksim tidak akan menghirup oksigen lagi esok harinya. Aku dan Nikita seperti di buang di tempat yang sangat asing buatku.
Setelah berkenalan dan berbasa-basi sejenak. Tamu itupun pulang ke rumah masing-masing dan memberikan kami waktu istirahat yang cukup sambil tak lupa menyimpan beberapa makanan di atas meja makan.
"Max, pastikan tidak ada yang tahu keberadaan kami di sini, okey?" ujar ku pada Maksim saat ia sudah bersiap akan pulang ke kota.
"Baik Bos!"
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, Dukung terus karya ini ya gaess.
Like, komentar, dan hadiah.
Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
ida fitri
duh jadi penasaran dengan visualnya
2022-09-10
2
Bhebz
ada kok visualnya tapi di bab lebih 40 hehehe
2022-08-10
2
Baihaqi Sabani
itu nmay hijab lex......smg alex taubat....n visualyaaaa thor biar lnh mntep
2022-08-10
3