Setelah kepergian Alexander, Aisyah kembali ke kamarnya dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya yang cantik. Entah kenapa kekagumannya pada pria asing itu semakin bertambah saja. Meskipun ia sangatlah datar dan kadang menyebalkan tetapi hatinya tetap saja suka.
"Ya Allah, ampuni aku kalau sudah mulai jatuh cinta padanya." bisik Aisyah dalam hati. Bibi Sarah yang melihat keponakannya yang tampak aneh itu segera menghampiri Aisyah.
"Nak, bisa kamu ceritakan pada bibi apa yang sebenarnya terjadi?" mata tua bibi Sarah memandangnya dalam. Ia merasa ada hal besar yang disembunyikan oleh perempuan muda ini.
"Bibi, apa aku tampak menyembunyikan sesuatu?" tanya Aisyah balik. Ia berusaha menyembunyikan rona merah dan debaran jantungnya.
"Anakku, semenjak ibumu tiada aku yang merawatmu saat usiamu 10 tahun sampai sekarang..Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari kami." Bibi Sarah meraih tangan Aisyah lembut.
"Ceritakan agar perasaanmu ringan dan tenang." ujar bibi Sarah dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya yang masih cantik diusianya yang sudah lebih setengah abad.
"Bibi..." wajah Aisyah makin memerah, apa ia harus jujur kalau ia menyukai pria datar dan menyebalkan itu. Atau ia menceritakan kelakuan bejat Azzam saja. Lama ia terdiam sampai Bibi Sarah menepuk bahunya.
"Aisyah? aku menunggumu sayang."
"Eh, iya Bibi. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Aisyah melempar pandangannya ke jendela kamar yang masih terbuka. Menampilkan bayangan bulan di tengah malam itu.
"Apa ini tentang pria asing itu?" tanya Bibi Sarah pelan. Aisyah langsung menatap bibinya dengan menahan debaran di dadanya setiap sosok itu disebut.
"Bibi, kenapa menanyakan tentang dia?"
"Aisyah sayang, aku memang sudah lama ditinggal mati oleh pamanmu tapi bukan berarti perasaan seperti yang kamu alami sekarang tidak bisa bibi kenali. Meskipun ada musibah menimpamu seperti yang kalian ceritakan tadi di depan ayah dan Kakakmu, tapi dibalik itu kamu justru senang sayang."
"Bibi..." ujar Aisyah sembari menutup wajahnya yang memanas.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Bibi Sarah sembari membuka jemari yang menutupi wajah perempuan cantik yang sangat dikasihinya seperti anak sendiri.
"Aku menyukainya bibi, apakah salah?" jawab Aisyah akhirnya. Ia mulai mengakui perasaannya di depan orang lain.
"Tapi ia tidak sama dengan kita sayang, kamu dengar sendiri bukan. Ia bahkan Atheis Aisyah. Ia tidak percaya adanya pencipta yang menciptakan seluruh alam ini nak. Bagaimana ia bisa mempercayai sebuah pernikahan kalau ia saja tidak mengenal dzat pencipta kasih dan sayang."
"Bibi..." Aisyah memeluk bibi Sarah erat, ia merasa perasaannya tak akan berbalas. Meskipun seandainya Alex juga memberinya harapan tetapi itu tidak akan mungkin karena semua orang pasti akan menolak hubungan ini.
"Berdoalah sayang, semoga ia mendapat petunjuk dari Allah. Aku yakin ia pasti punya latar belakang yang berat sehingga bisa seperti itu."
"Terima kasih bibi. Aku sayang padamu." Aisyah mencium wajah bibi Sarah lembut, seorang perempuan pengganti almarhumah ibunya yang selalu ada untuknya saat sedih maupun senang.
"Dan yang melecehkanmu, aku tidak bisa tidur dengan tenang kalau kamu tidak menceritakannya pada bibi." Bibi Sarah melepaskan pelukan Aisyah dan mulai menelisik wajah yang tiba-tiba berubah sendu itu.
"Bibi, jangan bilang sama ayah kalau orang itu adalah Azzam." ujar Aisyah pelan..
"Astagfirullah, Azzam pemuda baik itu?" suara Bibi tercekat di tenggorokan. Ia tak menyangka pria muda yang sangat ia kagumi karena kesopanan dan kebaikannya itu malah mau menghancurkan keponakannya. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Aku tidak percaya sayang." ujar Bibi Sarah setelah mengurai keterkejutannya.
"Pria itu sudah sering melecehkan aku dengan kata-kata dan tatapannya bibi, dan tadi itu ia membuktikan ancamannya.dengan ingin merampas kehormatanku." hati Aisyah kembali bersedih, ia tak bisa membayangkan bagaimana kalau niat pria bejat itu tercapai. Air matanya kembali menetes karena takut.
"Aku harus menyampaikan ini pada ayahmu, nak. Agar lamaran pria itu padamu bisa dibatalkan." ujar bibi Aisyah sambil berdiri dari duduknya. Hatinya betul-betul marah kini. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena ia lah yang memaksa Muhammad Yusuf untuk menerima lamaran pria itu. Ia terlanjur suka akan kepribadian Azzam yang menurutnya sangat sempurna menjadi suami Asiyah.
"Bibi sudah berjanji tidak akan menceritakan ini pada ayah kan?" Aisyah menatap bibinya sendu sembari menahan tangan perempuan paru baya itu agar tidak keluar dari kamarnya. Ia takut apa akibatnya jika kejadian ini terbongkar. Apalagi Azzam adalah pimpinannya di sekolah tempat ia mengajar.
"Lalu bibi harus bagaimana sayang? keadaanmu dalam bahaya nak. Pria itu pasti berniat mengulang kembali perbuatannya nak. Harus lah ada yang melindungimu."
"Aku akan menjaga diriku bibi. Insyaallah Tuhan selalu bersamaku." ujar Aisyah menenangkan bibinya yang sekarang malah lebih mengkhawatirkan daripada dirinya sendiri.
"Tidurlah bibiku sayang." Aisyah mencium kembali pipi Bibi Sarah, menghantarkan cinta dan kasihnya pada perempuan itu.
"Baiklah sayang, tapi kamu harus berjanji tidak akan bertemu lagi dengan pria jahat itu. Kamu harus menghindarinya."
"Iyya bibi. Cepatlah tidur agar penyakit anemia mu tidak kambuh lagi." Bibi Sarah pun keluar dari kamar itu setelah memberikan banyak nasehat dan petuah pada keponakan tersayangnya.
Aisyah merebahkan dirinya di ranjang. Bayangan Alexander kembali menari-nari dalam pelupuk matanya. Bagaimana pria tampan itu menolongnya saat Azzam ingin menodainya.
"Aaaaarg." ia menutup wajahnya malu sendiri mengulang kembali rekaman kejadian tadi saat pria dingin itu menggendongnya. Ia bisa menatap rupa pria yang dikaguminya diam-diam. Jarak yang begitu dekat membuatnya bisa melihat dan menyimpannya dalam memorinya. wajah dengan rahang tegas, hidung, mata birunya, dan bibirnya.
"Aaargh." sekali lagi ia berteriak dalam diam. Bibir Alex yang tebal menggodanya terus dan ia tak tahu malu menginginkannya.
"Oh ya ampun." bisiknya dalam hati. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba berpikir sangat mesum hanya karena digendong dan diperlakukan sangat manis oleh pria itu.
"Sadarlah Aisyah, dia itu pria dingin tak berperasaan." sudut hatinya yang lain berusaha membawanya ke jalan yang lurus.
"Dia atheis. Mana mungkin ia mengenal cinta dan kasih sayang." lanjut hatinya yang lain.
"Tapi dia bisa menyayangi putrinya itu tentu saja ia punya rasa kasih sayang." bantah hatinya dari sisi kanan.
"Tapi mantan istrinya bagaimana kalau ia kembali?"
"Aaaargh!" Aisyah berteriak menghentikan perdebatan dua sisi hatinya. Ia pusing sendiri dengan dirinya yang sibuk memikirkan Alex padahal pria dingin dan datar itu tak pernah memberinya harapan sama sekali
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai, hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya ya untuk karya receh ini. Dengan cara tap favorit, klik like, ketik komentar, kirim hadiah yang banyak. Bunga Satu kopi bolehlah untuk menyemangati aku agar rajin update.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
seharusnya dia jujur SJ,supaya bisa perbuatan TDK terulang,tp Aisyah takut nanti Azzam disuruh bertanggung jawab padahal dia TDK mau
2024-09-24
0
Athallah Linggar
itulah knp perempuan selalu dilecehkan lagi dan lg,kr ga mau jujur siapa pelakunya. Kamu bodoh aisyahhh,bener2 perempuan bodoh yg melindung kriminal. Sekali ga kesampaian mka dia akan mencari celah lain
2023-04-24
2
yuuuu123
next next
2022-08-27
1