Pov Alexander Smith
Pagi ini aku mengantar Nikita ke sekolah seperti biasa. Biasanya ada Zareema atau Aisyah yang menjemput kami di depan gerbang tetapi kali ini mereka berdua tidak ada jadi kuputuskan akan membawa Nikita sendiri ke dalam kelasnya.
Ketika aku mendorong kursi roda Nikita ke dalam kelas mataku tanpa sadar bertemu pandang dengan Azzam sang kepala sekolah bejat yang telah melakukan pelecehan kepada Aisyah. Aku berusaha tidak peduli tetapi ternyata ia menghampiri dan menyapaku.
"Selamat pagi tuan Alex."
"Selamat pagi." jawabku singkat.
"Apakah anda tidak ingin minta maaf karena telah merusak kaca pintu mobilku?"
"Oh, itu. Kukira anda seharusnya malu mengingat kejadian kemarin. Karena kalau aku jadi anda, aku seharusnya sudah bersembunyi di bawah bantal sekarang. Anda pecundang yang sangat menyedihkan."
"Hei, ini lingkungan sekolah tuan Alex. Jaga kesopanan anda."
Aku menggeram kesal akan kelemahanku saat ini yang tak bisa memberikan pukulan di wajahnya yang sangat menyebalkan itu. Andai ia berada di dunia gelapku aku pastikan akan merobek mulutnya saat ini juga.
"Terima kasih bapak kepala sekolah yang terhormat atas pelajaran kesopanannya."
"Hem, baiklah kalau anda tidak mau meminta maaf. Pastikan saja kejadian kemarin hanya kita bertiga yang tahu. Aku tak mau reputasiku jadi buruk." ujarnya tak tahu malu lalu beralih dari hadapanku. Untungnya Nikita sudah lama berada di kelas sehingga ia tak mendengar perdebatan kami.
"Kuharap aku tidak bertemu lagi dengan orang itu dalam keadaan apapun atau revolverku akan mencari mangsa setelah lama berlibur." geramku dalam hati.
🍁🍁🍁
Sesuai rencana kami kemarin, malam ini aku akan mulai belajar tentang sholat kepada Pasha, seorang pemuda yang aku temui kemarin malam sebelum ke rumah paman Yusuf. Nikita aku titip di rumah Aisyah malam ini.
"Daddy mau kemana?" tanya Nikita ketika aku memintanya menunggu di rumah ibu gurunya sore ini.
"Daddy mau belajar sayang," jawabku sembari mendorong kursi rodanya melalui jalan setapak diantara bunga-bunga yang merambat di pinggir jalan.
"Belajar apa dad? kamu kan bisa belajar sama ibu Aisyah, ibu guruku." ujar Nikita lagi.
"Ibu guru pintar menghitung, pintar menggambar, dan juga pintar menyanyi." celotehan Nikita tidak ku respon, aku sibuk mendorong kursi rodanya dengan hati-hati takut rodanya tidak seimbang dan masuk ke lubang di jalanan yang tidak rata itu.
Bibi Sarah menjemput kami di depan pagar sambil tersenyum senang. Aku belum pernah melihat senyumnya yang secerah itu padaku.
"Salam bibi." sapaku padanya.
"Salam nak Alex! Hallo Nikita, apa kamu ingin bertemu dengan ibu guru Aisyah?" tanya Bibi Sarah setelah membalas salam ku.
"Aku mohon maaf bibi. Bisakah Nikita kutitip di sini bersama Aisyah selama aku bertemu seseorang?"
"Tentu saja nak Alex, dengan senang hati kami menerima Nikita yang cantik ini."
"Terima kasih banyak bibi." ujarku kemudian menciumi Seluruh permukaan wajah putriku lalu aku berbisik. "Daddy tinggal ya, jangan merepotkan ibu guru." Nikita pun mengangguk antusias.
"Aisyah pasti sangat bahagia mendengar ini. Ia sangat merindukan Nikita." ujar bibi Sarah sembari meraih kursi roda Nikita dari tanganku dan mulai mendorongnya ke dalam rumah. Aku pun berbalik ke jalan tetapi sekilas kulihat Aisyah yang sedang berdiri dibalik jendela besar itu tersenyum diantara tirai jendela yang sedikit melambai yang diterbangkan angin.
"Gadis aneh." ucapku tak sadar. Aku menganggap ia aneh karena gadis itu tidak mau orang yang melecehkannya bertanggung jawab padanya padahal kan Azzam itu adalah calon suaminya sendiri.
Dalam hitungan menit aku sudah sampai di depan masjid tempat aku dan Pasha janji bertemu.
"Mari tuan Alex." Pasha mengajakku duduk di sebuah taman yang cukup sepi. Aku mengikutinya dan mulai mendengarkan apa yang akan ia katakan.
"Mohon maaf, tuan Alex. Aku bukanlah guru yang hebat dan sebenarnya belum bisa menjadi guru. Kita akan belajar bersama ke depannya." ujar Pasha dengan rendah hati. Aku mengangguk faham.
"Jadi apa yang ingin pelajari tuan?"
"Aku ingin belajar tentang ibadah sholat yang kalian kerjakan lima kali sehari semalam itu."
"Anda tidak pernah belajar tentang sholat sebelumnya?" tanya Pasha hati-hati, aku menggeleng. Aku bahkan baru mengenal kata itu semenjak tinggal di desa ini.
"Kalau begitu mari kita bersuci terlebih dahulu, eh apakah anda muslim?" sekali lagi aku menggeleng.
"Seumur hidupku aku tak pernah mengenal Tuhan. Aku atheis. jawab ringan dan Pasha langsung menatapku dalam.
"Kenapa? apa hanya muslim saja bisa belajar sholat?"
"Oh, tidak. Semuanya bisa kan cuma mau belajar. Tapi yang penting adalah kita harus suci terlebih dahulu karena Tuhan kami mencintai kebersihan." akupun mengikuti apa saja yang ia lakukan seperti mencuci semua anggota tubuh yang tampak, mulai dari tangan sampai kaki.
"Berwudhu seperti ini banyak manfaatnya untuk kesehatan.jika dilakukan dengan benar.
"Oh ya? padahal cuma mencuci saja ya."
"Iyya," Pasha pun menjelaskan manfaat mencuci anggota tubuh tadi beserta doa yang bagus dibaca ketika sedang mencucinya."
"Pasha, sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja."
"Tidak apa tuan Alex. Tidak ada sesuatu yang Allah ciptakan kebetulan. Bahkan daun yang jatuh pun semua itu atas izinNya. Ikuti saja kata hati anda." aku tersenyum senang. Malam itu kami habiskan dengan berbicara banyak hal.
"Anda tahu tuan? Allah akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya." aku mengangguk. Pasha adalah teman cerita yang baik. Ia tidak menggurui maupun menghakimiku karena setua ini belum pernah beribadah kepada Tuhan.
"Apa menurutmu Tuhan akan memaafkan hambaNya yang telah banyak melakukan kesalahan?" tanyaku pelan, teringat semua kebiadabanku selama ini yang membuat tubuhku merinding takut. Ada banyak nyawa yang sudah melayang ditanganku yang kotor ini.
"Allah maha pemaaf tuan. Selama hambaNya betul-betul ingin memperbaiki diri dan berniat untuk tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku manusia jahat Pasha, masa laluku terlalu buruk. Aku bahkan merasa aku tak pantas lagi bahagia. Semua yang aku sayangi diambil oleh Tuhan dengan cara yang kejam. Aku membenci Tuhan dan tidak mau mempercayai keberadaannya."
"Astagfirullah, tuan Alex. Yang terjadi dimuka bumi ini semuanya sudah tercatat di kitab Lauhul Mahfudz, baik itu yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Sesungguhnya Allah tahu apa yang terbaik buat hambaNya."
"Terkadang dengan kehilangan kita jadi bisa dekat dengan pencipta kita, dan begitupun sebaliknya. Maka bersyukurlah atas apa yang Allah anugrahkan kepada tuan karena di dalamnya pasti ada kebaikan yang mungkin belum anda sadari."
"Anda sejauh ini masih sehat dan bisa merawat Nikita adalah hal yang luar biasa yang anda miliki."
"Terima kasih banyak Pasha, aku berharap petunjuk ini membawaku ke jalan yang benar."
"Datanglah ke rumah paman Yusuf jika hati anda sudah mantap menerima Islam sebagai agama anda. Ia akan menuntun anda, tuan. Paman Yusuf adalah kepala suku di desa ini. Ia yang kami hormati dan kami tuakan."
"Terima kasih banyak Pasha, aku permisi. Assalamualaikum Alaikum."
"Waalaikumussalam warahmatullah." kami pun berpisah. Aku menuju rumah paman Yusuf untuk menjemput Nikita tetapi sepertinya semua penghuni rumah itu sudah terlelap. Lampu-lampu yang biasanya menerangi rumah itu sudah tidak menyala.
"Hem, aku tidak akan mengganggu mereka. Biarlah Nikita menginap di sana." ujarku dalam hati dan melanjutkan langkahku ke rumahku sendiri.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Mohon dukungannya ya untuk karya ini dengan cara like, komen, dan beri hadiah sebagai penyemangat.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
Alhamdulillah hidayah Allah tak pandang bulu
2024-09-24
0
WaDoow
alex tobat
2023-04-11
1
Salpira Salpira
lanjut
2022-07-31
1