POV Alexander Smith
Aku memperhatikan dengan baik bagaimana Nikita, putriku perlahan membuka kelopak matanya. Awalnya ia berkedip dan mulai menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan yang cukup terang di ruangan ini. Sekali-kali ia mengernyit kemudian menutup matanya lagi. Apakah ia kesakitan atau bagaimana aku tidak tahu.
Sampai dokter Xavier yang menangani operasi penggantian kornea putriku yang sudah rusak itu memberikan beberapa pertanyaan pada Niki.
"Bagaimana Niki?" tanya dokter Xavier pelan.
"Kalau sakit jangan dipaksakan ya pelan-pelan saja." Nikita mengangguk faham akan perintah sang dokter, putriku perlahan membuka kelopak matanya. Awalnya ia berkedip dan mulai menyesuaikan dengan pencahayaan yang cukup terang di ruangan itu.
"Nah, bagaimana?" tanya dokter Xavier lagi. Aku tidak berkomentar tetapi hanya menjadi pendengar dan penonton yang baik interaksi keduanya.
Aku terkaget luar biasa saat Nikita betul-betul membuka kelopak matanya lebar-lebar dan orang pertama ya ia pandang adalah aku yang berdiri di samping ranjangnya. Ada desir aneh kala kulihat bola mata hitam pekat itu menatapku dengan sendu.
"Daddy," ujar Niki pertama kalinya yang membuatku tersentak kaget dari lamunan dan pikiranku yang sudah jauh mengembara dalam hitungan detik
"Niki sayang, apakah kamu bisa melihat Daddy?'" tanyaku gugup.
"Yes, ofcourse daddy, aku bisa melihatmu. Kemarilah peluk aku."jawab Nikita ceria. Aku menghela nafas panjang sembari tersenyum senang, bersyukur Nikita sudah kembali sehat. Aku segera menghampirinya di atas ranjang kupeluk gadis kecilku itu kemudian kuciumi seluruh permukaan wajahnya.
"Aku bahagia sayang," ujarku setelah kulepaskan pelukanku.
"Uncle Max, kamu tidak ingin memberikan pelukanmu?" tanya Niki kepada Maksim yang masih berdiri dengan wajah yang tampak berseri-seri melihat kemajuan yang dialami Nikita. Kulihat Maksim mulai menghampiri Nikita dan memeluknya. Ia pun mengoceh banyak hal pada Maksim seperti biasa. Aku pun membiarkan Niki dan Maksim bercengkrama, kemudian aku menoleh ke arah dokter Xavier.
"Terima kasih banyak dokter atas bantuannya." dokter Xavier hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Nah, Niki kamu sudah sehat sekarang, kamu bisa pulang ke rumah dan bermain seperti biasanya."
"Terima kasih dokter, anda baik sekali." jawab Nikita sopan. Putriku yang berusia 4 tahun itu memang punya kepribadian yang menarik. Dia sangat sopan kepada semua orang.
Setelah dokter itu pergi dan meninggalkan kami bertiga. Aku kembali menatap Nikita yang sedang disuapi oleh seorang suster. Ia sudah mulai terbiasa makan dari tangan orang lain selain mommynya karena seringnya kami memberi alasan kemana Paula ketika ia bertanya.
"Apakah setelah pulang dari rumah sakit, Mommy akan menjemputku dad?" tanya Niki setelah mengelap sisa makanan di permukaan bibirnya dengan selembar tissue.
"Oh, tidak sayang...Mommy sepertinya tidak bisa lagi datang karena ia sedang sibuk belajar bersama temannya." jawabku sekenanya tanpa perhitungan yang matang. Tetapi untungnya ia faham kemudian memasang wajah sedih secara tiba-tiba.
"Apakah mommy sudah tidak sayang padaku, dad?" tanyanya lagi sembari menatapku dengan mata penuh kabut dan kesedihan. Aku sekali lagi tersentak. Bayangan pertemuanku yang pertama kali dengan Paula kini berputar bagai sebuah rekaman video di kepalaku. Pandangan mata itu, yang aku pernah bilang tak pernah kulihat ada yang seperti itu di sini.
"Daddy? apakah kamu melamun?" tanya Niki sembari menggoyangkan lenganku.
"Ah, tidak sayang. Kamu bilang apa tadi?" tanyaku gugup.
"Apakah mommy tidak menyayangiku lagi? kenapa ia selalu sibuk dan tidak pernah datang melihatku, dad?." ujar Niki mengulangi pertanyaannya. Aku diam sejenak mencari kata-kata yang bisa membuatnya ceria kembali.
"Mommy sangat sayang sama Niki, seperti Daddy yang sangat sayang juga sama Niki. Tetapi Mommy punya urusan yang sangat penting hingga ia tidak bisa kemari dan melihatmu, sayang."
"Udah ya, sekarang kamu tidur. Kata dokter kamu harus banyak istirahat."
"Baiklah dad," ujar Niki yang kemudian menguap tanda ia sudah mengantuk. Aku memperbaiki letak Selimut yang ada di badannya dan tidak kemudian ia pun jatuh tertidur.
Sekarang aku berbalik kebelakang menatap Maksim dengan hati penuh tanya.
"Iya, bos. Aku mengerti apa yang akan kamu tanyakan." ujar Maksim sebelum aku mulai mau memastikan persangkaanku.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku,hah?" tanyaku dengan suara tertahan di antara gigi-gigi ku. Aku takut Nikita akan terganggu jika suaraku begitu keras.
"Nyonya Paula yang memintaku untuk menyembunyikan ini dari bos." ujar Maksim santai. Ia seperti tidak mengerti perasaan apa yang aku rasakan sekarang.
"Tapi kenapa, Max?" tanyaku padanya.
"Aku tidak tahu bos. Tapi sudahlah. Biarkan ia bahagia dengan kepergiannya karena telah memberi sesuatu yang berharga untuk putrinya sendiri." jawab Maksim sembari menatap Nikita yang sudah mendengkur halus.
"Pal, beginikah caramu membuatku menyesali segala hal yang pernah kulakukan padamu," ujarku dalam hati. Tiba-tiba rasa rindu dan sesal datang bersamaan menghujam hatiku begitu dalam. Aku meraup wajahku kasar.
"Aku rindu padamu, Pal.." bisikku terus dalam hati berharap Paula akan mendengarkan jerit hatiku.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, lama nungguin yah???
Dukung terus karya receh ini dengan cara klik like dulu ya, terus kasih komentar yang seru dan asyik. lanjut kirim hadiah deh yang super banyak.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
suka_baca
....
2022-10-27
1
Irma sariany
baru nyesel kn sekarng😠😠
2022-09-24
0
ida fitri
nah nyeselkan sekarang hmm😔
2022-09-10
1