Berkali-kali bunyi tembakan berusaha menembus bodi mobil yang kami kendarai tetapi ternyata tidak berhasil. Mobil ini sudah dirancang khusus anti peluru dan bom. Diklaim mampu menahan peluru panas dan granat tangan, Range Rover Vogue salah satu koleksi mobilku. ini memberikan keamanan berkendara tingkat tinggi. Ban mobil satu ini juga dibuat sedemikian rupa sehingga tetap mampu berjalan meskipun dalam kondisi ban pecah.
Maksim menambah kecepatan Range Rover Vogue ini tapi naasnya mobil yang sempat menyalip kami tadi yang sudah ada di depan kami ternyata telah diletakkan sebuah bom dan meledak dengan jarak yang sangat dekat dengan kami. Maksim berusaha menghindari ledakan itu hingga mobil kami malah menabrak tebing yang begitu curam.
"Daddy, Mommy..." teriak Nikita kemudian tidak sadarkan diri. Tak ada suara Paula yang aku dengar di belakang sana. Aku segera mendorong pintu mobil yang sudah ringsek tak berbentuk.
"Niki!" teriakku dengan keras. Putriku sudah tidak bergerak. Aku berusaha menarik tubuh mungil itu agar bisa keluar dari bodi mobil. Kepalanya banyak mengeluarkan darah dan kakinya terjepit di bawah jok mobil.
"Niki!" teriakku sekali lagi dengan panik. Ia sama sekali tidak bergerak.
"Paula, Maksim!" Aku sangat panik hingga semua penumpang di dalam mobil aku absen satu-satu.
"Alex," jawab Paula pelan. Aku bersyukur ia masih bisa merespon teriakanku.
"Cepat keluar dari mobil ini." Maksim kudengar berteriak di bagian depan. Ia juga berusaha keluar dari pintu sebelahnya. Sedangkan Paula, ia belum bergerak dari dalam mobil tubuhnya terjepit diantara jok dengan pintu yang ringsek dengan tebing yang cukup curam itu.
"Mr. Alex. Cepat bawa nona Nikita ke rumah sakit!" Maksim memerintahku bagaikan aku adalah bawahannya. Ia sangat panik melihat kondisi Niki yang terus mengeluarkan darah pada kepala dan kakinya. Aku tahu ia sangat menyayangi Nikita sejak putriku baru lahir ke dunia ini.
"Lihat! itu mobil Albert," Maksim menunjuk dari kejauhan sebuah mobil berwarna silver Chevrolet Suburban. Memiliki desain eksterior yang elegan dan mewah siapa sangka mobil ini didesain khusus agar tahan peluru. Peluru berkaliber 39 mm dijamin tidak akan bisa menembus body mobil satu ini. Ia sedang menuju ke arah kami dengan kecepatan sangat tinggi.
Aku ingat mobil itu, aku pernah menghadiahkannya pada Albert saat ia berhasil menaklukkan kelompok penyerang markas kami di bagian barat kota ini.
"Paula, " aku melongokkan kepalaku ke dalam mobil dimana Maksim sedang berusaha menolong Istriku di sana.
"Pergi saja cepat Lex, tolong Niki nanti dia kehabisan darah," ujar Paula sembari meringis menahan sakit dibagian dadanya. Aku tentu saja tidak tega meninggalkan wanita yang akhir-akhir ini baru kurasakan sangat istimewa dalam hidupku.
"Tenang saja, Mr. Alex. Masih akan ada Tom yang akan datang bersama tim kita kemari. Pergilah bersama Albert." ujar Maksim dengan nada tenang yang membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Aku meraih jemari Paula dan menciumnya.
"Aku tunggu di Rumah sakit baby," ujarku kemudian menggendong tubuh Nikita ke dalam mobil Albert yang langsung membawa kami ke Rumah Sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan yang kurasa sangat lama ini, aku terus memandang Wajah mungil putriku Nikita yang sudah dipenuhi darah yang mulai mengering.
"You'll be okey, honey," bisikku dikuping Nikita berkali-kali. Aku akan mencari tahu siapa yang berani melakukan ini pada keluargaku dan tentu saja akan kuberikan pembalasan yang lebih mengerikan dari ini.
Ciiit
Albert menghentikan mobilnya pas didepan ruang UGD Rumah Sakit Internasional terbaik di negara kami.
Dengan langkah memburu aku membawa tubuh Nikita ke dalam agar segera mendapatkan pertolongan dengan cepat. Aku berteriak memanggil dokter agar Nikitaku segera diselamatkan.
"Tenanglah Mr. Alex. Biarkan dokter mengobati putrimu dengan tenang." ujar Albert saat melihat aku mengancam dokter itu dengan revolverku.
"Pastikan Nikita sembuh, atau wusssh!" ujarku dengan menempelkan moncong revolverku di pelipis sang dokter.
"Baik, Mr.Alex," jawab dokter itu gugup. Keringatnya bercucuran di dahi dan lehernya. Ia mulai memberikan pertolongan pada putriku dengan mengeluarkan semua kemampuan yang ia punya.
Berjam-jam kulewati dengan rasa gelisah. Maksim baru saja tiba dengan membawa tubuh Paula yang sudah tak bernyawa. Ia ternyata cedera di bagian leher dan dadanya. Untuk yang pertama kalinya air mataku menetes setelah puluhan tahun hidupku. Aku memeluk tubuh Paula yang sudah terbujur kaku dengan senyum yang sama ketika aku pertama bertemu dengannya.
"Bangun Baby, aku akan menikahimu," bisikku di kupingnya yang mulai dingin.
"Get up Pal, don't leave me, please!," aku mengguncang keras tubuh Paula berharap ini hanya mimpi buruk yang aku alami.
"Oh, Shiiiit!" aku menjambak rambutku karena marah dan sedih. Aku bahkan merusak fasilitas rumah sakit itu karena emosi yang sudah menggunung.
"Pastikan pelaku penyerangan itu ada dihadapanku sekarang!" teriakku kepada semua anggota gengsterku. Beruntung Range Rover Vogue milikku menyimpan rekaman kejadian itu hingga dalam waktu kurang lebih 10 jam pelaku sudah aku dapatkan. Aku tidak memberinya ampun sama sekali.
Ternyata mereka dari keluarga pembunuh George. Dan mereka datang untuk membalas dendam. Tanpa banyak bicara aku menghabisi semua keluarganya. Itu adalah balasan yang setimpal atas kepergian Paula istriku.
Aku kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nikita yang belum juga sadarkan diri. Penyesalan seni penyesalan semakin menggerogoti tubuhku. Kepergian Paula yang begitu mengejutkan serta keinginan wanita itu yang minta aku nikahi membuat aku ingin mereemas hatiku sendiri karena tidak pernah peka pada perasaan wanita itu.
"Mr. Alex." panggil dokter dengan takut-takut. Ia ragu menyampaikan sebuah berita buruk tentang putri sang bos mafia tampan tapi kejam dan dingin ini.
Aku mendongak memandang dokter bedah itu.
"Putri anda mengalami keretakan pada kakinya dan kami membutuhkan izin anda untuk mengamputasinya."
Aku hanya mengangguk dengan mata sembab. Aku sudah kehilangan tenaga untuk marah pada keadaan.
"Lakukan yang terbaik dokter," ucapku pelan. Tetapi dokter itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Aku menatapnya.
"Matanya juga tidak merespon. Kami akan mengujinya kembali. Benturan keras pada kepalanya sepertinya mengakibatkan kerusakan pada Indra penglihatannya itu." Aku merasakan tubuhku bergetar. Jantungku seakan berhenti berdetak.
"Apa dokter, tell me the truth!" aku berdiri dan mencengkram kelopak jasnya. Ia sepertinya sangat ketakutan tetapi ia tetap berkata jujur.
"Nikita buta!" aku tanpa sadar meraung keras dan membanting semua yang ada di ruangan itu. Untunglah Maksim dan Albert menahan tubuhku agar tidak membuat kekacauan lagi. Aku tidak peduli semua orang melihat sisi terendah dari diriku saat ini. Aku yang sangat kuat dan kejam kini merasa paling lemah dan tak berdaya.
Aku bersimpuh di kaki Albert dan Maksim. Aku menangisi hidupku yang begitu sangat menyedihkan.
---Bersambung---
. 🍁🍁🍁
Hai, readers tersayangnya othor, mohon dukungannya untuk karya recehku ini ya gaess, dengan cara like, komen, dan hadiah yang banyak agar aku semakin semangat.
Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
alex penyesalan selalu dtng di belakang,apalg nasi SDH JD bubur
2024-09-23
0
ida fitri
astaga andai aja watu itu Alex mau menerima permintaan Paula mungkin kejadian ini ga akan terjadi sekarang Paul dah mati sakiiit banget rasanya😭😭😭
2022-09-10
0
may22
kasihan 😭
2022-08-18
0