Albert dan Maksim datang mengunjungi Alexander di desa karena permintaan pria beranak satu itu. Di tengah malam yang dingin saat kedua orang itu sedang beristirahat dibawah selimut tebalnya, Alexander menelpon bahwa mereka harus datang karena ada hal yang sangat penting yang harus mereka lakukan.
Pukul enam sore mereka berdua tiba dengan persiapan yang sangat matang. Beberapa pucuk senjata api sudah siap di bagasi mobil berikut bom molotov dengan daya ledak cukup tinggi kalau hanya menghadapi tikus-tikus got di desa itu.
"Bagaimana kabarmu Boss!" sapa Albert sembari memeluk tubuh tinggi tegap milik Alex.
"Kamu semakin sehat sekarang." tambahnya lagi dengan menepuk-nepuk bahu yang semakin keras dan berotot itu.
"Pekerjaannya kan mencangkul dan menanam sayuran, tidak seperti kita yang hanya duduk dibelakang meja." jawab Maksim sembari tersenyum.
"Yah begitulah nasib jadi petani." jawab Alexander kemudian mengajak kedua tamunya masuk ke dalam rumah.
"Well, dimana gadis cerewetku itu mr.smith?" tanya Maksim sambil mengeluarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mencari Nikita putri kesayangannya.
"Oh, dia lagi bermain bersama Aisyah." jawab Alex santai. Ia sedang sibuk membuat pasta untuk tamunya yang kelihatan sangat kelaparan. Semua cemilan dan minuman dihabiskan oleh dua orang ini tanpa aba-aba.
"Aisyah?" tanya Maksim penasaran. Ia ingat Aisyah Putri pemilik rumah ini yang sangat keras kepala itu yang menolak Alexander secara terang-terangan.
"Iyya Aisyah gadis cantik primadona desa." jawab Albert sambil mengerling kearah Maksim.
"Kamu kenal Aisyah juga?" tanya Maksim dengan nada keras agar suaranya sampai ke dapur dimana Alexander berada.
"Tentu saja, Max. Dia gadis yang paling cantik yang pernah kutemui di dunia ini." jawab Albert dengan suara yang besar pula. Mereka berdua bercakap seperti orang tuli saling berteriak dengan maksud memancing reaksi sang tuan rumah.
"Aku berharap bisa membawanya kencan suatu waktu." lanjut Albert lagi dengan gaya melankolis.
"Jaga mulutmu!" bentak Alexander sembari melemparkan sebotol minuman bersoda ke arah Albert, untung pria itu menangkap dengan cepat.
"Dia gadis kesayangan ayahnya." lanjut Alex sembari menata pasta yang masih hangat dan menguatkan aroma yang sangat harum.
"Gadis kesayangan ayahnya atau kesayangan daddy-nya Nikita?" Albert mencoba menggoda Alex dengan senyumnya yang menyebalkan.
"Sekali lagi kamu bicarakan gadis itu. Aku pastikan kamu tidur diluar tanpa makan malam." ancam Alex dingin.
"Oh aku jadi takut, brrrr." ujar Albert sembari menggigil ketakutan kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Albert, ayo makan." Maksim segera melerai perdebatan mereka. Ia segera menyendok pasta itu dengan lahap. Perjalanan yang cukup jauh tanpa istirahat membuatnya kelaparan. Akhirnya Albert diam dan memulai makan malamnya tanpa Nikita.
"Biasanya Nikita pulang selarut ini?" tanya Maksim saat mereka bersantai di beranda depan. Ia ingin sekali bertemu dengan gadis cilik itu.
"Sebentar lagi aku menjemputnya." jawab Alex sambil menghisap cerutunya dalam. Daerah dingin pegunungan membuatnya semakin sering menghisap cerutu untuk menghangatkan badannya. Ia menghindari minuman beralkohol sekarang, sejak tinggal di desa ini. Ia takut mabuk dan tidak bisa menjaga Nikita yang masih butuh perawatan dan perhatian yang banyak darinya.
"Biar aku yang menjemputnya." tawar Maksim karena sudah tak sabar dengan celotehan gadis manis itu.
"Tidak perlu, aku berangkat sekarang." putus Alex kemudian memakai mantelnya dan menuruni anak tangga kayu yang mengeluarkan bunyi berderit dikarenakan bobot tubuhnya yang lumayan berat.
"Kamu tak mau aku bertemu Aisyah mu boss." ujar Maksim pelan sambil tersenyum. " Atau kamu ingin berjumpa dengannya sebelum tidur, hah."
"Sungguh alasan yang bagus dengan selalu menitipkan Nikita disana." lanjut Maksim bermonolog dengan dirinya sendiri.
Pletak
Albert melemparinya dengan sebiji kacang goreng. "Ada apa?" tanya Maksim bingung kenapa tiba-tiba ada kacang terbang di atas dahinya.
"Kamu memikirkan Alex juga?" tanya Albert yang sedari tadi melihat Maksim tersenyum-senyum aneh.
"Iyya. Betul sekali. Aku cuma berpikir bagaimana cara dia menyalurkan hasratnya yang aku tahu sangat tinggi itu ya?" ujar Maksim dengan pandangan menerawang.
Alexander menjemput Nikita di beranda depan rumah paman Yusuf. Gadis kecil itu diantar langsung oleh Aisyah keluar menemui daddy-nya.
"Terima kasih Aisyah." ujar Alex sambil meraih kursi roda Nikita.
"Sama-sama Tuan." jawab Aisyah tersenyum.
"Good night Bu guru. Jangan mimpikan aku yah." ujar Nikita menggemaskan.
"Kenapa?" tanya Aisyah masih dengan senyumnya.
"Karena aku pasti merepotkanmu dalam mimpi. hihihi." jawab Nikita sembari menutup mulutnya tertawa. Alexander tanpa sadar ikut tertawa sampai Aisyah mengernyit. "Ternyata pria dingin ini bisa juga tertawa." bisiknya dalam hati. Dan tanpa mereka sadari sebuah mobil hitam yang sudah lama terparkir agak jauh dari rumah itu sedang mengawasi mereka bertiga.
"Pastikan gadis itu sudah ada di tanganku besok." ujar Azzam dengan pandangan tak lepas dari sosok gadis cantik berjilbab biru Dongker itu. Bukannya menjawab pria yang sedang memegang kemudi itu langsung bergumam pelan.
"Alex?"
"Hah? kamu kenal pria asing itu?" tanya Azzam tak penasaran.
"Dia, the Bos Mafia terbesar di Rusia Alexander Smith, orang yang sangat berbahaya. Musuh bebuyutan black Shadow." jelas pria yang akan bertugas menculik Aisyah atas perintah Azzam. Ternyata ia adalah salah satu anggota Black Shadow yang sedang menjadi buronan pemerintah.
"Bagus! lanjutnya lagi. Pantas saja suaranya sudah tidak pernah kedengaran. Ternyata ia bersembunyi di sini." lanjutnya lagi dengan seringaian jahat.
"Kita akan tangkap semuanya. Sekali bergerak 3 nyawa kita dapatkan." geramnya sembari mencengkeram kemudi.
"Apa kamu berani?" tanya Azzam mulai khawatir.
"Tenang saja selama ini ia merasa kuat karena dikelilingi oleh orang-orang terbaiknya. Tetapi sekarang ia sendiri tanpa ada persiapan. Kita akan menyerang besok siang." putus pria itu yang membuat Azzam melongo.
"Hei, aku hanya menginginkan gadis itu. Kalian tidak perlu pakai kata penyerangan!" tolak Azzam karena ia merasa rencananya tidak sesuai dengan yang dipikirkan oleh pria yang ia sewa itu.
"Diam kamu! kami membutuhkan kepala Alex dan ini adalah saat yang tepat. persetan dengan gadismu itu." bentak pria itu lagi kepada Azzam.
"Hei, aku yang menyewamu. Akulah bosnya. Kenapa kamu malah memerintahku seperti itu."
"Baiklah. Kamu dapat gadis itu dan kami dapat kepala Alexander."
"Okey, deal!" mereka berdua akhirnya sepakat dan mulai melajukan mobilnya menjauh dari rumah Aisyah untuk mengatur rencana selanjutnya.
🍁🍁🍁
"Jadi keadaan genting apa yang membuatmu memanggil kami berdua kemari boss?" tanya Albert setelah melihat Alexander menidurkan putrinya. Mereka bertiga sedang duduk di depan perapian untuk menghangatkan tubuh mereka yang semakin larut cuaca semakin dingin menusuk tulang.
"Aku ingin kalian mengantarku ke dokter untuk khitan." jawab Alexander santai tetapi membuat kedua pria itu langsung tersedak.
"Khitan?"
"Iyya, khitan atau sunat. Aku ingin disunat oleh dokter terbaik di ibu kota sekalian membawa Nikita ke dokter bedah tulang."
"Hah?" Jawab mereka kompak. Albert dan Maksim saling berpandangan. Jadi senjata api dan bom yang sudah mereka siapkan hanya akan jadi benda yang tak berguna??? Mereka berdua memukul jidat masing-masing.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh aku ini yah dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
masa Alex SDH besar msh diantar disunat sunggu lucu/Grin//Grin/
2024-09-24
0
Bang Baron
nyengir kuda saya denger mantan bos mafia minta di anter sunat🙈
2023-07-18
1
babyanzely
ngakak😂😂sama kemolongolan Albert sma si Maksim🤣🤣🤣
2023-02-14
0