Club X pukul 23.00 waktu setempat.
POV Alexander Smith
Malam ini aku begitu bahagia karena pencapaian gengster yang aku pimpin sejak bertahun-tahun yang lalu sejak John Smith papa angkatku menyerahkan semuanya padaku. Aku tahu akan banyak yang tidak suka karena aku hanya seorang anak angkat yang tidak ada hubungan darah dengan bos besar gengster terbesar di negara ini.
Aku tidak peduli dan tidak mau tahu apa yang mereka pikirkan yang penting aku sudah menguasai gengster ini dan membuatku kaya raya dan bebas melakukan apa saja yang aku mau, itu sudah cukup buatku.
Area kekuasaanku semakin melebar ke arah barat tempat gengster Yuris berkuasa. Sekali lagi kami mengambil alih daerah itu. Aksi tembak menembak tentunya tak bisa kami elakkan. Ada banyak korban berjatuhan dari dua belah pihak tetapi kekuatan kami belum bisa mereka kalahkan.
Aku sudah berdiri di depan Club pribadiku yang hanya orang-orang terdekat saja yang bisa masuk di sini termasuk gadis-gadis yang akan melayaniku haruslah gadis pilihan yang bersih dan tidak berpenyakitan. Mereka harus lulus uji klinis.
"Mr. Alex, mereka menunggu anda di dalam," ujar salah seorang kepercayaanku yang bernama Albert ketika menyambutku di depan Club. Ia selalu tahu apa keinginanku ketika aku tiba. Gadis-gadis pilihan akan selalu menantiku di kamar VVIP.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya, tetapi entah kenapa netraku tertumbuk pada seorang gadis yang tampak kusut di depan bartender. Ia kelihatan tengah duduk sendiri di tengah hingar bingarnya musik keras dengan nada memekikkan telinga itu Sebuah gelas sloki masih berada di tangannya. Rambutnya yang hitam panjang sedikit menutupi wajahnya.
Aku menghentikan langkahku dan memutar arah ke tempat gadis itu berada. Ada rasa penasaran di hatiku melihat tatapannya yang begitu menyedihkan.
"Excuse me, Miss," sapaku padanya dengan sopan. Ini bukan kebiasaanku sebenarnya. Menyapa gadis terlebih dahulu. Biasanya mereka yang akan mati-matian menggodaku baru kemudian aku ladeni. Gadis itu menatapku dengan tatapan mata sendu penuh air mata. Bola matanya yang hitam pekat begitu menggoda kelelakianku. Tak banyak yang punya bola mata seperti itu di sini. Apa mungkin ia memakai kontak lens. Whatever! yang jelasnya aku sudah tertarik padanya dan aku pastikan akan memilikinya malam ini juga.
"Nona, Mr. Alex menyapa anda!" tegur bartender yang pastinya tahu aku siapa dan kekuasaanku di tempat ini. Aku kembali menajamkan pandanganku padanya. Ia meremas jari-jarinya di atas meja. Sangat jelas kalau ia sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Ia belum membuka mulutnya setelah aku menunggunya. Terpaksa aku langsung meraih tubuhnya dan menyeretnya dengan paksa ke kamar VVIP ku. Aku sudah terlalu gemas ingin memakannya. Ia mungkin saja berpura-pura takut atau malu padahal yang aku tahu semua perempuan yang masuk ke Club ini pastinya sudah tahu konsekuensi apa yang akan ia dapatkan setelah keluar dari tempat ini.
Uang! mereka kemari untuk mendapatkan uang dan kepuasan. Tidak ada yang suci di sini. mereka menawarkan dan aku memberi yang mereka mau.
Di dalam kamar. Gadis itu masih diam dan aku berusaha mati-matian menahan hasrat yang sedari tadi minta dilepaskan. Entah daya pikat apa yang dia punya hingga mau saja aku menunggunya.
"Tuan, aku..." ujar gadis itu sembari meremas ujung kemejanya. Air matanya kembali menetes.
"Shiiiit!" aku mengumpat karena tak pernah merasakan hal seperti ini. Tidak pernah ada dalam kamusku bisa terpengaruh akan suasana melankolis macam begini. Dan tanpa kuduga gadis berambut panjang itu malah membuka semua kain yang menutup badannya di depanku tanpa sisa. Memperlihatkan semua keindahan yang begitu murni, yang mampu membuat semua orang menjadi lupa diri termasuk aku.
"Cantik!" gumamku dalam hati. Ia memohon agar aku melakukannya padanya. Aku tidak tinggal diam, jiwaku serasa terbakar. Pesonanya begitu memikat hingga membuatku terjatuh dalam palung kenikmatan yang tak berujung. Aku bagaikan harimau lapar yang siap menerkam dan mengunyahnya dengan segala kekuatanku. Aku menerkam tanpa peduli lagi kehigienisan dari dirinya, persyaratan itu kini terbang seiring udara panas yang berhembus diantara kami berdua.
Kayuhanku berhenti setelah tahu ada dinding tak kasat mata yang masih sangat kuat menghalangiku. Tidak ku sangka di negara yang sangat bebas ini masih menyisakan gadis perawan seperti ini. Kulihat ia mengernyit merasakan sakit, tapi sungguh aku tak bisa berhenti di sini. kuhujani dia dengan kecupan-kecupan manis agar dia lebih rileks. Ini terlalu nikmat dan lezat, hingga dengan sekali hentakan aku berhasil menghancurkan dinding itu. Kudengar ia meracau tak jelas dengan suara yang mampu membakarku lebih dahsyat. Sungguh tak pernah kurasakan yang seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun yang pernah menjadi pemuas ranjangku.
"Terima kasih, Beb," ucapku tanpa sadar. Kutelan Salivaku kasar. Ini sungguh diluar kebiasaan seorang Alexander Smith. Aku berterima kasih setelah melakukan transfer kecebong pada seorang gadis asing yang bahkan tidak terdata dalam daftar yang akan melayaniku malam ini.
"Hem," ia mengangguk kemudian jatuh tertidur karena kelelahan berlomba denganku menggapai puncak. Aku sekarang baru punya waktu untuk mengamati wajahnya. Ia sangat cantik, bulu matanya lentik dan bibinya sangat manis. Seketika terbayang lagi kejadian tadi yang rasanya ya ampun, bagian intiku kembali berdenyut mengingat apa yang aku lakukan padanya barusan.
Biasanya setelah bercumbu aku akan segera meninggalkan para perempuan pemuas hasratku itu begitu saja, Albert yang akan mengurusnya tetapi tidak kali ini, aku yang takut ditinggalkan walaupun aku tahu siapapun yang berani membuatku kecewa pastinya akan mendapat ganjaran yang sangat besar. Ia akan dicari sampai ke lubang semut sekalipun.
Setelah memastikan gadis ini tertidur dengan tenang akupun menyusulnya ke dunia mimpi dengan tetap memeluknya posesif. Besok pagi aku akan mencari tahu siapa sebenarnya dirinya karena mulai saat ini ia yang akan melayani hasratku seorang aku tak ingin perempuan yang lain. Rasanya sangat cocok untukku.
"Tuan," ujar gadis itu sembari menarik letak selimut yang menutupi tubuh polosnya yang sudah dipenuhi banyak jejak kepemilikanku. Rupanya nyawanya sudah terkumpul dan mulai ingin beradaptasi denganku.
"Hem, " jawabku singkat sembari menghisap cerutu ku. Aku sudah lama terbangun dan menunggunya dengan membuka handphoneku untuk mengawasi pergerakan musuh kami kali ini. Ia masih kelihatan malu-malu setelah kejadian semalam yang membuatku terbang ke nirwana berkali-kali. Aku menghampirinya dan menatapnya lembut.
"Kamu renyah sekali semalam, minta apa saja padaku aku akan mengabulkannya," aku berbisik dikupingnya lembut.
"Kamu tahu siapa aku kan?" tanyaku sembari meraih rahangnya agar ia bisa menatapku dengan bola mata hitam pekatnya itu. Ia menggelengkan kepalanya polos.
"Apa? kamu tidak mengenal siapa aku?" ujarku kaget sekaligus gemas. Aku bukanlan orang baik yang seharusnya dikenal tetapi setidaknya ia harus mengenalku sebagai orang jahat yang hampir menguasai keseluruhan negara ini. Aku menggeram kesal dengan kepolosan gadis ini.
"Aku butuh uang yang banyak untuk menebus orang tuaku yang mereka tahan karena pinjaman berbunga itu tuan," ujarnya dengan nada sedih.
"Aku tidak tahu kenapa kakiku bisa saja melangkah kesini semalam setelah mengikuti beberapa perempuan yang katanya bekerja di sini."
"Ssst!" aku menaruh jariku ke bibirnya agar ia tidak usah meneruskan kisahnya yang cukup klise bagiku. Semua yang datang menjajakan tubuhnya ke sini alasannya adalah uang dan uang. Segera aku menghubungi Albert untuk mengurus pembayaran utang orang tua gadis ini yang aku ketahui bernama Paula.
"Kamu tidak usah khawatir, semua yang kamu inginkan akan aku beri tetapi hiduplah bersamaku, berikan aku kepuasan yang melebihi dari semalam, okey?" ia hanya mengangguk dan tentu saja memang tak punya cara untuk menolak. Aku sudah membelinya dengan harga mahal.
Aku tahu dia belumlah profesional di atas ranjang tetapi entah kenapa aku ingin mengikatnya di sini bersamaku sampai aku bosan. Tak perlu kata cinta karena aku tidak percaya itu apalagi yang namanya pernikahan. Tetapi aku tetap akan menamainya sebagai istriku.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor jumpe lagi kite. Tetap dukung karya receh aku ya gaess, dengan cara tap Favorit, klik like, ketik komentar, dan kirim hadiah, dan vote yang banyak ya...
Kisah ini aku daftar untuk lomba Pria Urban, So nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
masih menyimak awal yg baik
2024-09-23
0
Halimah Ahong
aq baru mmpir thor nih dn aq suka .
mau klik like tkut slah... 🤗🤗🤗
2022-09-13
1
ida fitri
ternyata kehidupan masa lalu Alex sangat menyakitkan di tambah dia harus kehilangan ke dua orang tua nya sehingga dia masuk dalam dunia hitam
2022-09-10
1