POV Alexander Smith
Aku sering mendengar panggilan waktu beribadah untuk para muslim di desa ini, hampir setiap waktu yakni lima kali sehari, tetapi entah kenapa panggilan kali ini terasa berbeda. Hatiku begitu tenang dan merinding secara bersamaan. Bukan hanya karena orang yang mengumandangkannya bersuara indah melainkan ada sesuatu yang kurasakan seperti sebuah magnet yang menarikku.
Matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat, cahayanya yang kekuningan sedikit demi sedikit mengabur seiring awan hitam yang mulai merangkak naik. Aku melangkahkan kakiku ke masjid tempat suara azan berkumandang sejak tadi. Aku memperhatikan semua orang yang mulai dengan serius melakukan ritualnya.
Aku ingin sekali memasuki masjid itu tetapi aku tidak tahu bagaimana cara mereka beribadah, jadi kuputuskan aku di luar saja mendengarkan lantunan suara orang yang memimpin ibadah itu. Sampai mereka semua keluar aku masih disana berdiri dalam suasana hati yang tidak kutahu apa namanya.
"Tuan Alex?" sapa seseorang yang baru keluar dari sana. Wajahnya kelihatan putih dan bersih.
"Kenapa tidak ikut sholat?" tanyanya lagi. Aku menarik tangannya ke tempat sepi. Aku belum mengenalnya dengan baik tetapi ternyata ia mengenalku mungkin karena hanya aku orang yang berbeda di sini, hingga aku gampang diingat dan dikenali.
"Sebenarnya aku tidak tahu cara sholat tetapi sungguh aku ingin belajar." ujarku dengan pandangan lurus ke matanya.
"Maukah kamu mengajariku?" tanyaku sambil menggenggam tangannya.
"Dengan senang hati tuan Alex." jawab pria itu dengan senyum di wajahnya.
"Kapan anda mau belajar? sekarang juga aku sudah siap, kalau anda?" tanya pria itu lagi. Aku berpikir, Bukankah aku ada janji dengan Paman Yusuf dirumahnya sekarang
"Besok saja, bagaimana? aku sekarang ada janji dengan paman Yusuf." ujarku setelah lama terdiam.
"Okey, baiklah tuan Alex. Kita akan bertemu di sini di waktu yang sama." putus pria itu lagi.
"Maaf, aku belum tahu siapa nama anda." ujarku sambil tersenyum malu, kami sudah lama berbicara tetapi namanya pun belum aku tahu.
"Panggil saja aku Pasha." ujar pria itu masih dengan senyum teduhnya.
"Baiklah, aku kerumah paman Yusuf dulu. Sampai berjumpa besok." Pasha menjabat tanganku erat, akupun sama. Aku baru merasakan mempunyai saudara sekarang, selain Albert dan Maksim tentunya.
Kami berdua pun berpisah di depan masjid. Aku melangkahkan kakiku ke arah rumah paman Yusuf dengan langkah tenang, aku akan menjelaskan semuanya asalkan ia tidak salah faham padaku dan putrinya.
"Salam bibi." ucapku setelah pintu dibukakan oleh bibi Sarah. Perempuan paruh baya itu mempersilahkanku masuk kemudian ia memanggil paman Yusuf. Lama aku menunggu di ruang tamu itu sampai seorang pria asing juga duduk di hadapanku. Ia mulai memperkenalkan dirinya sebagai Omar kakak laki-laki dari Aisyah. Dari penampilannya aku bisa menebak dia seorang yang berpendidikan.
"Kau sudah datang, tuan Alex." ujar Paman Yusuf kepadaku dengan nada datar dan dingin.
"Iyya paman, aku memenuhi undanganmu." jawabku sambil berdiri dari tempat dudukku. Ia mempersilakan aku duduk kembali dengan gerakan tangannya.
"Kita langsung saja tuan Akex." aku merasa aneh dengan panggilan tuan itu, aku merasa jadi orang yang sangat asing dimata paman Yusuf, tapi kucoba untuk mengerti dirinya kalau ia sedang marah padaku.
"Aku tahu kamu adalah pria terhormat dan bertanggung jawab. Dan apa yang aku lihat tadi di rumahmu harusnya tidak terjadi." lanjut paman Yusuf lagi dengan rahang mengetat.
"Mohon maaf paman, anda mungkin salah sangka padaku." ucapku mulai ingin menjelaskan titik permasalahan yang sebenarnya agar kesalahan pahaman ini bisa cepat terurai.
"Aku menemukan putri anda di sebuah jalan sepi sedang menjadi korban pelecehan paman. Dan aku menolongnya dan membawanya pulang. Saat itulah paman melihatnya dalam keadaan kacau seperti itu." Paman Yusuf menatap dengan pandangan tidak percaya. Ia meminta bibi Sarah agar membawa Aisyah ke ruangan itu untuk menjelaskan apa yang terjadi agar ia tidak memberi keputusan yang salah.
"Aisyah, jelaskan pada ayah, apa yang terjadi sebenarnya!" ujar Umar kakaknya. Aisyah menunduk takut dan malu secara bersamaan.
"Bukan tuan Alex pelakunya ayah, tapi aku tidak mau orang itu bertanggung jawab padaku." ujar Aisyah dengan air mata yang mulai menganak sungai di pipinya.
"Apa maksudmu Aisyah! jadi kamu memang dilecehkan oleh seseorang?" tanya Omar yang mulai emosi. Kulihat tangannya mengepal marah.
"Ayo katakan siapa orangnya!" Umar memukul meja dengan keras. Kulihat Aisyah menatapku, aku tidak tahu arti tatapan itu yang aku tahu ia tak mau mengingat kejadian buruk itu.
"Aku yang akan bertanggung jawab kalau putri anda tidak keberatan, aku sudah melihat kehormatannya." entah kenapa aku tidak menyadari apa yang keluar dari mulutku. Otak, mulut, dan hatiku terasa tidak sejalan. Semua yang ada di ruangan itu menatapku tajam.
"Itu kalau kalian setuju."
"Hei, kamu pria asing itu, yang orang katakan bahkan tak punya kepercayaan. Tanggung jawab apa yang akan kamu berikan! sedangkan Tuhan saja tak ada dalam dirimu." aku tersentak dengan kata-kata putra paman Yusuf itu.
"Ah, ya betul sekali. Selama hidupku aku tak pernah mengenal dan percaya Tuhan. Tapi sejak aku tinggal di sini, aku melihat Tuhan ada diantara kalian. Ada kasih dan sayang yang kalian berikan padaku dan putriku. Ada banyak cinta di sini, terima kasih paman karena mau menerima kami tinggal di rumah paman." ucapku dengan suara pelan. Sekali lagi aku tidak menyadari apa yang aku ucapkan, lidah ku seolah-olah dituntun untuk bicara dari hati.
Kulihat paman Yusuf dan Omar saling berpandangan sedangkan Aisyah hanya menunduk.
"Maafkan kami tuan Alex, tapi kami belum bisa menerima anda sebelum kepercayaan anda sama dengan kami." Kali ini suara Paman Yusuf yang kudengar. "Dan juga mungkin Aisyah juga masih shock dengan kejadian ini." lanjut paman Yusuf sambil memandang wajah putrinya yang sembab karena menangis. Aku mengangguk setuju, lagipula akupun tadi tidak menyadari kata-kata yang keluar dari mulutku. Mungkin hanya karena rasa kasihan dan hormat pada keluarga paman Yusuf aku mengatakan hal itu.
"Jadi? siapa pelakunya putriku?" kulihat pria tua itu memandang lekat wajah Aisyah. Tetapi ia hanya menggeleng, ia sepertinya berniat tidak akan menceritakan siapa pelaku pelecehan itu.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengatakannya. Tapi ayah khawatir bagaimana kalau orang itu berniat mengulang kelakuan bejatnya itu nak, " Aku ingin sekali bicara dan mengatakannya tetapi aku lihat gadis itu saja tidak mau orang tahu kenapa aku harus peduli.
"Aku permisi paman, salam!" ucapku pamit karena kurasa masalah ini sudah teratasi.
"Terima kasih nak Alex akan kebaikan hatimu." Paman Yusuf memelukku erat, aku hanya tersenyum.
"Sama-sama paman."
Aku pun meninggalkan rumah itu dengan hati ringan. Kulangkahkan kakiku cepat pulang ke rumah. Aku yakin Nikita pasti sudah menungguku di sana.
---Bersambung---
Mohon dukungannya untuk karya ini ya gaess, like dan komentar sangat aku harapkan agar aku semangat.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Normah Basir
mudah2an hidayah datang padamu alex/Smile//Smile//Smile/
2024-09-24
0
Salpira Salpira
Masya Allah
2022-07-19
1
Palma077
Azzam pelakunya, Pak Yusuf.
2022-07-10
1