Malam berikutnya aku kembali mengirimkan pesan. Kamu tidak pernah mengirimkan pesan duluan selalu aku yang mulai. Entah apa yang kamu pikirkan tentang aku, mungkin kamu menganggap aku tidak penting sama sekali dalam hidup kamu.
"Assalamu'alaikum, menghilang. "
"Waalikumsalam, maaf ga liat ada pesan masuk. Notifikasinya di non aktifkan semuanya bukan sama kamu aja. "
"Orang penting ya? "
"Biasa temen. "
"Tadi kemana? pas aku belanja ga ada. "
"Lagi istirahat sekalian sarapan. "
"Jam 3 sore sarapan, pagi ngga? "
"Ngga, dan tak biasa. Mungkin kebiasaan telat makan jadinya gitu. "
"Ga boleh gitu, nanti sakit loh. Aku juga udah mulai bisa makan lagi sekarang, meskipun dipaksakan. "
Setelah bercerai itu nafsu makan aku hilang, tidak bisa tidur juga. Setiap hari hanya bisa menangis dan menangis.
"Dulu pas dipesantren ngga. Makannya tepat waktu. Karena gila kerja jadinya gini. "
"Belanja juga tadi aku dikit, uangnya di bagi-bagi. "
"Ya sesuaikan aja. Mana stock yang mulai menipis banget, mana stock yang sekiranya bisa bertahan buat belanja selanjutnya. Sistem ditoko aku juga gitu."
"Hayo siapa dong yang mau jadi partner hidup?"
"Masih dirahasiakan allah, belum ada hilal dan belum diperlihatkan."
"Ah sedih. Apalagi kalo inget sama cicilan. "
"Jadi, mau punya suami lagi tuh karna perasaan apa karna cicilan? "
"Kalo sama a Rangga sih karna perasaan. Entahlah dengan cicilan, gimana nanti aja ga tau. Pokoknya yakin mau nyicil sampe lunas."
"Yakin karna perasaan? alasannya?"
Dengan rasa takut, dan rasa ingin menangis aku pun menjawab.
"Setiap malam aku berdo'a dan memohon pada tuhan, kalo a Rangga ditakdirkan jadi jodohku, Dekatkan. Dan kemaren kamu akhirnya bisa dateng ke toko. Benerin printer."
"Tapi kan baru sekali"
"Iya, tapi tetep yakin. "
Entah kenapa hati aku tetap yakin sama kamu.
"Boleh nanya? ini seandainya ya, karna aku tipe orang yang mikir jelek dulu, baru bagusnya, untuk segala hal. Seandainya aku jadi sama kamu. Tapi ga bisa bantu terlalu banyak buat cicilan, gimana?
Masih mau nerima apa adanya? aku pernah bilang Belum bisa menolak dan belum bisa menerima juga.
Alasan ga bisa nolak karena aku ga tahu jodohku siapa. Ga akan nolak karena aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih, apalagi masalah status. Rasulullah juga menikah dengan khadijah yang status nya seorang single parent, malah usianya diatas rasulullah.
Ga akan nolak juga, masa mau nolak wanita cantik yang suka sama aku, tulus lagi.
Ga akan nerima karena masih ada orang tua dan adik yang harus dibahagiakan, ga akan nerima karna sadar dengan kekurangan diri dan keluarga, apalagi tentang masalah materi, takutnya ga sanggup ngebantu dengan apa yang udah jadi tanggung jawab nantinya. Ga akan nerima karena agama ku belum sempurna. Aku punya prinsip mulai dari nol bareng-bareng.
itu alasannya.
Penjelasan nya panjang dan sangat jelas, membuat ku menangis lagi.
"Intinya, karna kamu masih dalam masa iddah. Aku ga mau terburu-buru yang ujungnya malah buruk. Kasarnya gini ya, pasti ga mau kan kalo misalnya jadi sama aku, terus tau keburukannya aku terus kamu ga bisa nerima kekurangan dan keburukannya aku yang pada akhirnya gagal lagi.
Pasti ga mau kan? sambil berjalan aja, toh masih banyak waktu.
Aku pun tidak bisa berkata banyak dan berharap banyak. Karena aku tidak mau gagal lagi, sejujurnya perasaan aku sama kamu tulus. Aku bahagia bila bersama kamu, satu frekuensi. Bisa saling melengkapi satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing. Bahkan aku mau berjuang bareng dalam usaha sama kamu. Karena dalam hidup ini ga ada yang instant, aku udah biasa hidup susah, jatuh bangkit lagi, jatuh lagi bangkit lagi. Karena hidup ini ga semanis drama korea. Hanya mungkin kamu belum memahami perasaan aku yang sejujurnya.
"Besok Mau jualan ke pabrik? "
"Udah ngga, sakit badannya ga kuat, drop banget."
"Dingin?"
"Iya, ga kuat angin nya. Jam 4 pagi berangkat udah kena ac mobil tambah angin disana menusuk banget ke tulang-tulang."
"Jangankan subuh, aku berangkat pagi aja ke toko ga kuat dingin. Enaknya tarik selimut tidur lagi. Tapi ga bisa gitu karna ada keluarga yang harus dibahagiakan dan anak orang yang harus dihalalkan. Karna Cinta tak cukup dengan kata, namun juga harus dengan harta. "
"Tapi dengan harta juga ga cukup. Buktinya aku sekarang dibuang sama mantan suami aku. Padahal kalo dilihat dari segi penghasilan aku dan mantan suami udah lebih dari cukup, dia kerja gajinya lumayan jabatannya tinggi, usaha pun jalan. Bahkan sedang rame-rame nya usaha ku juga. Tiba-tiba dia pergi gitu aja."
"Tergantung bagaimana orangnya, bersyukur atau tidak. Makanya kenapa ga mau buru-buru, segala sesuatu butuh proses. Ketika sudah menjalankan proses dengan baik, hasil Bagus ya alhamdulilah, kalo jelek ya mari berjuang kembali. Karena buat aku, pernikahan bukan hanya tentang menyatukan hati, tapi juga menyatukan jiwa, ego, pribadi dan pemikiran yang berbeda demi tujuan bersama. "
"Betul sekali pa ustadz"
"Dasar, hayo istirahat dulu. Takutnya nanti kamu sakit, kamu butuh istirahat yang cukup. Inget hari yang menyenangkan besok akan datang. Kamu juga berhak bahagia. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments