"A Rangga, aku berharap loh kamu bisa jadi suami aku."
"Kenapa berharap aku jadi suami kamu? "
"Masalah hati, aku selalu berdo'a dan berharap semoga kamu bisa jadi suami aku, dan setelah itu aku maunya kamu, ga ada orang lain yang aku mau selain kamu."
Meskipun aku belum mengenal banyak tentang kamu, tentang keluarga kamu, latar belakang kamu bahkan nama kamu pun aku belum tahu. Tapi hati yakin yang aku mau hanyalah kamu. Hati ku yakin kamu bisa jadi yang terbaik untuk aku.
Aku harus siap ditolak, udah sering disakiti juga insya allah sanggup.
"Maksudnya kenapa kamu bisa sampe seyakin itu sama aku, sedangkan kamu g tau aku, bagaimana kalau aku sama aja sama mantan suami kamu? "
Kamu bertanya dengan perasaan heran mungkin.
Akupun tidak tau alasan nya apa, dari pertama aku melihatmu dulu, lalu aku pindah belanja dan tidak pernah melihat kamu lagi sampai pada akhirnya kita bertemu lagi karena aku belanja lagi ditempat kamu, perasaan aku ke kamu tuh sama, rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, rasa yang tidak pernah berubah.
"Kalo boleh jujur, aku tidak pernah mempermasalahkan status. Ada satu alasan kenapa sampai sekarang aku belum punya pendamping. Jujur, masih punya tanggungan keluarga. Ayah udah meninggal, dan masih punya adik. Kalo laki-laki kan beda tanggung jawabnya sama perempuan. Perempun kalo sudah menikah, tanggung jawab pada orang tuanya berkurang, karena pindah tanggung jawabnya pada suami. Sedangkan kalo laki-laki meskipun sudah menikah tanggung jawab terhadap orang tua nya tetap sama. Paling harus bisa adil aja dalam nafkah materinya."
"Apa a Rangga tidak punya keinginan untuk menikah?"
"Aku juga ingin sekali menikah, memang segala sesuatu tidak bisa dipandang dengan materi, tetapi tetap aja segala sesuatu pun membutuhkan materi."
"Aku ga bisa nolak kamu atau nerima kamu. Karena belum ada alasan untuk nolak dan belum ada alasan untuk bisa menerima. Belum bisa menjanjikan apapun, kita fokus masing-masing dulu aja. Toh, kalo udah jodoh ga akan kemana. Nikmati, jalani dan hadapi. Mungkin saja nanti kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku. Siapa yang tahu takdir allah."
Mendengar penjelasan kamu seperti itu, aku hanya bisa menangis, tidak bisa berkata-kata hanya berharap pada takdir tuhan. Semoga kita bisa dipersatukan.
Aku kirim pesan lagi
"Mau cerita"
Kamu jawab.
"Kenapa?"
"Aku ditawarin masuk kerja lagi ke pabrik yang dulu, tapi aku ga bisa ninggalin anakku. Ayahku juga ga sanggup jaga toko sendiri."
"Udah coba istikharah?"
Karena banyak pertimbangan yang harus kamu pikirkan.
Kalo seandainya kamu bekerja. Berarti kamu harus bisa atur waktu kamu buat anak. Siapa yang antar jemput anak, siapa yang akan mendampingi anak pas belajar daring, bagaimana caranya kamu bisa isi stock barang untuk toko?
Harus dipikirkan matang-matang baik buruk nya gimana. Kalo memang kamu ga mau kerja lagi dan ga bisa, berarti jangan menyerah dan jangan putus asa dengan keadaan yang sekarang ini, karena tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik. Jangan pernah ngambil keputusan kalo kamu masih ragu, takut salah langkah nantinya.
Kamu selalu bisa memberikan pengarahan kepadaku. Kamu bisa membantu ku untuk menjalani semua ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments