Suasana dalam kediaman keluarga pratama sudah sangat begitu
kacau. Banyak kerusakan yang terjadi di mana-mana, seiring terjadinya pertarungan yang mengakibatkan banyaknya mayat yang telah mati bergelimpangan di atas tanah. Anak buah daris pratama yang paling banyak jadi korban dalam pertarungan itu. Dia sendiri sudah tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan. Begitu juga dengan anak-anaknya, mereka sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Hanya geri leo arumi dan zalia yang masih tetap gencar melakukan
perlawanan, itupun sepertinya mereka sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama. Memandang kan kondisi tubuh mereka yang sudah terlalu banyak mendapat luka dan pukulan. Dan hingga pada akhirnya, kekuatan tubuh mereka telah berada di ambang batas, kemudian merekapun jatuh ke atas tanah.
Argan arbeto dan baron tertawa bangga penuh kemenangan, saat orang terakhir dari kelompok mafia elang putih sudah tidak mampu lagi untuk dapat bertahan. Naira sangat sedih melihat arumi sambil menangis iapun mengatakan; " Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak pulang, kenapa kau tidak mau mendengarkan ku? "
Naira menatap kesal, sambil memarahi arumi yang tidak mau
mendengarnya. Andai saja dia mau dengar, mungkin keadaannya tidak akan menjadi seperti ini. Tapi arumi malah tersenyum sambil menatap kearah naira, kemudian dia menjawab apa yang telah di katakan oleh naira tadi ;
" Kalaupun memang ditakdirkan hari ini mati biarlah kita mati bersama. Aku tidak ingin hidup di dunia ini sendiri sementara semua keluarga ku telah mati " Balas arumi sambil berlinangan air mata.
" Hahaha.. Aku sangat terharu.
Percayalah, aku tidak akan membunuh kalian asalkan kalian mau menurut
padaku. Kalian itu lumayan cantik, sangat di sayangkan jika tubuh itu akan di makan cacing dalam tanah. Jadilah istriku, aku pasti akan menyayangi dan memberi kehidupan yang sangat baik di dunia ini, Hahaha. " Baron tertawa
girang sembari mengejek.
Begitu juga dengan argan dan
arbeto. Mereka juga tertawa gembira dengan kemenangan ini, apalagi saat mengingat apa yang telah di janjikan oleh Arendra wijaya. Mereka tambah semangat untuk segera kembali ke ibukota.
Saat itu, orang orang yang masih hidup dari kelompok mafia elang putih di kumpulkan jadi satu. Sedangkan yang sudah mati di biarkan saja berserakan di mana mana. Baron yang sangat senang berjalan mendekati arumi dan zalia yang sudah terikat dan nampak
lemah. Matanya menelusuri rakus dan penuh napsu ke arah tubuh itu, dan tangannya mulai bergerak mendekat kearah tubuh arumi yang sedang ketakutan.
Dia ingin berontak tapi tubuhnya telah terikat dan lemah, sementara tiada satupun saat ini dari keluarga yang bisa menolongnya. Naira dan anggota keluarga lainnya sangat cemas melihat apa yang akan di lakukan baron pada arumi. Tapi belum saja sempat tangannya menyentuh, suara yang begitu dingin telah terdengar ;
"Singkirkan tanganmu"
Semua mata menoleh kearah
suara itu.
Saat itu, wajah setiap keluarga pratama terlihat sedikit cerah melihat libra yang telah berdiri di sana. Entah kenapa rasa semangat itu muncul kembali setelah melihatnya. Terdapat secerah harapan di mata mereka untuk mengubah situasi yang telah terjadi.
Baron sangat terkejut bersamaan dengan rasa gentar dalam hatinya, dia masih ingat betul tentang pertarungan yang pernah terjadi pada hari sebelumnya.
Tapi berapa saat kemudian dia mulai bisa menetralkan perasaannya. Dia berpikir, kalau dirinya masih memiliki kemampuan yang cukup dengan bantuan kekuatan dari argan dan arbeto. Oleh sebab itu dia tersenyum menyeringai dan berani berkata ;
"Apa matamu tidak melihat kalau kami masih memiliki jumlah orang yang sangat banyak? Atau kau memang merasa sangat hebat karena telah mengalahkan ku semalam hingga berani menghalangiku sekarang?. Hahaha.. Ingatlah kau hanya sendiri, aku bisa membunuhmu hari ini karena berani melawanku dan Tiger wolf, Hahaha " Baron tertawa angkuh dan sombong.
Sedangkan libra mulai mengepalkan jarinya karena marah sambil berkata kearah baron ; " Hari ini aku tidak akan lagi melepaskan mu, bahkan aku akan membunuh kalian semua akan aku jadikan tanah ini seperti lautan darah"
"Benarkah? Hahaha.. " Balas Baron meragukan, seraya menyeru seluruh anggota mengepung libra.
"Tentu saja" Jawab libra.
Dalam sesaat tubuhnya mulai berubah. Matanya terbuka lebar, rambut di atas kepalanya telah berdiri tegak, garis garis biru telah bermunculan menutupi sekujur tubuhnya, mata yang biasa terlihat hitam dan bening itu sekarang berubah sangat merah. Dari dalam telapak tangan kanannya muncul sebilah pedang yang berselimut dengan api. Dia telah berada di level akhir batas kesabarannya.
Mata semua orang terbelalak melihat
sosok seperti iblis di hadapan
mereka, rasa takut dan ngeri mulai menyelimuti di setiap mata yang melihatnya.
Dialah libra.
Manusia yang terlahir bersama dengan kekuatan yang bersemadi dalam tubuhnya. Secepat bayangan dia berlari kearah baron, dalam sesaat tubuhnya telah berada tepat di hadapannya.
Dengan menyeringai, dia berkata; Aku akan mengirimu ke neraka.
"Jleb".. Sesaat setelah itu baron mati seketika setelah libra memenggal kepalanya tanpa dia sempat berkata apa pun. Kemudian dia berbalik menatap semua orang yang telah mengepungnya, sambil tersenyum menyeringai dia berkata ;
" Larilah jika sempat ".
Kemudian dia bergerak seperti bayangan membabat semua tubuh yang telah mengepungnya dengan pedang berselimut api yang tersimpan dalam tubuhnya. Banjir darah membasahi tanah yang jadi saksi pembantaian, sedikit sekali dari orang orang itu yang sempat melarikan diri. Dan kini tiada orang selain dirinya yang masih tetap berdiri kokoh di lapangan itu yang sambil memegang pedang di tangan kanannya.
Selebihnya, hanyalah orang orang mati dengan tubuh yang sudah terpisah atau mereka yang sedang sekarat dengan tubuh yang penuh luka.
Tak ada satupun dari keluarga pratama berani menyapa libra yang sedang berada di mode iblisnya. Selama ini, hanya jamilah ibunya yang mampu menenangkannya. Tapi sekarang wanita itu telah tiada hingga tak
ada lagi yang bisa
menghentikannya. Kecuali ada seseorang yang mampu menggantikan posisi jamilah dalam hatinya.
Libra tetap berdiri tegak di tengah lapangan itu tanpa sedikitpun perubahan pada wajah dan
tubuhnya. Pelan pelan, naira berjalan
untuk mendekat lalu memberanikan diri untuk menyentuh bahunya. Naira tidak
mengucapkan kata apapun, dia hanya
terus menyentuh bahu itu dari belakang tubuhnya. Sedikit demi sedikit terlihat perubahan di tubuh libra, garis garis biru yang tadinya terang telah memudar secara perlahan, rambut yang tadinya tegak berdiri mulai kembali pada semula.
Libra menoleh kearah belakang setelah merasakan sentuhan hangat dari belakang tubuhnya. Warna matanya yang merah perlahan kembali ke asal mula seiring wajahnya yang telah mulai terlihat cerah. Dan pada saat yang sama pedang berselimut api yang ada di genggamannya kembali masuk kedalam telapak tangannya.
Saat itu.
Wajah dan tubuhnya telah kembali sempurna seperti layaknya manusia.
Alangkah senang dan bahagianya
naira mendapati dirinya mampu membuat libra kembali kepada dirinya seutuhnya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
《KANG SESAD》
naif banget gua kira bakal bersikap dingin ke keluarganya
2022-11-03
0
neng ade
beruntung Jamilah telah menceritakan semua nya tentang Libra hingga akhir nya Naira sang ibu kandung berhasil menenang kan
Libra dngn sentuhan lembut nya
2022-10-08
0
auliasiamatir
terharu lagi aku
2022-09-06
0