Orang orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu yang di ketuk,
kemudian dokter nadin memerintahkan
seorang perawat untuk melihat.
Setelah pintu terbuka
Terlihat seorang pemuda berambut
gondrong sedang berdiri melihat kearah mereka, kening dokter nadin berkerut, tapi dengan cepat sambil tersenyum jamilah berkata.
"Dia adalah Libra anakku, biarkanlah dia masuk" kata jamilah sambil tersenyum senang yang kemudian mengalihkan pandangannya pada dokter nadin.
Dokter nadin pun mempersilahkan libra
masuk lalu memerintahkan ke empat orang perawat untuk keluar lalu libra berjalan dan berdiri di dekat ibunya.
"Bu bagaimana keadaan mu? " tanya libra sedih menatap ibunya.
Jamilah hanya diam sedaya upaya menahan agar dirinya tidak menangis
menatap anak tersayang yang mungkin tidak lama lagi akan di tinggal untuk selamanya. lalu ia mencoba tersenyum dan mengatakan.
"Apa kau sudah makan? "
"Bagai mana aku bisa makan kalau ibu
seperti ini? " balas libra.
Saat itu hampir saja air mata jamilah lolos, hatinya begitu sedih dan terharu setelah mendengar ucapan libra.
"Mulai sekarang kau harus membiasakan untuk makan sendiri, kau itu sudah besar, pakailah pakaian
yang rapi jangan acak acakan lagi, sikat
gigimu kalau mandi, dan itu, bukankah
ibu sudah menyuruh untuk memotong rambutmu? "
Suara jamilah terdengar bergetar saat berbicara dengan libra.
Dan entah kenapa air mata libra menitik Kepipinya dia merasa heran dan balik bertanya.
"Bu.. ibu kenapa? aku sudah biasa dan nyaman seperti ini dan ini juga dulu atas kemauan ibu"
Jamilah hampir sudah tidak mampu menahan kesedihan di hatinya ia ingin
segera menangis tapi tak ingin terlihat
oleh anaknya. maka dengan itu ia segera mengatakan.
"Cepat potong rambutmu sekarang juga dan sana belilah pakaian yang baru dan pakailah yang rapi"
Ia mengambil dompet dari sakunya dan menarik semua uang yang ada di dalamnya, kemudian menyerahkannya
pada libra agar ia segera pergi sebab dirinya sudah tak mampu menahan tangisnya.
Sedangkan libra hanya berdiri tercengang menatap ibunya.
"Apa kau sudah tidak mau mendengar kata kata ibu? " suara jamilah agak
meninggi.
"Ia bu aku akan potong sekarang, tapi ini uangnya tidak usah, aku punya uang sendiri"
Dan dengan cepat jamilah menimpali
" Sudah cepat pergi sana" teriak jamilah
"Ia ia aku pergi"
Libra segera pergi meninggalkan ibunya dalam ruangan itu, dan beserta dengan itu jatuhlah air mata jamilah, ia menangis tersedu sedu menahan kesedihan. mengingat seorang anak yang telah lama ia manjakan dan tidak lama lagi mungkin akan ia tinggalkan untuk selamanya.
Di luar ruangan.
Naira yang melihat Libra keluar dengan terburu buru dengan wajahnya yang sedikit masam memberanikan diri untuk bertanya.
"Kau kenapa Libra? " tanya naira.
Lalu libra berhenti dan menoleh naira
kemudian dia tersenyum dan berkata.
"Ibu menyuruhku potong rambut, sikat gigi dan berpakaian yang rapi, sebenarnya aku merasa heran dengan
tingkah ibu, tidak biasa biasanya dia
memerintahkanku seperti itu, aneh"
Mereka semua yang berdiri di situ merasa lucu menatap wajah libra yang
terlihat masam dan bingung.
" tapi bukankah itu bagus? kau akan terlihat rapi dan keren" kata naira
sambil tersenyum, menunjukkan baris gigi putihnya.
Sedangkan libra masih terus diam berdiri sambil memikirkan ibunya.
"Kalau begitu biar aku antar, aku tau tempat yang bagus untuk potong rambut" celetuk arumi.
Semua orang menatap ke arah arumi
termasuk juga libra, hati arumi mulai sadar, ia sebaiknya merapatkan hubungannya dengan libra sebagai
seorang kakak kepada adiknya.
Lagi pula dia merasa, selain libra seorang pemuda yang tangguh, dia juga seorang anak yang baik, itu bisa di lihat dari bagaimana dia memperlakukan ibunya.
"Bagaimana? " tanya arumi menatap libra.
"Baiklah" balas libra.
Arumi tersenyum senang, begitu juga dengan naira dan termasuk mereka yang ada di ruangan itu.
Terlebih lagi daris pratama, ia terlihat begitu gembira dengan situasi itu.
dengan terjalinnya hubungan baik maka akan terbuka peluang yang lebar untuk libra kembali pada keluarga ini.
"Kalau gitu aku ikut ya kak?
Celetuk dea yang berdiri di samping arumi, kemudian arumi menoleh pada dea yang terlihat sangat berharap di wajahnya.
" Ayok " kata arumi sambil menatap
adiknya.
Dea melompat kegirangan begitu mendengar arumi menyetujuinya.
Sedangkan Libra tersenyum lucu melihat tingkah gadis kecil itu.
gadis kecil yang sebenarnya adalah adik kandungnya.
"bolehkah aku juga ikut? " teriak seorang gadis lagi yang ingin ikut bersama.
Dia adalah zalia sepupu mereka,
anak dari karin pratama, yaitu anak ke tiga dari daris pratama.
Sekarang semua orang menatap zalia
yang juga terlihat berharap untuk ikut bersama mengantar libra.
"Ayolah.. bukankah aku juga keluarga ini? aku juga ingin mengenal
lebih dekat dengannya" kata zalia memelas.
Sebenarnya, dia merasa sangat kagum melihat ketangguhan libra tadi, jadi dia ingin lebih mengenal lebih dekat.
dan dia juga sudah tau kalau Libra bagian dari keluarga mereka.
Arumi berdiri sambil tersenyum, lalu menoleh menatap libra.
Sedangkan libra yang di tatap arumi
langsung menggedik bahu dan berkata.
"Aku hanya ingin potong rambut tapi kalau kau mau ikut silakan"
"Cihuy" zalia melompat senang begitu juga orang orang yang melihatnya.
Arya, Bino, Karin, Rudi, dan Andini,
Mereka semua anak daris pratama.
Mereka sangat gembira jika anak anak mereka dapat akur bersama.
Begitu juga dengan daris pratama, dia
sangat senang melihat anak dan cucunya dapat akur bersama, karena hanya itulah penyemangat hatinya.
Sedangkan istrinya tercinta, dia sudah lama meninggal dalam kecelakaan.
* * *
Di dalam mobil yang melaju melintasi jalanan, libra hanya diam dan terlihat sedikit canggung karena baru pertama kali bersama para
saudaranya. tapi arumi yang menyadari langsung memancing pembicaraan.
"Siapa yang mengajarimu beladiri? "
Arumi melirik Libra yang ada di sebelahnya sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
" Tidak ada, aku hanya sudah terbiasa dengan perkelahian saja, pengalaman seperti itulah yang selalu mengajariku "
balas libra sambil tetap matanya melihat ke depan.
" Lalu bagai mana dengan kekuatan itu,
kau dapat dari mana? "
"Aku sudah memilikinya sejak aku terlahir" balas libra singkat.
"Oh.. "
' hebat sekali dia ini, bagai mana bisa
ayah tidak mengetahuinya? '
Arumi mengerutkan dahinya sambil berpikir dan bergumam di hatinya.
sedangkan dea dan zalia menjadi pendengar pembicaraan antara libra dan arumi dari belakang.
Setelah sedikit lama dalam perjalanan akhirnya arumi membelokan mobilnya ke kiri dan berhenti di sebuah salon.
"Ayo turun kita sudah sampai"
Merekapun turun dari mobil dan mengikuti arumi yang berjalan di depan masuk kedalam salon.
* * *
Dan di dalam ruangan rumah sakit, naira terisak pilu setelah mengetahui penyakit yang di derita jamilah, ia tidak menyangka kalau jamilah sudah lama
menderita penyakit itu dan kini sudah pada tahap stadium akhir.
Ia sangat menyesali, andai saja ia mengetahui sejak tahap awal penyakit jamilah, pasti dia akan melakukan pengobatan untuk jamilah dan nyawanya mungkin bisa terselamatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Nice...
2022-10-08
1
auliasiamatir
Jamilah bisa nahan tangis nya Thor, tapi aku tidak...😭😭😭😭
2022-09-06
0
ketombee
☕👍
2022-07-27
0