Suara gemeretak tulang patah begitu terdengar jelas saat Libra meremas tangan genro yang sedang menggenggam pistol.
Kemudian dia meraih leher genro dan meremasnya hinga membuat pecah tenggorokannya.
Dan saat itu juga, genro telah meregang nyawa dan mati seketika
tanpa seorangpun dari orangnya yang berani menolongnya.
Kemudian, dengan mata yang merah menyala beserta tubuh yang membiru hingga kewajahnya dia berkata.
"Siapa lagi di antara kalian yang ingin mati? dengan senang hati aku akan mengabulkannya"
Namun, tiada satu orangpun di antara mereka yang berani menjawab kata kata libra.
Tubuh mereka menggeletar begitu ketakutan melihat sosok libra yang terlihat seperti iblis yang nyata.
Libra berjalan mengelilingi para generasi aleksander sambil menatap mereka satu persatu dengan matanya yang tajam, tapi tak satupun dari mereka yang berani membalas tatapannya.
Kemudian dia berhenti dan berdiri di tengah tengah kelompok itu tanpa sedikitpun merasa takut orang orang itu akan menyerangnya.
Dalam hatinya,
andai saja ada seseorang yang berani menentangnya di antara orang orang itu maka tanpa berpikir dua kali dia juga akan membunuhnya.
"Mulai hari ini, akulah yang jadi pemimpin kalian dan siapapun di antara kalian yang tidak setuju, cepat angkat tangan, aku akan segera mengirimnya bersama orang orang yang telah mati itu ke dunia yang baru"
Namun tidak ada satupun orang orang itu yang berani angkat tangan, walaupun dalam hati mereka sangat
marah tapi mereka tidak berani membantah.
"Bagus.. kalau begitu kalian setuju akulah yang memimpin, oleh karena itu aku memerintahkan kalian untuk segera pergi dari sini dan bawa orang orang mati itu.
apa kalian mendengarkan ku? "
Dengan terpaksa mereka mengangguk
dan segera berdiri lalu pergi sambil membawa orang orang yang telah
mati itu. dalam pikiran mereka hidup lebih baik dari pada harga diri yang akan membawa pada kematian.
Setelah mereka semua pergi, libra kembali menghampiri ibunya yang masih pingsan, wajah yang tadinya seperti iblis telah kembali ke semula.
Terlihat kesedihan yang mendalam pada wajahnya, lalu naira ibu kandung libra memberikan saran agar secepatnya membawa jamilah kerumah sakit yang kemudian di balas anggukan oleh libra.
Lalu arya ayah kandung libra menelepon seseorang dan tak berapa lama kemudian datanglah mobil ambulan yang membawa jamilah kerumah sakit.
Dua mobil membawa jalan di depan
sedangkan libra duduk di dalam ambulan di sisi jamilah, dan masih ada lagi satu mobil yang mengikuti
di belakang ambulan yang mereka
tumpangi.
Setelah berapa lama, merekapun sampai pada rumah sakit yang di tuju.
Lalu orang orang yang ada di mobil depan dan belakang turun dari mobil mereka, dan pada saat itu, sudah ada empat orang perawat dan seorang dokter yang telah menunggu.
Kemudian dengan tergesa naira memerintahkan ke empat perawat dan seorang dokter agar segera menyediakan peralatannya, lalu mereka langsung membawa tubuh jamilah yang masih pingsan ke sebuah
ruangan vip yang cukup luas dan mewah.
Semua orang di perintahkan untuk menunggu di luar ruangan, begitu juga dengan libra.
Libra yang terus mengikuti ibunya dengan perasaan cemas agak terbelalak melihat pasilitas yang ada di ruangan ibunya, dahinya berkerut memikirkan tentang biaya yang akan di tanggung setelahnya, dia merasa pasti biaya dari semua pasilitas itu sangat mahal.
Naira yang merasakan apa yang sedang di pikirkan libra dengan cepat
berkata.
" Jangan takut dengan biayanya, rumah sakit ini milik kita"
Libra menatap naira dan kemudian wajahnya sedikit berseri mendengarnya.
"Terima kasih" kata libra
Naira menggelengkan kepalanya lalu berkata
"Akulah yang harus Terima kasih, karena ibumu telah menyelamatkan
arumi" balasnya.
Libra tersenyum kecut lalu menatap jamilah dari jendela kaca yang telah terpasang infus di tangan kirinya, dan seorang dokter wanita masih memeriksa luka dalam ibunya.
Di dalam ruangan, jamilah perlahan membuka matanya dan sedikit demi sedikit kesadarannya telah pulih walaupun pandangannya agak sedikit pusing, ia melihat beberapa orang ada di dekatnya dan matanya terus menelusuri daerah sekitarnya.
Setelah berapa saat dia sadar, kalau dia berada di dalam sebuah ruangan rumah sakit.
Lalu dengan memberanikan diri dia coba bertanya pada seorang wanita muda yang ada di dekatnya yang dia yakini adalah seorang dokter.
"Maaf.. siapakah orang yang membawa saya kesini ? " tanya jamilah.
Kemudian sambil tersenyum ramah wanita itu menjawab.
"Sebelumnya saya perkenalkan dulu diri saya.. nama saya Nadin, dokter yang di tugaskan untuk menangani masalah ibu, sedangkan orang yang membawa ibu kesini, itu di lakukan oleh keluarga pratama dan mereka sekarang ada di luar ruangan ini"
"Oh.. apakah anak saya ikut dok? tanya jamilah.
Dahi dokter nadin berkerut tentang anak yang di sebut jamilah sebab dia memang tidak tau tentang hal itu.
lalu dia tersenyum dan mengatakan
" Oh kalau itu saya kurang tau bu, tapi saya bisa menanyakan pada mereka di luar" tukasnya
"Tidak usah dok, tidak apa.
bisakah dokter memberi tau bagaimana keadaan saya? saya tau,
selain terluka saya juga memiliki penyakit di tubuh saya, tapi tolong rahasiakan itu dari anak saya dok,
saya tidak mau anak saya akan bersedih "
Dengan sangat terharu dokter nadin menatap jamilah, bagaimana mungkin seorang ibu mampu menyembunyikan
penyakitnya hingga begitu lama, hanya
agar sang anak tidak khawatir dan bersedih padanya.
Dari situ dokter nadin dapat menyimpulkan, betapa kasih sayang yang sangat besar oleh seorang ibu pada anaknya.
Ia hanya mampu menatap jamilah tanpa mampu bisa mengatakan apapun, sebab dia sudah tau penyakit
leukemia stadium akhir yang di derita jamilah saat memeriksanya tadi.
Tanpa terasa air matanya jatuh menitis di pipinya, kemudian sambil memegang tangan jamilah ia mengatakan.
"Apakah ibu tidak sebaiknya mengatakannya pada anak ibu? "
Jamilah menggeleng
"Tidak" katanya
" Bahkan aku tidak sanggup untuk
membiarkannya melihatku memejamkan mata untuk selamanya "
Jamilah kemudian diam lalu berapa saat kemudian dia kembali berkata
sambil menitiskan air matanya.
"Aku sangat khawatir tentang bagaimana keadannya setelah aku tidak lagi di sisinya, aku sangat menyayanginya hingga telah memanjakannya sejak kecil , sekarang aku sangat berharap agar ia bisa kembali pada keluarganya, setidaknya,
dia bisa mendapatkan kasih sayang
lagi dari keluarga kandungnya"
Libra yang sedari tadi menatap pembicaraan antara ibunya dan dokter
nadin dari sebalik kaca merasakan
sesuatu yang berat dalam hatinya.
Walau ia tidak bisa mendengar tentang
apa yang di bicarakan tapi ia merasa akan ada sesuatu yang akan hilang.
Libra sama sekali tidak peduli pada orang orang yang membicarakan atau bahkan menatap di belakangnya.
Kemudian dia berjalan kearah pintu
dan mengetuk pelan berharap di ijinkan
untuk masuk.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
neng ade
aku tak sanggup membayangkan nya jika ibu Jamilah meninggalkan Libra .. 😢
selama itu merahasiakan penyakit nya pd Libra..
2022-10-08
1
Jimmy Avolution
Ayo...
2022-10-08
1
auliasiamatir
ini benar benar seru, kelemahan dann kekuatan libra adalah ibunya, sampe terharu aku bagian ini Thor.
2022-09-06
1