Layar Virtual memunculkan tayangan Jutaan Manusia yang sedang disembelih oleh Prajurit Lemurian. Bonar terkejut melihatnya, kenapa mereka melakukan pembantaian massal? Apakah ini gara-gara dia beberapa kali memprovokasi Polisi Lemurian—sehingga Pemimpin Suci Lemurian merasa Manusia yang berevolusi kini menjadi ancaman besar bagi Bangsa Lemurian.
Jutaan Manusia berteriak histeris, menangis pilu ketika mesin pemotongan mendekat ke arah mereka. Beberapa diantara mereka hanya pasrah saja, ada yang berdoa pada Tuhan yang mereka yakini akan mencabut nyawa mereka dengan tenang, sebagian lainnya berusaha memanjat tembok yang menjulang tinggi berusaha kabur dari peternakan—mereka menggunakan berbagai barang yang ditumpukkan sebagai tangga agar bisa menyeberangi tembok Peternakan.
Namun, Prajurit Lemurian yang telah menunggu di atas tembok langsung membunuh mereka dengan senyum cerah, karena Prajurit Lemurian sangat menantikan momen langka ini.
...***...
Asep, Hayati dan Sonia datang membawa makanan ke ruang kontrol Balaine dan mereka terkejut melihat tayangan pada Layar Virtual di depan Bonar.
Para Manusia berlomba-lomba memanjat tembok Peternakan walaupun harus saling dorong mendorong dan banyak yang terjatuh serta terinjak-injak.
Hayati menitikkan air mata, para Manusia telah kehilangan akal sehat mereka dan tak peduli dengan sekitarnya—karena mereka lebih takut dengan mesin pemotong yang datang dari belakang mereka.
Para Manusia ini seperti Film Zombie yang bertumpuk-tumpuk di pinggir tembok Peternakan dan berusaha mencapai mangsa mereka di atas tembok yang membabi-buta membunuh mereka.
“Bos Bonar!” Sonia yang Succubus saja tak tega melihat pemandangan mengerikan itu.
Asep dan Hayati menatap Bonar, menantikan tindakan apa yang akan ia ambil. Keduanya telah diselamatkan oleh Bonar, tentu mereka akan berjuang bersama dengannya walaupun resiko kematian menanti mereka kapan saja.
“Kita akan menuju Peternakan!” sahut Bonar sembari mengepal tangannya.
Lerenia terkejut mendengar ucapan Bonar. “Apakah kalian ingin mati?” sanggahnya. “Aku tahu kamu sangat kuat, tetapi bagaimana kamu melawan Satu Divisi Militer yang menjaga tempat itu!”
“Setidaknya aku akan membunuh ratusan Lemurian sialan itu!” sahut Bonar—membentak Lerenia yang langsung menggeleng kepala keheranan dengan keputusan yang Bonar ambil.
“Gila! Kalian gila!” teriak Lerenia—kesal.
“Lagi pula ke mana kita akan melarikan diri, bukankah tujuan awalku adalah mengumpulkan Manusia untuk melakukan perlawanan. Kalau semua Manusia mati, bagaimana kita melawan para Lemurian terkutuk itu!” sahut Bonar.
Lerenia menatap Bonar dengan tajam, karena ia juga merupakan bagian dari Ras Lemurian. Namun, ia tak bisa menyanggah kata-kata Bonar lagi dan menghela nafas panjang. Tanpa berkata sepatah katapun, Lerenia langsung memutar arah tujuan Balaine.
Alex mendengar suara ribut-ribut dari ruang kontrol Balaine, ia penasaran kenapa Bonar dan Lerenia bertengkar—sehingga ia memutuskan datang ke sana untuk menengahi pertengkaran mereka.
Namun, Alex tercengang melihat tayangan di Layar Virtual. “Bagaimana ini bisa terjadi?” Dadanya terasa sesak melihat para Manusia di bantai dengan sadis oleh Prajurit Lemurian.
“Bos Bonar!” sapa Alex pada Bonar yang berwajah masam dan diam saja.
“Kita akan bertempur sebentar lagi, jadi bersiap-siaplah, Alex!” Asep menjawab seruan Alex. “Hayati dan Sonia juga bersiap-siap karena kita akan bertempur melawan Prajurit Lemurian. Ambil senjata apa saja yang cocok untuk kalian di gudang logistik Balaine ini.”
Asep berusaha menjadi penengah, karena ia yang paling tua di sini dan ia juga tak ingin kelompok mereka pecah—sehingga kerjasama diantara mereka menjadi kacau dan itu membuat mereka akan terjerumus pada kehancuran saja.
“Ah, aku akan mengambil senjata yang cocok!” sahut Hayati merasa situasi sangat canggung di ruang kontrol Balaine. “Ayo, Sonia!” Dan Sonia langsung mengangguk setuju.
Asep dan Alex segera mengikuti Hayati dan Sonia, sementara Bonar tetap duduk di sebelah Lerenia yang diam saja, berpura-pura fokus mengendalikan Balaine yang sebenarnya dalam kemudi otomatis.
“Apa tak apa membiarkan mereka di sana?” kata Hayati—takut Bonar akan membunuh Lerenia.
“Tak perlu khawatir... baru saja Hinata pergi ke ruang kontrol, dan sebenarnya Bonar dan Lerenia sudah biasa bertengkar sebelumnya,” sahut Alex.
“Oh, begitu... tapi kemarahan Bang Bonar tadi sangat mengerikan, aku takut sekali ia akan membunuh Lerenia!” Kejadian tadi masih terngiang-ngiang dalam benak Hayati.
Hinata duduk di sebelah Bonar yang telah mematikan live streaming Layar Virtual yang terjadi di Peternakan.
Dia bingung kenapa Bos yang biasanya suka bercanda itu tampak sangat murung, akan tetapi ia tidak bertanya pada Bonar—karena bila Bosnya itu kembali seperti biasanya maka dirinya juga yang akan menjadi bahan candaan, apalagi sang Bos adalah Wibu yang terlalu banyak menonton Anime—sehingga yang dibahasnya selalu Heroin tokoh wanita Anime saja, membuat Hinata jengkel.
Hinata melirik makanan yang masih hangat di atas meja dan aroma makanan itu berhasil mengguncang perutnya yang telah lama tidak merasakan rasa masakan dari Bumi, walaupun aneka makanan ini daging semua.
Lemurian adalah Ras Karnivora sehingga sangat sulit menemukan makanan Nasi atau Roti di restoran yang ada di Planet Lemurian ini.
Tanpa menunggu Bonar menawarkan makanan, Hinata langsung menyambar Sate Cerberus atau Serigala berkepala tiga.
“Emm... enak sekali!” Hinata sangat senang. “Itu sepertinya rendang, masakan khas Indonesia lainnya.” Dia segera menyantapnya juga, tetapi Hinata bingung—kenapa Bonar tetap tampak murung dan kenapa yang lainnya tidak ada di ruang kontrol Balaine.
...***...
Balaine tiba-tiba muncul di langit tanah terlarang seperti di teleportasi saja, sehingga para Lemurian dan Ras asing lainnya bertambah panik, takut akan di tangkap oleh Polisi Lemurian.
Jenderal Randal menggunakan sinar inframerah mendeteksi keberadaan Manusia di tanah terlarang. Namun, indikator di Layar Virtual tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan mereka.
Dia mengerutkan keningnya, bagaimana bisa Manusia itu kabur begitu cepat? Apakah Wanita Lemurian yang bersama mereka memiliki mata-mata di Menara Harapan.
Jenderal Randal berpikir sepertinya Bangsa Lemurian harus memulai Revolusi Undang-Undang Dasar agar para Lemurian yang tidak berguna di Dewan Lemurian bisa dicampakkan, begitu juga Lemurian yang tidak menuruti cita-cita Leluhur Lemurian yang menjadikan Bangsa Lemurian sebagai Bangsa Penakluk yang menguasai alam semesta.
“Tidak perlu mendarat!” seru Jenderal Randal pada Lori yang langsung menghubungi ruang kontrol Balaine agar menaikkan ketinggian Balaine ke ketinggian 50.000 Kaki. Kemudian Lori bertanya, “Apakah kita akan memusnahkan tanah terlarang? Bukankah itu akan mengundang murka Dewan Lemurian.”
Jenderal Randal tersenyum. “Mereka tak akan berani bersuara karena kita bisa berdalih ini harus dilakukan sebab ternak liar itu melakukan perlawanan.”
Dia sangat yakin para Dewan Lemurian sudah menyadari tujuannya ini sejak awal, sejak mereka menyetujui pembunuhan semua Manusia yang ada di Peternakan.
Dari kontrol Balaine, salah satu Prajurit Lemurian menekan tombol merah dan Satu Rudal Nuklir ditembakkan ke arah tanah terlarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Wedus Gembel
salam satu aspal tiga pedal
2022-06-28
2
Wedus Gembel
gassssss poll
2022-06-28
1
Wedus Gembel
ngeri kali
2022-06-28
0