“Kenapa kalian mempersembahkan darah Manusia pada Menara Harapan? Apakah kalian juga melakukan hal yang sama dengan Ras lain?”
Bonar telah memikirkan itu dalam waktu yang lama, apalagi Menara Harapan bisa membawa Bangsa Lemurian terhubung ke seluruh tempat di alam semesta ini, mereka seperti Dewa-Dewa dalam cerita mitologi saja—menganggap Ras lain sebagai Ras rendahan dan menjadikannya sebagai ternak untuk di makan.
“Aku tidak tahu banyak tentang itu, tetapi setahuku Menara Harapan harus diberikan darah segar untuk bisa mengoperasikan pintu teleportasi yang terhubung ke Menara Kutukan di beberapa Planet yang telah Bangsa Lemurian taklukkan,” sahut Lerenia.
Bonar mengangguk pelan, ia sudah mengerti sedikit tentang Menara Harapan ini dan juga baru menyadari ternyata banyak Planet di alam Semesta yang berpenghuni seperti di Bumi. Namun, gara-gara Bangsa Lemurian semua makhluk hidup akan terancam punah—karena mereka harus rutin memberikan persembahan darah pada Menara Harapan.
Bonar pun penasaran, apakah Menara Harapan itu adalah makhluk hidup yang memiliki kekuatan seperti Tuhan atau jangan-jangan Menara Harapan itu adalah tempat bersemayamnya Tuhan bagi Bangsa Lemurian.
Kalau seperti ini bisakah ia menaklukkan Menara Harapan, bila yang ia lawan adalah kekuatan yang memegang alam semesta ini dan menganggap makhluk hidup di dalamnya hanya sebagai ternak untuk dimakan.
Lerenia melihat Bonar melamun seperti memikirkan sesuatu. “Oh, ya. Kita belum berkenalan. Aku Lerenia dan mohon lindungi aku kedepannya he-he-he!”
“Bonar!” sahutnya hanya memberitahu nama panggilannya saja. “Aku juga penasaran, apakah kalian memiliki Tuhan untuk disembah juga?”
Kalau bangsa Lemurian memiliki Tuhan, seharusnya mereka tidak bertindak kejam begini. Membunuh setiap mahkluk hidup dan membuat kerusakan di alam semesta.
“Tuhan kami adalah Lemurian Pertama, Dia adalah Rataka Yang Agung!” Lerenia menaruh tangan kanannya di dada dan menengadah menatap langit.
“O, ternyata Dia adalah Tuhan kalian,” sahut Bonar dan seringai tipis terpancar di sudut bibirnya—sehingga Lerenia merasa keheranan. “Mulai sekarang, kamu harus menyembahku karena darah Tuhanmu mengalir padaku. Maka secara tak langsung Aku adalah Tuhan kalian!” canda Bonar.
Lerenia mengerutkan keningnya, sebagai bagian bangsa Lemurian—ucapan Bonar itu adalah bentuk penghinaan pada keyakinannya. Namun, ia tidak berani memarahi Bonar karena saat ini Bonar adalah satu-satunya rekan yang melindunginya dari kejaran Prajurit Lemurian.
Lima Ratus meter dari Kota Sirte, Bonar segera mendarat dan memutuskan berjalan kaki menuju Kota—karena ia tidak ingin terlihat mencolok. Namun, kini ia memiliki masalah dengan penampilannya yang tidak mirip dengan Bangsa Lemurian, kalau begini ia pasti dengan mudah dikenali sebagai ternak yang melarikan diri.
“Apa ada masalah?” tanya Lerenia melihat wajah Bonar tampak cemas.
“Tentu saja kita memiliki masalah!” gerutu Bonar. “Masalahnya adalah bagaimana menyembunyikan ketampananku ini, aku takut nanti orang-orang Lemurian malah mengejar-ngejarku karena terpesona!”
Lerenia menghela nafas dalam-dalam, apakah ia sebenarnya telah salah memilih teman? Takutnya nanti Pria dari Bumi ini sering melakukan tindakan yang sembrono ke depannya.
Lerenia kemudian mengeluarkan kota persegi dengan sisi 5×5 Centimeter saja.
“Apa itu?” tanya Bonar penasaran.
“Lihat saja dan jangan sampai tercengang, ya!” sahut Lerenia dengan senyum cerah dan kemudian Kotak tersebut berubah menjadi besar, dengan luas 10×10 Meter Persegi.
Lerenia menaruh telapak tangannya di dinding Kotak, kemudian sebuah pintu terbentuk secara otomatis. Di dalam kotak itu ada banyak barang-barang milik Lerenia.
“Ini seperti Kantung Sihir dalam cerita Fantasi,” kata Bonar—kagum melihatnya.
Lerenia mengambil jubah besar yang memiliki tudung penutup kepala, serta sebuah masker berwarna hitam dan kaca mata hitam juga tentunya. “Semua barang-barang ini berasal dari Planet yang kami ... eh, maksudnya aku pungut di beberapa tempat!”
Lerenia hampir mengatakan bahwa ia ikut dalam beberapa ekspedisi penaklukan terhadap beberapa Planet bersama Prajurit Lemurian.
Bonar melihat merk yang tertulis di kotak kacamata dan itu adalah Made in Indonesia. “Hmm, ternyata ini berasal dari Bumi!” gumamnya. “Baiklah, ayo kita memasuki Kota Sirte!”
“Tunggu, perangkat ini harus dipasangkan di otakmu agar kamu memahami bahasa Lemurian, karena bila kamu tidak bisa bahasa kami maka Lemurian di Kota akan mencurigai kamu adalah ternak yang kabur!” seru Lerenia—sembari mengeluarkan jarum suntik dan botol kecil berisi cairan berwarna emas. “Kami menggunakan ini saat berada di Bumi agar bisa memahami bahasa Inggris dan efek obat ini bisa timbal balik. Kamu akan memahami bahasa Lemurian!” jelasnya lagi.
Bonar langsung menganggukkan kepala, walaupun agak ragu jangan-jangan Lerenia ingin membunuhnya. Namun, ia segera menepis pikiran itu karena saat ini Lerenia juga menjadi buronan paling dicari oleh Prajurit Lemurian karena telah mencuri darah Leluhur Pertama Bangsa Lemurian.
Lerenia kemudian menyuntikkan cairan emas itu ke dalam otak Bonar yang kembali menjerit kesakitan. Rasa sakit ini sama seperti saat ia menelan darah Leluhur Pertama Bangsa Lemurian.
“Sial! Untuk menjadi over power saja kenapa harus menderita rasa sakit berkali-kali, sih!” gerutu Bonar mengepal tangannya dan menggertak kan giginya.
Lima menit kemudian, rasa sakit dan pusing di kepalanya menghilang dan Lerenia langsung berkomunikasi menggunakan bahasa Lemurian dan ajaibnya Bonar langsung mengerti, bahkan ia dengan fasih bisa menggunakan bahasa Lemurian.
“Aku iri dengan Bangsa Lemurian, teknologi kalian itu seperti dalam cerita Fantasi. Pantas saja kalian dengan mudah menaklukkan Ras lain walaupun mereka melakukan perlawanan sengit, bahkan senjata Nuklir dari negara-negara besar di Bumi tidak bisa menandingi kehebatan kalian!”
Bonar berkata sembari menghela nafas dalam-dalam, karena teringat masa-masa kelam yang hanya berlangsung dalam satu hari saja Bumi telah ditaklukkan oleh Bangsa Lemurian.
“Apa kalian tidak memiliki teknologi penyamaran gitu? Tapi jangan operasi Plastik, aku tidak suka dengan wajah Lemurian. Wajah kalian jelek sekali!” kata Bonar yang membuat ekspresi wajah Lerenia mengkerut.
“Sudahlah ayo kita masuk ke dalam Kota Sirte dan mencari informasi yang kamu butuhkan!” sela Lerenia yang merasa pembicaraan mereka lama-lama ngelantur jauh.
Keduanya memasuki Kota dan tanpa ada rintangan yang menghadang mereka.
“Pertama kita ke klinik kesehatan terlebih dahulu untuk mengobati tanganku ini,” kata Lerenia—berhenti di depan Klinik Kesehatan. “Tunggu sebentar, ya. Jangan pergi jauh-jauh!” Lerenia langsung masuk ke dalam.
Namun, Bonar melihat ada dealer Nie—kendaraan bermotor yang bisa terbang di sebelah Klinik Kesehatan yang dimasuki Lerenia. “Sepertinya lebih bagus mengendarai Nie itu dari pada terbang menggunakan kekuatan bawaanku yang mungkin memiliki batasan dalam penggunaannya,” gumamnya, tetapi masalahnya ia tidak memiliki uang untuk membelinya.
Tak berselang lama Lerenia pun keluar dan melihat Bonar telah memasuki Dealer Nie.
“Apa yang dilakukannya di sana, apa ia tidak takut ketahuan kalau ia adalah ternak yang kabur!” gumam Lerenia menepuk jidatnya—kemudian menghampiri Bonar.
Melihat Lerenia memasuki Dealer Nie, Bonar langsung mendekatinya.
“Belikan satu untuk kendaraan kita!” bisik Bonar sembari menyenggol bahu Lerenia yang langsung risih oleh ulahnya. “Hei, aku sekarang adalah Bosmu, cepat lakukan! Kau harus sering-sering membuatku senang agar aku membawamu ke Bumi!”
Lerenia ingin menangis saat ini juga, karena uang dalam rekeningnya hanya 10.000 Tael emas, sementara harga Nie adalah 8.000 Tael emas. Mungkin ke depannya ia harus mengajak Bonar merampok Bank saja untuk kelangsungan hidup mereka. Toh, keduanya saat ini adalah buronan Prajurit Lemurian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Apuila Jowo
jalan pintas ngrampok🤣🤣
2022-09-18
1
mas kus
sok ganteng kau bonar...
2022-08-28
0
Dand_Afill
macam mana pula ini...
macam dibumi saja... ada rekening dan dealer segala...
pening pala ku pening...🤣🤣🤣
2022-07-06
2