Akhirnya sah

Akhirnya setelah ujian yang harus Alderio hadapi untuk membujuk Alara berakhir manis. Hari ini merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga Alderio maupun keluarga Alara.

Dekorasi serba putih sesuai permintaan pengantin wanita tampak indah dipandang, bahkan tak jarang para tamu memotret diri mereka dengan latar belakang dekorasi gedung pernikahan Alara dan Alderio. Di pelaminan, terlihat juga sepasang suami istri yang baru saja sah beberapa menit lalu. Senyuman bahagia terukir di kedua wajah menyambut tamu-tamu yang memberi mereka ucapan selamat dan doa.

"Akhirnya kalian menikah juga, meskipun Alara tidak hamil, tapi Mama senang karena kalian sudah sah. Jangan lupa secepatnya berikan kami cucu 'ya." Ucap Mama Mira mengusap lengan menantunya.

"Iya, Ma. Doakan saja," sahut Alara tersenyum lembut.

"Jaga istrimu dengan baik, orang tuanya sudah merelakan putrinya untuk bersamamu, jangan sampai kau mengecewakan mereka." Tutur Papa Aden seraya menepuk bahu Alderio.

"Aku tahu, Pa. Aku juga berjanji akan selalu membahagiakan menantu kalian." Timpal Rio seraya merangkul pinggang ramping istrinya.

Alara berusaha terus memasang senyuman meski sejujurnya ia kurang nyaman dipeluk Alderio seperti ini, katakanlah bahwa ia dosa menolak suaminya, tapi sejujurnya Alara belum bisa sepenuhnya menerima Al sebagai suaminya.

Setelah Mama Mira dan Papa Aden mengucapkan selamat serta doa, kini giliran orang tua Alara yang mendoakan mereka.

"Mama percaya sama kamu, Al. Mama titip Alara ya, tolong sayangi dia dengan sabar. Meskipun sikapnya sedikit bar-bar dan jutek, tapi dia adalah gadis yang baik." Tutur Mama Dania menatap hangat menantunya.

"Pasti, Ma. Terima kasih sudah percaya kepada saya, saya janji akan selalu menyayangi Alara." Timpal Alderio dengan sungguh-sungguh.

Kini giliran Papa Wahyu yang bicara, ia memeluk putrinya yang menangis dalam pelukannya. Ia tahu putrinya masih berat untuk pergi.

"Berbahagialah, Nak. Sekarang ini kehidupan kamu, mengabdilah kepada suami mu." Tutur Papa Wahyu seraya mengusap rambut panjang putrinya.

"Dan kamu, Al. Seandainya kelak kamu tidak lagi mencintai putri Papa, maka kembalikan dia secara baik-baik. Papa tidak akan marah selama kamu tidak main tangan, hanya Alara putri Papa, selama ini Papa bekerja keras untuk kebahagiaan nya, semoga dengan bersamamu, dia bisa mendapatkan apa yang belum didapatkan dari orang tuanya." Tambah Papa Wahyu semakin membuat Alara menangis dalam pelukan sang Papa.

Alderio menundukkan kepalanya sesaat lalu kembali menatap mertuanya, kepalanya mengangguk dengan mantap.

"Saya janji, Pa. Saya akan selalu mencintai Alara, hanya dia yang akan menjadi wanita dalam hidup saya." Balas Alderio berusaha tetap tenang meski ia turut sedih melihat istrinya menangis.

Alderio memegang kedua bahu istrinya, melepaskan pelukan antara ayah dan anak itu atas permintaan Papa Wahyu sendiri. Tanpa sadar Alara malah beralih memeluk suaminya, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami seraya berusaha menahan isak tangisnya.

"Jangan sedih, Sayang." Bisik Alderio dengan lembut.

Alara tersadar, ia mendongak hingga membuat wajah keduanya begitu dekat. Alara buru-buru melepaskan pelukan nya dan kembali berdiri tegak.

"Jangan menangis terus, kasihan mua nya udah dandanin kamu secantik ini." Gurau Alderio seraya memberikan selembar tisu pada Alara.

Alara menyeka air matanya lalu menatap sang suami dengan wajah ditekuk, ia tak menjawab dan memilih duduk di kursi sambil masih menyeka air matanya sendiri.

Alderio ikut duduk, ia meraih tangan Alara kemudian ia genggam erat. "Saya sangat mencintai kamu, Alara." Ungkap Al menatap Alara dalam.

***

Setelah pesta pernikahan, Alara dan Alderio langsung pergi ke apartemen pria itu yang kedepannya akan menjadi tempat tinggal mereka sementara, sampai Alderio mendapatkan rumah untuk mereka singgah.

Awalnya Mama Mira memaksanya agar Alara tinggal bersama mereka, namun Al menolak karena ia ingin tinggal berdua saja dengan istrinya dengan dalih ingin mandiri.

"Sayang, kamu mandi duluan sana. Aku habis kamu." Tutur Alderio, mengubah sebutan dirinya menjadi 'aku.

"Iya, Pak." Sahut Alara kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa lupa membawa pakaiannya.

Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Alderio berdiri di balkon apartemen nya. Membuka dua kancing atas kemejanya karena ia merasa sedikit kegerahan. Sambil menatap langit malam, ia berdoa semoga kelak, Alara bisa menerima dirinya dan pernikahan ini.

Alderio kemudian pergi ke dapur untuk membuat teh hangat, mungkin itu bisa mengurangi lelah yang istrinya rasakan saat ini, ia juga butuh itu untuk merilekskan tubuh nya.

Hanya butuh waktu 5 menit untuk Alderio membuat teh, ia membawanya ke kamar dan meletakkan nya di sofa. Tak selang beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka. 

Alara keluar dengan piyama berwarna pink berjalan sambil menggosok rambutnya.

"Sekarang giliran anda mandi, Pak." Ucap Alara tanpa menatap wajah suaminya.

Alderio tersenyum, ia mengusap wajah cantik Alara dengan lembut. "Saya sudah buatkan teh, jangan lupa diminum ya, itu bisa mengurangi rasa lelahmu." Tutur Alderio.

Alara mengangguk sebagai jawaban, ia lalu duduk di depan meja rias untuk berkaca diri sekaligus menutupi kegugupannya menerima perlakuan manis dari suaminya, namun semua itu belum bisa merubah perasaan Alara.

Sejujurnya Alara juga merasa sedih, ia ingin sekali bisa mencintai suaminya seperti Alderio mencintainya, namun karena pertemuan mereka yang kurang baik, membuatnya butuh banyak waktu untuk itu.

"Hiks … maafkan saya, Pak. Saya juga ingin sekali mencintai anda." Lirih Alara menundukkan kepalanya.

UDAH KONDANGAN NIH, EUMMM DI SKIP NGGAK MALAM PAK AL SAMA MBA ALARA??

To be continued

Terpopuler

Comments

Agung Antarini

Agung Antarini

katanya aku kok msh saya Thor 😂😂

2024-07-11

1

Yeti Karniati

Yeti Karniati

masih panggi pak ?

2024-01-20

0

Wiek Soen

Wiek Soen

lanjut thor

2023-08-29

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sesuatu telah terjadi
3 Wanita gila
4 Ejekan dan hinaan
5 Bertemu dia
6 Mengingatnya
7 Ditolong Pak Al
8 Menikahlah dengan saya
9 Alara marah
10 Tamparan Alara
11 Kasih sayang orang tua
12 Kedatangan Alderio
13 Keputusan Alara
14 Melamar Alara
15 Kabar mengejutkan
16 Saya suka bibir kamu
17 Amarah Alderio
18 Akhirnya sah
19 Malam dan pagi panas
20 Panggilan baru
21 Belanja bulanan
22 Alderio marah?
23 Alara mellow
24 Asam lambung???
25 Pasangan manis
26 Alara pingsan
27 Kabar bahagia
28 Kedatangan adik Al
29 Telepon dari Renata
30 Menemui Renata
31 Ungkapan cinta Alara
32 Jodoh yang tertukar?
33 Ngidam rujak
34 Cerita Alderio
35 Pengakuan
36 Hari yang manis
37 Mama Ara galak
38 Liburan keluarga
39 Kekesalan Renata
40 Senjata makan tuan
41 Tuduhan Renata
42 Syok berat
43 Memutuskan hubungan
44 Penjelasan Alderio
45 Keterkejutan Renata
46 Bertemu Mama Mira
47 Pertanyaan Mama Mira
48 Pekerjaan baru Alderio
49 Terbongkar
50 Mika kecelakaan
51 Mika tiada
52 Histeris
53 Harus bayar mahal!
54 Permintaan Bima
55 Jalan-jalan
56 Kontraksi
57 Kesendirian
58 Pesta dansa
59 Menyelamatkan Bima
60 Reina Cedera
61 Perhatian Bima
62 Rasa bersalah
63 Alderio pekerja keras
64 Mau mertua?
65 Alara melahirkan
66 Welcome baby Arion
67 Vibes suami istri
68 Menyukainya
69 Kedatangan Mama Reina
70 Bima kepikiran
71 Memantapkan hati
72 Penolakan tegas Reina
73 Salah sasaran
74 Kejutan yang manis
75 Bima Vs Reina
76 Bayi gorila
77 Hari paling dinanti
78 Siap nggak siap
79 Marah tapi mau
80 Rutinitas istri
81 Kebobolan?
82 Keyakinan bersama (End)
83 Ekstra part end
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Prolog
2
Sesuatu telah terjadi
3
Wanita gila
4
Ejekan dan hinaan
5
Bertemu dia
6
Mengingatnya
7
Ditolong Pak Al
8
Menikahlah dengan saya
9
Alara marah
10
Tamparan Alara
11
Kasih sayang orang tua
12
Kedatangan Alderio
13
Keputusan Alara
14
Melamar Alara
15
Kabar mengejutkan
16
Saya suka bibir kamu
17
Amarah Alderio
18
Akhirnya sah
19
Malam dan pagi panas
20
Panggilan baru
21
Belanja bulanan
22
Alderio marah?
23
Alara mellow
24
Asam lambung???
25
Pasangan manis
26
Alara pingsan
27
Kabar bahagia
28
Kedatangan adik Al
29
Telepon dari Renata
30
Menemui Renata
31
Ungkapan cinta Alara
32
Jodoh yang tertukar?
33
Ngidam rujak
34
Cerita Alderio
35
Pengakuan
36
Hari yang manis
37
Mama Ara galak
38
Liburan keluarga
39
Kekesalan Renata
40
Senjata makan tuan
41
Tuduhan Renata
42
Syok berat
43
Memutuskan hubungan
44
Penjelasan Alderio
45
Keterkejutan Renata
46
Bertemu Mama Mira
47
Pertanyaan Mama Mira
48
Pekerjaan baru Alderio
49
Terbongkar
50
Mika kecelakaan
51
Mika tiada
52
Histeris
53
Harus bayar mahal!
54
Permintaan Bima
55
Jalan-jalan
56
Kontraksi
57
Kesendirian
58
Pesta dansa
59
Menyelamatkan Bima
60
Reina Cedera
61
Perhatian Bima
62
Rasa bersalah
63
Alderio pekerja keras
64
Mau mertua?
65
Alara melahirkan
66
Welcome baby Arion
67
Vibes suami istri
68
Menyukainya
69
Kedatangan Mama Reina
70
Bima kepikiran
71
Memantapkan hati
72
Penolakan tegas Reina
73
Salah sasaran
74
Kejutan yang manis
75
Bima Vs Reina
76
Bayi gorila
77
Hari paling dinanti
78
Siap nggak siap
79
Marah tapi mau
80
Rutinitas istri
81
Kebobolan?
82
Keyakinan bersama (End)
83
Ekstra part end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!