Tamparan Alara

Alara mogok datang ke kampus lagi karena enggan bertemu dengan Alderio, namun sayang sekali karena hari ini ia harus menemani Reina bertemu dosen pembimbing nya, Alara hanya berharap semoga ia tidak bertemu Alderio disana.

Alara duduk di kursi depan dengan perasaan lesuh, ia memijat pelipisnya yang beberapa hari ini terasa sangat pusing dan perutnya juga mual.

"Ra, lo kelihatannya sedih banget. Nggak rela ya gue pulang ke rumah?" tanya Reina begitu percaya diri.

Alara yang mual merasa benar-benar ingin muntah mendengar ucapan narsis sahabatnya, ia tak menjawab, hanya memberikan tatapan sinis pada gadis itu.

"Biasa aja natapnya, Mbak." Celetuk Reina lalu segera menjalankan mobilnya.

Hari ini orang tua Alara akan pulang, rupanya pekerjaan mereka tidak sampai perkiraan yang mereka katakan, maka dari itulah Reina memilih untuk pulang saja ke rumahnya, padahal tidak masalah jika Reina tetap menginap, bahkan Alara suka.

"Lo nggak sekalian revisi?" tanya Reina namun hanya dijawab gelengan kepala oleh Alara.

"Lo sebenernya kenapa sih, Ra? Dari tadi gue terus yang nyerocos. Lo sakit?" tanya Reina memegang dahi Alara yang tidak terasa panas.

"Ck, gue nggak apa-apa. Cuma pusing sedikit, udahlah cepetan bawa mobilnya. Gue pengen muntah tiba-tiba cium bau mobil lo." Jawab Alara sewot.

"Heh, lo kira mobil gue tempat sampah!!" seru Reina melotot.

"Bukan tempat sampah, tapi ini lihat stelu jeruk banyak banget." Desis Alara menunjuk pengharum mobil yang ada di mobil temannya itu.

"Yaelah, lo kaya nggak tahu aja. Itu pasti kerjaan Mama gue!" Timpal Reina mendengus sebal.

"Pembunuhan berencana nih lama-lama kalo begini." Celoteh Alara membuat Reina terkekeh.

Akhirnya mereka sampai di kampus, Alara segera keluar dan berlari untuk memuntahkan cairan bening yang sejak tadi mengganggu nya. Alara muntah-muntah di belakang mobil Reina.

"Ra, lo sebenernya kenapa sih. Kita ke dokter aja mendingan." Ajak Reina khawatir.

"Nggak usah, gue mual gini pasti karena stelu jeruk itu." Sahut Alara menolak.

"Udah sana ke dosen lo, gue mau ke kantin. Minum es kayanya enak, sana!" usir Alara seraya mengelap bibirnya dengan tisu.

"Yaudah, nanti gue ke kantin. Lo jangan kemana-mana ya." Tutur Reina dibalas ibu jari oleh Alara.

Alara memijat pelipisnya lagi, ia segera pergi menuju kantin, namun saat di pertengahan jalan, tiba-tiba seseorang menarik tangan nya ke sebuah kelas kosong yang ada disana.

Alara dibenturkan di tembok hingga dirinya merasa kesakitan, ia meringis dan hendak merubah posisinya, namun dengan cepat orang itu menghimpit Alara.

"P-pak Al, lepasin saya. Bapak apa-apaan sih!!!" seru Alara berusaha memberontak.

"Diam Alara!!" balas Alderio dengan tegas.

Alara terdiam, ia mengatupkan kedua belah bibirnya, ia memalingkan wajahnya tak berani menatap Alderio.

"Kenapa kamu menghindari saya, Alara. Apa karena kejadian malam itu?" tanya Alderio tepat di depan wajah Alara.

Lagi dan lagi, Alara rasanya muak mendengar pertanyaan yang sama dari bibir Alderio yang tak henti mengungkit masalah diantara mereka. Entah harus berapa kali ia mengatakan bahwa dirinya tak mau membahas hal itu, namun sepertinya Alderio tidak juga mengerti.

"Alara, jawab saya." Pinta Alderio penuh penekanan.

Alara tak tahan lagi, ia mendorong tubuh Alderio lalu menampar wajah pria itu dengan begitu keras, bahkan akan diyakini jika nantinya wajah Alderio tercetak bekas tamparan nya.

"Sudah cukup, Pak!! Berapa kali harus saya bilang, jangan pernah membahas itu lagi!!" bentak Alara tepat didepan wajah Al.

Al memegangi wajahnya yang terasa panas akibat tamparan dari wanita cantik di depannya, ia mengusap sedikit wajahnya lalu kembali menatap dan memojokkan Alara.

"Sampai kamu menyerah dan memilih untuk menikah dengan saya." Jawab Al dengan begitu santai.

Alara kembali mendorong tubuh Al, ia hendak menampar wajah pria itu lagi, namun Alderio dengan sigap menahan tangannya.

"Cukup, Alara. Hentikan egomu ini, sampai kapan kamu akan lari dari kenyataan?" tanya Alderio dengan suara yang rendah.

"Saya tidak akan mau menikah dengan anda, jadi jangan pernah mengharapkan hal itu." Jawab Alara mendorong tubuh Alderio sekuat tenaga.

Alara hendak kabur, namun lagi-lagi ia gagal karena Alderio menarik tangan nya lebih dulu. Alara tak kehabisan akal, ia menggigit tangan Al sampai pria itu kesakitan.

Alara memanfaatkan itu untuk kabur, ia berlari keluar meninggalkan Alderio yang tampak kesakitan akibat gigitannya.

Sementara Alderio, ia tersenyum tipis. Ia tatap dengan lekat tangannya yang digigit oleh Alara lalu menciumnya dengan lembut.

"Kamu hanya akan menikah dengan saya, Alara. Karena saya lah yang menjadi pria pertama dan terakhir untuk kamu." Gumam Alderio kemudian segera pergi dari ruangan kosong itu.

***

Alara duduk di kantin dengan perasaan kesal yang menggebu, ia bahkan sampai menghabiskan dua gelas es teh manis dengan tujuan dapat mendinginkan otaknya yang terasa ingin meledak.

Dadanya naik turun, tangannya terkepal kuat saat mengingat apa yang pria itu lakukan padanya beberapa saat lalu.

"Benar-benar tidak waras, bagaimana pria sepertinya bisa menjadi dosen disini." Gumam Alara.

Tak lama Reina datang dengan wajah berseri-seri, Alara yakin bahwa gadis itu tengah merasa bahagia, namun apa alasannya??

"Kenapa lo, udah beres skripsinya?" tanya Alara menyedok batu es lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

"Gue lulus skripsi coyy, akhirnya bisa wisuda gue!!!" Jawab Reina sontak membuat Alara ikut bahagia.

"Seriusan, ahhh akhirnya. Doain gue nyusul ya." Ucap Alara memeluk tubuh sahabatnya. 

"Gue yakin dikit lagi lo juga lulus, lagian pak Al juga kan baik sama lo." Sahut Reina seraya melepaskan pelukannya.

Alara terdiam, ia menekuk wajahnya mendengar ucapan Reina. Tak tahu saja gadis itu bagaimana sifat Alderio yang sebenarnya.

"Udahlah, yuk cabut ke mall. Hari ini lo traktir gue karena skripsi beres ya." Ucap Alara berusaha mengalihkan pikirannya dari sang dosen.

"Iya iya, yaudah yuk!" ajak Reina menggandeng tangan sahabatnya.

Saat hendak pergi, Alara dan Reina berpapasan dengan Alderio yang juga baru keluar dari ruangannya dan mungkin hendak pulang.

Reina memberi sapaan sopan, namun tidak dengan Alara yang malah melengos tanpa mengucapkan apapun.

"Sshhh … gadis yang berbeda, dan karena itu lah aku menyukaimu, Alara." Gumam Alderio menatap punggung Alara yang mulai menjauh.

WADUHH PAK AL BAHAYA JUGA YA😂

To be continued

Terpopuler

Comments

Sri Mulyani

Sri Mulyani

jadi dech

2025-02-07

0

Erina Situmeang

Erina Situmeang

dikekepin terus pak dos😂

2024-04-03

2

Eny Hidayati

Eny Hidayati

kejar terus pak Al ...

2024-02-13

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sesuatu telah terjadi
3 Wanita gila
4 Ejekan dan hinaan
5 Bertemu dia
6 Mengingatnya
7 Ditolong Pak Al
8 Menikahlah dengan saya
9 Alara marah
10 Tamparan Alara
11 Kasih sayang orang tua
12 Kedatangan Alderio
13 Keputusan Alara
14 Melamar Alara
15 Kabar mengejutkan
16 Saya suka bibir kamu
17 Amarah Alderio
18 Akhirnya sah
19 Malam dan pagi panas
20 Panggilan baru
21 Belanja bulanan
22 Alderio marah?
23 Alara mellow
24 Asam lambung???
25 Pasangan manis
26 Alara pingsan
27 Kabar bahagia
28 Kedatangan adik Al
29 Telepon dari Renata
30 Menemui Renata
31 Ungkapan cinta Alara
32 Jodoh yang tertukar?
33 Ngidam rujak
34 Cerita Alderio
35 Pengakuan
36 Hari yang manis
37 Mama Ara galak
38 Liburan keluarga
39 Kekesalan Renata
40 Senjata makan tuan
41 Tuduhan Renata
42 Syok berat
43 Memutuskan hubungan
44 Penjelasan Alderio
45 Keterkejutan Renata
46 Bertemu Mama Mira
47 Pertanyaan Mama Mira
48 Pekerjaan baru Alderio
49 Terbongkar
50 Mika kecelakaan
51 Mika tiada
52 Histeris
53 Harus bayar mahal!
54 Permintaan Bima
55 Jalan-jalan
56 Kontraksi
57 Kesendirian
58 Pesta dansa
59 Menyelamatkan Bima
60 Reina Cedera
61 Perhatian Bima
62 Rasa bersalah
63 Alderio pekerja keras
64 Mau mertua?
65 Alara melahirkan
66 Welcome baby Arion
67 Vibes suami istri
68 Menyukainya
69 Kedatangan Mama Reina
70 Bima kepikiran
71 Memantapkan hati
72 Penolakan tegas Reina
73 Salah sasaran
74 Kejutan yang manis
75 Bima Vs Reina
76 Bayi gorila
77 Hari paling dinanti
78 Siap nggak siap
79 Marah tapi mau
80 Rutinitas istri
81 Kebobolan?
82 Keyakinan bersama (End)
83 Ekstra part end
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Prolog
2
Sesuatu telah terjadi
3
Wanita gila
4
Ejekan dan hinaan
5
Bertemu dia
6
Mengingatnya
7
Ditolong Pak Al
8
Menikahlah dengan saya
9
Alara marah
10
Tamparan Alara
11
Kasih sayang orang tua
12
Kedatangan Alderio
13
Keputusan Alara
14
Melamar Alara
15
Kabar mengejutkan
16
Saya suka bibir kamu
17
Amarah Alderio
18
Akhirnya sah
19
Malam dan pagi panas
20
Panggilan baru
21
Belanja bulanan
22
Alderio marah?
23
Alara mellow
24
Asam lambung???
25
Pasangan manis
26
Alara pingsan
27
Kabar bahagia
28
Kedatangan adik Al
29
Telepon dari Renata
30
Menemui Renata
31
Ungkapan cinta Alara
32
Jodoh yang tertukar?
33
Ngidam rujak
34
Cerita Alderio
35
Pengakuan
36
Hari yang manis
37
Mama Ara galak
38
Liburan keluarga
39
Kekesalan Renata
40
Senjata makan tuan
41
Tuduhan Renata
42
Syok berat
43
Memutuskan hubungan
44
Penjelasan Alderio
45
Keterkejutan Renata
46
Bertemu Mama Mira
47
Pertanyaan Mama Mira
48
Pekerjaan baru Alderio
49
Terbongkar
50
Mika kecelakaan
51
Mika tiada
52
Histeris
53
Harus bayar mahal!
54
Permintaan Bima
55
Jalan-jalan
56
Kontraksi
57
Kesendirian
58
Pesta dansa
59
Menyelamatkan Bima
60
Reina Cedera
61
Perhatian Bima
62
Rasa bersalah
63
Alderio pekerja keras
64
Mau mertua?
65
Alara melahirkan
66
Welcome baby Arion
67
Vibes suami istri
68
Menyukainya
69
Kedatangan Mama Reina
70
Bima kepikiran
71
Memantapkan hati
72
Penolakan tegas Reina
73
Salah sasaran
74
Kejutan yang manis
75
Bima Vs Reina
76
Bayi gorila
77
Hari paling dinanti
78
Siap nggak siap
79
Marah tapi mau
80
Rutinitas istri
81
Kebobolan?
82
Keyakinan bersama (End)
83
Ekstra part end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!