Alara marah

Alara mengepalkan tangannya karena Alderio tak henti membahas tentang apa yang terjadi pada mereka. Sejak tadi Alara mencoba menahan diri untuk tidak marah-marah dan emosi pada pria yang merupakan dosennya itu.

"Alara, kenapa kamu meninggalkan saya begitu saja setelah kejadian panas kita?" tanya Alderio seraya membolak-balik skripsi milik Alara..

Alara tersentak mendengar pertanyaan Alderio yang menurutnya begitu kurang ajar, dengan berani Alara bangkit dari duduknya lalu menggebrak meja dengan cukup keras.

"Berhenti membahas hal pribadi, Pak!!! Berapa kali saya harus mengatakan untuk jangan mengungkit masalah yang menjijikan itu." Bentak Alara dengan nafas memburu, air matanya mulai banjir dan siap tumpah.

Alderio tentu terkejut akan sikap Alara yang marah, ia seketika paham bahwa dirinya telah salah karena sejak tadi tak henti membahas masalah mereka, padahal semalam saja Alara sudah menangis karenanya.

"Alara, duduklah. Saya minta maaf." Tutur Alderio dengan lembut.

Alderio bangkit dari duduknya lalu meletakkan skripsi Alara di meja, ia hendak menyentuh bahu gadis itu, namun Alara buru-buru menghindar.

"Alara, saya minta maaf jika kata-kata saya membuat kamu tidak nyaman. Saya–" Ucapan Alderio terhenti karena Alara mengambil skripsinya dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu.

"Saya tidak mau bertemu dengan anda lagi, persetan skripsi ini!" ucap Alara kemudian langsung berlari keluar dari ruangan Alderio.

Sementara Alderio langsung memijat pelipisnya, ia menendang meja kerjanya dengan sedikit keras karena lagi dan lagi membuat Alara menangis, bahkan kali ini sampai membentaknya. 

"Arggggg … Alara!!!" erang Alderio frustasi.

Alderio duduk di kursinya, ia memegangi kepalanya yang sedikit sakit, ia takut apa yang Alara ucapkan benar-benar akan terjadi, gadis itu enggan bertemu dengan nya lagi.

"Tidak, Alara. Kamu tidak boleh pergi dari saya, sejak malam itu kamu sudah menjadi milik saya dan itu selamanya!" gumam Alderio.

Sementara Alara berlari tanpa arah, ia menangis tanpa peduli pada tatapan mahasiswa lain yang berbisik dan mulai kembali bergosip tentangnya.

Alara keluar dari fakultasnya, ia menyetop taksi lalu segera masuk. Saat ini Alara hanya ingin pulang dan beristirahat di rumah.

Sepanjang jalan Alara menangis, ia merasa begitu rendah dan murahan meski sejujurnya pertanyaan Al biasa saja. Tiap kali Al membahas tentang kejadian malam itu, maka disitulah Alara merasa tidak berharga dan sangat murah, saat ini dirinya kotor.

Kepala Alara tiba-tiba terasa pusing, entah karena menangis atau apa, namun rasanya benar-benar sakit. Sesampainya di rumah, Alara segera masuk setelah membayar ongkosnya. Ia melangkah ke kamarnya lalu berbaring di sana dengan masih memegangi kepalanya.

"Awww … kenapa tiba-tiba jadi pusing." Gumam Alara lirih.

Alara menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia memejamkan mata lalu membukanya. Merasa sakitnya belum hilang, Alara lantas berbaring dan memejamkan matanya.

Wajah Alara sedikit pucat, beberapa hari ini ia memang jarang sekali makeup, mungkin hanya saat ingin pergi ke kampus saja, itupun hanya bedak dan lipstik. Wajahnya yang pucat ditambah lagi mata sembab karena terus menangis.

***

Sore hari Alara terbangun dari tidurnya, ia memijat kepalanya sedikit yang beruntung sakitnya sedikit berkurang. Tatapan mata Alara melirik sekitar, ia teringat belum mengabari Reina bahwa dirinya sudah pulang duluan.

"Oh ya ampun!!" ucap Alara gusar saat melihat ponselnya mendapat 15 panggilan tak terjawab dari Reina dan 2 panggilan dari nomor tidak dikenal.

"Nomor siapa ini, apakah Mama?" gumam Alara menerka-nerka.

Tak mau ambil pusing, Alara lantas menghubungi Reina untuk memberinya kabar. Ia baru saja ingin berucap, namun suara melengking Reina menghentikannya.

"Ra, lo dimana. Gue nyariin bolak-balik, lo dimana?" 

"Gue di rumah, buruan balik sini." 

"Nggak bisa, gue harus balik ke rumah karena keponakan gue datang. Gue telpon lo juga buat kasih kabar ini, lo nggak apa-apa sendiri?"

"Oh ya udah iya, gue nggak masalah sendiri." 

"Ya udah, besok gue nginep lagi di rumah lo." 

Setelah memutuskan panggilan di antara mereka, Alara mengerutkan keningnya saat nomor tidak dikenal itu mengirim pesan padanya.

"Alara." Tulisnya dengan singkat.

Alara tampak bingung, ia hendak membalas namun tiba-tiba nomor tersebut menelponnya.

"Halo, siapa ya?"

"Alara, ini saya Alderio. Bisa kita bicara, saya ingin minta ma–" Belum selesai Alderio berucap, dengan cepat Alara langsung menutupnya.

Alara melempar ponselnya, ia tak berniat untuk berurusan lagi dengan Alderio. Biarkan saja skripsinya itu. 

"Dapet darimana sih nomor gue!!!" gerutu Alara kesal dan jengkel.

Sementara di tempat lain, Alderio semakin frustasi karena Alara tidak mau mendengarkan ucapan nya dulu, gadis itu bahkan tak membalas pesannya.

"Alara, saya benar-benar tidak bisa jika kamu jauh. Saya mencintai kamu, Alara. Kamu milik saya!!" ucap Alderio menyandarkan tubuhnya ke kursinya dan tak lupa memejamkan matanya.

WAH PAK AL UDAH BUCIN GUYS SAMA ALARA🙈😂

To be continued

Terpopuler

Comments

Sri Mulyani

Sri Mulyani

bisa jadi SDH ada tanda tanda benih pak dosen di dlm kandungan ara

2025-02-07

0

Sri Mulyani

Sri Mulyani

jgn jgn SDH ada tanda tanda benih pak dosen di dlm kandungan ara

2025-02-07

0

Nurul Aeni

Nurul Aeni

alara & alderio,sama2 al

2024-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sesuatu telah terjadi
3 Wanita gila
4 Ejekan dan hinaan
5 Bertemu dia
6 Mengingatnya
7 Ditolong Pak Al
8 Menikahlah dengan saya
9 Alara marah
10 Tamparan Alara
11 Kasih sayang orang tua
12 Kedatangan Alderio
13 Keputusan Alara
14 Melamar Alara
15 Kabar mengejutkan
16 Saya suka bibir kamu
17 Amarah Alderio
18 Akhirnya sah
19 Malam dan pagi panas
20 Panggilan baru
21 Belanja bulanan
22 Alderio marah?
23 Alara mellow
24 Asam lambung???
25 Pasangan manis
26 Alara pingsan
27 Kabar bahagia
28 Kedatangan adik Al
29 Telepon dari Renata
30 Menemui Renata
31 Ungkapan cinta Alara
32 Jodoh yang tertukar?
33 Ngidam rujak
34 Cerita Alderio
35 Pengakuan
36 Hari yang manis
37 Mama Ara galak
38 Liburan keluarga
39 Kekesalan Renata
40 Senjata makan tuan
41 Tuduhan Renata
42 Syok berat
43 Memutuskan hubungan
44 Penjelasan Alderio
45 Keterkejutan Renata
46 Bertemu Mama Mira
47 Pertanyaan Mama Mira
48 Pekerjaan baru Alderio
49 Terbongkar
50 Mika kecelakaan
51 Mika tiada
52 Histeris
53 Harus bayar mahal!
54 Permintaan Bima
55 Jalan-jalan
56 Kontraksi
57 Kesendirian
58 Pesta dansa
59 Menyelamatkan Bima
60 Reina Cedera
61 Perhatian Bima
62 Rasa bersalah
63 Alderio pekerja keras
64 Mau mertua?
65 Alara melahirkan
66 Welcome baby Arion
67 Vibes suami istri
68 Menyukainya
69 Kedatangan Mama Reina
70 Bima kepikiran
71 Memantapkan hati
72 Penolakan tegas Reina
73 Salah sasaran
74 Kejutan yang manis
75 Bima Vs Reina
76 Bayi gorila
77 Hari paling dinanti
78 Siap nggak siap
79 Marah tapi mau
80 Rutinitas istri
81 Kebobolan?
82 Keyakinan bersama (End)
83 Ekstra part end
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Prolog
2
Sesuatu telah terjadi
3
Wanita gila
4
Ejekan dan hinaan
5
Bertemu dia
6
Mengingatnya
7
Ditolong Pak Al
8
Menikahlah dengan saya
9
Alara marah
10
Tamparan Alara
11
Kasih sayang orang tua
12
Kedatangan Alderio
13
Keputusan Alara
14
Melamar Alara
15
Kabar mengejutkan
16
Saya suka bibir kamu
17
Amarah Alderio
18
Akhirnya sah
19
Malam dan pagi panas
20
Panggilan baru
21
Belanja bulanan
22
Alderio marah?
23
Alara mellow
24
Asam lambung???
25
Pasangan manis
26
Alara pingsan
27
Kabar bahagia
28
Kedatangan adik Al
29
Telepon dari Renata
30
Menemui Renata
31
Ungkapan cinta Alara
32
Jodoh yang tertukar?
33
Ngidam rujak
34
Cerita Alderio
35
Pengakuan
36
Hari yang manis
37
Mama Ara galak
38
Liburan keluarga
39
Kekesalan Renata
40
Senjata makan tuan
41
Tuduhan Renata
42
Syok berat
43
Memutuskan hubungan
44
Penjelasan Alderio
45
Keterkejutan Renata
46
Bertemu Mama Mira
47
Pertanyaan Mama Mira
48
Pekerjaan baru Alderio
49
Terbongkar
50
Mika kecelakaan
51
Mika tiada
52
Histeris
53
Harus bayar mahal!
54
Permintaan Bima
55
Jalan-jalan
56
Kontraksi
57
Kesendirian
58
Pesta dansa
59
Menyelamatkan Bima
60
Reina Cedera
61
Perhatian Bima
62
Rasa bersalah
63
Alderio pekerja keras
64
Mau mertua?
65
Alara melahirkan
66
Welcome baby Arion
67
Vibes suami istri
68
Menyukainya
69
Kedatangan Mama Reina
70
Bima kepikiran
71
Memantapkan hati
72
Penolakan tegas Reina
73
Salah sasaran
74
Kejutan yang manis
75
Bima Vs Reina
76
Bayi gorila
77
Hari paling dinanti
78
Siap nggak siap
79
Marah tapi mau
80
Rutinitas istri
81
Kebobolan?
82
Keyakinan bersama (End)
83
Ekstra part end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!