Melamar Alara

"Alderio, kamu harus menikah dengan anak dari teman Mama. Sebentar lagi mereka akan kesini, dan Mama nggak mau tahu kamu harus menikah dengannya!" Ucap Mira Gautam Haiyan, ibu Alderio.

Alderio mengetatkan rahangnya, entah sudah berapa kali sang Mama memintanya untuk menikah, membawa gadis datang kepadanya untuk diperkenalkan.

"Cukup, Ma. Berapa kali aku harus bilang bahwa aku tidak mau menikah!!" sahut Alderio sedikit tinggi.

"Rio, begini cara kamu bicara pada Mama mu!!!" bentak Aden Gautam Haiyan, ayah Alderio.

Alderio tak menjawab, ia mendengus tanpa berniat membalas ucapan sang Papa.

"Rio, umur kamu sudah matang untuk membina rumah tangga, Mama mohon, Nak. Mau ya menikah?" bujuk Mama Mira dengan lembut.

Alderio berusaha menahan panas di telinganya, ia beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan rumah dalam keadaan emosi.

Tanpa arah apalagi tujuan, Alderio akhirnya memutuskan datang ke sebuah klub untuk sekedar menenangkan diri.

Ia duduk di meja bar lalu memesan segelas minuman beralkohol. Ditenggak nya hingga tandas lalu memintanya kembali kepada bartender nya.

"Tambah lagi." Pinta Alderio dengan wajah mulai sayu dan kepala yang pusing.

Alderio kembali menenggak minuman beralkohol itu, hingga gelas ketujuh akhirnya ia ambruk di meja bar. Mata Alderio perlahan terbuka, dengan samar-samar ia melihat seorang gadis cantik yang duduk tidak jauh darinya, dari wajahnya terlihat bahwa gadis itu kebingungan.

Alderio bangkit dari duduknya hendak menghampiri sang gadis, namun ternyata gadis itu juga hendak pergi sepertinya. Langkah wanita itu tampak tak seimbang, Alderio mendekat, namun karena mabuk ia malah menabraknya.

"Ya ampun, maaf." Ucap gadis itu seraya memegangi kepalanya.

Alderio tersenyum melihat gadis yang begitu cantik, matanya bulat, hidungnya mancung dan jangan lupakan bibirnya yang pink seakan memanggilnya untuk mencium.

Entah setan darimana Alderio merengkuh pinggang gadis itu lalu mencium bibirnya, ia kira gadis ini akan marah bahkan menampar nya, ternyata gadis itu justru membalas ciumannya tak kalah menggebu.

Suara tamparan menggema di ruang tamu rumah mewah kediaman Haiyan, wajah putra sulung mereka tampak memerah mendapat pukulan dari sang Mama yang terkejut akan penjelasannya.

"Kenapa baru bilang sekarang, Rio?!! Dimana gadis itu?" tanya Mama Mira dengan emosi menggebu.

"Ma, aku menjelaskan sekaligus meminta restu mu, bukan tamparan!" protes Alderio memegangi pipinya yang terasa sakit.

"Sudah, hentikan! Dimana gadis itu sekarang?" tanya Papa Aden menengahi.

"Di rumahnya, Pa. Aku sudah bertemu dengan kedua orang tuanya dan siap bertanggung jawab. Mama dan Papa diminta datang besok seraya membawa lamaran untuk Alara." Jawab Alderio menjelaskan.

"Jadi namanya Alara?" tanya Mama Mira tampak tersenyum manis.

"Iya, dan dia sangat cantik." Jawab Alderio sedikit sewot.

"Mama senang 'kan akhirnya aku menikah, kini aku menikah atas keinginan sendiri, aku menikahi gadis yang aku cintai." Lanjut Alderio.

"Ya, itu bagus. Lagi pula seharusnya sejak lama kamu menikah, kini adikmu saja akan memiliki seorang anak." Timpal Mama Mira ketus.

Alderio menghela nafas, sulit sekali membuat orang tua tenang. Tak ingin menciptakan keributan lagi dengan sang Mama, Alderio memilih untuk langsung ke kamarnya dan beristirahat, sebelum besok ia melamar Alara untuk menjadi pendamping hidupnya.

***

Keesokan harinya, Alderio menepati janjinya untuk datang ke rumah Alara bersama kedua orang tuanya. Bahkan Mama Mira dan Papa Aden langsung membawa beberapa barang yang akan mereka jadikan seserahan untuk Alara.

Mama Dania dan Papa Wahyu menyambut hangat Alderio beserta keluarganya, mereka mempersilahkan keluarga Alderio untuk masuk ke dalam rumahnya.

"Alara masih bersiap-siap, saya akan melihatnya sekarang." Ucap Mama Dania lalu pergi.

Kini tinggal Papa Wahyu bersama keluarga Alderio, tampak jelas banyak penyesalan di wajah Mama Mira atas sikap putranya yang telah menghancurkan masa depan anak orang.

"Tuan Wahyu, sebelumnya kami minta maaf atas kejadian yang menimpa putri anda, pasti karena ini anak anda sangat terpukul dan harus melewati masa sulitnya sendiri." Ucap Papa Aden mewakili kegelisahan sang istri.

"Benar sekali, Tuan Wahyu. Saya benar-benar menyesal atas sikap putra saya, dan ia memang sudah seharusnya bertanggung jawab." Sambung Mama Mira.

Papa Wahyu menghela nafas lalu tersenyum, ia menatap Alderio yang diam mendengarkan obrolan para orang tua.

"Saya memang sempat marah mendengar apa yang menimpa putri saya, tapi saya juga senang karena Nak Alderio mau bertanggung jawab. Saya sungguh suka melihat kegigihannya datang kemari untuk meminta maaf dan restu kepada kami." Sahut Papa Wahyu hangat.

"Biasanya seorang pria akan pergi dan enggan bertanggung jawab, apalagi jika gadis tersebut hamil, namun Nak Alderio sangat berbeda. Semoga penilaian dan kepercayaan saya tidak dirusak olehnya." Lanjut Papa Wahyu menatap dalam Alderio.

Alderio mengangguk mantap, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Alara dan keluarga kecilnya kelak.

Suara sandal hak yang bersentuhan dengan lantai mengalihkan pandangan Alderio ke asal suara, ia terpaku menatap Alara yang hari ini mengenakan dress dibawah lutut berwarna navy, yang mana membuat gadis itu terlihat lebih manis.

"Cantik sekali." Puji Alderio yang masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.

Mama Mira ikut arah pandang putranya, ia ikut terpana melihat gadis cantik yang berjalan mendekati mereka. Wajahnya yang cantik di sembunyikan karena gadis itu tak henti menundukkan kepalanya.

Alara duduk di tengah-tengah orang tuanya, tepat berhadapan dengan Alderio yang masih menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Jadi ini Alara?" tanya Mama Mira menunjuk ke arah Alara.

Alara mengangkat wajahnya, ia tersenyum lalu mendekat dan mencium tangan Mama Mira serta Papa Aden.

"Iya, Tante. Perkenalkan saya Alara." Jawab Alara sopan.

"Ya ampun, cantik sekali kamu, Nak. Alderio yang tua dan dingin ini beruntung mendapatkan bidadari seperti kamu." Puji Mama Mira asal bicara.

Alderio melototkan matanya lalu menatap sang Mama, ia terkejut akan penuturan asal Mama Mira yang menyebutnya 'tua'.

"Baiklah, Nak Alara. Apakah kamu bersedia menikah dengan Alderio?" tanya Papa Aden hangat.

Alara menggigit kecil bibirnya, ia menarik nafas lalu membuangnya cepat dan mengangguk sebagai jawaban.

"Saya bersedia, Om." Jawab Alara yakin.

"Ya sudah, jangan diundur lagi, bagaimana jika pernikahannya minggu depan?" Usul Mama Mira yang begitu ngebet ingin punya menantu.

"Apakah itu tidak terlalu cepat, Tante?" tanya Alara memberanikan diri.

"Ya sudah, dua minggu lagi. Bagaimana?" tanya Mama Mira mengusulkan.

Alara mengangguk, ia tidak enak jika harus kembali menawar, lagi pula memang lebih cepat lebih baik, apalagi jika dirinya terbukti hamil, maka perutnya akan semakin membesar.

Alderio tersenyum penuh bahagia melihat Alara yang mengangguk, ia senang akhirnya Alara akan menjadi miliknya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Astaga, ia tak sabar menanti hal itu.

WUIHHH GERCEP YA, DUA MINGGU LAGI WOYY KONDANGANNYA 😂

To be continued

Note. Tulisan cetak miring adalah Flashback

Terpopuler

Comments

Nur obay

Nur obay

yuk kita ramai" kondangan nya duo AL /Grin//Grin/

2025-02-06

0

Eny Hidayati

Eny Hidayati

pernikahan ini hrs terwujud ...

2024-02-13

0

Inasitinurhasanah

Inasitinurhasanah

novel nya bagus bngt tifak bertele tele

2023-11-26

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sesuatu telah terjadi
3 Wanita gila
4 Ejekan dan hinaan
5 Bertemu dia
6 Mengingatnya
7 Ditolong Pak Al
8 Menikahlah dengan saya
9 Alara marah
10 Tamparan Alara
11 Kasih sayang orang tua
12 Kedatangan Alderio
13 Keputusan Alara
14 Melamar Alara
15 Kabar mengejutkan
16 Saya suka bibir kamu
17 Amarah Alderio
18 Akhirnya sah
19 Malam dan pagi panas
20 Panggilan baru
21 Belanja bulanan
22 Alderio marah?
23 Alara mellow
24 Asam lambung???
25 Pasangan manis
26 Alara pingsan
27 Kabar bahagia
28 Kedatangan adik Al
29 Telepon dari Renata
30 Menemui Renata
31 Ungkapan cinta Alara
32 Jodoh yang tertukar?
33 Ngidam rujak
34 Cerita Alderio
35 Pengakuan
36 Hari yang manis
37 Mama Ara galak
38 Liburan keluarga
39 Kekesalan Renata
40 Senjata makan tuan
41 Tuduhan Renata
42 Syok berat
43 Memutuskan hubungan
44 Penjelasan Alderio
45 Keterkejutan Renata
46 Bertemu Mama Mira
47 Pertanyaan Mama Mira
48 Pekerjaan baru Alderio
49 Terbongkar
50 Mika kecelakaan
51 Mika tiada
52 Histeris
53 Harus bayar mahal!
54 Permintaan Bima
55 Jalan-jalan
56 Kontraksi
57 Kesendirian
58 Pesta dansa
59 Menyelamatkan Bima
60 Reina Cedera
61 Perhatian Bima
62 Rasa bersalah
63 Alderio pekerja keras
64 Mau mertua?
65 Alara melahirkan
66 Welcome baby Arion
67 Vibes suami istri
68 Menyukainya
69 Kedatangan Mama Reina
70 Bima kepikiran
71 Memantapkan hati
72 Penolakan tegas Reina
73 Salah sasaran
74 Kejutan yang manis
75 Bima Vs Reina
76 Bayi gorila
77 Hari paling dinanti
78 Siap nggak siap
79 Marah tapi mau
80 Rutinitas istri
81 Kebobolan?
82 Keyakinan bersama (End)
83 Ekstra part end
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Prolog
2
Sesuatu telah terjadi
3
Wanita gila
4
Ejekan dan hinaan
5
Bertemu dia
6
Mengingatnya
7
Ditolong Pak Al
8
Menikahlah dengan saya
9
Alara marah
10
Tamparan Alara
11
Kasih sayang orang tua
12
Kedatangan Alderio
13
Keputusan Alara
14
Melamar Alara
15
Kabar mengejutkan
16
Saya suka bibir kamu
17
Amarah Alderio
18
Akhirnya sah
19
Malam dan pagi panas
20
Panggilan baru
21
Belanja bulanan
22
Alderio marah?
23
Alara mellow
24
Asam lambung???
25
Pasangan manis
26
Alara pingsan
27
Kabar bahagia
28
Kedatangan adik Al
29
Telepon dari Renata
30
Menemui Renata
31
Ungkapan cinta Alara
32
Jodoh yang tertukar?
33
Ngidam rujak
34
Cerita Alderio
35
Pengakuan
36
Hari yang manis
37
Mama Ara galak
38
Liburan keluarga
39
Kekesalan Renata
40
Senjata makan tuan
41
Tuduhan Renata
42
Syok berat
43
Memutuskan hubungan
44
Penjelasan Alderio
45
Keterkejutan Renata
46
Bertemu Mama Mira
47
Pertanyaan Mama Mira
48
Pekerjaan baru Alderio
49
Terbongkar
50
Mika kecelakaan
51
Mika tiada
52
Histeris
53
Harus bayar mahal!
54
Permintaan Bima
55
Jalan-jalan
56
Kontraksi
57
Kesendirian
58
Pesta dansa
59
Menyelamatkan Bima
60
Reina Cedera
61
Perhatian Bima
62
Rasa bersalah
63
Alderio pekerja keras
64
Mau mertua?
65
Alara melahirkan
66
Welcome baby Arion
67
Vibes suami istri
68
Menyukainya
69
Kedatangan Mama Reina
70
Bima kepikiran
71
Memantapkan hati
72
Penolakan tegas Reina
73
Salah sasaran
74
Kejutan yang manis
75
Bima Vs Reina
76
Bayi gorila
77
Hari paling dinanti
78
Siap nggak siap
79
Marah tapi mau
80
Rutinitas istri
81
Kebobolan?
82
Keyakinan bersama (End)
83
Ekstra part end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!