Vega menyadari tatapan Aldo kepadanya adalah tatapan yang berbeda, entah kenapa Vega membalas tatapan bola mata itu dengan begitu dalam, seperti ada kesejukan saat Vega memandang mata Aldo yang indah.
Aldo pun demikian, Aldo merasakan sosok wanita dalam mimpi nya terlihat nyata dalam bola mata Vega yang berbinar.
"Dia...gadis itu, ini tidak mungkin, kenapa gadis dalam mimpi itu ada dalam bayangan mata bu Vega, atau jangan-jangan bu Vega adalah gadis itu" gumam Aldo meyakinkan dirinya.
"Ada apa ini, kenapa aku begitu suka melihat bola mata Aldo, ah...tidak mungkin... dia adalah siswaku...Vega...sadar kamu " gumam Vega sembari melepaskan pandangannya dari mata Aldo.
"Emm...baiklah Aldo, jika kamu sudah selesai, aku akan mengantarmu pulang" ucap Vega gugup.
Begitupun juga dengan Aldo, ia menjadi salah tingkah, ia tak berani menatap wajah Vega, Aldo begitu malu karena sudah berani menatap mesra guru nya sendiri.
Setelah Aldo menyelesaikan tugasnya, akhirnya ia beranjak dan mencoba menstarter motor itu. Vega melihat Aldo begitu mahir dalam bidang otomotif, tapi kenapa ia justru tidak menyukai pelajaran Fisika, karena pada dasarnya pelajaran Fisika sangat berhubungan erat dengan dunia otomotif.
"Sudah bagus bu, semua sudah Aldo kencengin, dari setelan rem, kopling, dan semuanya sudah oke, tinggal di coba aja" ucap Aldo kepada Vega yang sedari tadi memperhatikannya.
Vega mendekati motor itu, seolah-olah ia ingin mencoba motor itu, Vega juga penasaran dengan hasilnya, mengingat Vega cukup lama meninggalkan hobinya itu, sejak ia lulus SMA dan melanjutkan studinya di perguruan tinggi, Vega mulai meninggalkan hobi nya yang menantang adrenalin itu, ia lebih fokus kepada kuliah nya.
Hingga akhirnya Vega bertemu dengan Arsen dalam sebuah seminar, Arsen adalah pengusaha yang di daulat sebagai narasumber dalam sebuah acara, dimana Vega juga ikut hadir sebagai peserta seminar. Arsen menyukai Vega sejak pertama kali bertemu, begitupun juga Vega, dan mereka meresmikan pacaran setelah dua bulan kemudian, dan sekarang mereka berdua akan masuk kedalam jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu pertunangan.
*******
Vega terpaksa harus memendam keinginannya untuk mencoba motor kesayangan nya, karena mustahil untuknya menaiki motor sport jika dirinya tengah memakai rok sepan. Ia hanya bisa memandangi motor sports nya dengan tersenyum.
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertualang lagi di jalan raya" gumamnya sembari mengelus motor hitamnya.
Tiba-tiba saja Aldo mendekati Vega yang tengah berdiri di samping motor kesayangan nya.
"Bu Vega pingin punya motor ini ya...kelihatan deh bu Vega seneng banget lihat motor ini, sayang ini punya teman bu Vega...lagian Bu Vega nggak bakalan bisa menaiki nih motor, pasti deh bu Vega bakal jatuh" ledek Aldo sambil menyilangkan kedua tangannya dan melirik Vega penuh sindiran.
"Emang seperti itu ya? kalau aku bisa gimana?" seru Vega menantang.
"Kalau bu Vega bisa menaiki nih motor, Aldo janji sama bu Vega, Aldo akan menurut kepada ibu, Aldo akan selalu mengikuti pelajaran Fisika ibu, gimana? berani nggak?" jawab Aldo enteng. Vega menghela nafasnya, dan ia beranjak menghampiri Aldo.
"Kamu benar, ibu tidak bisa menaiki motor ini, hmm sepertinya ibu tidak berbakat untuk menaiki motor sport" jawab Vega pura-pura polos.
"Ya...jelaslah ibu nggak bakalan bisa menaiki nya, hah itu mustahil...kalaupun bisa nih ya ...Aldo bakal berlutut di depan ibu di hadapan anak-anak, itu janji Aldo...tapi ya nggak mungkinlah, bu Vega pasti tidak bisa...hm" ledek Aldo sambil menggendong tas ranselnya.
Vega tersenyum tipis, ia tidak mau membuat Aldo curiga, bahwa dirinya akan kembali ke jalan raya malam nanti, namun ia datang bukan untuk hobinya, tapi untuk mengawasi adiknya, Ocha.
Sementara itu Paman Nuris dan Bibi Salamah tengah duduk di ruang tengah sembari melihat Aldo dan Vega yang tengah sibuk dengan motor sport warna hitam itu.
"Pak..Pak ..coba lihat pemuda itu, seperti nya ibu pernah lihat dia, tapi di mana ya, ibu lupa...seolah-olah ibu pernah kenal dengan murid non Vega itu" ucap Bibi Salamah
"Ahhh...mungkin perasaan ibu saja" balas paman Nuris.
"Ah mungkin juga, pemuda itu mengingat kan ibu pada tuan muda Alvian, mungkin sekarang dia udah sebesar dia, dan pastinya dia juga tampan seperti murid non Vega itu" seru bibi Salamah saat mengingat tentang seseorang.
"Sudahlah bu, semua sudah menjadi masa lalu, tuan dan nyonya besar memutuskan untuk berpisah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, itu sudah keputusan mereka" balas paman Nuris menenangkan istrinya.
"Tapi terkadang ibu kangen pak sama tuan muda, ibu yang menjaga mereka saat tuan besar dan nyonya besar bekerja, bagaimana kah keadaan mereka sekarang?" seru bibi Salamah sedih.
Paman Nuris mencoba menenangkan istrinya dengan mengusap lembut pundak bibi Salamah.
"Yang pastinya mereka sudah besar, cuma sayang pasti mereka tidak bisa bersama, ibu tahu sendiri tuan besar dan nyonya besar membawa masing-masing satu anak, kita doakan saja semoga mereka bisa berkumpul kembali" ucap paman Nuris.
"Iya pak, bapak benar...andai saja tuan besar tidak emosi, mungkin saja perceraian itu bisa dihindari, kasihan nyonya, dia terlihat sangat menderita" ungkap bibi Salamah.
Disaat Paman Nuris dan Bibi Salamah sedang bercengkrama, tiba-tiba Vega dan Aldo datang dan berpamitan kepada keduanya.
"Paman Nuris, Bibi Salamah, kami pamit pulang" ucap Vega yang diiringi Aldo di belakangnya. Paman Nuris dan Bibi Salamah tersenyum pada keduanya.
"Loh udah selesai non? apa motornya sudah dicoba?" tanya Paman Nuris.
"Su...sudah paman" jawab Vega gugup.
"Bohong paman, bu Vega bohong, orang bu Vega nggak bisa naik motor" sahut Aldo
Paman Nuris dan Bibi Salamah saling menatap, terlihat Vega sedang mengisyaratkan kepada mereka agar paman Nuris dan Bibi Salamah tidak bicara yang sebenarnya.
"Ohh...iya benar, non Vega memang tidak bisa menaiki motor" sambung paman Nuris dengan senyum paksa.
"Terimakasih paman, Bibi...kami permisi pulang, em bilang sama Geri, motornya sudah bisa digunakan" ucap Vega pura-pura.
"Geri? bukannya dia sedang ...." sahut paman Nuris yang tidak mengerti apa-apa, sementara bibi Salamah menarik lengan baju paman Nuris
"Kita iya in aja pak" bisik bibi Salamah kepada paman Nuris.
"Oh ...Geri, iya non nanti pasti paman bilangin sama Geri kalau motornya sudah selesai" seru paman Nuris.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu paman" seri Vega sembari mencium tangan keduanya.
Sementara itu Aldo juga ikut mencium tangan keduanya.
"Saya pulang dulu bibi, paman, saya senang sekali bisa berjumpa dengan kalian berdua, oh iya bibi, terimakasih es cendol nya, benar-benar segar" seru Aldo sembari mencium tangan bibi Salamah.
Tiba-tiba saja bibi Salamah merasa teringat akan seseorang dari masa lalunya.
"Tuan muda Alfian" ucapnya lirih
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤
...Jangan lupa sajennya ya 😁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Rapa Rasha
lanjut
2023-10-26
0
Dede Dahlia
mungkinkah Aldo itu Alfian & Arsen kakaknya Aldo 🤔
2023-05-27
0
Rapa Rasha
apa paman dan bibi itu mantan art orang tua Aldo ya
2023-01-10
0