Perasaan Kiara berkecamuk dan ia tidak tau harus berkata atau bereaksi seperti apa ketika melihat dirinya di kaca dengan kalung angsa yang indah. Kilauan berlian itu begitu memukau di matanya dan begitu juga di pandangan orang-orang yang melihatnya.
Sampai-sampai ada seorang ibu dan anak perempuannya yang tidak kuasa untuk tidak memuji, “Wah, cantik sekali, Dek. Kamu pintar memilihnya. Pacarmu pun juga terlihat setuju dan senang dengan kalung angsa itu.”
Sedangkan putri ibu tersebut ikut terkesima dengan pandangan iri. “Sayangnya hanya ada satu. Kalau nggak pasti aku akan ambil juga. Kak, kalung ini seakan-akan dibuat khusus untukmu. Cocok sekali dan bisa pas lagi timing Kakak datang ke sini.”
“Benar,” sahut wanita paruh baya lain yang juga ada di toko perhiasan itu. “Tidak cuman kalungnya, kamu juga beruntung, Dek, bisa mempunyai pria seperti itu di sampingmu. Terlihat sekali dia dewasa, berkompeten dan dapat diandalkan!”
“Hush, Bund, salah fokus kamu!” Teman wanita paruh baya itu menyenggolnya dan tersenyum kepada Kiara. “Itu semua tidak penting, Dek. Yang paling penting adalah pacarmu terlihat sangat menyayangimu.”
Mendengar semua pujian itu, Kiara tidak sedikitpun merasa bahagia. Apa karena seorang pria membelikan perhiasan mahal kepada wanitanya itu berarti berkompeten, dapat diandalkan dan menyayangi wanitanya?
Kiara yang gagal dalam mengerti apa itu cinta, hanya dapat bertanya dalam hati. Apakah cinta itu didasari dengan seberapa besar pria itu rela mengeluarkan uang untuk pasangannya?
Entah mengapa, Kiara merasa sedikit kecewa bila cinta memang seperti itu. Kalau begitu, apa bedanya dengan seorang pela.cur? Pria juga rela membayar mereka. Malah tergantung dengan servis mereka, uang yang mereka dapat juga bisa banyak. Jadi, selama wanita membahagiakan pasangannya, uang itu akan terus mengalir? Dan ia sebagai wanita harus merasa bersyukur karena itu?
Dengan pikiran itu, otaknya meradang. Perasaan Kiara semakin bercampur aduk dan ia tak kuasa untuk tidak menyangkal dengan tegas. “Dia bukan pacarku!”
Hening. Seketika semuanya terdiam dan menjadi salah tingkah. Mereka akhirnya tertawa kecil dan meminta maaf sebelum sibuk dengan diri mereka masing-masing. Namun, di detik berikutnya, jantung Kiara menghantam kuat dadanya hingga wajah Kiara memucat.
“Kia?”
Suara maskulin dan lembut itu sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan bosnya? Seketika rasa bersalah menyerang diri Kiara. Menelan ludah dengan gugup, Kiara perlahan berbalik dan menatap Xavier. Namun, dirinya terkejut ketika mendapati pria itu tersenyum.
Kiara mengerjapkan matanya dan menebak dengan gugup, ‘Dia tidak dengar?’
“P-Pak … sudah selesai?” Kiara bertanya. Ia rasanya ingin menampar dirinya sendiri ketika mendengar suaranya bergetar. Kenapa dia harus khawatir bila bos-nya mendengar itu?
Dia kan juga punya hak dan memang mereka belum berpacaran. Nanti dikira ia kepedean lagi. Dengan begitu, Kiara kembali tenang. “Kita belum memilih hadiah untuk Zalina.”
“Sudah kupilih kok. Tadi sekalian pas aku bayar, aku melihat ada yang bagus.” Xavier tersenyum sambil menggandeng tangan Kiara kembali. Entah itu karena perasaan bersalah atau yang lainnya, kali ini reaksi Kiara tidak menolak. Ia hanya mengangguk dan membiarkan dirinya digandeng keluar.
Saat itu, tiba-tiba Xavier bertanya kembali, “Masih ada waktu, 'kan?”
Kiara yang masih setengah sadar, refleks menjawab, “Iya.”
"Bagus." Xavier tersenyum hingga deretan gigi putihnya terlihat. “Temani aku ya hari ini.”
Untuk kedua kalinya, Kiara harus menahan dirinya untuk tidak menampar dirinya sendiri tapi segala bentuk cacian terlepas dalam hati. Kok bodoh sih? Malah jawab iya?
“Anu, Pak…” Belum sempat Kiara berbicara, Xavier sudah memotongnya dan berkata kepada pelayan yang sedang berdiri di depan. “Untuk dua orang.”
Kiara tertegun. Ketika sadar, mereka sudah sampai di sebuah restoran. Inilah hasilnya bila tidak fokus dan malah mikirin yang tidak penting. Sekarang semua perkataan harus ditelannya dan dia hanya dapat mengikuti Xavier duduk di sebuah meja dekat jendela yang memberikan pemandangan jalan raya yang ramai.
Seseorang yang memakai kacamata dan topi hitam itu mengikuti mereka sampai ke restoran, tanpa disadari oleh Kiara dan Xavier. Hingga akhirnya, orang itu memanggil pelayan, lalu membisikkan sesuatu dan menyeringai setelah pelayan itu mengangguk.
"Kia, kamu pernah suka sama seseorang nggak?" tanya Xavier tiba-tiba.
Kiara yang tadinya menikmati padatnya jalanan, kini mengalihkan pandangan dan menatap Xavier yang ada di depannya.
Menyukai seseorang? Tentu saja pernah.
"Tentu saja pernah. Saya juga normal, Pak," jawab Kiara sambil menunduk.
"Apa sampai sekarang kamu masih menyukainya?" tanya Xavier lagi.
Kiara menyelami ke dalam hatinya. Mencari tahu apakah ia masih menyukai laki-laki itu. Lalu, ia pun berkata, "Tidak. Itu hanya masa lalu."
Iya, itu hanya masa laluku. Semua sudah lewat.
Belum sempat Kiara menjawab, Xavier sudah melotot saat matanya menangkap gerakan tiba-tiba seorang pelayan yang membawa pesanan berisi kopi panas dengan kepulan asap yang membumbung di atasnya.
Xavier bergerak sambil berteriak, "Kia, awas!"
🦄🦄🦄
Kembang kopinya banyakin, komen²nya juga. Ada give away di novel ini loh.
🍭🍭🍭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
LENY
Diska ulah nya
2024-01-05
5
Pia Palinrungi
diska nggak jera2 rupanya
2023-07-18
2
pentolcilok
masih ga kapok" ya dek diska 😌
2023-04-21
1