Kiara mengikuti langkah Xavier yang memiliki kaki jenjang. Dengan setengah berlari ia menyusul laki-laki yang baru saja menjadi bosnya itu. Saat tiba di ruangan bernuansa abu-abu milik Xavier, debaran jantung Kiara semakin tidak terkendali. Apa Xavier mengenalinya?
Xavier duduk di kursi kebesarannya. Ia memencet salah satu tombol telepon di mejanya, detik kemudian suara sekretarisnya menyapa.
"Ke ruangan saya sekarang!" perintah Xavier. Ia masih mengabaikan Kiara yang berdiri di depan mejanya. Sampai akhirnya sekretaris Xavier masuk.
"Iya, Pak." Seorang wanita dengan perut buncit memasuki ruangan. Kiara tahu, wanita itu yang tadi menyambutnya saat mengikuti langkah Xavier masuk ke ruangan ini.
"Ajari dia apa saja tugas-tugas kamu. Aku beri waktu tiga hari, setelah itu kamu bisa beristirahat. Kasihan juga anakmu kalau terus bekerja," ucap Xavier dengan datar.
Kiara pikir, Xavier sekarang semakin sombong, dan itu membuat rasa bencinya semakin dalam. Kiara dan sekretaris lama Xavier berpamitan. Dalam hati Kia masih was-was apakah Xavier mengenalinya atau tidak.
Kiara mempelajari tugas dan pekerjaannya dengan serius. Tiga hari waktu yang Xavier berikan dan ia harus bisa menguasai semua pekerjaan itu.
***
Sudah dua minggu Kiara bekerja menjadi sekretaris Xavier. Ia bisa melakukan semua yang Xavier perintahkan dengan sempurna. Tidak ada satu pun kesalahan yang pernah Kiara perbuat, karena ia selalu melakukannya dengan hati-hati.
Sore yang sepi, Xavier belum keluar sejak terakhir makan siang. Dering telepon di meja, membuat Kiara dengan cepat menjawabnya.
"Buatkan kopi!" ucap Xavier dengan cepat, lalu panggilan terputus.
Kiara menghela napas berat. Bekerja dengan Xavier yang sangat menyebalkan itu benar-benar menguji kesabarannya. Setiap hari ada saja tingkahnya. Benar-benar angkuh, padahal yang Kiara tahu saat mencari informasi tentangnya, kedua orang tua Xavier tidak angkuh dan sombong sepertinya. Apa dia anak pungut?
Kiara mengantarkan kopi ke ruangan Xavier. Laki-laki tampan itu sedang memijat pelipisnya, dengan kaki yang ditumpangkan ke atas meja.
"Permisi, Pak. Kopinya." Kiara meletakkan kopi di meja Xavier.
Xavier hanya mengangguk. "Kia kamu minggu lembur bisa?" tanya Xavier yang kini menurunkan kakinya. Ia membuka tutup cangkir, lalu menghirup aroma kopi sebelum menyeruputnya.
"Sebelum hari minggu saya akan kerjakan semuanya, Pak. Hari minggu waktu saya untuk istirahat," jawab Kiara dengan tenang, tanpa takut sedikit pun.
Dua manusia itu saling pandang, tatapan mata yang sama-sama datar itu bertemu. Xavier melihat sisi tegas dalam diri Kiara, sedangkan dalam pikiran Kiara adalah menunggu saat yang tepat agar Xavier semakin bergantung padanya lalu dia akan menghancurkan laki-laki itu.
"Kamu mau kencan ya?" tanya Xavier. Ia hanya menebak karena perempuan secantik Kia pasti sudah memiliki pasangan.
"Maaf Pak Xavier, itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kalau sudah tidak ada perlu lagi, apa saya bisa kembali bekerja?" tanya Kiara tanpa ekspresi. Ia lebih mirip robot yang bekerja sebagai sekretaris Xavier karena Kia hanya menjawab seperlunya, tidak pernah membantah dan selalu mengerjakan semua dengan baik.
Sial! Kenapa jawabannya malah begitu. Padahal tinggal jawab ya atau nggak aja, 'kan?
"Malam ini kita lembur. Besok siang ikut saya ke puncak. Saya mau sidak di sana!" ucap Xavier yang lagi-lagi menunggu ekspresi Kiara.
Kia lagi-lagi menatap Xavier dengan dingin lalu mengangguk dan berkata, "Baik, Pak."
Xavier sampai cengo menatap ekspresi Kiara, sangat berbeda dengan sekretaris sebelumnya, tapi lagi-lagi Xavier tidak bisa marah padanya. Kia selalu melakukan tugasnya dengan baik dan Xavier menyukai hal itu.
🦄🦄🦄
jempolnya jangan lupa 🍭🍭
🦄🦄🦄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀Angel❤️⃟Wᵃf
uhukkk kayaknya emg harus kasih pelajaran kecil sombong dahhh... tapi gmn cara nya ya
2024-08-19
4
Minni Minni
Baguuuuuuuus kia. Hancurkan tuh si sombong tu
2024-08-09
0
Adriana Wiriadinata
👍👍👍👍
2024-06-18
1