Kiara terbangun di ruang UKS yang sepi. Rasa sakit yang hampir membuatnya muntah karena mual menyambut kesadarannya. Telinganya terasa berdenging sesekali. Namun, dengan sedikit menguap, suara berdenging itu pun hilang, tapi rasa sakitnya tetap tertinggal hingga membuat Kiara mengerutkan kening. Ketika ia masih menyesuaikan diri sambil berpegangan pada ujung kasur, guru UKS datang menghampirinya.
"Kiara, kamu sudah bangun?" tanya guru tersebut.
"Iya Bu." Kiara duduk di hadapan gurunya.
"Sebaiknya kita periksa ke rumah sakit karena tadi telinga kamu berdarah. Takutnya gendang telinga kamu terluka," ucap guru tersebut.
Kiara diam sejenak, lalu ia menjawab, "Tidak perlu, Bu. Saya baik-baik saja, buktinya saya masih bisa mendengar jelas. Saya mau pulang saja kalau boleh." Kiara menolak usulan gurunya. Meski rasanya sangat sakit, tapi ia tidak mau menambah masalah yang mungkin akan timbul jika ia pergi ke rumah sakit.
Guru itu melihat bekas luka tamparan di wajah Kiara. Ia tahu siapa pelakunya karena dari desas desus yang beredar di kalangan guru, beberapa waktu terakhir Diska memang sedang mengincar Kiara. Akan tetapi, tidak ada yang bisa guru-guru itu lakukan karena mereka tahu, siapa orang tua Diska. Guru itu hanya bisa menelan rasa bersalahnya sendiri tanpa berani bertanya pada Kiara.
"Kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?" tanya guru UKS sekali lagi.
"Tidak, Bu. Terima kasih sudah menolong saya," ucap Kiara dengan sopan.
"Terima kasihnya sama temen kamu. Dia tadi yang bawa kamu ke sini."
Kiara mengerutkan alisnya. Ternyata masih ada yang kasihan dengannya. "Siapa, Bu?"
"Aduh, ibu lupa namanya. Coba nanti tanya teman sekelas kamu, mereka pasti kenal."
Kiara hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tidak mau mencari tahu sekarang, mungkin saja orang itu teman Diska yang tidak mau membuatnya mati di sekolah dan membuatnya terkena masalah.
"Kiara, ibu sudah siapkan es batu untuk mengompres luka kamu, pasti sakit sekali ya?" tanya guru itu sembari menyodorkan es batu dan kain dalam wadah kepada Kiara.
"Tidak apa-apa Bu."
Guru UKS membantu Kiara mengompres luka memarnya. Rasa bersalahnya semakin menjadi, seandainya Diska bukan anak orang kaya, pasti guru itu tidak akan tinggal diam.
"Kamu bisa pulang sendiri?" tanya Guru UKS setelah Kiara selesai mengompres lukanya.
Kiara mengangguk. "Bisa, Bu. Rumah saya tidak jauh."
"Baiklah, hati-hati dan langsung pulang ya." Guru itu mengusap kepala Kiara, kasihan melihat gadis muda sepertinya harus mengalami kejadian yang mengerikan itu.
***
Kiara naik bus kota dari sekolah ke rumah. Ia duduk sendirian karena teman-temannya belum pulang. Dalam kesendiriannya itu, Kiara memikirkan banyak hal. Otaknya mulai menyusun kata-kata jika orang tuanya bertanya. Akan tetapi, setelah ia pikir-pikir ulang, bukankah lebih baik orang tuanya tidak tahu?
Kalau aku bercerita pada Ayah dan Ibu kalau aku diperlakukan seperti ini, pasti Ayah dan Ibu akan sangat marah. Bisa saja Ayah datang ke sekolah dan malah mempermalukan diri kami. Keluarga Diska terlalu kaya untuk dilawan. Tidak, aku tidak mau membuat orang tuaku dipermalukan nantinya. Ayah, Ibu, maafkan aku.
Diska benar-benar jahat. Aku benci dia. Ini juga salah Xavier. Kalau saja dia mau membantuku, pasti Diska tidak akan sejahat itu. Padahal, Xavier sangat tahu bahwa aku adalah teman masa kecilnya, kenapa dia selalu berpura-pura seolah tidak mengenalku. Dia sangat berubah. Sejahat itukah Xavier? Aku benci Xavier, aku benci Diska. Aku benci mereka semua.
Kiara turun dari bus saat kendaraan besar dan panjang itu berhenti. Kiara kembali berjalan, menyusuri gang dengan hiasan bendera plastik bekas tujuh belasan. Sebisa mungkin, ia berusaha menutupi lukanya dengan jaket. Ia tidak mau membuat orang tuanya cemas jika melihat lukanya.
Sesampainya di rumah, ibu Kiara sudah menyambut kedatangan putri tercinta. "Tumben sudah pulang, Ra?" Ibu melihat jam yang menggantung di dinding ruang tengah. Pikir ibu, ini belum saatnya jam pulang, apa Kiara sedang ada masalah? Kiara yang merupakan anak tunggal selalu menjadi kesayangan dalam kesederhanaan orang tuanya.
"Iya, Bu. Gurunya rapat," jawab Kiara. "Bu, aku tadi udah makan, besok ada ulangan dadakan. Aku mau belajar dulu." Kiara menyalami ibunya lalu hendak meninggalkan ibu.
Ibu memegang bahu Kiara untuk menahannya. Gadis itu meringis kesakitan, tapi ia tetap berusaha menahannya di depan ibu.
"Wajah kamu kenapa, Nak?" tanya ibu khawatir.
"Oh, ini." Kiara memegang pipi dan ujung bibirnya yang masih terasa sakit. "Aku tadi nggak sengaja tersandung terus kena bangku, Bu. Tapi aku nggak apa-apa kok, beneran."
"Kamu yakin kamu baik-baik saja, Nak?" tanya ibu khawatir.
"Aku baik-baik saja kok, Bu. Aku capek mau istirahat sebentar terus belajar. Tolong jangan ganggu ya, Bu," jawab Kiara. Ia tersenyum, lalu melangkah meninggalkan ibunya.
Ibu merasa ada yang aneh dari sikap putrinya, tapi ibu tidak mau berburuk sangka. Mungkin saja, saat ini Kiara sedang kelelahan dan memang butuh waktu sendiri untuk istirahat.
Sesampainya di kamar, Kiara mengurung diri. Ia duduk bersandar di pintu dan menatap langit-langit kamarnya. Kiara hanya diam, tatapan matanya kosong, tapi buliran bening terus keluar dari sudut matanya. Tanpa isakan atau ekspresi apa pun. Air matanya sudah sangat menjelaskan perasaannya saat ini.
Kiara menatap pergelangan tangannya. Ia lalu mengacak-acak meja belajarnya, mencari cutter yang entah terselip di mana. Setelah membuat berantakan kamarnya dengan buku yang berserakan, Kiara akhirnya menemukan benda tajam itu.
Ia mendorong knop alat itu supaya pisau tajamnya keluar, lalu ia menempelkannya pada pergelangan tangan. Perlahan dan sambil memejamkan mata, ia menyayat tangannya sendiri. Seketika bayangan kedua orang tuanya datang menghampirinya. Betapa mereka sangat menyayangi putri mereka.
Dulu, sebelum berurusan dengan Diska, kehidupan Kiara sangat bahagia. Ia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya. Dulu ia punya teman, walau tidak seberapa, tapi semenjak mengenal Diska semuanya berubah. Diska telah mengambil semua kebahagiaan Kiara.
Maafkan aku, Ayah, Ibu. Mungkin ini yang terbaik buatku.
Cutter itu terus menggores pergelangan tangan Kiara. Darah mulai keluar menembus kulitnya, rasa perih yang timbul nyatanya tidak bisa menghentikan tekadnya. Sampai akhirnya, bayangan masa kecilnya kembali muncul.
"Kiara, anak ayah paling cantik sedunia. Harta ayah satu-satunya." Ayah menggendong Kiara kecil dan menerbangkannya sambil berputar. Kiara kecil tertawa lepas.
"Ayah akan sekolahkan kamu di tempat yang bagus. Ayah akan lebih giat cari uang, kamu harus mendapatkan yang terbaik untuk masa depanmu. Kiara anak kesayangan ayah. Harta terbesar yang ayah punya."
Bayangan tentang masa kecilnya membuat Kiara semakin menangis. Tubuhnya lemas dan cutter itu pun terjatuh. Isakan tangisnya terdengar pilu dan menyayat, rasa sesak di dada mulai timbul.
Bodoh! Bodoh! Bodoh. Kiara memukul dadanya yang terasa sakit. Kenapa hidup sesulit ini? Bahkan mati pun sangat sulit.
Bayangan Diska yang tertawa, membuat hatinya terasa panas. Kalau ia mati sekarang, Diska tidak akan mendapatkan balasan atas perbuatan jahatnya. Lagi-lagi dia hanya bisa menahan diri. Kiara tertawa kecut. Menertawakan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa pun.
Jika saja dia bisa mengubah takdirnya, mungkin Kiara bisa membalas perbuatan Diska suatu hari nanti.
🦄🦄🦄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
3sna
brrt sjrng udh gk syng gitu,gimn gimn,,,
2024-11-09
0
Nia Nara
Paling gak suka orang yg ngarep seharusnya xavier nolongin aku. Neng, kalau xavier nolongin kamu itu karena dia baik hati bukan karena kewajiban. Jadi kalau dia gak mau nolongin kamu itu juga bukan salah xavier. Yang SEHARUSNYA MENOLONG adalah DIRIMU SENDIRI, KIARA !!!
2024-09-08
3
𝐀⃝🥀Angel❤️⃟Wᵃf
cari sekolah yang biasa ajahhhh
2024-08-19
0