Kiara tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melotot pada pria yang sedang menyeringai di sampingnya. Tangannya pun bergerak ke belakang dan mencubit pinggang Xavier, di luar penglihatan ibu kos.
“Aw!” Xavier yang tidak memprediksi gerakan Kiara ini refleks memekik dengan kencang. Sementara ibu kos Kiara terlonjak dan bertanya dengan khawatir, “Ada apa, Dik? Kok tiba-tiba berteriak?”
Namun, muka Xavier malah merah padam saat mendengar pertanyaan ibu kos. Alhasil, Kiara yang menjawabnya dengan tersenyum manis, “Tidak apa-apa, Bu. Paling kram perutnya mendadak kambuh lagi karena kemarin malam dia clubbing sama teman-temannya, minum dengan perut kosong.”
Begitu mendengar Xavier clubbing kemarin malam, raut wajah ibu kos berubah menjadi sedikit tidak bersahabat. “Oh…begitu. Mmm…Kia kalau ada apa-apa bilang ibu ya.”
“Terima kasih atas tawarannya, Bu.” Kiara mengangguk lemah, seakan-akan tak berdaya dan ekspresi ibu kos menjadi tambah sinis.
Xavier tidak bodoh dan dapat dengan langsung menangkap arti di balik perkataan ibu kos. Akan tetapi, sebelum dirinya sempat membela diri, ibu kos sudah memberikannya tatapan tajam seperti memperingati lalu berbalik ke arah kosannya. Mau bagaimana pun, Ibu Kos tidak bisa ikut campur bila Kiara belum meminta pertolongannya.
Setelah sosok ibu kos menghilang, Kiara berbalik ke arah Xavier dan menginjak kakinya tanpa sungkan-sungkan sehingga membuat Xavier memekik lagi sambil memegangi kakinya. Secara otomatis, tangannya yang merangkul pinggang Kiara pun terjatuh.
“Kia! Mau gimana pun saya tetap bos kamu!” Xavier menatapnya dengan raut kesal.
“Mau pak bos kek presiden kek, kita tetap wanita dan pria terlebih dahulu. Jadi, kalau tidak mau kena ganjarannya, simpan baik-baik tanganmu yang nakal, Pak Bos.” Kiara mendengus lalu berbalik ke arah kosannya. “Beri saya 5 menit untuk bersiap-siap.”
Mendengar itu, sakit di kaki dan pinggang Xavier sirna tanpa bekas seakan-akan sakit itu tidak pernah ada dari awal. “Oke! Aku tunggu.” Pria itu pun berbalik dan bersandar di pintu mobilnya layaknya seorang pangeran yang menunggu tuan putrinya.
...****************...
"Bapak mau cari yang bagaimana?" tanya Kiara tanpa basa-basi saat mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Dia seperti seseorang yang sedang melakukan inspeksi dan akan pergi setelah mendengar laporan.
Xavier yang bermaksud mengajaknya kencan hanya bisa menghela napas, tapi itu bukan berarti dirinya putus harapan. Bila sekretarisnya tidak memberinya kesempatan, dia sendiri yang akan membuat peluang kesempatan itu.
"Kita ke toko perhiasan saja, sepertinya itu lebih cocok buat dijadikan hadiah," jawab Xavier dan dengan lincah meraih tangan Kiara dan menggandengnya menuju toko perhiasan, selagi wanita itu fokus pada perkataannya.
Kiara yang digandeng sontak ingin menarik tangannya tapi pria itu dengan mudah menahan tangan mungil Kiara dan malah mengunci jari jemari mereka. Alhasil, Kiara hanya bisa pasrah daripada mereka malah menghabiskan waktu saling tarik menarik seperti orang gila. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pegawai toko perhiasan, lalu Xavier meminta mereka mengeluarkan kalung supaya Kiara bisa memilih.
"Pak, kok saya yang milih? Saya kan tidak tahu selera adik Bapak seperti apa?" tanya Kiara dengan bingung saat melihat berbagai perhiasan dengan berbagai model yang sangat mewah dan pastinya tidak murah.
"Pilih saja yang menurutmu paling cocok untuk perempuan. Anggap saja ini untukmu sendiri. Zalina pasti menyukai apapun pilihanmu." Xavier memandangi Kiara yang masih ragu dengan beberapa perhiasan di tangannya.
"Bapak yakin? Saya takut salah."
"Sudahlah Kia apapun pilihanmu pasti Zalina suka." Xavier lagi-lagi meyakinkan Kiara.
Jujur, Kiara sedikit merasa ada yang janggal. Emang sedekat itukah dirinya dengan Zalina? Perasaan hanya bertemu sekali saja waktu itu. Tapi karena itu yang dikatakan Xavier, kakaknya Zalina, Kiara pun mengangguk, lalu dengan yakin ia mengambil sebuah kalung bermotif angsa yang terlihat cantik dengan kilau berlian di matanya. "Aku rasa ini cocok untuk Zalina, menurut Bapak bagaimana?"
Xavier mengambil kalung pilihan Kiara lalu memakaikannya tepat di leher Kiara. "Ya, aku rasa ini memang cocok. Kalung ini terlihat sangat cantik di leher kamu."
Xavier tersenyum memandangi wajah cantik Kiara hingga membuat gadis itu tambah merasa aneh.
"Kenapa harus dipakaikan? Ini kan untuk Zalina." Kiara berusaha melepaskan kalung itu, tapi dengan cepat Xavier menahannya dan mengaitkan kalung tersebut sehingga menggantung dengan elegan di leher mulus Kiara.
"Ini lebih cocok untuk kamu, Kia. Saya ambil yang ini!" Xavier menyerahkan sebuah kartu pada pegawai toko.
"Maaf, Pak. Ini berlebihan, saya tidak bisa menerimanya." Kiara bersikeras ingin melepaskan kalung itu, tapi Xavier juga tak kalah keras. Xavier memaksa Kiara untuk memakai kalung itu.
Hingga akhirnya, Kiara terpaksa mengalah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Xavier yang justru akan membuat mereka berdua malu nantinya.
Namun, semua adegan ini jatuh dalam pandangan seseorang yang tanpa mereka sadari telah memperhatikan kedua pasang wanita dan pria tersebut. Di balik kacamata hitamnya, sepasang mata yang gelap menyipit dengan tatapan misterius. Lalu, sosok itu menarik turun topinya dan berjalan pelan ke sekeliling, berbaur dengan para pengunjung lainnya.
banyakin hadiah, komen dan likenya, biar aku up terus gaess, semangatin dong wkkk
🦄🦄🦄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
anonim
Xavier modus banget
2024-10-27
0
𝓐𝓷𝓲𝓮
siapakah dia
2024-05-26
2
LENY
siapa ya jgn2 Diska apa ibu Xavier
2024-01-05
3