Pagi-pagi sekali Xavier sudah berada di depan rumah kos Kiara. Ia bertekad untuk meminta maaf pada Kiara atas perilakunya tadi malam.
Kiara baru selesai mandi saat pintu kamarnya diketuk. Masih dengan handuk yang melekat di kepala, gadis itu membuka pintu. Ada seorang wanita seumuran dengannya yang membawa bungkusan berisi makanan. Bisa dipastikan ia baru saja membeli makan untuk sarapan.
"Kia, ada yang nyari kamu di depan," ucap teman kos Kiara tersebut.
"Siapa?" tanya Kiara setelah menutup pintu kamarnya. Tidak mungkin orang tuanya datang, karena ibu bilang sedang ada acara di rumah tetangga.
"Nggak tau, cowok ganteng," jawab teman Kiara yang buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, meninggalkan Kiara yang didera rasa penasaran.
Mau tidak mau, Kiara harus keluar mencari tahu siapa yang ingin menemuinya. Dengan hanya memakai pakaian ala rumahan, Kiara keluar rumah. Ia cukup kaget saat melihat Xavier yang sudah menunggunya di kursi teras.
Kiara ingin kembali masuk, tapi Xavier keburu melihat dan memanggilnya. Lagi-lagi ia hanya bisa mendengus kesal dan menghampiri Xavier.
"Selamat pagi, Kia." Xavier merasa gugup karena raut muka Kiara masih saja terlihat jutek.
"Pagi, Pak. Bukankah ini weekend?" tanya Kiara diiringi senyuman kecut.
"Ya, kamu benar. Aku ke sini mau minta maaf untuk kejadian semalam," ucap Xavier sembari mengulurkan rangkaian bunga berwarna putih yang terlihat sangat cantik.
"Bapak mau nyogok saya pakai bunga?" tanya Kiara yang nada bicaranya mulai naik.
"Bu-bukan begitu maksudku, Kia. Em, maksud aku." Xavier menjeda ucapannya. "Aku beneran minta maaf. Kalau kamu mau menerima permintaan maafku, bunganya buat kamu." Xavier memberikan bunga pada Kiara yang masih enggan menerimanya.
"Kalau saya nggak mau terima permintaan maaf Bapak, bunganya saya buang?" tanya Kiara yang membuat Xavier kelabakan. Tentu ia tidak rela jika bunga itu berakhir di tong sampah. Zalina sudah susah payah membantunya memilih bunga tadi.
"Jangan dong, bunganya tetep buat kamu. Kan aku belinya khusus buat kamu," jawab Xavier gugup.
Kiara diam sejenak, menatap Xavier yang terlihat putus asa. Lalu, tangannya terulur untuk menerima bunga pemberian Xavier.
Saat Kiara menerima bunganya, wajah Xavier seketika berubah cerah dan kembali semangat. Harapannya mendapat maaf Kiara sangat besar saat ini.
"Makasih bunganya, Pak. Silakan pulang!" Kiara akan beranjak, tapi tangan Xavier berhasil mencegahnya.
"Kamu maafin aku?" tanya Xavier penuh harap.
"Kata Bapak kan dimaafin atau nggak, bunganya tetep buat saya," jawab Kiara dengan santai.
Xavier termenung, sepertinya tadi ia salah bicara. Ia memang selalu kehabisan kata-kata setiap kali berhadapan dengan Kiara.
"Oh, iya. Kamu benar." Xavier kembali lemas.
Xavier kelabakan karena ucapannya sendiri. Ia tak mau pulang dengan tangan kosong, tanpa mendapatkan maaf dari Kiara. Ia mencari cara untuk bisa berdua dengan Kiara lebih lama lagi.
"Mau sarapan bareng nggak?" tanya Xavier yang sudah kehilangan ide. Kebetulan, perutnya juga terasa lapar.
Kiara menatap Xavier dengan tatapan aneh. Ini orang kenapa sih? Nggak ada angin, nggak ada hujan, aku maafin juga nggak, tapi ngajak makan bareng?
Belum sempat Kiara menolak, Xavier sudah memasang wajah memelas yang sangat minta dikasihani.
"Ayolah, Kia! Sekalian bantu aku cari hadiah buat buat adikku. Kamu kan wanita pasti kamu lebih mengerti soal begitu." Xavier menyatukan kedua telapak tangannya, memohon pada Kiara supaya gadis itu mau membantunya.
Kening Kiara semakin mengkerut. Xavier yang melihat itu menjadi semakin gugup dan otaknya berputar untuk memikirkan alasan apalagi yang harus dia katakan.
Secara tiba-tiba, Ibu Kos yang kebetulan lewat di depan mereka pun bertanya, "Kia, ini pacar kamu ya?" Kiara memang tidak pernah menerima tamu siapa pun, dan ini baru pertama kalinya Ibu Kos melihat Xavier juga bunga yang kini Kiara pegang.
Kiara hendak menjawab, tapi Ibu Kos merasa suasana antara Kiara dan Xavier sangat tegang, sehingga beliau semakin berasumsi dan dengan cepat menyela Kiara yang hendak bicara. "Oh, lagi berantem ya." Ibu Kos manggut-manggut, lalu melihat Xavier. "Kia kalau berantem jangan berlarut-larut. Pacarmu sudah sampai bawain bunga begitu berarti tulus. Hati-hati dia ganteng ntar diculik sama perempuan lain loh!"
Kiara ingin menyangkal, tapi Xavier langsung memeluk pinggang Kiara dan berakting seakan-akan mereka sedang pacaran.
"Tuh, Sayang. Dengarkan, nggak bagus marah terus. Maafin aku, ya. Aku janji deh, nggak akan ulangi lagi. Please ya, jangan marah lagi. Udah ya ngambeknya."
Muka Kiara langsung merah padam, menahan malu yang teramat dalam. Xavier dan Ibu Kos benar-benar membuatnya ingin tenggelam ke dasar samudera.
🦄🦄🦄
Jempolnya dong tolong diamanin, aku sedih kalau up banyak terus gak imbang gitu like komennya 🥲
🍭🍭🍭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Imas Dewi
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
2025-01-09
0
Rose Reea
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-29
1
Zieya🖤
😅😅😅😅
2024-05-28
2