Diska mengepalkan tangan saat mendengar nada bicara Xavier yang menyindirnya terang-terangan. Diska memang menyukai barang-barang bermerek, tapi bukan berarti dia akan menolak pemberian Xavier walau itu barang murahan sekali pun.
Xavier pun seharusnya paham bahwa Diska menyukainya karena Diska dengan terang-terangan selalu menunjukkannya. Seketika emosi sudah di ubun-ubun, seakan membakar isi kepalanya. Napas Diska kian memburu menahan gejolak amarah yang bagaikan lahar gunung api yang siap meletus kapan saja.
"Aku memang sangat menyukai barang-barang bermerek, tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak suka barang biasa. Kamu sendiri kan tahu, apa pun yang kamu berikan, aku pasti menyukainya. Bukankah aku sudah cukup jelas? Lalu mengapa kamu memberikan sesuatu pada dia yang hanya sekretaris kamu?" teriak Diska yang meluapkan kekesalan dan kekecewaannya pada Xavier.
Xavier memejamkan mata. Ia sudah bosan menyaksikan drama yang dibuat Diska. Selalu saja gadis itu mengganggunya dengan hal-hal yang tidak penting.
"Cukup Diska! Kamu datang hanya untuk mengganggu dan membuat keributan. Memang kamu pikir kamu siapa? Beraninya datang seenak kamu dan mengatur urusan saya." Xavier berdiri dengan kedua tangan mengepal yang bertumpu pada meja.
Kiara berdiri sambil memandang sinis pertengkaran antara Xavier dan Diska. Ia tidak merasa terganggu atau kasihan sama sekali, justru hatinya kian bersemangat.
Teruslah bersikukuh Diska. Lanjutkan! Jangan ditahan, keluarkan amarahmu! Aku menunggu aksimu, agar rencanaku berikutnya bisa berjalan lancar. Kiara menarik kedua ujung bibirnya membuat garis senyum yang sangat tipis, hampir tidak dapat dilihat.
"Xavier. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah kita sangat dekat, aku ini calon istri kamu?" Diska menatap Xavier dengan sorot tajam penuh tanya. Ia selalu merasa Xavier bisa dengan mudah ditaklukan, nyatanya sekarang berbeda.
"Diska dengar! Saya tidak pernah menyukai kamu, tidak pernah! Jadi, berhenti mengganggu saya dan pergilah!" ucap Xavier dengan tegas.
Diska menahan gemuruh di dadanya. Matanya sudah memerah menahan tangis dan malu. Xavier yang ia yakini akan menjadi miliknya, secara terang-terangan menolaknya. Yang lebih memalukan lagi, Xavier menolaknya di depan Kiara yang Diska yakini sebagai penyebab ia ditolak.
Kiara bersorak dalam hati. Ia merasa puas melihat ekspresi Diska saat Xavier menolaknya di depan mata Kiara sendiri. Namun, gadis itu sangat paham situasi, ia harus berpura-pura menyesal telah mendengar hal yang bersifat pribadi itu.
"Maaf, Pak. Sebaiknya saya permisi dulu!" Kiara menunduk dan hendak berbalik badan, tapi Xavier menahannya.
"Kamu tetap di sini!" Xavier menahan Kiara dengan memegang pergelangan tangannya.
Diska meradang saat melihat interaksi dua manusia itu. Dia mendekat pada Kiara dan bersiap memakinya.
"Dasar ja.lang, murahan! Kamu pasti godain Xavier, kan, supaya bisa mengubah nasibmu! Dasar ja.lang miskin!" umpat Diska yang sudah hampir meledak.
Kiara menghadapi umpatan Diska hanya diam bergeming. Meski kelihatannya ia terkejut, tapi dalam hatinya ia menghela napas kecewa.
Diska, Diska. Dari dulu sampai sekarang kamu memang tidak pernah berubah. Kosa katamu saja tidak berkembang. Hanya ada kata jalangkah di otakmu sampai menghinaku dua kali dengan kata yang sama? Sungguh tidak kreatif. Ck. Mengecewakan sekali.
"Maaf, Bu Diska, saya–"
"Kamu pikir saya sudah tua! Panggil saya, Nona. Nona Diska. Sadar posisi kamu!" potong Diska dengan mendorong pundak Kiara dengan satu tangannya. Sebenarnya, tangan Diska sudah gatal ingin menampar Kiara, tapi masih ia tahan karena ada Xavier yang mungkin akan membelanya.
"Diska cukup! Berani sekali kamu menghina pegawai saya. Keluar kamu!" usir Xavier yang sangat marah. Ia berjalan memutari mejanya, hendak mengusir Diska.
Diska mulai ketakutan dan bergerak mundur saat menyadari Xavier marah besar.
Kiara melihat Diska mulai tenang. Ia justru memprovokasi Diska dengan menyunggingkan bibirnya dengan ekspresi mengejek, tentu saja hal itu tanpa disadari oleh Xavier.
Diska tidak bisa lagi menahan emosinya. Seketika ia meledak dan puncaknya tangan Diska menampar Kiara saat melihat senyum yang mengejek itu.
"Diska!" teriak Xavier yang terlambat menahan gerakan Diska.
Kiara memegangi pipinya yang terasa panas. Meski tamparan Diska tidak terlalu keras, tetap saja ia merasakan sakitnya.
Kiara menatap Diska seakan terkejut dengan apa yang baru saja Kiara lakukan. Matanya memerah seakan menahan tangis.
"Nggak usah sok akting! Dasar ja.lang! Kamu barusan ngetawain aku, 'kan?" Diska merasa geram melihat Kiara yang seolah terlihat lemah, ia berusaha menjambak rambut Kiara.
Xavier langsung menahan gerakan tangan Diska. "Berani kamu bersikap kasar di kantorku! Pergi kamu! Saya nggak sudi lihat muka kamu lagi!" Xavier memencet tombol telepon yang terhubung dengan bagian keamanan dan menyuruh mereka untuk datang.
Kiara yang berada di belakang Xavier kembali tersenyum mengejek Diska. Ia mengatakan 'aku menang' dengan gerakan bibirnya yang berucap tanpa suara, tapi Diska bisa dengan jelas memahaminya.
"Lepasin Xav, aku akan buat perhitungan sama perempuan si.alan ini!" Diska terus berontak, tapi Xavier tetap menahannya.
Tidak berapa lama dua orang satpam datang ke ruangan Xavier.
"Usir dia! Jangan biarkan dia berkeliaran di kantor ini lagi!" Xavier mendorong tubuh Diska yang langsung ditangkap oleh satpam. "Dan asal kamu tahu Diska. Kia jauh lebih baik dari kamu!"
Xavier memberi kode pada dua satpam itu untuk membawa Diska. Meski Diska berteriak dan memberontak, dua laki-laki bertubuh kekar itu tetap membawanya pergi. Saat Diska menoleh, Kiara melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.
Xavier menghampiri Kiara setelah mengusir Diska. Ia khawatir karena tadi Diska menampar Kiara.
"Kia, kamu tidak apa-apa?" Xavier berusaha menyentuh Kiara, tapi gadis itu langsung mundur sebelum Xavier berhasil menyentuhnya. Xavier merasakan sakit di hatinya karena Kiara menolak saat ia akan menyentuhnya. Seketika itu, raut wajahnya pun berubah.
"Maaf, saya permisi, Pak!" Kiara memegang pipi bekas tamparan Diska. Saat ia berjalan menuju pintu ruangan, senyum licik penuh kemenangan menghiasi wajahnya. Mata yang sebelumnya menahan tangis itu kini justru terlihat keji.
🦄🦄🦄
cukup 4 bab, like komen jangan lupa, kembang kopi sama vote juga boleh kalau punya 🤣🤣
🍭🍭🍭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
anonim
Diska ini merendahkan harga dirinya sendiri dengan mengumpatin Kiara.
2024-10-27
0
Pandagabut🐼
pembalasan yang epic... wow..... hebat..
patut ditiru
2024-09-03
0
𝐀⃝🥀Angel❤️⃟Wᵃf
diska mending menyerah cari yg kain aja jgn Xavier
2024-08-19
2