Bab 4 Semua Untukmu Suamiku (bagian 2)

“Masih bertanya maunya aku? Aku mau kita mandiri Nada. Hidup dari hasil keringatku sebagai suami kamu. Tinggal dirumah kita sendiri, membiayai rumah tangga kita sendiri. Bukan begini,” kata Mas Pradipta menggenggam jemariku, mengungkapkan keinginannnya.

“Kalian tetap tinggal di rumah ini, tidak boleh kemana-mana. Rumah ini juga atas nama kamu, dan jangan pernah diatas namakan ke siapapun, meski itu suami kamu. Mengerti Nada?” kata Papa.

“Iya Pa, tapi…” kataku ragu.

“Tidak ada tapi…. Bisnis Papa akan papa pindahkan ke Bandung. Papa dan Mama akan pindah ke Bandung. Sandra akan ikut mengurus di Bandung. Kamu dan Pradipta yang akan mengurus disini, bersama Pak Henky. Jadi setelah Papa Mama pindah, semua kebutuhan rumah ini tanggung jawab kalian berdua. Itu sebabnya mulai nanti sampai seminggu kedepan, mama, papa, Sandra dan Pak Henky akan berada di Bandung,” putus Papa

---

Rencana pemindahan bisnis papa ke Bandung dilakukan dengan segera. Tidak sampai setahun, Papa, Mama dan Sandra sudah pindah ke Bandung. Mas Pradipta dan pak Henky mengurus restoran yang ada di Jakarta. Itulah mengapa Mas Pradipta selalu sibuk dan hanya pulang untuk tidur san berganti pakaian. Sedangkan Pak Henky masih harus mondar mandir Jakarta Bandung.

Di ulang tahun pernikahanku yang pertama, Mas Pradipta mengatakan keinginannya untuk mengambil

kuliah S2 di Singapura. Saat kami makan malam berdua, mas Pradipta mengatakan bahwa dengan ilmunya sekarang,  dia gagal menjaga usaha papa. Ya ternyata restoran yang dipercayakan ayah kepadanya tidak berkembang seperti yang diinginkan. Itulah mengapa dia ingin menambah ilmu di Singapura. Namun saat ini tabungannya tidak cukup. Aku memang memiliki uang tabungan yang lumayan besar, yang rencananya akan aku gunakan jika aku ingin melanjutkan kuliah. Mas Pradipta mengatakan bahwa dia ingin meminjamnya untuk sekolah dia.

Semua itu dikatakannya sambil terus memandangku dan tersenyum. Tangannya meremas jari jariku. Sesekali dia mengecup tanganku tanpa memperdulilan pandangan heran pengunjung restoran dimana kami makan malam saat itu.  Malam itu mas Pradipta tampil sangat tampan. Dia membelikanku bouquet bunga mawar yang sangat indah. Dia juga membelikanku sebuah gelang dari emas putih dengan inisial nama kami  PN, indah sekali. Meskipun dia membicarakan tentang hal seserius pendidikannya, namun tangannya tidak berhenti mengusap nakal tangan dan pahaku bahkan ke bagian sensitifku. Mukaku sudah merah padam terbakar gairah. Rasanya aku sudah tidak bisa berpikir banyak.  Rasanya aku ingin menghentikan mas Pradipta berbicara dan memilih menikmati rasa yang tak biasa ini. Nafasku menggebu dan keringat dingin muncul ke kepala dan leherku. Sekilas aku melihat mas Pradipta bergidik, entah karena apa. Namun aku tidak memperdulikannya dan memilih menikmati sensasi yang dimunculkan oleh sentuhannya.

“Kita pulang yuk, kita lanjutkan di rumah,” kata mas Pradipta. Aku yang sudah seperti melayang karena sentuhanya, hanya bisa mengangguk malu malu mau. Dan kami pun pulang.

Sesampainya dirumah, Mas Pradipta menyuruku berganti pakaian dan menunggunya dikamar. Aku yang sudah merasa terbakar, segera melakukan apa yang diminta suami. Setelah selesai, aku duduk diatas ranjang dengan jantung yang berdegup kencang. Mas Pradipta tak kunjung datang. Karena haus, aku memutuskan untuk ke dapur, mengisi jar minuman di atas nakas kamar yang kosong. Kulihat suamiku sedang meminum Wine koleksi Papa hampir satu botol penuh. Setelah itu kulihat kulihat dia menuangkan semacam puyer kemulutnya sambil menggeleng gelengkan kepala.

“Arggghhh, bangsat!” katanya mengagetkanku. Kenapa dia? Sudahklah, sepertinya lebih baik aku kembali ke kamar dan menunggunya, seperti yang dia inginkan. Sekitar 20 menit kemudian,  kulihat dia masuk kamar dengan terhuyung dan berkeringat. Sepertinya dia kepanasan saat di dapur tadi. Bajunya sudah dilepas hanya tersisa celana bokser ditubuhnya.  Dia segera menuju kearahku yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Dia menyerang bibir dan tubuhku dengan kasar, seperti saat malam pertama dulu. Dia kembali memberikan rasa melayang dan kesakitanyang sama untuk kedua kalinya, kepadaku. Namun aku berusaha menikmati setiap gerakannya yang membuatku melayang. Bagaimanapun, katanya, ini adalah kewajiban istri saat suami meminta. Jika aku menolak, maka dosa yang aku dapatkan. Setelah beberapa saat,  Ada rasa seperti hampir meledak dari dalam tubuhku. Aku mulai mendesah gelisah dan meracau. Hal ini rupanya disadari oleh Mas Pradipta. Dia berhenti bergerak dan menatapku tajam. Tangannya mengelus wajah dan leherku yang berkeringat sangat banyak. Setelah itu mas Pradipta menggeleng sambil memejamkan matanya.

“Nada, kamu harus membiayai kuliahku di Singapura. Atau kita hentikan saja sekarang?” kata mas Pradipta masih berhenti bergerak dalam penyatuan kami. Ada  sebuah rasa yang membuatku tak rela dia berhenti. Kugerakkan pinggulku untuk memuaskan rasa yang hilang di pusat tubuhku. Namun mas Pradipta malah melepaskan penyatuan kami.

“Jawab Nada, kamu mau kan membiayai kuliah dan biaya hidupku selama di Singapura? “ kata Mas Pradipta lagi sambil tersenyum aneh. Ah sudahlan, aku hanya ingin semua ini belanjut, toh tidak masalah aku mebiayai suamiku sendiri untuk mesa depan kami.

“I..iya.. jangan kuatir.. ayo mas..” kataku lagi. Ouchh, kenapa aku merasa ****** dan murahan.

“Hahaha, dasar jablay, asal  kamu tahu. Hanya aku yang mau menjamahmu ******. Jadi kamu harus menurut apa yang aku katakana atau kamu akan kutinggalkan, mengerti?” kata mas Pradipta sambil mengelus wajahku dengan

lembut.

"Oh ya satu lagi, tanda tangani ini," kata mas Pradipta sambil memberikan selembar kertas bermaterai dan bolpoin.

"Apa ini mas?" tanyaku heran sambil sedikit mendesah saat tangannya meremas bagian sensitifku.

"Tidak usah banyak tanya, mau diteruskan tidak? " katanya sambil menyeringai, tampan. Entahlah, aku seperti tidak mampu berpikir jernih. Meskipun begitu, aku masih bisa membaca sekilas surat yang harus kutanda tangani, disana ada namaku dan mas Pradipta. Sebuah surat yang menunjuk mas Pradipta sebagai ahli warisku. Ah, ini kan memang wajar. Jika aku meninggal, pastilah semua hal dariku menjadi milik dan tanggung jawab suamiku. Apalagi yang harus dipusingkan. Toh tanpa ini, semua memang otomatis begitu.  Setelah aku tanda tangani, surat itu disimpan mas Pradipta kedalam nakas. Diapun kembali padaku dengan tubuh telanjangnya yang begitu menggoda, seperti martabak manis dikala aku lapar.

“Kamu mau dipuaskan kan! Ini, biar kamu puas!” katanya sambil kembali meng hujamkan miliknya ke pusatku dengan kasar.

“Arghh, sakit mas, pelan-pelan!” teriakku.

“Apa? Kamu berani memerintahku ha?” kata mas Pradipta bergerak liar diataskudan memandangku dengan pandangan tajam. Entahlah, apakah setiap suami yang melakukan hal ini kepada istrinya akan sekasar ini? Kulihat sekilas ada pancaran marah sebelum dia menutup matanya dan melanjutkan gerakannya dengan kasar sampai pada penyampaian yang memberikan rasa hangat di rahimku. Setelah itu, seperti saat dihotel, Mas Pradipta melepaskan diri dengan kasar dan tertidur di sebelahku, membuat aku harus terhuyung kekamar mandi membersihkan diriku sendiri.

***

Tahun ajaran dimulai. Sesuai janjiku, aku memberikan tabunganku untuk sekolah S2 mas Pradipta di Singapura. Tentu saja, seperti pesan suamiku, Papa dan Mama serta ayah tidak boleh tahu tentang hal ini. Mas Pradipta selalu bilang, kalau kami sudah berkeluarga dan mandiri. Apapun yang terjadi di keluarga kami, adalah milik kami dan rahasia kami.

Mas Pradipta diterima di sebuah universitas di Singapura dan mengambil jurusan Communication

business. Sebenarnya jurusan ini adalah jurusan yang ingin kuambil. Itulah mengapa mas Pradipta bilang kalau aku harus membantunya mengerjakan tugas. Saat Papa dan Mama mengatakan  bahwa  aku sebaiknya ikut ke Singapura, suamiku itu melarangku dengan alasan, tidak mau aku jauh dari Papa dan Mama. Toh Singapura Jakarta juga dekat, aku bisa bolak balik jika ingin ketemu.

Awalnya Papa memaksaku untuk tinggal menyusul mas Pradipta. Namun dengan alasan Ibu mertua yang lebih

membutuhkanku, Mas Pradipta yang tidak akan lama dan beberapa alasan lain yang sering membuat wajah Papa  berkerut, aku tetap tinggal di Jakarta. Sampai akhirnya Papa meninggal, dan option itu dilupakan.

Selain memastikan bisnis Jakarta akan ditangani Pak Henky, suamiku juga memastikan agar aku tidak kesepian. Dia memboyong seluruh keluarganya untuk tinggal bersama kami. Karena alasan sudah banyak orang dirumah dan keuangan kami yang belum stabil dengan kuliahnya suamiku, pembantu yang bekerja dirumah ini dikirimkan ke Bandung untuk membantu Mama. Aku tidak masalah. Toh aku juga sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah seperti Mama.

Di awal kepindahan keluarga mertuaku, Ibu, Prita dan Pipit mau berbagi pekerjaan rumah denganku. Namun dengan alasan aku lebih jago masak dan mengurus rumah, maka akhirnya lama kelamaan aku yang mengerjakan semuanya. Apalagi setelah Mas Pradipta berangkat ke Singapura dan ayah mertua menjadi sangat sibuk direstoran dan harus bolak balik ke Bandung. Nada menjadi satu-satunya yang mengurus rumah dari memasak, mencuci dan membersihkan rumah.

Selain itu, seluruh uang pemasukan restoran, diserahkan kepada Ibu. Nada hanya diberikan uang untuk kebutuhan belanja rumah dan dapur. Sisanya akan disimpan oleh ibu. Bahkan jika terlihat Nada memiliki uang lebih, Ibu, Prita dan Pipit akan mengambilnya. Namun bagi Nada, seperti yang selalu dikatakan suaminya, itu adalah bentuk kasih dan perhatian keluarga untuknya.

Seperti yang diminta Pradipta, setiap hari selain menyelesaikan pekerjaan dirumah, Nada harus juga mengerjakan tugas-tugas kuliah Pradipta. Nada tidak keberatan sama sekali. Menurut Pradipta, Nada lebih pintar darinya. Menurut Nada, dengan uang Nada yang hanya sedikit, Pradipta harus menderita di Singapura hingga tidak sempat

mengerjakan tugas-tugasnya. Dan lagi Nada memang menyukai ilmu Communications Bussiness yang menjadi cita-citanya. Mudah baginya menyelesaikan semua tugas dan presentasi Pradipta. Hanya dalam waktu dua tahun, Pradipta berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Saat Papa Nada meminta Pradipta pulang, suamiku mengatakan bahwa dia sudah mendapat pekerjaan untuk

melatih kemampuan bisnisnya di Singapura. Mas Pradipta memintaku membujuk Papa agar dia bisa tetap di Singapura. Dia diterima  di sebuah perusahaan komunikasi dan rumah produksi ternama di negeri singa itu. Desakan Papa berakir dengan perginya Papa untuk selamanya. Bahkan desakan ayah yang awalnya muncul selalu dipatahkan oleh Ibu.

“Nada ngapain ke Singapura. Kan Pradipta kesana buat kerja nyari nafkah.Dia nggak butuh Nada disana. Toh setiap hari mereka ngobrol,” begitu kata Ibu. Ah iya juga.

“Dan lagi, mana bisa aku pisah dari mantu kesayangan kita ini ayah,” kata Ibu saat itu. Nah benarkan, ibu mertuaku sayang banget sama aku sampai tidak ingin berjauhan denganku.

Pekerjaan mas Pradipta cukup menarik. Bagaimana aku tahu? Ya karena dia sering merekam meeting dan membaginya denganku. Dia banyak mendiskusikan pekerjaannya denganku untuk meminta masukan dariku. Akupun sering mengerjakan riset, laporan pekerjaan dan presentasinya. Jadi aku tahu persis apa yang dia kerjakan. Mas Pradipta bilang ke Ibu bahwa di jam makan siang, aku dan Mas Pradipta akan  berkomunikasi belalui Skype membahas pekerjaannya, jadi tidak boleh diganggu.

Sampai karir Mas Pradipta melesat menjadi seorang Creative Director termuda di Lion Communication Singapore. Aku tahu bahwa dia banyak mendapat perhargaan dari hasil pekerjaan kami. Ide-ide yang kukembangkan berhasil menuai pujian dan prestasi bagi mas Pradipta. Bahkan ada beberapa karya kami yang digunakan perusahaan besar, membuat nama Mas Pradipta dikenal luas. Namanya bisa kulihat di banyak media bussines di Singapura bahkan di media Asia Tenggara. Aku sangat bangga padanya. Sungguh. Meski aku tahu kalau sebagian besar keberhasilan dan karya yang dipamerkannya itu adalah ide dan karyaku. Aku rela bekerja keras meski semua pujian itu tidak membawa namaku sedikitpun. Aku iklas dan bahagia.

Aku akan melakukan segalanya bahkan mengorbankan hidupku untuk melihat suamiku tersenyum bahagia dan sukses.  Meskipun aku tidak terlalu tahu apa dan bagaimanakehidupannya disana. Yang aku tahu, sejak karirnya meningkat, Ibu, Prita dan Pipit tidak pernah lagi mengambil uangku.  Aku juga tidak lagi harus mengirimkan uang pada mas Pradipta. Yang aku tahu, sekarang mas Pradipta tinggal di sebuah apartemen yang cukup mewah di negeri Singa. Aku sering kok mengunjunginya disana, bersama ibu mertua dan adik-adik iparku. Yang aku tahu, Sebagian gaji mas Pradipta dikirimkan ke Ibu untuk kebutuhan rumah tangga kami di sini. Setidaknya itulah yang dikatakan mas Pradipta dan Ibu kepada Papa dan Ayah. Bagiku semua itu tidak penting. Karena seperti janjiku, semua akan kulakukan untuk laki-lakiku, cinta pertama dan satu-satunya yang aku miliki.

Terpopuler

Comments

bunga cinta

bunga cinta

cinta itu buta ya

2022-10-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Si Gajah Gemuk, Hitam, Pesek dan Gingsul
2 BAB 2 Ibu Mertua dan Saudara Iparku
3 BAB 3 Cinta Pertama dan Yang Pertama (bagian 1)
4 BAB 3 Cinta Pertama dan Yang Pertama (bagian 2)
5 BAB 4. Semua Untukmu Suamiku (bagian 1)
6 Bab 4 Semua Untukmu Suamiku (bagian 2)
7 Bab 5 Aku ingin berubah (bagian 1)
8 BAB 5 Aku Ingin Berubah (Bagian 2)
9 Bab 6. Pengkhianatan Sang Suami (bagian 1)
10 Bab 6 Pengkhianatan Sang Suami (bagian 2)
11 Bab 7 Juli sang Pelakor (bagian 1)
12 BAB 7 Juli Sang Pelakor (bagian 2)
13 BAB 8 Aku menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku
14 Bab 8 Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku
15 Bab 8 . Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku (Bagian 3)
16 Bab 8 . Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku (Bagian 4)
17 Bab 9. Berselingkuh (bagian 1)
18 Bab 9 Berselingkuh (Bagian 2)
19 Bab 9. Berselingkuh (Bagian 3)
20 Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 1)
21 Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 2)
22 Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 3)
23 Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 1)
24 Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 2)
25 Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 1)
26 Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 2)
27 Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 3)
28 Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 4)
29 Bab 13 Nada Telah Mati
30 Bab 14 Nada’s Project (Bagian 1)
31 Bab 14 Nada’s Project (Bagian 2)
32 Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 1)
33 Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 2)
34 Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 3)
35 Bab 16 Melihatmu Bersamanya (bagian 1)
36 Bab 16 Melihatmu Bersamanya (Bagian 2)
37 BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 1)
38 BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 2)
39 BAB 17 Perubahan 'beauty is pain’ Disayat, Dihancurkan, disedot dan dibius (bagian 3)
40 BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 4)
41 Bab 18 Sakitku Mengubah takdirku (bagian 1)
42 Bab 18 Sakitku Mengubah takdirku (bagian 2)
43 BAB 19. Bertemu Dengannya
44 BAB 20 Dia Bahagia Di Sana, Aku Kelelahan dan Kesakitan Di Sini, Mengubah Takdirku(bagian 1)
45 BAB 20 Dia Bahagia Di Sana, Aku Kelelahan dan Kesakitan Di Sini, Mengubah Takdirku(bagian 2)
46 Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 1)
47 Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 2)
48 Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 3)
49 Bab 22. Nara Melihatnya (Bagian 1)
50 Bab 22. Nara Melihatnya (Bagian 2 Aku Ingat Mobil itu)
51 BAB 23 Kamu siapa M? (Bagian 1)
52 BAB 23 Kamu Siapa M? (Bagian 2)
53 Bab 24 Kemarahanku Karena Julia atau Nara?
54 Bab 25 Juli dan Mahardika
55 Bab 26 . Rahasia Mahardika
56 Bab 27 Bertemu Keluarga Baru
57 Bab 28 Cinta Papa Januaria
58 Bab 29 Kaca yang pecah
59 Bab 30 Belenggu Surat Dari Si Kaya
60 Bab 31 Hamil
61 Bab 32 Anak Adalah Anugerah
62 Bab 33 Menikah (Bagian 1)
63 Bab 33 Menikah (Bagian 2)
64 Bab 34 Bertemu dengan Dua Bajingan
65 Bab 35 Menghadapi Dua Cecunguk
66 Bab 36 Kehilangan (Bagian 1)
67 Bab 36 Kehilangan (Bagian 2)
68 Bab 37 Kehilangan Maria
69 Bab 38. Gangguan 3 Bajingan
70 Bab 39. Rekaman Kejahatan
71 Bab 40. Memulai J Project
72 BAB 41 J Project
73 Bab 42
74 Bab 43 Kembali kehilangan
75 Bab 44 Perjuangan Mahardika menjadi sukses (Bagian 1)
76 Bab 44 Perjuangan Mahardika menjadi sukses (Bagian 2)
77 BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 1)
78 BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 2)
79 BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 3)
80 BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 4)
81 Bab 46 Kamu? Lalu aku?
82 Bab 47 Cerita M
83 Bab 48 Aku tak Ingin Dia Terluka
84 49. Kecupan selamat Tidur
85 Bab 50. Selamat Pagi Nara
86 BAB 51 Kupu Kupu di Perutku Untuk Mahardika
87 Bab 52 Pacaran macam apa itu?
88 Bab 53 Masih Mau Maju Terus?
89 Bab 54. Memulai dengan melihat Youtube
90 Bab 55. Misi dimulai (Bagian 1)
91 BAB 55, Misi Dimulai (Bagian 2)
92 BAB 55 Misi Dimulai (bagian 3)
93 BAB 56 Sanggupkah aku menghadapinya tanpa menunjukan rasa cintaku padanya
94 Bab 57 Jangan merepet Nara!
95 58. Bertemu Denganmu Lagi (Bagian 1)
96 58. Bertemu Denganmu Lagi (Bagian 2)
97 59. Melihatnya Terluka (Bagian 1)
98 Bab 59. Melihatnya Terluka (Bagian 2)
99 Bab 59. Melihatnya Terluka (bagian 3)
100 Bab 59. Melihatnya Teruka (Bagian 4)
101 Bab 59. Melihatnya Teruka (Bagian 5)
102 Bab 60. Meski Memakai Baju Pelayan, Kamu tetap Menggoda
103 Bab 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 1)
104 BAB 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 2)
105 Bab 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 3)
106 Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 1)
107 Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 2)
108 Bab 63. Gila Karena Mesum
109 Bab 64 PLD, Munculnya Dua dari Tiga
110 Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 1)
111 Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 2)
112 66. Cegukan
113 Bab 67 Lemon Pradipta Untuk Cegukan Nara
114 Bab 68. Siapa Bilang Nara Gagal?
115 Bab 69 Membuat Strategi
116 Bab 70 Medusa dan Modusa
117 Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 1)
118 Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 2)
119 Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 3)
120 Bab 72 Makan Siang Nara vs Pradipta (bagian 1)
121 Bab 72 Makan Siang Nara vs Pradipta (bagian 2)
122 Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 1)
123 Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 2)
124 Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 3)
125 Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 4)
126 Bab 74 Rayuan Sang Buaya (bagian 1)
127 Bab 74 Rayuan Sang Buaya (bagian 2)
128 Bab 75 Rencana dibalik Kencan Makan Siang (Bagian 1)
129 Bab 75 Rencana dibalik Kencan Makan Siang (Bagian 2)
130 Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (bagian 1)
131 Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 2)
132 Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 3)
133 Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 4)
134 Bab 77. Peristiwa Perampokan
135 Bab 78. Kembali Ke Rumah
136 Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 1)
137 Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 2)
138 80. Kencan Makan Malam
139 Bab 81. Kencan Makan Malam 2
140 Bab 82 Menggoda Tanpa Godaan
141 Bab 83 Meyakinkan Nara
142 Bab 84 Meragu
143 Bab 85. Kamu ingin kembali ke
144 BAB 86 Memandang Semua Dari Kacamataku
145 BAB 87 Plin Plan
146 BAB 88. Matamu Membuatku Nyaman
147 Bab 89. Janjiku
148 Keluar dari Rumah
149 Bab 91 Tempat Baru
150 Bab 92 Fitting Gaun Pengantin
151 Bab 93 Makan Malam (Bagian 1)
152 Bab 94. Makan Malam (Bagian 2)
153 Bab 95. Pertemuan Kembali Dengan Mertua
154 Bab 96. Kamu Bukan Lagi Obyek Fantasiku Nara
155 Bab 97 Nada Menantu kesayangan Pak Henky
156 Bab 97 Nada Menantu kesayangan Pak Henky
157 Bab 98. Perempuan Hebat itu Bernama Nara
158 Bab 99 Ternyata Kita Bertetangga, Nara
159 Bab 100. Berdua Kembali Denganmu
160 Bab 101 Kemana Mas Pradipta?
161 Bab 102 Tumben
162 Bab 103 Saat Pradipta Mengajakku Bertemu
163 Bab 104 Nara, Bolehkah Aku Bertemu Denganmu
164 BAB 105 Pradipta Ingin Bertemu Denganku?
165 Bab 106 Bertemu kembali denganmu, Suamiku
166 Bab 107 Kencan Di Taman
167 Bab 108 O'O Kamu Ketahuan
168 Bab 109 Dejavu
169 Bab 110 Dia seharusnya Marah!
170 Bab 111. Juli Tak Ingin Membuat Masalah (Bagian 1)
171 Bab 111. Juli Tak Ingin Membuat Masalah (Bagian 2)
172 Bab 112 Pertanyaan di Kepala Nara
173 Bab 113 Ajaakan kencan dari Pradipta untuk Nara
174 BAB 114 Aku yang Khawatir
175 Bab 115 Apakah Aku Jatuh Cinta?
176 Bab 116. Apakah Aku Cukup Menarik?
177 Bukan update - Maaf sedang sakit
Episodes

Updated 177 Episodes

1
BAB 1 Si Gajah Gemuk, Hitam, Pesek dan Gingsul
2
BAB 2 Ibu Mertua dan Saudara Iparku
3
BAB 3 Cinta Pertama dan Yang Pertama (bagian 1)
4
BAB 3 Cinta Pertama dan Yang Pertama (bagian 2)
5
BAB 4. Semua Untukmu Suamiku (bagian 1)
6
Bab 4 Semua Untukmu Suamiku (bagian 2)
7
Bab 5 Aku ingin berubah (bagian 1)
8
BAB 5 Aku Ingin Berubah (Bagian 2)
9
Bab 6. Pengkhianatan Sang Suami (bagian 1)
10
Bab 6 Pengkhianatan Sang Suami (bagian 2)
11
Bab 7 Juli sang Pelakor (bagian 1)
12
BAB 7 Juli Sang Pelakor (bagian 2)
13
BAB 8 Aku menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku
14
Bab 8 Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku
15
Bab 8 . Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku (Bagian 3)
16
Bab 8 . Aku Menikahinya Karena Hartanya dan Karena Ibuku (Bagian 4)
17
Bab 9. Berselingkuh (bagian 1)
18
Bab 9 Berselingkuh (Bagian 2)
19
Bab 9. Berselingkuh (Bagian 3)
20
Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 1)
21
Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 2)
22
Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 3)
23
Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 1)
24
Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 2)
25
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 1)
26
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 2)
27
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 3)
28
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 4)
29
Bab 13 Nada Telah Mati
30
Bab 14 Nada’s Project (Bagian 1)
31
Bab 14 Nada’s Project (Bagian 2)
32
Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 1)
33
Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 2)
34
Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 3)
35
Bab 16 Melihatmu Bersamanya (bagian 1)
36
Bab 16 Melihatmu Bersamanya (Bagian 2)
37
BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 1)
38
BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 2)
39
BAB 17 Perubahan 'beauty is pain’ Disayat, Dihancurkan, disedot dan dibius (bagian 3)
40
BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 4)
41
Bab 18 Sakitku Mengubah takdirku (bagian 1)
42
Bab 18 Sakitku Mengubah takdirku (bagian 2)
43
BAB 19. Bertemu Dengannya
44
BAB 20 Dia Bahagia Di Sana, Aku Kelelahan dan Kesakitan Di Sini, Mengubah Takdirku(bagian 1)
45
BAB 20 Dia Bahagia Di Sana, Aku Kelelahan dan Kesakitan Di Sini, Mengubah Takdirku(bagian 2)
46
Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 1)
47
Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 2)
48
Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 3)
49
Bab 22. Nara Melihatnya (Bagian 1)
50
Bab 22. Nara Melihatnya (Bagian 2 Aku Ingat Mobil itu)
51
BAB 23 Kamu siapa M? (Bagian 1)
52
BAB 23 Kamu Siapa M? (Bagian 2)
53
Bab 24 Kemarahanku Karena Julia atau Nara?
54
Bab 25 Juli dan Mahardika
55
Bab 26 . Rahasia Mahardika
56
Bab 27 Bertemu Keluarga Baru
57
Bab 28 Cinta Papa Januaria
58
Bab 29 Kaca yang pecah
59
Bab 30 Belenggu Surat Dari Si Kaya
60
Bab 31 Hamil
61
Bab 32 Anak Adalah Anugerah
62
Bab 33 Menikah (Bagian 1)
63
Bab 33 Menikah (Bagian 2)
64
Bab 34 Bertemu dengan Dua Bajingan
65
Bab 35 Menghadapi Dua Cecunguk
66
Bab 36 Kehilangan (Bagian 1)
67
Bab 36 Kehilangan (Bagian 2)
68
Bab 37 Kehilangan Maria
69
Bab 38. Gangguan 3 Bajingan
70
Bab 39. Rekaman Kejahatan
71
Bab 40. Memulai J Project
72
BAB 41 J Project
73
Bab 42
74
Bab 43 Kembali kehilangan
75
Bab 44 Perjuangan Mahardika menjadi sukses (Bagian 1)
76
Bab 44 Perjuangan Mahardika menjadi sukses (Bagian 2)
77
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 1)
78
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 2)
79
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 3)
80
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 4)
81
Bab 46 Kamu? Lalu aku?
82
Bab 47 Cerita M
83
Bab 48 Aku tak Ingin Dia Terluka
84
49. Kecupan selamat Tidur
85
Bab 50. Selamat Pagi Nara
86
BAB 51 Kupu Kupu di Perutku Untuk Mahardika
87
Bab 52 Pacaran macam apa itu?
88
Bab 53 Masih Mau Maju Terus?
89
Bab 54. Memulai dengan melihat Youtube
90
Bab 55. Misi dimulai (Bagian 1)
91
BAB 55, Misi Dimulai (Bagian 2)
92
BAB 55 Misi Dimulai (bagian 3)
93
BAB 56 Sanggupkah aku menghadapinya tanpa menunjukan rasa cintaku padanya
94
Bab 57 Jangan merepet Nara!
95
58. Bertemu Denganmu Lagi (Bagian 1)
96
58. Bertemu Denganmu Lagi (Bagian 2)
97
59. Melihatnya Terluka (Bagian 1)
98
Bab 59. Melihatnya Terluka (Bagian 2)
99
Bab 59. Melihatnya Terluka (bagian 3)
100
Bab 59. Melihatnya Teruka (Bagian 4)
101
Bab 59. Melihatnya Teruka (Bagian 5)
102
Bab 60. Meski Memakai Baju Pelayan, Kamu tetap Menggoda
103
Bab 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 1)
104
BAB 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 2)
105
Bab 61 . Tidak Ada Waktu Lagi (bagian 3)
106
Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 1)
107
Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 2)
108
Bab 63. Gila Karena Mesum
109
Bab 64 PLD, Munculnya Dua dari Tiga
110
Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 1)
111
Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 2)
112
66. Cegukan
113
Bab 67 Lemon Pradipta Untuk Cegukan Nara
114
Bab 68. Siapa Bilang Nara Gagal?
115
Bab 69 Membuat Strategi
116
Bab 70 Medusa dan Modusa
117
Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 1)
118
Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 2)
119
Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 3)
120
Bab 72 Makan Siang Nara vs Pradipta (bagian 1)
121
Bab 72 Makan Siang Nara vs Pradipta (bagian 2)
122
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 1)
123
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 2)
124
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 3)
125
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 4)
126
Bab 74 Rayuan Sang Buaya (bagian 1)
127
Bab 74 Rayuan Sang Buaya (bagian 2)
128
Bab 75 Rencana dibalik Kencan Makan Siang (Bagian 1)
129
Bab 75 Rencana dibalik Kencan Makan Siang (Bagian 2)
130
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (bagian 1)
131
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 2)
132
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 3)
133
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 4)
134
Bab 77. Peristiwa Perampokan
135
Bab 78. Kembali Ke Rumah
136
Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 1)
137
Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 2)
138
80. Kencan Makan Malam
139
Bab 81. Kencan Makan Malam 2
140
Bab 82 Menggoda Tanpa Godaan
141
Bab 83 Meyakinkan Nara
142
Bab 84 Meragu
143
Bab 85. Kamu ingin kembali ke
144
BAB 86 Memandang Semua Dari Kacamataku
145
BAB 87 Plin Plan
146
BAB 88. Matamu Membuatku Nyaman
147
Bab 89. Janjiku
148
Keluar dari Rumah
149
Bab 91 Tempat Baru
150
Bab 92 Fitting Gaun Pengantin
151
Bab 93 Makan Malam (Bagian 1)
152
Bab 94. Makan Malam (Bagian 2)
153
Bab 95. Pertemuan Kembali Dengan Mertua
154
Bab 96. Kamu Bukan Lagi Obyek Fantasiku Nara
155
Bab 97 Nada Menantu kesayangan Pak Henky
156
Bab 97 Nada Menantu kesayangan Pak Henky
157
Bab 98. Perempuan Hebat itu Bernama Nara
158
Bab 99 Ternyata Kita Bertetangga, Nara
159
Bab 100. Berdua Kembali Denganmu
160
Bab 101 Kemana Mas Pradipta?
161
Bab 102 Tumben
162
Bab 103 Saat Pradipta Mengajakku Bertemu
163
Bab 104 Nara, Bolehkah Aku Bertemu Denganmu
164
BAB 105 Pradipta Ingin Bertemu Denganku?
165
Bab 106 Bertemu kembali denganmu, Suamiku
166
Bab 107 Kencan Di Taman
167
Bab 108 O'O Kamu Ketahuan
168
Bab 109 Dejavu
169
Bab 110 Dia seharusnya Marah!
170
Bab 111. Juli Tak Ingin Membuat Masalah (Bagian 1)
171
Bab 111. Juli Tak Ingin Membuat Masalah (Bagian 2)
172
Bab 112 Pertanyaan di Kepala Nara
173
Bab 113 Ajaakan kencan dari Pradipta untuk Nara
174
BAB 114 Aku yang Khawatir
175
Bab 115 Apakah Aku Jatuh Cinta?
176
Bab 116. Apakah Aku Cukup Menarik?
177
Bukan update - Maaf sedang sakit

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!