Lisa terus merasakan gelayar aneh pada dirinya semenjak ciuman itu. Ciuman tersebut adalah ciuman tersialnya karena rasanya sangat pahit sekali. Sejak tadi Lisa terus meludah di dalam kamar mandi namun bayangan akan rasa ciuman itu seolah membekas dan tidak mau pergi dari bayangannya.
Ketimbang pemecatan kemarin, hari ini adalah yang tersial. Batin Lisa.
Lisa memakai lipstick merahnya lagi dan siap untuk kembali ke ruangannya. Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar mandi dan melihat pegawai lain yang sedang bercermin di kaca. Mereka menunduk hormat pada Lisa dan mereka lekas pergi dari sana. Lisa mengambil tisu lalu mengelap tangannya yang basah sembari berkaca, satu alisnya naik saat merasa bentuk bibirnya berubah seusai berciuman dengan Zico. Lisa menghela nafas panjang, sepertinya dia yang semakin menggila ketimang Zico. Dia lekas keluar dan masuk ke dalam ruangannya.
Saat sudah masuk, Lisa heran kenapa tirai yang ada di ruangannya yang menjadi pembatas di ruangan Zico terbuka. Sepertinya tadi dia sudah menutupnya rapat-rapat. Zico menoleh ke arahnya dan tersenyum ke arah Lisa. Lisa lekas duduk dan tidak menghiraukan Zico.
Wanita mana yang tidak akan oleng saat berciuman denganku? Dia saja yang terkenal dingin dan cuek sudah menunjukan sisi manisnya secara tidak langung. Batin Zico.
Zico mengambil telpon dan menelpon Lisa, Lisa mengangkatnya dan tidak sadar itu adalah telpon dari sang tuan.
"Bibirmu sangat manis sekali," ucap Zico.
Lisa langsung menoleh ke arah Zico. Wanita itu menutup telponnya dan kembali bekerja lagi. Zico semakin ingin menggodanya, dia memutar kursinya dan duduk mengarah ke Lisa. Dia memperhatikan Lisa bekerja, Lisa meliriknya lalu menutup tirai. Zico menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lisa yang salah tingkah.
Pria itu melihat jam tangan mahalnya lantas masuk ke ruangan Lisa, dia mengajak untuk melihat gedung yang akan digunakan untuk merayakan pesta ulang tahun perusahaannya. Lisa mengangguk, sebagai seorang sekertaris dia memang harus selalu ada mendampingi sang tuan. Lisa mematikan laptopnya dan mengikuti langkah Zico. Semenjak ciuman itu, Lisa merasa was-was pada Zico dan dia menjaga jarak pada pria tinggi tersebut. Lisa berjalan di belakangnya secara hati-hati namun tiba-tiba saja Zico berhenti mendadak membuat Lisa juga berhenti. Zico membalikan badan dan melihat ke arah Lisa. Lisa menunjukan ekspresi datarnya lagi. Tangan Zico berusaha menyentuh wajah Lisa namun wanita itu menepisnya.
"Lipstickmu," ucap Zico.
Lisa mengernyitkan dahinya seolah bingung.
"Lipstickmu meluber ke mana-mana," sambung Zico.
Lisa lekas berkaca pada ponselnya namun lipsticknya aman-aman saja dan rapi. Lisa menyimpan ponselnya di kantong lagi dan memperhatikan wajah Zico yang sejak tadi juga memperhatikannya.
"Lipstickmu meluber-luber di bibirku saat ciuman tadi. Aku harus membersihkan bibirku berulang kali menggunakan tisu," ucap Zico.
Lisa langsung masuk ke dalam lift dan tidak menghiraukan ucapan dari pria itu. Zico tersenyum kecil lalu ikut masuk di dalam sana. Wajah Lisa masih datar dan menatap kosong ke arah dinding lift. Dia harus berhati-hati jika Zico menyerangnya lagi, ilmu bela diri Lisa sangat tinggi. Sekali tendangan saja Zico bisa K.O dengan mudah.
"Tadi itu ciuman pertamamu?" tanya Zico.
"Pertama dan terakhir," jawab Lisa.
Zico menarik tubuh Lisa untuk mendekat padanya, mereka saling menatap dan Zico menciumnya lagi. Lisa mendorongnya dan menendang kakinya, Zico menahan rasa sakit pada kakinya sembari menatap Lisa yang sudah memasang badan untuk menyerangnya.
"Kamu galak sekali menjadi wanita. Tidak akan ada pria yang mau mendekatimu jika terus bersikap seperti itu."
Lisa keluar dari lift setelah pintu terbuka, Zico menghela nafas untuk menyabarkan dirinya. Lisa memang tipe orang yang cuek dan keras kepala apalagi jika berurusan dengan laki-laki. Jack membukakan pintu mobil untuk Zico, Zico malah mempersilahkan Lisa untuk masuk duluan. Lisa membuka pintu di sisi mobil yang lain tanpa memperdulikan Zico.
Memangnya saat kamu cuek aku menyerah? Tidak akan! Batin Zico yang malah semakin tertarik pada Lisa.
Di dalam mobil hanya mereka hanya terdiam, Lisa sibuk memainkan ponselnya untuk membalas email penting yang masuk. Zico melirik wanita itu, dia mengambil jaket dan memberikannya pada Lisa.
"Pakailah! Ini di luar ruangan sangat dingin sekali."
Lisa menolaknya dengan halus tapi Zico tetap memakaikannya. Zico adalah tipe pria yang tidak tega jika melihat wanita sok kuat seperti Lisa. Walau Lisa sok kuat pasti tetap ada sisi lemahnya dan tidak pernah ditunjukan oleh wanita itu. Jalanan lumayan licin, Jack harus berhati-hati menyetir mobil. Baru saja berpikiran seperti itu tiba-tiba mobilnya oleng dan berputar. Zico memeluk Lisa dan Lisa sepertinya juga merasa ketakutan, dia menerima pelukan dari Zico dan menyembunyikan wajah di dada pria tersebut.
CIIIT...
Terdengar suara gesekan ban mobil dengan aspal yang licin, Jack berhasil menghentikan mobilnya. Dia lantas melihat ke arah belakang dan lagi-lagi kedekatan Lisa dengan Zico membuatnya kesal. Lisa yang menyadari mobil sudah terhenti segera menjauh dari Zico.
Apa yang kamu lakukan, Lisa? Batin Lisa yang kesal pada dirinya sendiri.
Lisa kembali menatap ponselnya dan seolah tidak melakukan hal konyol tadi, Zico memperhatikan tangan Lisa memegang ponsel yang nampak bergetar.
"Kamu ketakutan?" tanya Zico.
"Ouh, tidak," jawab Lisa kembali dingin.
Tangan Zico menarik tangan Lisa, benar saja jika tangan Lisa bergetar dengan hebat.
"Sialan kamu, Jack! Kamu membuat Lisa ketakutan," ucap Zico.
"Maaf, tuan. Jalanan sangat licin. Saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Jack mendongkol hanya karena Lisa ketakuan dirinya malah kena marah Zico.
Lisa menepis tangan Zico, dia kembali mengecek ponselnya. Zico semakin penasaran tentang Lisa seolah ada hal yang disembunyikan dari semua orang. Tak mungkin Lisa dari desa terisolir padahal Lisa seperti wanita kota modern.
Lisa melamun tidak jelas, kejadian tadi mengingatkannya pada ayahnya saat menghukumnya karena makan makanan instan saat masih remaja. Lisa dibawa masuk ke dalam mobil dan ayahnya menyetir mobil dengan sangat kencang sekali, Lisa terus meminta ampun pada beliau namun sang ayah malah mempercepat laju mobilnya. Ayahnya memang mempunyai sikap yang keras dan tidak bisa dibantah.
"Lisa? Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," ucap Zico.
"Tak apa, tuan. Memang benar udara cukup dingin. Terima kasih jaketnya," jawab Lisa.
Blusss....
Pipi Zico memerah karena lagi-lagi Lisa mengatakan terima kasih padanya. Sesampainya di gedung megah tersebut, banyak orang yang keluar masuk ke dalam sana untuk membantu mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk acara ulang tahun perusahaan Mendrova. Masyarakat juga sangat antusias sekali karena keluarga Zico juga membagi kupon untuk ditukarkan dengan emas beberapa karat. Jangan ditanya keluarga Zico sekaya apa! Yang jelas tak terhitung jumlah kekayaannya. Para saudara-saudara Zico juga termasuk di dalamnya, tak ada mereka maka marga Mendrova tak akan bisa seperti ini. Lisa mengikuti Zico masuk ke dalam sana, tak disangka ada ibu Zico dan Violet ada di sana.
"Zico? Kamu datang juga? Ibu pastikan jika partai dari kita akan menang dalam pemilu kali ini dan ibu harap periode selanjutnya kamu bisa ikut dalam pemilu," ucap Christy.
"Ketimbang pusing-pusing mengikuti pemilu lebih baik aku memikirkan cara bagaimana supaya Lisa mau menerima cintaku," jawab Zico sembari melewati ibunya.
Christy hanya mendengus kesal sembari menatap Lisa yang menunduk hormat sembari melewatinya.
***
Rekomendasi lagi novel yang bagus :
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
slogan zeco lain dr yg lain🤣🤣🤣🤣
2023-06-26
0
onie chan
sebenernya tu Jack Ki apa per kak thorr
2022-09-15
0
Cayu Jawafa
panas dingin jadi ny 😊
2022-05-23
0