"Maaf dengan kelancangan saya tadi, saya hanya refleks membela jika diri jika memang sedang terancam," jelas Lisa.
"Jika ingin mengambil kaca matamu masuk dulu! Kamu tidak sopan jika datang hanya untuk mengambil kaca mata," jawab Zico dengan wajah yang tak kalah datar dari Lisa.
Zico membuka pintu apartemennya selebar mungkin lalu mempersilahkan masuk. Angelina mendorong punggung Lisa untuk masuk, Lisa mematap wajah Angelina.
"Ada apa, baby? Nikmatilah malammu! Aku akan kembali ke apartemenku untuk bertelpon dengan My honey," kata Angelina.
Lisa menguatkan dirinya lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Zico. Zico lekas menutupnya, Lisa berjalan di depan sang tuan dengan was-was. Pria itu tersenyum kecil lalu mengajaknya duduk di sofa. Zico mengambilkan air minum, Lisa harus waspada dengan air minum itu, siapa tahu Zico ingin melanjutkan niat jahatnya tadi?
"Kenapa? Apa aku sejahat itu sehingga tak mau menerima minuman ini? Oke, aku akan minum." Zico menenggak air yang dia tuang sendiri di hadapan Lisa.
Glek... glek... glek...
Setelah meminumnya, Zico kembali menatap Lisa lagi. Wanita itu hanya memandangnya datar tanpa ekspresi. Biasanya para wanita akan berteriak kagum saat melihat gaya minum seorang Zico, namun kali ini tidak bagi Lisa. Zico maklum karena Lisa sering melihatnya minum dan makan bahkan setiap hari melihat Zico melakukan itu.
Zico tersenyum kecil, dia meletakkan gelas itu di hadapan Lisa lalu tak jadi memberikan air minum lagi karena dia yakin jika Lisa juga tak akan mau meminumnya.
"Maaf, tuan. Saya datang ke sini lagi hanya untuk mengambil kaca mata saya dan lekas pulang," ucap Lisa masih tenang.
"Kenapa terburu-buru sekali? Jarang-jarang kita duduk berdua di luar jam kerja seperti ini? Apa kita tidak bisa lebih mengenal satu sama lain?" tanya Zico.
Lisa tersenyum kecil dan itu membuat Zico semakin tertarik dengannya. Lisa memang jarang tersenyum di depan Zico bahkan setiap hari Zico harus melihat wajah datar Lisa.
"Perkenalan kita hanya cukup sebagai bos dan sekertarisnya saja, tuan. Itu yang ada di kontrak kerja saat saya harus mematuhi peraturan anda. Anda lupa? Apa saya harus mengingatkannya lagi?" Lisa berdehem sebentar lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Ehem... peraturan nomor 2 di kontrak kerja saya sebagai sekertaris anda ialah pegawai terdekat Zico Abraham Mendrova tidak boleh mencari tahu, mengenal lebih dalam bahkan sampai tahu kehidupan seorang Zico diluar pekerjaan. Jika itu sampai terjadi maka seharusnya pegawai itu dipecat," sambung Lisa.
Zico menaikkan satu alisnya sembari menatap wajah Lisa yang masih tanpa ekspresi. Zico menjentikkan satu jemarinya lalu mengangkat satu kakinya dan bertumpu diatas kaki yang lain.
"Lupakan soal peraturan itu! Kita kini diluar dari pekerjaan. Tolong jangan mengalihkan topik!" ucap Zico yang sudah merasa terimindasi oleh Lisa.
"Baik, tuan. Maaf, mana kaca mata saya?" tanya Lisa.
"Kamu ini tidak minus namun pakai kaca mata. Jangan pakai kaca mata lagi!"
Lisa berdiri lalu menatap Zico. "Maaf, tuan. Anda tidak bisa melarang orang yang memiliki gangguan penglihatan untuk memakai kaca mata."
Lisa mengambil kaca matanya yang ada di atas meja dekat televisi besar milik Zico. Dia memakainya
"Nah, itu kamu bisa tahu letak di mana kaca matamu," ucap Zico.
"Saya itu hanya rabun bukan buta, tuan," jawab Lisa membuat Zico kalah telak lagi.
Zico berdehem sambil berdiri, Lisa melirik tangan Zico yang sempat dia gigit namun Zico langsung menyembunyikan di belakang tubuhnya. Melihat sikap Lisa yang biasa saja sejak kejadian tadi membuat Zico harus memakai cara lain untuk memikat hati Lisa. Lisa menunduk hormat untuk berpamitan pulang.
"Tunggu! Soal tadi, aku minta maaf, tak seharusnya aku melakukan itu padamu," ucap Zico meminta maaf namun pada wajahnya tak ada rasa penyesalan.
"Anda tidak perlu meminta maaf, tuan. Saya yang harus meminta maaf karena sudah salah masuk ke apartemen pribadi anda. Saya akan mengunci rapat-rapat mulut saya jika anda tinggal di sini termasuk dengan mulut teman saya tadi. Permisi, selamat malam."
Lisa keluar dari apartemen Zico. Zico tersenyum kecil dan hatinya sangat senang saat Lisa tidak marah padanya. Setidaknya ini sudah memperbaiki nama baik Zico di depan Lisa.
***
Keesokan harinya.
Zico datang ke kantor dalam keadaan riang, kemarin masalahnya dengan Lisa sudah selesai bahkan wanita itu mau memaafkannya. Jack yang sedari tadi menyetir mobil semakin heran dengan tuannya. Padahal setiap pagi pasti Zico selalu menunjukan wajah juteknya namun kali ini berbeda, wajahnya sangat berseri-seri tentu saja pasti karena Lisa.
Sesampainya di kantor, Zico menunjukan wajah dingin pada pegawainya dan satu lagi dia meminta mereka yang kemarin menyerang Lisa untuk meminta maaf. Setelah itu Zico naik ke kantornya namun saat sudah sampai di sana dia bingung kenapa ruangan Lisa masih kotor.
"Jack, kenapa Lisa belum.datang?" tanya Zico.
"Tuan, anda benar-benar lupa? Lisa sudah anda pecat kemarin," jawab Jack dengan heran.
Zico menghela nafas panjang. "Kenapa kamu diam saja? Cepat suruh dia bekerja lagi!"
"Tuan, anda sudah memecatnya bahkan sudah menyebar pengumuman di perusahaan lain untuk menolak jika ada Lisa yang akan melamar pekerjaan."
Zico menatap Jack dengan tajam. Jack langsung mengangguk paham dan lekas memanggil Lisa untuk bekerja kembali lalu mencabut pengumuman itu secepatnya. Zico kini masuk ke ruangannya sendiri, di atas mejanya sudah banyak dokumen yang harus di cek.
Di sisi lain.
Lisa baru saja terbangun, dia sengaja bangun agak siang karena ini pertama kalinya dia bangun siang. Tubuhnya sangat mati rasa karena semalaman begadang tanpa alasan. Lisa lalu masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mencuci wajahnya. Baru saja 2 tahun menjabat menjadi sekertaris namun dirinya harus di pecat. Lisa langsung terbayang-bayang kata-kata menyakitkan dari keluarganya, khususnya ayahnya sendiri yang tega mengusir Lisa tanpa belas kasihan.
Dia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruk itu, masa lalu biarlah berlalu itu yang diinginkan namun tak semudah itu karena yang menghina adalah keluarganya sendiri.
Setelah selesai di kamar mandi, Lisa memutuskan untuk gym sebentar supaya tubuhnya tidak kaku. Dia pergi ke tempat gym yang ada di gedung apartemennya di lantai satu.
Sesampainya di sana, dia melakukan gym dengan santai sembari mendengarkan musik menggunakan earphone di telinganya. Saat bersamaan beberapa pria mencoba untuk mengajaknya berkenalan namun Lisa tak menggubris dan fokus memilih berolahraga saja. Beberapa pria tak kunjung pergi sampai Jack datang.
"Maaf, tuan-tuan. Kalian tidak sopan menganggu perempuan yang sedang membutuhkan privasi untuk berolahraga," ucap Jack yang membuat Lisa jengah padahal Jack lah yang sangat menganggu karena kehadirannya pasti disuruh oleh Zico.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
aq suka thor lanjut, apakah lisa akan luluh dgn kegigihan zeco mengejarnya
2023-06-25
0
Sari Dani
bagus ceritanya thor
2022-11-09
0
[🦉]Susi Soemarsi
ckckckck!!
dasar suka menjilat ludah sendiri.dasar boss payah😏😏
2022-10-27
0