Lisa memandang teman-temannya dengan lekat ini adalah pilihan yang sulit. Jika Lisa egois bisa-bisa temannya akan dipecat oleh Zico. Tak dapat dipungkiri lagi jika Lisa sangat pusing dengan pilihan ini. Zico tersungging tipis karena berhasil menjebak Lisa ke dalam perangkapnya. Sepertinya cara ini akan berhasil karena Lisa tidak tega dengan teman terdekatnya.
Waktu berpikir pun juga sudah habis, saatnya Lisa memberi jawaban yang pasti.
"Anda memang pandai sekali Tuan Zico yang tahu kelemahan saya."
Zico tersenyum senang karena Lisa mengatakan hal itu. Apalagi yang memuji adalah orang kesayangannya. Lisa melihat teman-temannya yang masih memelas dihadapannya. Ada yang membutuhkan pekerjaan ini dari pada dirinya sendiri.
"Baiklah, saya akan kembali bekerja di sini lagi."
Zico senang, dia menjentikkan jari dan meminta Jack untuk mentransfer uang pinalti dua kali lipat. Saat itu juga Jack mentransfernya dan ponsel Lisa berbunyi mendapatkan saldo masuk. Di hati Lisa mendadak senang, dia tak akan bingung mencari pinjaman karena harus membayar apartemen yang dia sewa. Zico juga merobek surat pemecatan Lisa dan menghapus blacklist di seluruh perusahaan.
"Masalah sudah selesai, kalian bertiga bisa kembali bekerja," pinta Zico.
"Baik, Tuan."
Teman-teman Lisa pergi dari ruangan Zico, mereka melirik Lisa dan ekspresi wajahnya seolah menunjukan rasa terima kasih. Lisa mengangguk pelan dan kini dia harus pulang.
"Tuan, saya pamit undur diri," ucap Lisa.
"Tunggu! Enak saja, mana rasa terima kasihmu padaku?"
Lisa menaikkan satu alisnya. Rasa terima kasih? Oh, ini sepertinya tidak gratis begitu saja. Lisa tahu Zico adalah orang yang sangat alot, dia tak bisa memberikan kebaikannya secara cuma-cuman. Lisa paham, dia membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengarkan Zico.
"Sudah sarapan?" tanya Zico.
"Sudah," jawab Lisa.
"Oke, anggap saja ini untuk makan siang." Zico lalu menatap Jack. "Tolong siapkan makanan untuk kami sekarang juga!"
Jack mengangguk paham, dalam hatinya terbesit rasa iri karena Lisa diperlakukan sangat istimewa sekali bahkan dirinya tidak pernah diajak makan bersama berdua saja. Lisa dipersilahkan duduk di sofa sembari menunggu makanan datang. Sementara Zico harus menyelesaikan pekerjaannya dulu sembari memcuri pandang ke arah Lisa. Lisa duduk di sofa sembari memperhatikan ponselnya, dia memeriksa pesan dari siapapun itu termasuk nomor iseng yang sekedar ingin berkenalan dengannya.
Zico duduk di kursinya lalu membuka setiap dokumen yang harus di cek. Zico lagi-lagi melirik Lisa dalam 30 detik sekali, dirinya menjadi tidak fokus. Pesona Lisa memang tidak ada duanya. Lisa tiba-tiba saja menatapnya, dia menaikkan satu alis seolah heran tatkala Zico menatap lalu menunduk kembali.
"Ada apa, Tuan Zico? Apa anda perlu bantuan untuk pekerjaan hari ini?" tanya Lisa.
"Oh tidak, aku tidak apa-apa. Hari ini kamu cuti saja dan menemaniku di sini selama seharian penuh," jawab Lisa.
Lagi-lagi Lisa dibuat bingung dengan sikap Zico hari ini. Zico tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya lagi sedangkan Lisa masih memandang pria tanpa itu sambil menghela nafas panjang. Pasti Zico berusaha untuk mendekatinya lagi dan lagi. Ruangan itu kini hening, jujur saja Lisa sudah tak betah berdiam diri di sana. Dia mendekati Zico membuat pria itu mendongak ke arahnya.
"Tuan, saya tidak bisa berdiam diri saja di sini apalagi sudah setengah jam lebih. Jika ini adalah libur saya maka biarkan saya beristirahat dirumah."
"Terburu-buru sekali kamu? Tunggu! Sebentar lagi makanan datang."
Saat bersamaan pintu terketuk, Jack datang dengan para pelayan. Mereka membawa berbagai macam makanan dan camilan lezat, mereka menaruhnya di meja depan sofa. Zico berjalan di sana dan mendaratkan pantatnya di sofa itu.
"Duduklah! Nikmati makanannya," pinta Zico.
"Maaf, tuan. Saya tidak bisa karena ini bukan jam makan," jawab Lisa dengan sopan namun wajahnya lagi-lagi datar.
Zico menatapnya lekat. "Bosmu menyuruh maka jangan menolaknya! Duduklah! Ada banyak makanan ringan di sini." Zico mengambilkan kue bolu lalu menyodorkan pada Lisa. "Nah, ambillah! Kamu suka ini 'kan? Duduk dan makanlah!"
Lisa mengambilnya, dia duduk dan makan dengan sopan. Cara makan Lisa pun cukup unik, dia menundukan kepalanya dan memgunyah dengan pelan. Satu tangannya menadah di bawah mulut supaya makanan tidak jatuh ke bawah.
"Baru kali ini aku menyadari jika cara makanmu sangat unik seperti seorang bangsawan."
Lisa tersentak kaget namun sebisa diri untuk tetap biasa saja.
"Tuan, makan dengan adab sopan tidak hanya berlaku untuk para bangsawan saja. Rakyat jelata seperti saya juga harus mempunyai tata krama juga."
Zico semakin tertarik dengannya sedangkan Jack yang ada di sana merasa muak dengan Lisa. Lisa menoleh ke arah Jack, Lisa menawarinya juga namun Jack hanya diam.
"Jack! Pergilah!" pinta Zico.
Jack menunduk hormat, dia lekas pergi dari sana. Kini hanya ada Lisa dan Zico saja. Mereka makan pelan-pelan. Zico masih saja mencuri pandang ke arah Lisa bahkan tak fokus lagi untuk makan.
Lisa lalu berdiri, dia sudah tak bisa makan banyak lagi.
"Maaf, Tuan. Saya harus pulang."
"Baiklah. Mau aku antar?"
Lisa mengernyitkan dahinya. Zico benar-benar sangat aneh. Lisa menunduk hormat lalu keluar dari ruangan Zico.
Setelah keluar, dia ditunggu teman-temannya tadi. Lisa menuju ke ruangan mereka. Semua pegawai yang melintasinya hanya menunduk. Mereka sangat takut pada Lisa.
Sesampainya di sana. Lisa membuka pintu ruangan. Semua pegawai menunduk hormat padanya lalu Lisa menyuruhnya bekerja kembali tanpa harus menghiraukannya. Lisa menghampiri ketiga temannya, mereka sangat berterima kasih pada Lisa karena sudah menyelamatkan hidup mereka.
"Kak Lisa, kamu memang penyelamat kami. Jika karena bukan Kak Lisa maka pasti kami akan dipecat karena sudah melakukan kesalahan."
"Memang kalian melakukan kesalahan apa?"
Mereka bercerita jika memasukan data yang salah. Kesalahan itulah yang menjadikan Zico untuk memanfaatkan keadaan.
"Yasudah, tak apa. Kalian bekerjalah kembali. Aku harus pulang."
Salah satu dari mereka menggenggam tangan Lisa. Dia menatapnya lekat.
"Sepertinya Tuan Zico menyukai Kak Lisa. Maaf bila aku lancang namun aku melihat tatapannya tadi sangat berbeda ke arah Kak Lisa."
Lisa hanya datar saja, dia lalu menepuk bahu temannya itu. Tidak usah diberitahu oleh temannya Lisa pun sudah tahu hal itu.
"Kamu tahu 'kan hidupku tak mengenal cinta? Cinta itu tak penting," ucap Lisa.
"Tapi Tuan Zico sepertinya sangat terobsesi dengan Kak Lisa."
Lisa mundur perlahan, dia tak mau menghiraukan ucapan temannya. Baginya, Zico hanya menuruti hawa nafsu saja dan bukan rasa suka. Lisa tak mau terjebak dengan pria buaya itu apalagi Zico diluar sana dikenal sebagai casanova. Lisa tak akan tertipu begitu saja, dia harus berhati-hati dengan Zico.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
ini baru wanita berkelas nggak luluh sm ketampanan dn kekataan, ttp santai lisa sampai zeco tergila2 padamu🤣🤣🤣🤣
2023-06-25
0
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
kayak nya ada yg salah dech sm Jack cemburu kog sm Lisa kan aneh...apa mngkn Jack golongan pria terong mkn terong🤔🤔🤔🤔😁😁😁😁
2022-06-06
0
Nihayatun
jawab ziko
2022-04-05
0