Bab 14 : Harta, tahta, Lisa

Lisa membuatkan mie rebus sejumlah 2 bungkus, sebenarnya diakesal saat Zico harus ada di sini malam-malam. Ingin sekali mengusir Zico namun apalah daya pria menyebalkan itu adalah atasannya. Jika salah langkah saja pasti Zico akan memecatnya seperti dulu dengan mudah.

Setelah mie itu matang, Lisa membawakannya untuk Zico dan mereka makan bersama-sama. Tuan muda sekelas Zico baru kali ini memakan makanan instan yang harganya tidak sampai 1 dolar. Zico membolak-balikkan mie tersebut menggunakan garpu ada rasa ragu dalam hati pria tersebut.

"Saya tidak akan meracuni anda," ucap Lisa.

"Bukan begitu, makanan rakyat jelata ini benar enak? Tidak membuat perut sakit?"

"Saya tahu anda kaya namun jangan menghina saya secara halus. Saya sadar diri jika saya adalah rakyat jelata.

Lisa memakan minyak dengan cepat jika memperhatikannya sembari tersenyum kecil cara makan Lisa benar-benar unik dan sopan. Melihat cara Lisa makan seperti itu Zico segera ikut memakannya.

Mie murahan seenak ini?

Zico menghabiskan sampai ke kuah-kuahnya lalu melihat Lisa yang menatapnya heran.

"Ehem... lumayan," ucap Zico.

Lisa hanya datar dan melanjutkan makannya sampai habis. Zico terus memperhatikan setiap pergerakan Lisa yang seolah hati-hati, cara memegang garpu pun seperti seorang bangsawan.

"Ceritakan tentang dirimu!" pinta Zico.

Lisa menaikan satu alisnya dan hanya menatap Zico dengan mata beningnya. Zico menggebrak meja dan berdiri lalu mondar-mandir sembari menghela nafas kesal.

"Huh... apa saat pembagian ekspresi kamu datang terlambat? Ekspresimu hanya datar saja. Tidak bisa tersenyumkah? Tidak bisa marah? Tidak bisa sedikit menunjukan gairah hidupmu?" tanya Zico.

Lisa tak paham akan ucapan Zico, dia lekas berdiri mengambil mangkuk bekas Zico dan mencucinya di dapur. Zico memandangnya dengan kesal, kenapa perempuan itu sangat menyebalkan. Andai saja Zico bisa lebih sabar pasti bisa menemukan jawabannya namun dia tak bisa sabar.

Zico kembali duduk dan mengambil remot televisi, dia mengganti chanel yang pas untuk ditonton. Lisa sudah kembali dari dapur dan duduk di samping Zico.

"Tuan Zico sudah makan, apa anda bisa pergi?" tanya Lisa.

"Mie dalam perutku belum tercerna dengan baik dan kamu mengusirku? Kenapa hatimu tidak berperasaan sama sekali?" tanya Zico.

Lisa hanya diam, dia ikut memperhatikan televisi kecil yang menemaninya sehari-hari selama di apartemen.

"Gajimu banyak namun televisimu kecil sekali," gerutu Zico.

Zico menelpon Jack untuk membelikan televisi besar dan sekarang juga harus datang. Lisa semakin bingung dengan sikap sang tuan yang kian hari kian aneh saja.

"Tuan, saya tidak bisa menerima barang pemberian anda."

"Aku membawa televisi untuk diriku sendiri."

Lisa memilih menjauh dari Zico yang sepertinya sudah menjadi gila. Lisa mengerjakan tugas kuliahnya sembari mendengarkan musik lewat ponselnya. Tak berselang lama kemudian Jack datang membawa televisi besar dan langsung dipasang di sana. Lisa menutup laptopnya dan berjalan ke arah Zico.

"Tuan, ini bukan rumah anda. Anda tidak boleh seenaknya mengganti televisi saya. Biaya listrik tentunya akan semakin mahal," ucap Lisa.

"Aku tidak butuh penolakan," jawab Zico.

Setelah televisi menyala, Zico merasa sofa di sini keras dan tidak nyaman untuk di duduli. Zico meminta Jack untuk membelikan sofa baru supaya acara menonton televisinya tidak terganggu karena sofa yang keras. Jack paham, dia membelikannya di toko perkakas yang terdekat.

"Tuan, anda keterlaluan!" Nada Lisa meninggi.

Zico tersenyum kecil, dia sudah berhasil mengeluarkan amarah Lisa dan ini adalah tujuannya.

"Marahlah! Jika marah kamu semakin cantik saja," jawab Zico.

Lisa menghela nafas panjang dan memilih untuk melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya. Namun tiba-tiba saja dia teringat tatkala masih tinggal di rumah ayahnya dia harus menonton televisi dengan cara mengintip kamar adik perempuannya. Kala itu dia masih sekolah dan ada tugas untuk merangkum berita hari ini di televisi tapi sang adik langsung menutup pintu kamarnya dan Lisa tidak bisa mengerjakan tugas itu karena tidak bisa menonton televisi.

Zico mendekat melihat Lisa melamun tidak jelas, pria itu memberikan sebuah amplop besar yang di dalamnya seolah ada sesuatu yang penting.

"Apa ini, tuan?"

Lisa membukanya yang ternyata adalah surat ajakan menikah dan di dalamnya seperti aturan dalam pernikahan yang harus dipatuhi. Dahi Lisa berkernyit lalu memandang Zico.

"Menikahlah denganku! Poin-poin di sana sangat menguntungkanmu bahkan sebagian hartaku akan menjadi milikmu dan jika kamu memberiku anak..."

"Cukup, tuan! Bisakah anda tidak terlihat seperti pria yang murahan? Tidak semua hal bisa diatur dengan uang terutama perasaan. Menikah bukan hanya menyatukan dua insan saja tapi menikah juga harus ada rasa cinta satu sama lain. Kita tidak ada rasa cinta dan saya lihat tuan hanya berambisi saja untuk mendapatkan saya. Benar 'kan?"

Zico terdiam melihat amarah Lisa yang kini menggebu-gebu. Lisa merobek surat perjanjian itu dan melemparnya ke lantai. Baru kali ini Zico mendapatkan perlakuan seperti itu. Lisa mendorongnya keluar dan menyuruhnya untuk tidak datang lagi.

"Saya harap Tuan Zico bisa menyadari jika saya tak menyukai anda."

Brak!

Lisa menutup pintunya dan kembali pada tugas kuliahnya sedangkan Zico berjalan lemas ke arah lift, saat bersamaan lift terbuka yang ternyata di dalamnya ada Jack dan petugas yang lain yang membawa sofa.

"Tuan, mau ke mana?" tanya Jack.

"Sofa itu buang saja!" ucap Zico.

Jack heran, dia mengangguk tanpa banyak tanya. Mereka kembali turun bersama Zico yang melamun. Jack menduga jika Zico sedang patah hati pada Lisa.

Di sisi lain, Lisa mengusap wajahnya kasar. Apa ucapannya tadi terlalu keras pada Zico? Pria murahan? Kenapa mulut pedas Lisa harus mengatakan seperti itu? Lisa sudah membuat bosnya terpojok dan dia merasa bersalah.

Lisa, kamu sudah melakukan kesalahan. Jika Tuan Zico besok memecatmu lagi maka mampuslah dirimu. Batin Lisa.

Lisa mengambil sobekan kertas yang dia sobek tadi. Tak mau memikirkannya, dia membuangnya ke luar jendela. Sudahlah, jika memang besok harus dipecat maka dia harus menerimanya.

Dibawah sana rupanya ada Zico yang hendak masuk ke dalam mobil. Langkahnya terhenti saat menyadari ada robekan kertas yang jatuh ke arahnya. Zico menatap ke arah apartemen Lisa. Dia memalingkan wajah dan kembali masuk ke dalam mobilnya.

"Ada banyak hal yang di dunia ini sulit untuk ditaklukan. Tahta, harta dan Lisa," guman Zico.

"Tuan, kita mau ke mana?" tanya Jack.

"Pulang dari dunia yang kelam ini."

Jack melirik tuannya dari spion atas, pasti saat ini Zico tengah galau dan memikirkan si Lisa yang sulit untuk didapatkan.

Terpopuler

Comments

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

kalau cintamu tulus zeco lama2 lisa akan luluh makanya jgn singgung harta sm uang u menakluknya lisa

2023-06-25

0

Zalzie Tabine

Zalzie Tabine

🤭🤭🤭🤪🤪🤪

2022-12-07

0

𝕎⃠𝕝𝕚𝕜𝕒🐊💯🌲 вoͨѕͤѕͦ✰͜͡v᭄

𝕎⃠𝕝𝕚𝕜𝕒🐊💯🌲 вoͨѕͤѕͦ✰͜͡v᭄

harus banyak berjuang lagi Zico

2022-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!