Hari kedua Zico sakit.
Zico diantar pulang ke apartemennya sendiri oleh Jack, dia tak betah tinggal berlama-lama di rumah ibunya walau kemarin baru sehari saja. Zico lebih nyaman tinggal di apartemen pribadinya sendiri dari pada tinggal bersama sang ibu yang bawel. Setelah sampai di apertemen, Zico merebahkan dirinya di ranjang yang empuk. Jack memberikan berkas yang harus di cek, Zico hanya membolak-balikan saja tanpa serius melihatnya.
"Tuan Zico, mengenai proyek yang akan..."
"Lisa datang ke kantor?"
Jack terdiam sejenak, Zico malah menanyakan Lisa.
"Nona Lisa datang ke kantor."
Zico menyerahkan berkas itu pada Jack. "Suruh Lisa datang ke sini! Dia sekertarisku dan harusnya ada di sini. Kamu bisa menghandel kantor untuk hari ini. Mungkin besok aku sudah bisa berangkat."
Lagi-lagi Lisa yang malah diingat oleh Zico, Jack tak ada pilihan lain untuk mengikuti permintaan sang tuan. Dia mengirim pesan pada Lisa supaya wanita itu lekas datang ke sini, jika tidak pasti Zico akan marah dan uring-uringan. Zico mencoba untuk terduduk, dia membayangkan wajah Lisa yang datar menyebalkan. Tentu saja Zico semakin heran dengan wanita es tersebut. Bisa-bisanya tidak tertarik sama sekali dengannya.
"Jack?"
"Ya, tuan?"
"Jangan-jangan Lisa itu lesbian?"
Jack mengernyitkan dahinya. "Menurut data riwayat hidupnya dia pernah berpacaran dengan pria dan kemungkinan tidak lesbian."
Zico memegang dagunya, hanya Lisa yang ada di otak untuk saat ini. Dia masih heran, tak ada satu pun pria yang mampu memikatnya bahkan Lisa menolaknya mentah-mentah dengan alasan tidak masuk akal karena ingin fokus meniti karir.
"Oh ya, carikan data diri pria itu! Aku penasaran tipe Lisa seperti apa," pinta Zico.
"Menurut data mantan pacar Nona Lisa adalah seorang dokter bedah dan saat ini pria itu sudah menikah," jawab Jack.
Jadi selera Lisa itu seorang dokter? Batin Zico.
Zico menjentikkan jarinya dan meminta segera didatangkan Lisa karena Zico tak sabar untuk menunggu. Jack mengirim pesan lagi namun pesannya belum dibaca. Tak mau menunggu lama, dia menelpon Lisa dan pada akhirnya diangkat. Jack tanpa berbasa-basi memberitahu jika Zico meminta Lisa datang. Lisa menolak karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan namun Jack meminta meninggalkannya dan dia akan mengerjakan pekerjaan Lisa. Jack menghela nafas panjang tatkala wanita itu langsung memutus telponnya tanpa menjawab mau atau tidak.
"Lisa mau datang ke sini?" tanya Zico.
"Saya usahakan supaya dia bisa datang, tuan," jawab Jack.
"Usahakan? Aku ingin dia datang ke mari atau jika tidak mau kamu akan aku pecat sekarang juga."
Jack menunduk hormat untuk pamit, dia akan membawa Lisa datang kepadanya secepat mungkin atau perlu Jack akan menyeret wanita itu walau sepertinya tidak akan bisa. Setelah kepergian Jack dari kamar apartemennya tiba-tiba saja ibunya datang bersama Violet. Zico sangat malas sekali, kenapa ibunya datang padahal kemarin Zico sudah menginap di rumah beliau? Pandangan Zico langsung menuju ke ponselnya, dia sama sekali tidak tertarik melihat Violet.
"Zico, kenapa malah pulang ke sini? Kamu sedang sakit. Ibu ingin merawatmu," ucap Christy.
"Bu, aku sudah besar. Aku bisa merawat diriku sendiri," jawab Zico.
Violet duduk dipinggir ranjang sembari membawakan salad buah yang di beli di restoran terkenal. Zico sama sekali tidak meliriknya namun tak membuat Violet menyerah begitu saja. Segala cara Violet ingin mengajaknya berbicara tapi malah membuat Zico murka.
"Kenapa kamu malah datang ke sini? Aku tidak ingin diganggu," ucap Zico.
Christy tentu saja membela Violet yang memasang wajah kesedihan. Lagi-lagi perempuan itu memang licik karena mudah sekali menghasut ibu Zico untuk membelanya. Zico tak habis pikir dengan sang ibu yang terus berpihak pada Violet ketimbang dengan anaknya sendiri.
"Violet, lebih baik kamu memasakkan bubur untuk Zico. Dapurnya ada di sana," pinta Christie.
Violet mengangguk kecil, dia menuju ke dapur sementara itu Christy melipat tangannya di depan dada sembari memperhatikan Zico yang semakin bertambah usia namun belum juga menikah.
"Kamu pilih ibu jodohkan dengan Violet atau wanita lain?"
"Tidak semuanya. Aku punya wanita pilihan sendiri."
Christy berdecih, pasti wanita itu adalah Lisa. Wanita miskin yang berambisi terlalu tinggi. Christy bahkan tidak menyukai Lisa yang sebagai sekertaris pribadi Zico apalagi menjadi istri Zico, mungkin saja Christy tidak akan sudi datang ke acara pernikahan mereka jika itu memang terjadi.
Di sisi lain.
Lisa menatap Jack dengan datar sembari membenarkan kacamatanya. Lisa lantas berdiri dan menutup laptopnya. Dia justru senang jika Jack mau menyelesaikan pekerjaannya. Jack mengepalkan tangan, sampai kapanpun dia tak akan menyukai Lisa. Baginya, Lisa adalah pesaing terbesarnya di kantor ini.
"Oke, saya akan ke apartemen Tuan Zico sebentar. Saya juga harus membahas proyek dengan beliau karena ini sangat penting dan satu lagi, saya sangat berterima kasih karena sudah mau mengambil alih pekerjaan saya," ucap Lisa.
Lisa mengambil tasnya lalu meninggalkan ruangan itu, mata tajam Jack masih mengikuti wanita itu pergi dari sana. Lisa naik ke dalam lift, dia mengecek ponselnya yang ternyata dari ayahnya. Sang ayah memberitahu jika anak kesayangannya akan berulang tahun dan Lisa disuruh untuk pulang sejenak. Lisa tersenyum kecut, tahun kemarin saja Lisa dipermalukan oleh mereka di acara adiknya. Mungkin saja tahun ini akan terulang lagi jika dia sengaja datang.
Sesampainya di apartemen Zico.
Lisa terkejut karena di sana ada ibu Zico dan Violet. Dia menunduk hormat dengan sesopan mungkin. Christy menatapnya dari atas sampai bawah, penampilan Lisa menurutnya sangat norak sekali dan tidak berkelas. Violet menyuapkan bubur pada Zico dan ketika Zico mencobanya rasanya sangat hambar. Pria itu melepehnya dan menatap tajam Violet, dari dulu wanita itu memang tidak pandai memasak.
"Masakanmu tidak seenak Lisa padahal sama-sama bubur putih. Enyahlah!" ucap Zico.
Christy tentu saja membela Violey karena tidak mungkin membiarkan calon menantunya dihina di depan sekertaris paling murahan menurutnya itu. Sampai suatu ketika mata Christy menatap sebuah anting tergeletak di atas ranjang Zico. Dia mengambilnya dan menunjukan itu pada Zico.
"Ini milik siapa?" tanya Christy.
Zico hanya diam saja dan memang tahu jika itu adalah milik Lisa yang tertinggal malam itu. Christy menatap Lisa yang berdiri mematung tak jauh dari sana. Beliau mendekatinya dan melihat telinga Lisa yang hanya mengenakan satu anting. Lisa sendiri tidak menyadari jika hanya menggunakan satu anting. Christy tersenyum kecut saat anting yang dikenakan Lisa sama dengan anting yang ditemukannya di ranjang milik Zico.
Plaaak....
Sekali tamparan dari ibu Zico sudah membuat pipi Lisa memerah, Lisa hanya tersungging tipis. Zico lekas menarik tangan sang ibu dan merasa geram dengan beliau karena Lisa tidak melakukan kesalahan malah ditampar begitu saja, sedangkan Violet tentunya tersenyum puas melihat Lisa ditampar.
"Kamu wanita murahan yang mau tidur dengan putraku hanya untuk jabatan dan pamor saja," ucap Christy.
"Anda terlalu naif Nyonya."
Christy hendak menamparnya lagi namun tangan Lisa langsung memeganginya dengan erat. Tenaga Lisa sangat kuat sehingga wanita paruh baya itu merasa sangat kesakitan.
"Akh..."
Zico melepaskan tangan Lisa dengan perlahan, wajahnya memohon untuk tidak menyakiti tangan sang ibu. Lisa pun melepaskannya namun tangannya masih mengepal seolah kesal.
Lihat saja! Bukankah dia yang berani tidur dengan pria hanya untuk pamor dan jabatan? Kenapa malah menyindir dirinya sendiri? Haha. Batin Lisa.
***
Hai gaes, maaf menghilang beberapa hari ini. Saya akan usahakan untuk update tiap hari dan bisa update banyak saat bulan Mei nanti.
Makasih ya udah nungguin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
aduhhh thor lisa sdh nggak mau sm zeco tambah lagi mamahnya, aq suka zeco sm lisa aja
2023-06-25
0
Dand_Afill
ok author...
2022-05-18
1
Tri Mama'afif
udah lma bngt nunggunya
2022-04-04
0