Bab 11 : Cuek

Waktu setengah jam pun habis dan Lisa harus berangkat kuliah sore. Zico tidak bisa mencegahnya karena itu adalah kewajiban Lisa. Lisa membawa mangkok itu keluar dan berpamitan dengannya.

"Lisa, mau aku antar?" tanya Zico.

Lisa tentu saja menolaknya karena tahu jika Zico sedang sakit. Dia berpamitan keluar lalu menyerahkan mangkok bekas bubur itu pada pelayan. Jack membukakan pintu keluar untuk Lisa dan saat bersamaan ibu Zico datang dan tepat di depan pintu. Mata mereka saling bertemu bahkan ada tatapan tidak menyenangkan dari ibu Zico.

"Selamat sore, Nyonya." Lisa menunduk lalu kakinya melangkah melewatinya.

Ibu Zico menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Beliau memang tidak menyukai Lisa. Lisa sudah berusaha sesopan mungkin dihadapan orang tua Zico, beliau suka atau tidak suka itu adalah urusannya.

Lisa memesan taksi online dan beberapa menit kemudian taksi itu datang. Dia masuk ke dalam dan pergi meninggalkan rumah megah milik orang tua Zico. Lisa tahu jika wanita paruh baya itu sama sekali tidak menyukainya dan walau bagaimanapun Lisa harus hormat kepada beliau.

Tak mau memikirkan itu, Lisa membuka bukunya. Dia harus membaca mata kuliah yang akan dipelajari nanti. Untungnya dia tak jadi dipecat dan bisa melanjutkan kuliah sampai lulus. Sebenarnya Lisa mendapat beasiswa karena dirinya pandai namun dia menolaknya karena masih mampu untuk membayar dan meminta mereka memberikan beasiswa itu bagi yang mengalami masalah biaya. Bukannya Lisa sombong namun dia masih memikirkan teman-temannya yang kadang mengeluh kesulitan membayar uang kuliah.

Membagi waktu antara bekerja, kuliah dan kehidupan pribadinya memang tidak mudah. Lisa harus pandai mengatur waktunya supaya bisa mendapatkan semuanya tanpa tertinggal satu pun. Hidup di kota orang membuatnya harus kuat dan tegar namun lebih sulit lagi dikota sendiri yang penuh dengan ancaman. Lisa masih suka di sini walau dia anak perantauan dan sebisa mungkin menjaga imagesnya sampai sukses suatu saat nanti.

Sepulang dari Kuliah.

Jam menunjukan pukul setengah 8 malam. Hawa dingin menusuk tulang dan dia cepat-cepat masuk ke apartemen. Musim dingin akan datang, Lisa sudah mempersiapkan pakaian yang tebal. Setelah masuk ke dalam apartemen yang sederhanya dia memutuskan untuk berendam air panas dan setidaknya bisa menghilangkan rasa lelahnya.

Lisa melepaskan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi. Dia menghela nafas panjang, air hangat memang mujarab untuk metralkan rasa lelahnya. Mata Lisa mencoba ditutup dan entah mengapa malah bayangan ayahnya yang terlihat. Tak dapat dipungkiri jika dia merindukan sang ayah yang jelas-jelas sudah mengusirnya. Masih terdengar suara bentakan dari sang ayah yang meraung-raung ditelinganya. Air mata seketika menetes dan dia membuka matanya lebar-lebar.

Huh... jangan menangis! Orang sepertimu tidak boleh menangis, Lisa!

Lisa mengelap air matanya dan kini hanya fokus berendam saja sampai lelahnya terasa hilang.

Di sisi lain.

Zico melamun tidak jelas di atas ranjang empuknya. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya kecuali Lisa. Entah mengapa medan magnet pada Lisa sangat kuat sekali bahkan untuk berpaling pun tidak bisa. Zico tahu ini bukan pertama kalinya dia jatuh cinta namun baru pertama kali ini dia merasakan sensasi yang berbeda. Ibu Zico datang, beliau lebih sering disapa dengan Madame Christy. Beliau dulu adalah walikota di kota itu dan kini sudah pensiun namun beliau masih aktif dibidang politik walau dari belakang panggung saja.

"Ibu, kamu datang mengagetkanku saja."

"Violet tadi datang ke sini, dia mengadu pada ibu jika kamu mengusirnya setelah kedatangan sekertarismu itu."

Zico hanya diam jika ibunya mengatakan nama Violet. Dalam pikiran Zico seharusnya mantan dibuang ke tempat sampah namun dia masih punya hati dan membiarkannya masih disekelilingnya.

"Perusahaan bagaimana sayang?" tanya Madame Christy.

"Seperti itulah, tak ada yang harus dikhawatirkan."

Madame Christy duduk disamping Zico lalu menggenggam tangan putranya. Beliau kini hanya mempunyai Zico setelah sang suami memilih bersama istri mudanya.

"Kamu akan mempunyai adik. Ibu mudamu hamil."

"Cukup! Aku ini anak tunggal dan ibuku hanya Madame Christy."

Zico menarik tubuh ibunya dan dia memeluknya dengan erat. Sebagai anak dia sangat menyayangi ibunya yang sudah disakiti oleh ayahnya sendiri.

"Jika kamu memang sayang dengan ibu maka nikahilah Violet. Pernikahan kalian sangat menguntungkan kami apalagi sebentar lagi pemilihan walikota baru."

Zico langsung melepaskan pelukannya, mendengar kata Violet dia merasa sangat enggan sekali apalagi kini wanita itu semakin menjadi mendekatinya tanpa rasa malu.

"Zi, bukannya dulu mencintai Violet dan kalian berpacaran bertahun-tahun?"

"Itu dulu sebelum dia tidur dengan pria lain."

Madame Christy tentu saja terkejut namun dia tak langsung percaya begitu saja. Beliau meminta Zico untuk memikirkannya lagi sebelum terlambat. Beliau lalu keluar dari kamar Zico. Zico menghela nafas panjang, dia sudah dewasa dan tidak ingin diatur dalam masalah percintaan. Zico mengambil ponselnya lalu melihat notifikasi yang banyak sekali namun tak ada satu pun dari Lisa. Tentu saja wanita itu tak akan mengirimkan pesan jika tidak penting sekali.

Huh... kenapa wanita itu kaku sekali? Tidak ada pesan satupun dari dia.

Zico dengan iseng mengiriminya pesan.

Zico : P

Zico : P

Tak ada balasan dari Lisa sampai setengah jam kemudian, jangankan balasan, belum juga dibaca oleh Lisa. Zico mengiriminya sekali lagi.

Zico : P

Satu menit kemudian.

Sekertaris Lisa : Ada apa, tuan?

Zico : Sedang apa? Sudah pulang kuliah?

Zico menunggu lagi sampai memelototi ponselnya. Tak ada balasan, Zico benar-benar sangat frustasi sekali. Dia sampai melempar ponselnya dan seketika itu notifikasi pesan berbunyi, dia dengan cepat mengambil ponselnya lalu membaca pesan itu.

Lisa : Maaf, saya baru saja makan.

Zico : Oh, makan apa?

Lisa : Hanya mie rebus saja.

Zico : Kapan-kapan tolong buatkan juga untukkku! Pasti buatanmu enak.

Lisa : Hem.

Zico mengernyitkan dahi, wanita itu juga sangat kaku saat chat di pesan. Ada ya wanita sedingin itu?

Zico : Aku mau berterima kasih karena tadi sudah mau membuatkanku bubur. Itu adalah bubur terenak yang pernah aku makan.

Lisa : Sama-sama, tuan.

Zico semakin kesal saja.

Zico : Lisa, tidak ada pertanyaan untukku?

Lisa : Ada, tuan. Mengenai proyek kedepannya.

Zico : Bukan itu! Pertanyaan pribadi.

Lisa : Tidak ada.

Zico berdecih, tak habis pikir dengan wanita itu. Wanita lain yang berkirim pesan pada Zico pasti mengirim pesan yang panjang dengan berbagai macam pertanyaan.

Zico : Bisakah nonformal saja saat berkirim pesan padaku? Kalimatmu terlalu kaku.

Zico menunggu lagi balasan dari Lisa namun sampai bermenit-menit kemudian Lisa tidak membalas. Zico menatap layarnya lagi sampai matanya memerah karena mengantuk. Sampai satu jam kemudian Lisa tidak menjawab.

"Arghhh... ada apa dengan wanita itu? Awas saja!"

Terpopuler

Comments

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

🤣🤣🤣🤣🤣, hanya bisa ketawa bener2 lisa kulkas 3 pintu🤣🤣🤣🤣🤣

2023-06-25

0

Dand_Afill

Dand_Afill

tapi say suka sama sifat mc yg datar dan sangat minim ekspresi☺️☺️

2022-05-18

1

Dand_Afill

Dand_Afill

mc nya kaku...🙄🙄
tapi gaya bahasa nove kok saya merasa kaku juga ya🤔🤔
saya gak merasakan ekspresi.. apa hanya saya ya..??

2022-05-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!