Bab 10 : Minta perhatian

"Tapi aku ingin menyuapi kakak," ucap Violet tanpa rasa malu. 

Jack menarik Violet untuk keluar dari kamar Zico, dia dipaksa untuk keluar sebelum Zico memanggil petugas keamanan di rumahnya. Setelah wanita berambut ungu itu keluar dari sana, kini hanya ada Lisa dan Zico saja. Lisa masih berdiri menatap wajah Zico yang pucat. Dia meraih mangkuk itu lalu menyuruh Zico untuk makan sendiri. Pria manja itu menggeleng, dia tetap ingin disuapi oleh Lisa. 

Lisa tentu saja tidak mau, dia datang ke sini hanya untuk menjenguk bukannya menjadi pengasuh Zico. Zico sangat kecewa, dia memalingkan wajahnya seperti anak kecil yang tidak diberi permen oleh orang tuanya. 

"Jika tidak mau makan tidak apa-apa. Yang merasakan lapar itu anda dan bukan saya. Tangan anda juga baik-baik saja dan masih bisa digerakkan," ucap Lisa. 

"Tanganku lemas dan mati rasa, untuk menarik selimut saja tidak bisa apalagi memegang sendok. Aku sangat lapar dan ingin disuapi olehmu," jawab Zico. 

Lisa menatap datar wajah Zico, dia akhirnya mau menyuapi bayi besar itu. Zico tersenyum senang lalu melihat wajah Lisa yang dingin nan datar, saat menyendokan bubur itu ke dalam mangkuk saja tanpa ekspresi. Lisa memang pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya. Zico mengunyah sembari heran, apa sifat Lisa seperti ini atau pernah mengalami trauma sehingga membuatnya pelit berekspresi? 

"Biasanya seorang wanita itu anggun dan murah senyum. Kamu tidak begitu rupanya."

"Mereka ya mereka, saya ya saya," jawab Lisa. 

Lisa membenarkan kacamatanya lalu menyuapkan lagi ke mulut Zico namun bubur di sendok malah tidak sengaja jatuh di dada Zico. Lisa dengan cepat mengambil tisu lalu mengelapinya, lagi-lagi wanita itu mengelap tanpa ekspresi. Zico hanya heran sampai ingin sekali menarik kedua bibir seksi itu untuk tersenyum lebar. 

"Menyebalkan," ucap Zico. 

"Maaf, Tuan. Saya akan mencuci kaosnya setelah ini," jawab Lisa. 

"Bukan itu. Ekspresimu sangat menyebalkan. Kau ini manusia atau robot?" 

Lisa kembali menyuapkannya lagi tanpa menghiraukan ocehan Zico. Zico menepisnya dan sendok itu terlempar ke lantai. Zico ingin Lisa menghiburkan di kala sakit namun malah menjadikannya bertambah kesal. Lisa berdiri, dia menunduk hormat untuk berpamitan saja jika kehadirannya membuat Zico terganggu. 

"Huh... siapa yang menyuruhmu untuk pulang! Cepat buatkan aku makanan! Bubur itu tidak enak, aku ingin makan bubur buatanmu," pinta Zico. 

Lisa heran kembali, padahal Lisa membelinya di restoran favorit Zico dan Zico malah diminta dimasakan bubur putih  biasa. Lisa pun mengalah, dia meminta izin kepada Zico untuk meminjam dapur sebentar. Zico menelpon kepala pelayan untuk mengantar Lisa ke dapur. Setelah Lisa keluar dari kamar Zico, pria itu sangat senang sekali karena ada cara supaya Lisa lebih lama di sini. Dia tahu jika Lisa tak akan tega dengannya karena sebenarnya hati Lisa sangat lembut. 

Lisa diantar oleh kepala pelayan untuk menuju ke dapur, baru kali ini Lisa bisa melihat-lihat luasnya rumah orang tua Zico. Setelah sampai di dapur, kepala pelayan menyiapkan beras dan santan. Lisa berterima kasih dan lekas memasaknya. Bubur itu untuk Zico saja sehingga dia hanya memasak sedikit. Pertama-tema dia mencuci beras terlebih dahulu lalu merebusnya sampai menjadi bubur dan tidak lupa diberi santan lalu garam supaya gurih. Lisa tak berharap Zico menyukai masakannya karena Lisa orang yang apa adanya tak perlu mencari perhatian orang lain. 

Lisa melirik jam tangannya, jam 5 sore dia harus berangkat ke kampus. Tangannya terus mengaduk bubur supaya tidak gosong sampai 20 menit kemudian bubur itu matang. Lisa menaruhnya ke mangkuk dan membawanya ke kamar Zico. 

Tok.. tok.. tok..

Lisa masuk ke dalam kamar, Zico ternyata sedang bermain game di ponselnya. Lisa menunggunya selesai selagi bubur itu masih panas. Zico meliriknya dan tersenyum kecil, Lisa sangat menggemaskan sekali tanpa terburu-buru untuk menyelesaikan bermain gamenya. 

"Sudah matang, tolong suapkan! Aku sedang bermain game." 

"Maaf, Tuan Zico. Saya harus pulang karena jam 5 nanti harus berangkat kuliah." 

Zico tidak peduli, dia asyik mengunyah dan menelan bubur yang sangat enak itu. Zico terus memakannya sampai habis dan meletakkan ponselnya. Lisa melirik jam tangannya namun Zico tak memperdulikan  dan ingin Lisa ada di sini sampai malam. 

"Jam 5 kan? Ini masih jam 3 dan seharusnya jam bekerjamu belum selesai. Mau gaji kamu aku potong?" 

"Maaf, Pak. Saya niatnya kembali ke kantor lagi dan bukan pulang ke rumah," jawab Lisa. 

Zico meminta Lisa untuk di sini sebentar menemaninya. Lisa melihat jamnya dan mengatakan dirinya hanya bisa di sini sampai setengah jam saja. Zico paham dan tidak mau memaksanya. Lisa adalah orang yang baik namun entah kenapa banyak orang yang tidak menyukainya. Apa karena sikap dingin dan cueknya? 

"Kenapa kamu menolak setiap pria yang mengajakmu menjalin hubungan?" tanya Zico. 

"Saya sedang tidak memikirkan masalah percintaan namun mungkin suatu saat saya akan mencoba membuka hati saya tapi tidak sekarang," jawab Lisa. 

Lisa meletakkan mangkuk bekas bubur di atas meja, dia mengambilkan air putih dan meminumkannya pada Zico. Lisa melihat kaos Zico yang tadi kotor, wanita itu meminta Zico untuk melepaskan bajunya dan dia akan mencucinya sebentar mumpung ada waktu. 

"Aku takut kamu akan terpesona melihat bentuk tubuhku," goda Zico. 

Lisa hanya diam biasa saja, pemandangan tubuh pria sudah biasa dilihatnya hampir setiap hari di tempat gym. Zico melepaskan kaosnya dan melihat ekspresi wajah Lisa namun yang ada malah kecewa karena Lisa benar-benar tidak tertarik padanya. 

"Saya akan mencucinya," ucap Lisa. 

"Tidak usah, biar dicuci oleh pelayanku. Waktumu hanya setengah jam di sini dan aku tidak ingin menyiakan itu. Duduklah kembali!" pinta Zico. 

Lisa tak mau ambil pusing, dia meletakkan baju kotor itu di atas meja dekat mangkuk bubur. Dia kembali duduk dan melihat tubuh Zico yang tak mengenakan baju. Lisa menyelimutinya supaya pria itu tidak kedinginan. 

"Lisa, sungguh kamu tidak ingin menjalin hubungan denganku? Aku kaya dan punya segalanya, apapun yang kamu mau pasti aku turuti dengan hanya sekali menjentikkan jari lalu lagi pula umurmu juga sudah matang untuk menikah." 

Lisa menatap Zico lalu mencoba untuk tersenyum. Lagi-lagi Zico oleng melihat senyuman Lisa yang jarang diperlihatkannya. Lisa memang tidak bisa ditebak dalam suasana hatinya. 

"Bagi saya umur bukan menjadi patokan untuk menikah dan lagi pula menjalin hubungan tak selamanya indah. Bagi saya untuk saat ini adalah karir yang cemerlang, saya belum sukses dan apartemen saya pun masih menyewa. Saya tak ingin membuang waktu untuk masalah percintaan. Semoga Tuan Zico paham apa maksud saya." 

Zico semakin takjub dengan Lisa. Inilah wanita yang dia cari bukan seperti wanita lain yang haus dengan harta namun tidak bekerja keras sendiri tapi malah memanfaatkan pria. Zico harus  mendapatkan Lisa walau bagaimanapun caranya karena Lisa adalah tipenya.

Terpopuler

Comments

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

makanya berjuanglah zeco bikin hari lisa luluh

2023-06-25

0

©®🐊W⃠Akila ⃟ ⃟вoͨѕͤѕͦ.☠💯💎

©®🐊W⃠Akila ⃟ ⃟вoͨѕͤѕͦ.☠💯💎

Lisa yang kuat

2022-03-25

0

𝕎⃠𝕝𝕚𝕜𝕒🐊💯🌲 вoͨѕͤѕͦ✰͜͡v᭄

𝕎⃠𝕝𝕚𝕜𝕒🐊💯🌲 вoͨѕͤѕͦ✰͜͡v᭄

semangat berjuang zico🥰🥰🥰🥰🥰

2022-03-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!