Bab 13 : Wanita unik

"Maaf Nyonya, saya tidak serendah itu."

Christy akan menamparnya lagi namun Zico mencegah tangan ibunya yang akan menghantam pipi sekertarisnya. Zico murka sekali pada sang ibu yang semena-mena terhadap orang lain. Lisa mundur lalu berpamitan dengan Zico, dia tidak ingin membuat gaduh di sana padahal sang tuan sedang sakit. Lisa pun pergi, Zico meminta untuk tetap tinggal namun Lisa meminta maaf karena tidak ingin bertengkar dengan siapapun. Lisa berjalan keluar untuk kembali ke kantor, tentunya masih banyak pekerjaan yang harus diurus. 

Sesampainya di kantor, Lisa lekas masuk ke dalam ruangannya. Jack pun heran kenapa Lisa datang secepat itu, Jack tak mau berkata apa-apa. Dia malah senang saat Lisa cepat kembali. Lisa kembali duduk serta mengecek di komputernya, menjadi wanita yang tangguh sudah menjadi prinsipnya untuk saat ini. 

Lisa bekerja sampai sore dan setelah itu lekas pulang ke apartemennya. Setiap hari memang hidupnya seperti itu. Pagi bekerja, sore pulang terkadang juga kuliah, malam istirahat dari dunia yang melelahkan. Lisa membuka kamar apartemennya, dia lekas mandi untuk menghilangkan keringat dan debu yang menempel seharian ini. Rasa nyeri pada pipi masih saja terasa sampai sekarang, Lisa berdecih tatkala mengingat ibu Zico yang menamparnya. Setelah mandi, dia mengeringkan tubuhnya dan memakai piyama tidur. Makan malam ini pun cuman mie instan yang direbus agak lama supaya mudah dicerna pada perutnya. Entah mengapa Lisa bukan pecinta makanan aneh-aneh seperti wanita pada umumnya. Jika dia makan makanan berat pasti hanya hamburger yang dia pesan di resto bawah sana. 

Tubuhnya sudah segar sehabis mandi, dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Ada banyak hal yang harus dia lakukan seperti mengerjakan tugas dari dosennya. Lisa mengerjakan dengan serius sampai suatu ketika ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya. Kaki Lisa melangkah membukakan pintu yang ternyata adalah seorang pelayan yang dikirim oleh Zico. 

"Nona Lisa, perkenalkan nama saya Aisy dan saya disuruh datang ke sini untuk mengobati luka tamparan anda." 

"Maaf, saya sudah mengobatinya sendiri."

Pelayan itu melihat dengan seksama, dia tahu jika Lisa berbohong. Pipi Lisa masih memar dan Aisy tidak butuh penolakan. Dia masuk ke kamar Lisa tanpa permisi. Huh... majikan dan pelayan sama-sama tidak ada rasa sopan santun datang ke rumah orang. 

"Maaf, bisakah kamu keluar?" tanya Lisa. 

"Maaf, Nona. Jika saya tidak mengobatimu maka saya akan dipecat oleh Tuan Zico," jawab Aisy. 

"Bukan urusan saya. Tolong silahkan pergi!" 

Lisa meminta wanita itu pergi dan sedikit mendorong tubuhnya. Setelah Aisy keluar, Lisa menutup pintunya. Lisa memang wanita yang keras kepala dan merasa tidak membutuhkan siapapun.

Aisy pulang ke apartemen Zizo dengan perasaan takut dan was-awas, dia melapor pada Zico jika Lisa tidak mau diobati dan mengusirnya. Zico hanya tersenyum kecil dan dirinya tidak marah. Dia mengibaskan tangannya seolah menyuruh pelayannya pergi. Aisy menunduk hormat dan keluar dari apartemen Zico. 

Zico memanggil Jack untuk mengantarnya ke apartemen Lisa, Jack mau dan mereka menuju ke sana bersama-sama. Zico tak tenang jika belum melihat keadaan Lisa secara langsung karena tamparan ibunya tadi sangat kuat sekali. Dalam perjalanan di dalam mobil, Zico terus membayangkan ekspresi Lisa saat berhadapa dengan ibunya tadi. Lisa sangat keren dan pemberani. 

"Kenapa Lisa punya karakter seperti itu? Apa ada kejadian di masa lalu yang membuatnya sampai kaku seperti ini?" tanya Zico. 

Jack yang sedang menyetir mobil pun juga bingung, Lisa memanglah seperti itu sejak mereka pertama kali bertemu. Dingin, jarang berbicara dan sekalinya berbicara lawan bicara pasti tak bisa berkata-kata. 

"Kamu yakin jika Lisa berasal dari desa kecil?" tanya Zico merasa heran. 

"Dari data yang saya perolah memang begitu, tuan. Lisa merupakan anak piatu yang kini hanya mempunyai seorang ayah," jawab Jack. 

Zico mengangguk sembari memegang dagunya, semakin hari semakin banyak rasa penasaran pada Lisa. Wanita yang mempunyai banyak rahasia besar yang belum terbongkar. Sesampainya di apartemen Lisa, malam sudah muncul dan gelap. Diluar sana sangat dingin sekali bahkan Zico harus memakai pakaian tebal dan syal yang menggantung indah di lehernya. Zico mengetuk pintu kamar apartemen Lisa. Lisa membukanya dan terkejut saat atasannya ada di sini. 

"Tuan Zico? Kenapa datang kemari?"

"Kamu hanya mendiamkanku di sini? Aku tahu hatimu sedingin es tapi setidaknya suruh masuk dulu ke dalam apartemenmu. Aku sangat kedinginan," ucap Zico sembari menggigil. 

Lisa menyuruhnya untuk masuk, Zico langsung duduk di sofa sembari memeluk dirinya sendiri yang sangat kedinginan. 

"Huh... tubuhku rasanya membeku." 

Lisa membuatkan teh hangat, dia pun masih heran kenapa Zico nekat ke sini padahal diluar san cuaca masih buruk. 

"Tuan, ini tehnya. Silahkan diminum!" 

"Kamu hanya memakai piyama tipis itu? Tidak kedinginan?" 

Lisa menggeleng, baginya sudah hangat memakai piyama saja apalagi dia berada di dalam apartemennya yang hangat. Zico meniup teh tersebut, tubuhnya masih menggigil hebat. Lisa yang tak tega mengambilkan selimut tebal dan menaruhnya pada tubuh Zico supaya lebih hangat. 

"Terima kasih," ucap Zico.

"Tuan, kenapa datang ke sini?" tanya Lisa. 

"Aku belum bisa tenang jika belum memastikan sendiri. Pipimu bengkak? Kenapa tadi mengusir pelayanku?" 

Lisa menatapnya dengan tatapan datar. "Tak apa, saya sudah memberi salep pada pipi ini." 

"Maafkan ibuku tadi." 

Lisa mengangguk, dia paham akan hal itu. Zico pasti merasa tidak enak denganya karena kejadian tadi. Mereka duduk bersebrangan lalu setelah itu tidak ada obrolan. Zico pun bingung mau membahas apa karena dia sudah lega jika Lisa tidak terjadi apa-apa. 2 menit mereka terdiam dan saling melempar tatapan datar sampai suatu ketika perut Zico berbunyi menandakan dirinya lapar. 

"Dengarkan! Aku lapar dan selalu ingin makan bubur buatanmu. Aku ingin kamu membuatkannya untukku lagi lalu kali ini aku ingin kamu membuatkan dua porsi untukku." 

"2 porsi?" 

Zico mengangguk. "Keberatan?" 

"Iya, keberatan sekali. Saya malam ini hanya ingin makan mie rebus dan jujur saja saya malas membuat bubur saat malam hari." 

Sungguh perempuan yang sangat jujur sekali, Zico pun sampai heran. Jika perempuan lain mau membuatkan apa yang dia inginkan untuk mencuri perhatiannya namun berbeda dengan Lisa. Lisa dengan gamblang menolaknya dan tidak merasa sungkan pada Zico karena saat ini bukan jam kerja. 

Perempuan unik. Batin Zico. 

"Baiklah, aku juga ingin makan mie rebus pakai telur," ucap Zico. 

"Di sini hanya ada mie instan saja, tuan. Saya belum belanja ke supermarket jadi tidak ada persediaan telur," jawab Lisa. 

"Terserah saja, yang penting buatanmu pasti lezat." 

Lisa mengangguk, dia lekas membuatkan mie rebus untuk Zico. Zico ikut bersamanya di dapur dan melihat Lisa memasak mie dengan serius. 

Jika Lisa menjadi istriku maka aku berani menyerahkan seluruh hartaku padanya. Aku harus mendapatkan wanita unik ini. Batin Zico. 

Terpopuler

Comments

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

judulnya jauh sekali dgn karakter peran utama thor🤣🤣🤣🤣

2023-06-25

0

Irene

Irene

sofanya jgn lupa Lisa diambil sayang dibuang msh baru n empuk 😘

2022-05-18

0

Dand_Afill

Dand_Afill

thor.. sekedar saran....
biar rasanya saat membaca nya terasa sedikit hidup.. bisa diperbanyak percakapan antar aktornya serta percakapan batin..
kurangin prolognya...🙏🙏🙏
maaf hanya saran..
jika kurang pas saran saya mohon maaf thor🙏🙏

2022-05-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!