*Di akademi kerajaan
Didalam ruangan terdapat Lux, Rose dan seorang pria paruh baya yang sedang marah.
"Apa maksud dari berkataan dari putri Rose?" Ucap Kepada Akademi dengan dingin.
"Tuan Bernad. Sudah aku bilang, aku menginginkan cuti selama satu Minggu, karena aku akan segera melaksanakan pertunanganku dengan Lux." Ucap Rose dengan tenang.
"Putri Rose sebaiknya kamu tidak bertindak sewenang-wenang dengan akademi. Ini adalah tempat menimba ilmu bukan tempat kamu bisa untuk mengaturnya sesukamu. Tahun ajaran akademi akan dimulai dan itu tidak akan bisa dilonggarkan oleh apapun itu." Ucap Benard dengan keras.
Rose mengerutkan kening mendengar ucapan Benard yang tiba-tiba berubah perilakunya kepada Rose.
Biasanya Benard akan selalu menyanjung dan memperlakukan Rose seperti seorang putri tetapi sekarang dia bahkan berani membentak dengan keras didepannya.
"Hooo. Sekarang aku paham kenapa sikap tuan Benard terhadapku berubah, ternyata pihak akademi sudah menetapkan dukungannya ya..."
"Heee, sepertinya putri Rose cepat paham. Jadi ingat sekarang kamu bukan lagi putri kerajaan disini, tetapi seorang siswa, ingat itu." Ucap Benard dengan dingin.
"Hanya seorang Kepala Akademi berani bertindak kasar kepada seorang putri. Sepertinya Kepala Akademi sekarang perlu diganti karena sudah pikun." Ucap Lux dengan tiba-tiba.
Sementara itu Benard yang mendengar perkataan Lux memerah dan marah. "Siswa Lux berani-beraninya kamu berbicara kasar seperti itu?. Apakah kamu ingin dikeluarkan dari Akademi?.."
Lux yang mendengar ucapan Benard bukannya takut, malah tertawa. "Hahahaha. Kepala Akademi, itu bukan hak anda untuk mengeluarkan seorang siswa, tetapi Raja sendiri. Apakah Kepala Akademi ingin mengambil wewenang seorang Raja?. Kalau Kepala Akademi ingin mengambil wewenang seorang Raja, maka kamu harus siap-siap untuk memberikan kepalamu itu." Ucap Lux dengan dingin.
Rose yang mendengar ucapan Lux tercengang. Sementara Benard sangat marah dan mengeluarkan aura mananya yang berwarna kuning.
"Bocah sepertinya kamu memang ingin mati." Ucap Benard.
Mendengar ancaman Benard, Lux malah membalasnya dengan ringan. "Peraturan Emas Kerajaan nomor 11, barangsiapa membunuh Siswa dengan sengaja dia akan dilucuti semua gelarnya dan mana corenya juga akan dihancurkan."
Benard yang mendengar ucapan Lux tidak bisa berkata-kata dan hanya menahan amarahnya sambil menatap Lux dengan niat membunuh.
Sementara Lux menyeringai dan datang kepada Benard, dia kemudian tiba-tiba berbisik ditelinga Benard.
Benard yang semula ingin menolaknya, tiba-tiba berhenti saat dia mendengar apa yang dikatakan Lux.
Benard mulai berkeringat dingin dan berkata dengan takut.
"Da,dariman kamu mengetahui hal itu?" Tanya Benard dengan panik.
"Hahaha. Kepala Akademi santai saja. Aku tidak akan membeberkannya kalau kamu mengizinkan kami memiliki Libur selama seminggu." Ucap Benard, sambil menyeringai.
"Ughh..... Baiklah kalian boleh memiliki Libur selama seminggu. Tetapi ingat ini terakhir kalinya." Balas Benard.
"Hahahaha. Sangat bagus Benard, sangat bagus." Ucap Lux sambil merangkul Benard.
Sementara Benard yang melihat kelakuan Lux, berwajah muram dan marah.
"Kalau begitu kami mohon pamit kepala Akademiku tercinta, Benard." Ucap Lux sambil memanggil Rose.
"Ayo Rose, kita pergi."
Rose yang dari tadi bingung dengan percakapan Lux dan Benard berkata. " Lux, apa yang kamu bisikan tadi ditelinga Benard?."
"Hahahaha, Itu rahasia laki-laki. Berhentilah memikirkan itu kita harus segera bersiap untuk berangkat ke kediaman ibumu sekarang." Ucap Lux.
Rose cemberut dan hanya bisa mengangguk mengikuti.
.........
*POV Aula Kediaman Ratu Linlin.
"Apakah kita akan memulai diskusinya sekarang?" Tanya Linlin.
"Sebaiknya kita menunggu dulu pihak yang akan bertunangan." Ucap Ron Fos
"Memang seharusnya begitu. Dimana Rose sekarang, Anggelina?." Tanya Linlin dengan marah.
"Dia akan segera datang bersama tuan Lux, nyonya Linlin." Ucap Anggelina dengan tenang.
Saat Linlin mendengar perkataan Anggelina itu membuat Linlin sangat marah. Dia menggerakkan meja dengan emosi.
"Bocah brengsek itu. Berani-beraninya dia membuatku menunggu."
Ron yang melihat tingkah laku Linlin, menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Tingkah lakumu ini belum pernah berubah Ratu Linlin. Tidak bisakah kamu menunggu dengan tenang. Anggelina berkata mereka akan segera datang." Ucap Ron dengan tenang.
"Diamlah Ron. Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu." Ucap Linlin dengan dingin.
Ron yang mendengar ucapan Linlin hanya menghela nafas.
*Tok tok tok
"Nyonya Linlin, putri Rose dan tuan Lux sudah datang. Mereka meminta izin masuk." Ucap seorang pelayan diluar pintu.
"Persilahkan mereka masuk." Ucap Linlin.
Segera pintu dibuka dan disana terlihat Rose dan Lux mulai masuk, tetapi hal yang tidak diduga ada orang lain yang datang dengan mereka, itu adalah Fifian.
Linlin, Rose dan Anggelina terkejut melihat hal ini.
'Apa yang di rencanakan bocah Lux ini.' pikir Linlin sambil menatap Fifian dengan penasaran.
Linlin sekarang selalu hati-hati dengan gerak-gerik Lux, akibat kejadian yang terjadi di kediamannya.
"Lux. Kenapa kamu membawa Fifian disini?" Tanya Ron penasaran.
"Bisakah kami duduk dulu." Ucap Lux
"Iya, silahkan." Ucap Ron, sambil mempersilahkan duduk.
Lux, Rose, dan Fifian mengambil tempat untuk duduk.
"Fufufu Lux, semakin hari kamu semakin tampan saja." Ucap Linlin dengan senyuman manis.
"Terimakasih, Tante." Ucap Lux dengan tenang.
"Pfhuut. Huhuhu..." Rose dan Fifian menutup mulutnya, untuk menahan tawa mereka. Sementara Anggelina dibelakang Linlin berusaha menahan tawanya.
Berbeda dengan Ayah Lux yang tidak bisa menahan tawanya. "Hahahaha. Lux kamu, kamu benar-benar Lucu, hahahaha."
Linlin yang mendengar ucapan Lux sangat marah. "Sebaiknya kamu memperhatikan kata-katamu bocah."
"Ah, Maafkan kekasaranku nyonya Linlin. Seharusnya aku tidak terlalu bertindak kasar kepada calon ibuku nanti... Calon ibu." Ucap Lux sambil mengulangi calon ibu.
Linlin yang mendengar ucapan Lux tersenyum dingin dan berkata. "Sebaiknya kalian menjelaskan kenapa kalian yang akan melaksanakan pertunangan tiba-tiba datang kesini bersama Fifian."
"Kalau untuk itu. Biarlah istri tercintaku yang menjelaskan." Ucap Lux.
Sementara Rose yang mendengar ucapan Lux memerah sedikit, sebelum tenang kembali untuk menjelaskannya.
"Ehem. Sebelum itu biar kami perjelas dulu, bahwa aku dan Lux akan langsung melaksanakan pertunangan Besok."
Ron membalas ucapan Rose dengan senyuman. "Aku tidak masalah dengan itu Putri Rose. Kalian ingin melaksanakan pertunangan itu sekarangpun aku akan tetap menyetujuinya."
Sementara Fifian yang mendengar ucapan Rose mengangkat alisnya. "Kenapa kamu tiba-tiba sangat ingin pertunangan ini dengan cepat?."
Rose membalas perkataan Linlin dengan tenang. "Apakah ibu tidak menyetujuinya ?"
Mendengar ucapan Rose, Linlin mengangkat alisnya dengan aneh. "Aku juga tidak masalah dengan itu."
"Baiklah karena kedua belah pihak telah menyetujuinya. Aku akan menjelaskan kenapa aku dan Lux membawa Fifian di sini." Ucap Rose.
"Tidak bisakah kamu langsung keintinya saja..." Ucap Linlin dengan penasaran.
"Baiklah, baiklah. Kami membawa Fifian kesini karena aku dan Lux akan menyelenggarakan pertunangan bersama dengan Fifian juga."
Saat Ron dan Linlin mendengar ucapan Rose. Mereka membuka mulutnya dengan terkejut.
Berbeda dengan mereka berdua ada seseorang dibelakang Linlin yang tidak bisa menahan suaranya.
"Apa.." Ucap Anggelina dengan keras.
Kemudian Anggelina menutup mulutnya segera karena sadar atas tindakannya yang melewati batas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Akun Terhapus
apakah dia impoten
2023-01-02
3