Lux yang mendengar ucapan Brayen Horn segera menunduk dan berkata. "Terimakasih tuan. Kalau boleh, basakah aku memberikan senjata ini pada istriku?." Tanya Lux
"Silahkan. Ketiga senjata itu adalah milikmu sekarang, jadi kamu boleh melakukan apa saja kepadanya dan juga sepertinya sangat cocok memberikan ketiga senjata ini kepadamu, Karana masing-masing dari ketiga istrimu dapat memilikinya." Brayen berkata, sambil menatap Rose, Fifian dan Sisil.
Fifian dan Sisil yang mendengar bahwa mereka adalah istri Lux, memerah dan malu. Sementara Lux yang mendengar perkataan Brayen segera mengklarifikasinya.
"Ah, tuan istri saya hanya satu itu adalah yang berambut merah." Ucap Lux.
"Ah, apakah seperti itu. Maaf kalau aku salah, hahahahaha."
Sebenarnya Rose, Fifian, Arthur, Nana dan Sisil masih bingung dengan situasnya. Mereka masih belum mengerti kenapa yang tadinya menolong seorang lelaki tua dan sekarang tiba-tiba menjadi murid lelaki tua tersebut.
"Kenapa kalian masih bingung disitu kemarilah Rose." Ucap Lux.
Rose yang dipanggil oleh Lux segera menghampirinya dan berkata. "Um, Lux kenapa keadaannya tiba-tiba menjadi seperti ini?"
Lux yang mendengar pertanyaan Rose segera berkata. "Hah, Rose ini akan menjadi pelajaran buatmu. Kamu tidak boleh memandang orang dari fisik luarnya saja. Sekarang teteskan darahmu ke tombak ini dan itu akan menjawab semua pertanyaanmu. Kamu juga akan paham apa yang sebenarnya kulakukan."
Rose yang mendengar perkataan Lux sempat ragu dan akhirnya dia mengikuti perintah Lux meneteskan darahnya. "Setelah meneteskan darahnya perubahan pada tombak tersebut terjadi.
Tombak tersebut kemudian mengalami perubahan. Tombak yang dulunya berkarat dan rusak kini telah menjadi menjadi tombak yang sangat indah. Mata tombak tersebut berubah warna menjadi merah dan pegangannya menjadi hitam. Aura naga keluar dari tombak itu.
Semua orang disana tercengang, kecuali Brayen.
"OOO. Tidak kusangka putri kecil ini memiliki darah naga. Sepertinya tidak salah kamu memberikan tombak itu padanya." Ucap Brayen.
"Tentu saja.." Ucap Lux sambil tersenyum puas.
Sementara itu Rose yang melihat perubahan pada tombak tersebut sedikit terkejut, kemudian dia menjadi bersemangat karena beberapa ingatan tentang cara menggunakan tombak masuk kedalam otaknya.
"Lux ini adalah artefak Suci, diistana saja hanya terdapat satu. Itupun itu digunakan oleh ayahku. Apakah tidak apa-apa memberikan tombak ini padaku?." Rose bertanya dengan ragu.
"Tidak apa-apa rose. Aku sebenarnya selalu khawatir padamu kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Jadi dengan memberikanmu artefak ini membuatku menjadi jauh lebih baik." Ucap Lux menghampiri Rose dan mengecup keningnya.
Rose yang mendengar perkataan Lux merasakan perasaan manis dihatinya.
"Terimakasih kasih Lux." Rose berkata dengan malu-malu.
Sementara itu Fifian yang melihat kemesraan Lux dan Rose merasa sangat iri.
"Lux aku ingin bertanya bagaimana dengan dua senjata sisanya. Apakah itu merupakan senjata artefak juga?" Tanya Rose.
"Kedua senjata ini bukanlah Artefak, tetapi mereka adalah senjata tingkat S yang tidak kalah kuatnya dengan tombakmu. Aku juga masih bingung dengan apa yang akan kulakukan pada dua senjata ini" Lux berkata sambil menatap senjata tersebut.
"Apakah kamu tidak menggunakan kedua senjata tersebut?." Tanya Rose.
"Tidak. Aku menggunakan sebuah pedang." Ucap Lux.
Rose yang mendengar perkataan Lux berpikir sebentar dan kemudian dia menemukan sebuah ide.
"Fifian, Sisil, kemari."
Fifian dan Sisil yang dipanggil namanya oleh Rose segera datang.
"Lux. Bagaimana kalau kamu memberikan kedua senjata itu kepada Fifian dan Sisil. Kebetulan Fifian menggunakan Panah, sementara Sisil menggunakan Belati." Ucap Rose kepada Lux.
"Aku juga tidak masalah dengan itu. Selain itu dengan adanya Sisil disampingmu yang memiliki Belati Racun, itu bisa menambah keamananmu lebih baik." Ucap Lux tanpa Ragu.
"Fufufu. Tenang saja Fifian akan ikut membantu bersama kami nanti." Ucap Rose.
"Eh, apakah kamu merencanakan sesuatu yang aneh lagi?" Ucap Lux ragu.
"Itu rahasia. Kamu akan mengetahuinya setelah kita sampai dikediamanku." Ucap Rose
Lux mengangkat alis bagian kanannya. Sementara Rose hanya menyeringai dan mengambil dua senjata tersebut dari Lux.
Setelah mengambil kedua senjata tersebut. Kemudian dia memberikannya kepada Fifian dan Sisil.
"Fifian, Sisil ambilah dan teteskan darahmu."
Fifian dan Sisil yang mendengar perkataan Rose tercengang.
"Rose. Apakah kamu yakin memberikan senjata ini pada kami?" Tanya Fifian ragu dan Sisil dibelakang Fifian ikut mengangguk.
"Ambillah,. ini juga tidak gratis. Kamu juga akan mengetahuinya setelah kita sampai di kediamanku." Ucap Rose sambil menyeringai.
Fifian yang mendengar perkataan Rose mengangkat alis bagian kanannya, sementara Sisl ragu-ragu. Mereka kemudian menatap Lux, untuk meminta persetujuannya.
Lux yang melihat pandangan mereka segera berkata. "Hah, Ambillah. Anggap itu sebagai hadiah dariku."
Mendengar persetujuan Lux, mereka mulai berpikir. Setelah berpikir lama mereka akhirnya mengambilnya dan mulai meneteskan darahnya. Sontak perubahan terjadi pada kedua senjata tersebut.
Panah yang dipegang oleh Fifian beruba menjadi panah yang indah berwarna biru muda. Sementara belati yang dipegang oleh Sisil menjadi belati hitam dengan garis merah disetiap sudut belati.
Fifian dan Sisil merasakan cara penggunaan senjata di otak mereka.
"Luar biasa." Ucap Fifian dan Sisil secara bersamaan.
"Sepertinya ketiga senjata itu jatuh kepada orang yang tepat. Kamu tidak salah memberikan senjata itu kepada mereka." Ucap Brayen
"Sepertinya begitu." Balas Lux dengan senyuman.
Sementara itu Nana yang melihat Fifian dan Sisil diberikan hadiah, cemberut. Dia kemudian berkata. "Kenapa hanya kakak Rose, Kakak Fifian dan Kakak Sisil yang mendapatkan hadiah. Sementara aku dan Arthur tidak mendapatkannya, kan Arthur?" Ucap Nana, sambil meminta dukungan dari Arthur.
Sementara itu Arthur yang mendengar perkataan Nana membalas dengan malu, sambil menundukkan kepalanya. "Um"
Lux yang mendengar hal itu menghela nafas dan berkata kepada tuannya Brayen. "Tuan, mohon maaf atas masalahnya, kalau bisa?."
"Hahahaha. Santailah nak Lux. Kamu sekarang adalah murid pertamaku jadi kamu bisa mengambil dua barang lagi." Ucap Brayen sambil tertawa.
"Terima kasih tuan."
Lux kemudian mengambil dua barang lagi. Yang satunya sebuah liontin, sementara yang satunya adalah cincin.
"Arthur, Nana. Kemarilah.." Ucap Lux sambil tersenyum.
Nana dan Arthur yang dipanggil oleh Lux segera menghampirinya dengan gembira. Lux memberikan Cincin kepada Arthur dan Liontin kepada Nana.
" Segera teteskan darah kalian."
"Baik." Balas keduanya.
Kemudian kedua liontin dan cincinnya berubah menjadi indah dan cantik.
" Liontin itu mampu mengeluarkan pelindung, jika dialiri mana. Sementara Cincin itu mampu menyehatkan tubuhmu menjadi lebih kuat." Ucap Lux menjelaskannya kepada Arthur dan Nana.
Arthur dan Nana yang mendengar perkataan Lux sangat bahagia. Mereka memegang hadiah dari Lux dengan hati-hati.
Sementara itu Lux dan lainnya melihat ini tersenyum tak berdaya.
"Baiklah bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita?." Tanya Rose dengan senang, karena telah mendapatkan sesuatu yang bagus hari ini.
Semua orang mengangguk mendengar perkataan Rose.
"Tuan kalau begitu aku pamit dulu. Aku akan kembali besok untuk datang lagi." Ucap Lux.
"Tuan, kami juga mohon pamit." Sambung Rose.
"Hahahaha. Santailah jangan terlalu tegang. Kalian semua diterima disini." Ucap Brayen dengan senyum ramah.
Lux dan yang lainnya tersenyum mendengar perkataan Brayen. Kemudian mereka mulai pamit dan melanjutkan perjalanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor, tetap semangat 😀💪 👍👍👍
2023-02-28
1
Hades Riyadi
Wow.... mantaabb jiwa... dapetin tambahan hadiah bini baru...Fifian dan dikasih bini tua lageee... suegerr...jadi ikutan mupeng neeehh...😛😀💪👍👍👍
2023-02-28
0