*Kota kerajaan Green
Di ibukota kerajaan Green terlihat banyak sekali aktivitas yang terjadi. Dari para anak-anak yang bermain hingga beberapa pedagang asongan yang berkeliaran di kota.
Lux, Rose, Sisil, Arthur dan Nana berjalan bersama berkeliling kota dan melihat pemandangan ini.
...
Saat Rose dan Nana sedang mengobrol, tiba-tiba Lux mengintruksi. "Ngomong-ngomong Rose apakah kamu masih akan Belajar di Akademi?. Mengingat kondisimu sekarang yang harus perbanyak istirahat." Ucap Lux sambil menatap perut Rose.
Rose yang mendengarkan ucapan Lux membalas dengan senyuman. "Tenang saja aku ke akademi hanya untuk mengkonfirmasi kondisiku ke kepala akademi. Aku yakin pihak akademi akan melonggarkan sedikit."
Lux yang mendengar perkataan Rose menghela nafas lega.
"Kakak Lux, kakak Rose. Lihatlah disana, sepertinya ada masalah." Ucap Arthur dengan serius.
Rose dan Lux yang mendengar ucapan Arthur melihat kearah yang ditunjuknya.
Disana terdapat beberapa siswa akademi kerajaan yang sedang membuat onar di toko Smith. Banyak orang yang melihat hal itu tidak berani mencegahnya karena disana ada juga sesosok penting yaitu pangeran kedua memiliki penampilan yang hampir mirip dengan pangeran pertama, yang membedakan hanya matanya saja yang berwarna coklat dan Fifian putri Duches Semiramis Red.
Lux yang melihat Fifian mengerutkan kening. Dia tidak mengerutkan keningnya bukan karena Fifian, tetapi karena ibunya.
Berbeda dengan Duke yang lain, Duches Semiramis adalah pemimpin wanita pertama dalam keluarga Red dan berdasarkan informasi yang dimiliki oleh mantan pemilik tubuh ini tentang Duches Semiramis, itu sangat suram.
Saat itu Lux di hutan kematian yang sedang berburu tidak sengaja melihat sebuah gua. Dia yang penasaran segera memasukinya. Saat dia masuk, dia melihat Duches Semiramis mengkebiri ratusan bangsawan pria dari kerajaan Green.
Semeramis yang mengetahui bahwa Lux telah melihat tindakannya mengancam Lux. Kalau berita ini sampai bocor Dia akan ikut dikebiri.
Lux yang saat itu masih berumur 10 tahun berkeringat dingin dan hanya bisa mengangguk dengan takut.
Sementara Lux yang masih dalam lamunannya, Rose yang tiba-tiba melihat ekspresi Lux mengangkat alisnya. "Ada apa Lux?. Kenapa kamu memasang ekspresi seperti itu?."
Lux yang masih dalam pikirannya segera sadar kembali saat mendengar pertanyaan Rose. "Ah, tidak apa-apa. Saya hanya sedikit kasihan melihat orang tua itu."
Rose yang mendengar jawaban Lux, mengangguk. "Memang benar. Bajingan Luci itu sudah keterlaluan dan kenapa Fifian mengikuti Kevin? Ini sangat aneh. Ayo kita pergi kesana dan melihat sendiri permasalahannya."
Lux, Sisil, Nana dan Arthur mengangguk, merekapun sama-sama pergi kesana.
Saat mereka tiba disana, tiba-tiba Rose berkata dengan marah.
"Fifian kenapa kamu mengikuti bajingan ini." Ucap Rose dengan blak-blakan.
Sementara itu Fifian, Kevin dan ketiga pria itu tersentak kaget saat mendengar suara Rose.
Mereka segera berbalik dan melihat Rose yang marah. Sementara itu Fifian yang ditanya oleh Rose tersentak.
Saat Fifian, Kevin dan ketiga pria tersebut melihat Rose. Lux dan yang lainnya membantu pri tua tersebut.
"Rose..." Jawab Fifian menundukkan kepalanya dengan frustasi dan putus asa.
Sedangkan Kevin yang mendengar perkataan Rose marah dan membalasnya. "Rose, jaga perkataanmu. Apakah kamu ingin mati?."
"Hmmmm, Mati ya?. Apakah kamu mampu melakukan hal itu?. Otak mesum sepertimu setahuku hanya terdapat wanita saja." Ucap Rose dengan nada mengejek.
"Apa katamu..?" Ucap Kevin menatap Rose dengan marah.
Rose yang melihat kemarahan Kevin tidak perduli dan malah melihat ke Fifian.
"Fifian kemari. Kenapa kamu masih disisi bajingan itu?."
Fifian yang mendengar ucapan Rose ragu sejenak, tetapi akhirnya pergi kesisi Rose.
Kevin yang melihat kepergian Fifian menyeringai dan berkata. "Fifian. Apakah kamu yakin ingin berada di piha Rose?. Kamu tahu sendiri kita adalah tunangan, jika ibumu mengetahui hal ini, aku tidak yakin apa yang akan dia lakukan."
Fifian yang mendengar ucapan Kevin menegang. Sementara itu Rose terkejut dengan ucapan Kevin."Apa maksud dari ucapanmu itu Kevin."
Mendengar pertanyaan Rose, Kevin tertawa bahagia, dikuti oleh tiga pria dibelakang Kevin yang ikut tertawa bersamanya.
"Hahahaha, Rose apakah kamu ingin tahu?" Ucap Kevin melihat Rose dengan senyum mengejek.
"Berhentilah banyak omong kosong Kevin katakan kepadaku." Ucap Rose menatap Kevin dengan pandangan dingin.
"Hehehe. Aku sangat suka ekspresimu itu, jadi aku akan memberitahumu. Kamu seharusnya saat itu bertanya-tanya,kan. kenapa bisa keluarga Red mendukungku menjadi seorang Raja?. Perlu kamu ketahui bahwa aku sendiri tidak pernah ingin bekerjasama dengan keluarga Red untuk merebut tahta. Tetapi Duches Semiramis menawarkan Fifian sebagai hadiah agar aku mau ikut dalam perebutan tahta Raja. Aku yang mendapatkan wanita cantik dan panas seperti Fifian tidak mungkin menolaknya, kan." Ucap Kevin menjilat bibirnya sambil menatap Fifian.
Fifian yang mendengar ucapan Kevin, menunduk dengan frustasi. Sementara Rose mengerutkan kening dan bergumam. 'Apa yang di rencanakan Duches Semiramis dengan melakukan tindakan gila seperti ini?'
Kevin yang melihat ekspresi Fifian dan Rose, mengangguk puas.
"Kemarilah Fifian." Ucap Kevin.
"Jangan mendengarkannya Fifian, kamu harus berada di sisiku." Ucap Rose dengan tegas.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi Fifian. Segera kemari atau aku akan memberitahukannya kepada Duches Semiramis." Ucap Kevin.
Fifian yang mendengar ucapan Kevin akhirnya pasarah dan segera kesisi Kevin, tetapi tiba-tiba dia dihadang oleh Rose.
"Aku bilang kamu akan mengikutiku Fifian." Ucap Rose dengan dingin.
Fifian yang mendengar ucapan Rose merasa senang dan bahagia, karena masih ada yang peduli padanya.
Sementara itu Lux, Nana, Arthur, Sisil dan Orang tua penjaga tokoh hanya dengan tenang mengawasi mereka dan juga beberapa orang mulai berkumpul untuk menonton ketegangan antara kaum bangsawan.
Kembali dengan Kevin yang melihat hal ini semakin marah dan tiba-tiba berkata."Rose kamu p*l*cur sialan yang menjual tubuhnya hanya untuk dukungan seorang Duke, berani-beraninya kamu bertindak seperti orang yang mendominasi didepanku."
Saat Kevin dan ketiga Pria tersebut ingin menghampiri Rose tiba-tiba ada suara dingin yang muncul.
"Apa katamu?" Ucap Lux yang melihat Kevin dengan pandangan orang mati.
Kevin yang baru sadar, ternyata tidak hanya ada Rose tetapi ada juga beberapa orang yang mengikutinya.
Kevin mengangkat alisnya saat mendengar ucapan Lux.
"Haaa.? Bukankanya ini simesum tidak berguna Lux. Berani-beraninya kamu memotong perkataanku. Apakah kamu ingin dipukul seperti waktu itu?." Ucap Kevin dengan menyeringai, sementara ketiga pria dibelakangnya tertawa.
Beberapa orang yang menonton berbisik-bisik.
"Ah, itu tuan Lux?. Ini tidak seperti yang kupikirkan. Aku pikir tuan Lux akan menjadi seorang pria paruh baya gendut dan mesum. Ternyata seorang pria tampan dan gagah. Aku rela bila dibawah olehnya." Ucap salah seorang wanita.
"Memang benar dia sangat tampan." Bisik wanita lainnya.
Sementara kaum pria hanya dengan dingin membalas dengan nada mengejek. "Cih, dasar wanita tidak bermoral."
Saat para masyarakat mulai saling berbisik tiba-tiba Lux mulai mengulangi perkataannya.
"Aku bilang, apa yang kamu katakan tadi?" Ucap Lux mengulangi perkataan dengan nada menantang.
Kecin yang mendengar ucapan Lux mengerutkan kening. "Oh, sungguh berani. Apakah kamu pikir setelah menjadi calon suami Rose, aku tidak akan berani memukulmu. Ren kuserahkan dia kepadamu."
Salah seorang pria yang dibelakang Kevin yang mendengar perkataannya segera maju dan berkata. "Hehehe. Tenang saja bos aku akan membuat anak ini paham siapa bosnya disini."
Ren melangkah maju menghampiri Lux dan mengeluarkan aura merahnya, tiba-tiba lingkaran sihir terbentuk ditangan Ren dan mengeluarkan sebuah api yang lumayan besar.
Lux yang melihat tindakan Ren segera maju dengan santai. Sementara Rose disamping berkata kepada Lux dengan serius.
"Lux Jangan berlebihan. Ada sesuatu yang rumit disini. Kita harus mencari beberapa informasi dulu sebelum bertindak."
"Tenang saja, aku tidak pernah bertindak berlebihan. Tetapi berbeda kalau itu menyangkut kamu, itu sudah berada dibatas kesabaranku." Ucap Lux dengan senyuman.
Rose yang mendengar ucapan Lux merasakan perasaan manis. Sementara Fifian bingung dengan situasinya.
"Rose apakah baik-baik saja membiarkan Lux menghadapi ini?"
"Tenang saja dia akan baik-baik saja." Ucap Rose percaya diri.
"Iya, tenang saja Kakak Fifian. Kakak Lux sangat kuat." Ucap Nana sambil bersorak mendukung Lux, diikuti oleh Arthur dan Sisil.
Sementara itu Ren yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka sangat marah dan berkata. "Bocah sepertinya kamu memang ingin mencari kematian."
Ren langsung melesatkan bola apinya, tetapi sayang saat bola apinya tepat berada didepan Lux. Lux tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan menghisap bola tersebut dengan santai.
Semua orang yang berada di sana termasuk masyarakat yang melihatnya tercengang dengan tindakan Lux yang luar biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Kelvin
Woaaah Apakah Dia Rimuru
2023-07-08
2
Alauddin
sistem perawan
2023-03-26
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😀💪👍👍👍
2023-02-26
0