Perusahaan Chin
Stephen dan Anton baru tiba di perusahaan dan di saat mereka ingin masuk ke dalam langkah mereka di hentikan oleh Ronald dan Jhon.
"Keponakan ku, apa kabar mu hari ini?" sapa Ronald yang berpura-pura senyum dan mendekati Stephen yang sedang mengunakan kursi rodanya
"Paman, kabar ku baik-baik saja selama ini" jawab Stephen dengan senyum
"Baguslah! ini adalah teman ku yang baru pulang dari keluar negeri kami ingin makan siang bersama, bagaimana jika kita makan bersama nanti?" ajak Ronald dengan sengaja
"Siang ini aku sibuk. sepertinya, Paman pasti sudah tahu jawabannya ku" ujar Stephen
"Salam kenal Tuan Chin, nama ku Jhon senang bisa bertemu dengan anda" sapa Jhon yang mengulurkan tangannya
"Salam kenal Tuan Jhon" balas sapaan Stephen yang bersalaman dengan Jhon
"Aku masih ada urusan aku harus pamit dulu" kata Stephen yang melepaskan salamannya dan kemudian Anton mendorong kursi roda Stephen dan melangkah ke arah pintu besar perusahaan
"Jhon, apa sudah kau lakukan?" tanya Ronald sambil melihat Stephen masuk ke dalam perusahaan
"Sudah! siang nanti racunnya akan mulai bekerja dia akan merasa sakit pada tangannya dan setelah itu malam dia akan merasa sesak, jika tanpa penawar maka setelah 24 jam anda akan mendapat kabar baik darinya dan di saat itu anda lah jadi pemilik perusahaan besar ini" jawab Jhon yang sambil melihat ke arah Stephen
"Jika dia mati, maka kau adalah penolong terbesar ku" ujar Ronald dengan senyum
"Tuan, pria tadi sepertinya aneh" ujar Anton yang berada dalam lif bersama Stephen
"Seperti ada aroma kuat di tubuhnya" jawab Stephen
"Benar, dia pasti bukan orang baik"
Setelah beberapa jam kemudian
Karena terkena racun dari Jhon, Stephen merasakan aneh di tangannya
"Tangan ku sakit dan terasa panas? kenapa bisa seperti ini? pria tadi aroma tubuhnya sangat kuat apakah aroma obat, kebetulan aku mengunakan tangan ku bersalaman dengannya, apa aku keracunan? Ronald sebelumnya sudah meracuni ku dengan serbuk bunga jangan-jangan pria tadi adalah peracun?" batin Stephen yang sambil melihat telapak tangan kanannya
Tok..tok..tok..
Ketukan pintu dari luar kantor Stephen
Klek
"Tuan, di luar ada dua detektif yang ingin bertemu dengan anda" lapor karyawannya dengan sopan
"Persilahkan masuk" jawab Stephen dengan tegas
"Baik Tuan" jawab Karyawan dengan menunduk
"Stephen Chin, lama tidak bertemu diri mu selalu saja sibuk" sapa Owen yang masuk ke ruangan besar milik Stephen dengan di temani oleh Jimmy
"Angin apa yang membawa mu kemari?" tanya Stephen dengan duduk bersandar
"Ada kasus pembunuhan" jawab Owen yang duduk di kursi depan meja Stephen sedangkan Jimmy berdiri di sampingnya
"Kasus pembunuhan apa yang membuat detektif yang sibuk seperti mu sampai harus mencari ku? jangan mengatakan kau butuh bantuan ku?" kata Stephen dengan bercanda
"Ini memang ada hubungannya dengan mu" jelas Owen dengan singkat dan mengeluarkan foto dan menarohkan ke depan Stephen
"Korban ini?" ujar Stephen yang memerhatikan foto itu
"Apa kau mengenalnya?" tanya Owen
"Dia pelayan rumah ku, namanya Leo dan semalam aku memecatnya" jawab Stephen dengan menarik nafas panjang
"Dia mati di bunuh di tembak di kepala nya, apa kamu tahu apa sebab nya?"
"Owen, walau dia adalah pelayan ku tapi bukan berarti aku tahu sebab nya, apalagi dia di bunuh di luar tentu saja ini sudah tidak ada hubungan dengan ku" jawab Stephen dengan santai
"Apa kau tidak sedih? bagaimana pun dia bekerja dengan mu sudah beberapa tahun"
"Jika aku sedih apa aku harus menangis di depan mu? sudahlah jangan basa-basi apakah perlu bantuan ku? katakan saja"
"Aku hanya ingin tahu kenapa kau memecatnya?"
"Kerjanya lalai, aku tidak suka, kau tahu sifat ku" jelas Stephen dengan singkat
"Iya aku tahu, selama ini sudah berapa karyawan yang bekerja dengan mu hampir semua di pecat" jawab Owen dengan duduk bersandar
"Jadi apakah ada petunjuk dari pelakunya?" tanya Stephen dengan penasaran
"Tidak ada, lagi pula pembunuh itu sudah selalu bunuh orang, datang seenaknya dan pergi sesuka hati" jawab Owen yang sambil mengacak rambutnya
"Kelihatannya detektif Owen semakin di sibukkan dengan kasus pembunuhan" kata Stephen dengan senyum
"Sudahlah! hei...apa benar kau tidak tahu jika Leo ada musuh lain?"
"Tidak tahu, jika kau tahu pembunuhnya siapa jangan lupa beritahu aku"
"Iya, beritahu saja aku tentang Leo yang kau ketahui" kata Owen
"Aku akan beritahu apa yang ku tahu"jawab Stephen dengan santai
Setelah setengah jam kemudian Owen pun ingin meninggalkan kantor stephen setelah mengambil keterangan mengenai Leo.
"Owen, bagaimana cara mu untuk menyelidiki kasus ini?"
"Aku akan mencari pembunuh itu sampai ujung dunia, dia sangat meresahkan" jawab Owen
"Bisa saja Leo mati di tangan ku" ujar Stephen dengan senyum
Tentu saja ucapannya membuat Owen dan Jimmy terdiam sejenak
"Iya-iya perkataan mu tidak lucu sama sekali, untuk berjalan saja sudah susah bagaimana mengambil nyawa orang" jawab Owen yang bangkit dari tempat duduknya
"Aku punya banyak uang jadi aku bisa saja mengupah pembunuh bayaran, bukankah begitu?" sebut Stephen dengan senyum
"Stephen Chin, kau memang harus periksa otak mu di rumah sakit, aku pamit dulu tugas sudah selesai di sini" ujar Owen yang pergi meninggalkan kantor Stephen dengan di ikuti Jimmy
Setelah Owen pergi Stephen yang tadinya senyum berubah menjadi datar dengan tatapan yang tajam.
"Apakah menurut kalian Leo pantas hidup? jika aku ingin dia mati maka dia harus mati" gumam Stephen dengan tatapan aura membunuh
"Tangan ku mulai terasa panas lagi, Ronald paman ku yang baik sepertinya kau ingin mengambil nyawa ku, lihat saja nanti balasan dari" batin Stephen
Stephan lalu menekan nomor telefonnya yang di meja kerjanya.
Tit..
"Hallo Tuan" sapa Anton yang di kantor sebelah
"Hubungi Monica, aku ingin melihat Cherry di rumah ku malam ini" perintah Stephen
"Baik Tuan" jawab Anton di seberang sana
"Jika gadis ini bisa menyelamatkan ku akan ku buat dia selalu di sisi ku" gumam Stephen
Toko bunga
"Baiklah aku mengerti" jawab Monica yang menerima panggilan dari Anton. sesaat kemudian mereka pun memutuskan panggilannya
"Cherry, nanti kamu hantar bunga untuk Tuan Chin" ujar Monica yang menghampiri Cherry
"Baik Kak" jawab Cherry yang sibuk dengan kerjanya
"Cherry, ini apa? apa kau sedang meracik obat?" tanya Monica yang melihat tumbuhan kering di atas meja tersebut
"Benar, semua obat ini ada gunanya, mama ku pesan kita harus selalu bawa obat untuk berjaga-jaga, jadi aku ingin racik lebih banyak" jawab Cherry
"Kelihatannya kamu bisa jadi tabib karena mengenal obat tradisional" canda Monica dengan senyum
"Kakak, ini pil untuk demam, dan ini adalah penawar dan ini adalah racun" jelas Cherry yang sambil menunjukkan botol-botol di meja itu
"Penawar? racun? untuk apa kau meracik nya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 247 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Feeling Cherry selalu tajam,Seakan tau kalo Stephen memerlukan obat dari nya...👍👍👍
2023-12-13
1
Pristy Arian
ayo Cherryl selamat kan tuan Stephen
2022-08-22
0
kutu~buku◉‿◉
smoga Verry bisa menumbuhkan Stephen dari racun itu
2022-06-03
1