"Mau kemana?"
"Mau bicara kan? Ayo ikut..." Alvin menggandeng tangan Rili dan mengajaknya pergi.
Rili hanya terdiam merasakan detak jantungnya yang kian melonjak sambil mengikuti langkah Alvin. Dia menatap genggaman tangan Alvin yang terasa hangat.
Mereka berjalan ke belakang sekolah lalu berhenti di dekat gudang.
Sepi.. Iya memang sepi..
Tersadar Rili menarik tangannya agar Alvin melepaskan genggamannya.
"Mau ngomong apa? Kangen sama gue?" Alvin sedikit membungkuk untuk mensejajarkan kepalanya dengan wajah Rili. Dia kini tersenyum manis pada Rili.
Dasar buaya!
Rili mengalihkan pandangannya. "Buaya banget sih lo! Lupa kemarin habis ngerayu Dara kayak gitu."
"Ih, lucunya kalau cemburu." Alvin tersenyum sambil sedikit mencubit hidung mancung Rili.
"Ngapain juga gue cemburu sama pawang hantu!!"
Alvin semakin terkekeh mendengar celoteh Rili. Baru sehari saja mendiamkan Rili, rasanya sudah seperti satu tahun. "Sebenarnya lo tahu kan, maksud dan tujuan gue itu apa. Tapi kenapa lo masih marah-marah gini. Acting gue bagus ya?"
"Acting tapi natural gitu? Jangan-jangan perkataan lo ke gue juga acting." Rili masih saja membuang wajahnya. Dia memang cukup kesal dengan Alvin.
Alvin masih saja tersenyum. Hatinya terasa sangat bahagia mengetahui kalau Rili menunjukkan tanda-tanda kecemburuan itu. "Gak papa sih, gue tambah seneng liat lo marah kayak gini. Itu tandanya lo cinta sama gue."
Mata Rili membulat, dia kini menatap Alvin. Mereka saling menatap untuk beberapa saat dalam keterdiaman sebelum akhirnya sebuah suara keras membuyarkan tatapan mereka.
"Hei, kalian berdua gak denger bel masuk udah berbunyi 10 menit yang lalu!!"
Rili sangat terkejut. Seketika dia menjauh dari Alvin. Mengapa juga dia tidak mendengar bel masuk berbunyi.
"Kalian malah pacaran di sini." Pak Soni mendekat dan menegur mereka.
"Tidak Pak. Kami tidak pacaran." Elak Rili, tapi memang begitulah adanya. Dia tidak pacaran dengan Alvin, hanya saja ada sesuatu yang spesial.
"Tidak usah bohong! Kalian tidak usah ikut mata pelajaran pertama. Kalian Bapak hukum bersihkan perpustakaan sekarang!" Perintah Pak Soni cukup keras.
Tiada pembelaan dari Alvin, dia justru menyunggingkan sebelah bibirnya. Tentu saja, waktu bersama Rili kini bertambah panjang.
"Tapi, Pak. Kita tidak pacaran. Saya kembali ke kelas saja ya, Pak. Kan baru terlambat 10 menit."
"Tidak bisa!! 10 menit itu waktu. Bapak tidak suka ada anak murid sekolah ini yang pacaran sembunyi-sembunyi seperti ini. Cepat sekarang bersihkan perpustakaan atau mau ditambah dengan membersihkan toilet juga!!!" Pak Soni semakin geram.
"Udahlah ayo!!" Alvin menyenggol lengan Rili saat Rili akan menimpali perintah Pak Soni lagi.
Rili hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil mengikuti Alvin.
Pembicaraan belum tuntas malah dapat hukuman. Emang kalau ngobrol sama Alvin itu detik jam kayak lari-lari terus.
Pak Soni dan kedua murid yang dihukum ini masuk ke dalam perpustakaan yang sudah dijaga oleh seorang wanita penjaga perpustakaan. Sebut saja Bu Tiwi.
"Bu Tiwi, mereka saya hukum membersihkan perpustakaan ini. Tolong awasi mereka. Pekerjaan mereka harus beres sampai jam istirahat."
"Baik, Pak."
Setelah Pak Soni pergi, Bu Tiwi menghampiri mereka berdua. "Mau pacaran lebih lama kan? Sana sambil bersih-bersih aja. Tata buku-buku itu secara rapi dan bersihkan semua debu-debu yang ada." Bu Tiwi menunjuk rak-rak dengan buku-buku yang amburadul dan debu-debu yang bertebaran.
Rili menghela napas panjang. Rak sebanyak itu kapan selesainya. "Tapi kami tidak pacaran, Bu." Rili masih saja berusaha mengelak.
"Loh, kalau kalian gak pacaran kenapa bisa berduaan? Jangan-jangan kamu selingkuhan ya?" Bu Tiwi menuding Rili yang membuat Rili merasa tersindir.
"Aduh Bu, pacar satu aja nraktir pakai duit orang tua, apalagi dua." Rili kini beralih mengambil peralatan bersih-bersih agar tugasnya cepat selesai.
Sedangkan Alvin masih saja terkekeh.
"Sudah, sudah, cepat selesaikan. Jangan berisik ya. Saya mau baca novel online dulu." Bu Tiwi kembali duduk di tempatnya lalu fokus pada ponselnya.
Alvin berjalan mendekati Rili yang sedang mengambil buku di rak-rak untuk membersihkan debu-debu yang ada di dasar rak. Tak bisa pelan hingga debu bertebaran.
"Bisa gak, pelan-pelan."
"Lo dihukum seneng banget. Dari tadi senyum-senyum terus."
Alvin mengambil alih kemoceng yang ada di tangan Rili lalu menggantikan pekerjaannya. "Ya udahlah. Lo duduk aja biar gue yang kerjain."
"Emang lo bisa bersih-bersih?"
Alvin tak menjawab. Dia justru mengambilkan Rili kursi agar Rili bisa duduk dengan santai. "Lo duduk aja."
Rili kini duduk sambil mengamati gerak-gerik Alvin. Memang, dia cukup cekatan juga. Bisa cepat selesai kalau dia yang mengerjakan. Rili tersenyum kecil, memang pria idaman.
Eh, gue kan ketemu sama Alvin mau bahas soal mimpi gue semalam...
Rili teringat kembali dengan tujuannya untuk bertemu Alvin. "Vin, sebenarnya dari tadi gue mau ngomong soal Dara sama lo."
Alvin menghentikan aktivitasnya lalu menoleh Rili.
"Lebih baik lo jujur sama Dara kalau lo cuma pura-pura."
Alvin masih terdiam.
"Lo memang cuma pura-pura kan?"
...***...
.
.
.
.
Bonus up yes..
Bisa kali like dan komennya dibonusin juga... 🤭🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Ratna Agustian
lanjut kakak ,,,,
like + 🌹sudah sampai ya 😉
2022-01-31
1
Noviani
udah dara ma Rasya aja yaa, biarin rili ma alvin
2022-01-31
1