"Ini semua bukan milik kamu!!!"
Apa?! Dimana aku? Kenapa aku ada di sini lagi??
Rili berada di sebuah ruangan gelap lagi. Ingin dia melangkahkan kakinya tapi terasa sangat berat. Bahkan dia sama sekali tidak bisa berkutik.
"Kembalikan!! Itu bukan milik kamu!!" Suara mengerikan itu kembali terdengar.
Rili semakin tercekat saat bayangan hitam itu terlihat nyata. Ingin dia berteriak tapi mulutnya terkunci rapat.
Sosok mengerikan itu semakin mendekat. Dia menatapnya tajam dengan penuh amarah. Dia tunjukkan kuku-kuku tajam yang kini semakin mendekat ke arah Rili.
"Kembalikan!!" Sosok itu semakin mendekat dengan tangan yang ingin meraih leher Rili.
"Rili, ayo pergi!!!"
Suara ini...
"Rili, ayo!!!"
Tangan hangat itu menggenggam tangan Rili. Dia menariknya pergi menjauh dari sosok mengerikan itu.
Alvin!!!
Seketika Rili terbangun dari mimpinya. Dia terduduk lalu mengusap keringat yang ada di pelipisnya. Berusaha menenangkan dirinya dan menarik napas dalam agar detak jantungnya kembali stabil.
Rili melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Kenapa gue mimpi hantu itu lagi? Apa maksudnya? Lalu kenapa ada Alvin yang nolong gue?
Rili semakin bingung dengan mimpinya. Dia kini turun dari ranjang lalu beralih duduk di kursi meja belajarnya.
Semoga, itu semua hanya mimpi.
Rili mulai mengecek barang-barang yang akan dibawa camping. Setelah itu dia menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya. Tak butuh waktu lama lalu dia berganti pakaian.
Dia berkaca lebih lama dari biasanya hanya untuk menyesuaikan outfit yang cocok dia pakai. Setelah itu dia keluar untuk sarapan.
Terlihat Rasya sudah duduk berhadapan dengan Papi bersiap untuk sarapan.
"Rili, Mami baru aja mau susul kamu ke kamar."
"Iya, Mi." Rili kini duduk di sebelah Rasya dan mengambil sarapan yang sudah siap di atas piring.
"Berangkat Papi antar saja ya. Rasya gak usah bawa motor, biar sekalian."
"Iya, Pi."
Mereka segera menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara seperti biasanya karena dikejar oleh waktu.
"Mami, kita berangkat dulu ya." Rili mencium tangan maminya.
"Iya, hati-hati ya sayang." Lalu Lisa mencium kedua pipi putrinya itu.
Kini berganti Rasya yang mencium tangan Maminya. "Berangkat dulu ya, Mi."
"Iya. Jaga adik kamu ya."
"Siap, Mi." Mereka berdua berjalan ke depan rumah menuju mobil.
"Dek, tas kamu mana?"
"Dibawain Papi. Berat."
"Duh, manja banget."
Rizal tersenyum sambil membawa tas Rili. Putrinya yang satu itu memang terkadang terlewat manja. "Berangkat dulu ya, Mami." Rizal mencium singkat pipi Lisa.
"Iya, hati-hati.." Lisa melambaikan tangannya saat mobil Rizal mulai melaju meninggalkan rumah.
Seperti biasa, Rili selalu memilih duduk di depan di sebelah Papinya. Sedangkan Rasya duduk di belakang bersebelahan dengan dua tas besar. Rasya kini fokus dengan ponselnya yang terhubung dengan headset di telinganya.
Jalanan yang tidak terlalu macet pagi itu membuat mobil Rizal melaju dengan cepat menuju sekolah. Kini mobilnya berhenti di lampu merah sebelum belok ke arah sekolah.
Rili yang tadinya fokus ke depan, kini menoleh ke sisi kiri saat ada sebuah motor berhenti tepat di sisi mobil. Alvin... Rili kembali teringat tentang mimpinya semalam. Dia tidak juga melepas pandangannya dari Alvin.
Tiba-tiba kaca mobil terbuka dan Rizal membunyikan klaksonnya.
Seketika itu juga Alvin menoleh ke sisi kanan dan saling tatap dengan Rili. Lalu dia membuka kaca helmnya dan tersenyum ramah pada Rizal yang melambaikan tangan ke arahnya.
Rili kini beralih menatap tajam Papinya. "Papi usil banget sih." Rili mencubit lengan Papinya saat lampu hijau mulai menyala.
Rizal tertawa. Memang terkadang dia suka menggoda putrinya itu. "Kan, kamu dari tadi liatin dia jadi sekalian aja Papi sapa buat kamu."
"Ih, Papi dia itu kan rival Kak Rasya."
"Kan rival Kak Rasya, bukan rival adek?"
"Ih, Papi..."
Rasya tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka. Dia kini masih fokus dengan ponsel yang terhubung di telinganya.
Beberapa saat kemudian mobil Rizal berhenti di depan sekolah Rasya dan Rili. Setelah berpamitan pada Papinya mereka keluar dari mobil dengan membawa tas masing-masing.
Mereka berjalan menuju beberapa bus yang telah terparkir.
"Rili, itu bus kamu yang C. Kamu hati-hati ya, aku ada di bus A."
"Iya, Kak."
"Eh, Kak Rasya." Nana datang mendekati Rili sambil tersenyum manis pada Rasya. "Tenang aja Kak, nanti Rili biar aku temani."
"Nana.." Rili menarik tangan Nana agar mengikutinya.
Sebelum pergi Nana melambaikan tangan pada Rasya sambil tersenyum.
"Nana, lo masih aja centil sama Kak Rasya." Rili kini berhenti di dekat bus yang akan dia naiki.
"Kakak lo tambah ganteng aja."
Rili kini terdiam saat ada dua orang senior di depan mulai mengatur.
"Baris yang rapi. Kita absen dulu." Salah seorang senior mulai memanggil nama satu persatu.
"Agar tidak berebut tempat duduk, kalian ambil nomor yang ada di gulungan kertas ini." kata Alvin setelah temannya mengabsen.
"Wah, gak bisa gitu. Di kelas lain gak pake undian."
"Iya, gak bisa pilih teman duduk sendiri dong."
Beberapa junior mulai berkomentar.
"Diam!!" Teriak Alvin yang membuat semua terdiam. "Ini program dari aku biar kalian semakin akrab satu sama lain."
Rili hanya melipat tangannya. Rencana apa yang akan dilakukan Alvin kali ini?
Alvin berkeliling membawa top kecil agar mereka mengambil gulungan kertas kecil itu satu per satu. Rili tak diberi kesempatan juga untuk mengambilnya, hingga di saat terakhir.
"Nomornya tinggal satu, jadi gak ada pilihan lain."
Rili melebarkan matanya menatap tajam Alvin. "Sengaja?"
"Gak mau? Gak usah ikut."
Akhirnya Rili mengambil kertas yang ada di tangan Alvin. Setelah Alvin pergi Rili membukanya. Nomor 37? Pasti ini di belakang.
"Na, lo nomor berapa?" tanya Rili.
"Gue nomor 6."
"Ya, jauh banget. Gue nomor 37 loh. Hampir belakang. Gak bisa ngobrol dong kita."
"Iya. Baik-baik ya. Semoga ada cowok ganteng yang nemenin lo."
Rili mengerutkan dahinya mendengar pesan Nana yang terlalu lebay.
Setelah meletakkan tas yang besar-besar pada bagasi, kemudian mereka masuk satu per satu ke dalam bus dengan tertib. Mereka hanya membawa barang penting dan cemilan yang dibutuhkan di dalam bus.
Rili memilih lewat pintu belakang. Sesuai dugaan dia, tempat duduknya berada di belakang sebelum pintu dan berada dekat dengan jendela. Dia lalu duduk sambil berpikir, siapa yang akan duduk di sebelahnya.
Sampai semua temannya masuk tak juga ada yang menempati kursi yang ada di sebelahnya sampai di detik terakhir sebelum bus berangkat, ada seseorang yang akhirnya duduk di sebelah Rili.
Rili menatap tajam ke arahnya. "Lo ngapain duduk di sebelah gue?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
mommyanis
ditemenin Alvin 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2022-12-03
1
Sri Raganti Ols
ci Alvin bisa ae,,ingt ma rizal huhu
2022-11-30
2
Noviani
mulai seru nie cerita nya, jgn" dara itu anaknya dewa ya Thor dan hantu'a itu Dewi bukan si penasaran aku.. lanjut lg dong
2022-01-17
2