"Rili..." Tidak ada sahutan dari Rili. Alvin kini beralih ke pipi Rili dan melihat wajahnya. "Rili!" Alvin menepuk pelan pipi Rili karena Rili kini memejamkan matanya dan tak ada reaksi. "Lo pingsan!! Badan lo panas banget."
Alvin meraih tubuh Rili dalam dekapannya. "Rili bangun! Rili!!" Alvin sangat khawatir dengan keadaan Rili saat ini. Akhirnya dia berdiri dan menggendongnya.
"Loh Vin, Rili kenapa?" tanya Adit yang saat itu baru keluar dari tenda.
"Rili pingsan. Lo sekarang bangunin Rasya. Buar gue bawa Rili ke posko kesehatan dulu." Alvin melangkah cepat dengan kedua tangan yang menggendong Rili.
"Iya.."
Rili ayo sadar...
Sampai di posko kesehatan, Alvin membaringkan Rili.
"Ada apa? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya salah satu tim kesehatan yang berjaga di dalam posko kesehatan waktu itu.
"Dia demam. Panasnya kayaknya tinggi banget sampai pingsan."
Bu Susi memeriksa suhu badan Rili. "Panasnya tinggi banget sampai 40°. Sebentar saya ambilkan cool fever sama obat ya."
Alvin kini mendekatkan dirinya lalu memegang tangan kanan Rili dan mengusapnya dengan kedua tangannya "Rili, sadar. Lo cewek kuat kan?! Rili!!"
Beberapa saat kemudian Rili membuka matanya perlahan. Dia kini melihat Alvin yang berada di dekatnya. Kepalanya terasa sangat pusing dan berat sekali. Dia teringat, tadi dia berada di samping Alvin sebelum dia tak sadarkan diri. "Alvin, lo yang bawa gue ke sini?" Rili mengedarkan pandangannya. Dia tahu sekarang dia sedang berada di posko kesehatan.
"Iya. Bikin panik aja sih lo pakai pingsan segala."
"Kepala gue pusing banget."
Beberapa saat kemudian Rasya datang, dia langsung menarik Alvin mundur dan mengambil alih tempat Alvin. "Rili, kamu kenapa bisa pingsan?" Rasya menyentuh kening Rili. "Badan kamu panas banget. Apa badan kamu ada yang sakit?"
Rili hanya menggelengkan kepalanya. "Rasanya aku kedinginan dan kepala aku pusing banget."
Bu Susi datang dan menempelkan cool fever di dahi Rili. "Syukurlah sudah sadar. Kamu makan dulu ya, setelah itu baru minum obat untuk pertolongan pertama nanti setelah pulang periksa lebih lanjut ke dokter ya." Bu Susi memberikan obat paracetamol.
"Iya, terima kasih bu."
"Kamu mau makan apa?" tanya Rasya.
Pertanyaan Rasya membuat kening adiknya mengerut. Camping di hutan memang bisa pilih menu makanan? "Kak Rasya masih ngantuk? Memang ada makanan apa aja di hutan?"
Rasya menepuk jidatnya. "Sangking paniknya sampai lupa kalau kita lagi camping."
Sedangkan di belakang Rasya, Alvin sedang menahan tawanya. "Biar gue ambilin roti sama teh hangat. Lo jaga aja adik lo di sini." Alvin akan melangkahkan kakinya tapi dicegah oleh Rasya.
"Tunggu dulu! Di setiap kejadian yang menimpa Rili, kenapa bisa ada lo?"
Alvin menyunggingkan senyum sebelah bibirnya. "Itu suatu kebetulan."
"Bukankah lo ada tugas jaga pagi. Kenapa lo biarin Rili ada diluar? Lo sengaja mau berduaan sama Rili?"
"Kalau lo gak tahu cerita yang sebenarnya. Jangan asal tuduh!!" Alvin membalikkan badannya dan keluar dari tempat itu.
Kini Rasya beralih menatap Rili yang sudah duduk. Menatapnya dengan rasa curiga. "Sebenarnya ada apa lo sama Alvin?"
"Aku gak ada apa-apa sama Alvin. Cuma kebetulan aja."
"Rili, jujur sama kakak. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Rili terdiam. Ingin dia bercerita sama Rasya tapi dia harus memulainya dari mana. "Kak, aku dikejar-kejar sama hantu jahat. Aku takut..."
Jelas saja, Rasya tidak akan percaya dengan perkataan Rili. "Hantu? Rili mana mungkin ada hantu. Makanya kamu jangan sering-sering nonton film horor."
Rili mendengus kesal. Memang kalau Rasya tidak melihatnya secara langsung mana mungkin dia percaya padanya. "Tuh kan, Kak Rasya gak percaya. Memang cuma Alvin yang percaya, dia juga bisa lihat hantu itu."
"Oo, jadi kamu sekarang lebih belain Alvin. Kamu suka sama Alvin?" tanya Rasya secara langsung. Dia tidak mau lagi ada yang disembunyikan oleh Rili.
Rili hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Rili, jujur sama kakak!"
"Nggak. Apaan sih Kak Rasya itu selalu aja ingin tahu perasaan aku. Kalau aku cerita gak pernah percaya. Bantu gitu adiknya ini kabur dari kejaran hantu itu. Aku takut, Kak. Benar-benar takut." Rili kini memeluk Rasya. Dari luar Rili memang terlihat kuat tapi sebenarnya dirinya sangat rapuh.
"Aku bisa bantu apa? Aku aja gak tahu hantu itu seperti apa?" Rasya mengusap rambut Rili lembut. Suhu panas di tubuhnya bisa Rasya rasakan. "Kamu jangan mikir aneh-aneh ya. Gak akan terjadi apa-apa. Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama Kakak."
Rili menganggukkan kepalanya. "Kak jangan ceritain semua ini sama Papi dan Mami ya. Aku gak mau mereka khawatir."
Rasya melepas pelukannya lalu mengusap kepala Rili. "Iya."
Beberapa saat kemudian Alvin datang dengan membawa roti dan segelas teh hangat. Dia berjalan mendekat dan memberikan roti itu pada Rili agar segera dia makan. "Lo makan ya. Di habisin terus minum obat biar sehat."
Mendengar perkataan Alvin, Rasya merasa tersaingi. Dia kini menatap Alvin yang juga berdiri di sisi Rili. "Lo perhatian banget sama adik gue!?"
Alvin hanya melirik Rasya tanpa membalas perkataannya.
"Mending sekarang lo atur murid lain lalu nanti lo gantiin gue di acara penutup." Suruh Rasya.
"Oke. Kalau bukan karena Rili sakit, gue gak mau lo suruh-suruh." Alvin mengusap lembut pipi Rili sesaat sebelum dia keluar meski Rili sempat menghindar. "Cepat sembuh ya."
"Hei!! Lo jangan pegang-pegang adik gue!!"
Mendengar bentakan dari Rasya, Alvin segera keluar. "Gak kakak, gak adik sama aja tukang bentak."
...***...
Acara camping pun selesai. Semua murid kini bersiap untuk pulang saat hari sudah menjelang siang.
"Nih, tas lo udah gue rapiin. Tenang aja barang lo dijamin gak ada yang ketinggalan." kata Nana yang meletakkan tas Rili di dekatnya.
Rili masih berdiri di samping Rasya dengan rengkuhan tangan Rasya di pundaknya.
"Makasih, Na." kata Rasya karena Rili saat itu tidak merespon kehadiran Nana.
Senyum Nana mengembang. Hanya ucapan terima kasih dari Rasya saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga. "Sama-sama Kak Rasya. Kalau ada yang dibutuhkan lagi, aku siap membantu."
Rasya tak menimpalinya lagi. Dia kini berusaha membawa tas Rili dengan tangan kirinya sedangkan Rili semakin bersandar pada pundaknya ditambah beban tasnya sendiri di punggungnya.
"Sini, gue bawain." Alvin meraih tas Rili yang ada di tangan Rasya karena dia masih punya rasa iba, lalu dia berjalan mendahului mereka.
Setelah menaruh tas dalam bagasi, mereka naik ke dalam bus satu per satu.
"Rili, aku duduk di sebelah kamu ya. Siapa yang ada di sebelah kamu? Kalau gak ada tempat kosong biar dia pindah ke bus A."
Mendengar perkataan Rasya, Alvin cukup kecewa. Hilang sudah kesempatannya untuk kasih perhatian ke Rili.
"Aku ada di sebelah Alvin."
Alvin lagi!
Kini Rasya dan Alvin saling tatap tajam. Bagaimana jika saingannya kali ini adalah kakak kandung Rili? Alvin jelas tidak bisa merebutnya.
💞💞💞
Jangan lupa like dan komen ya, biar semangat... 😤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Lina Suwanti
jgn² mahkluk itu bukan hantu tp penunggu cincin pemberian mamanya Dewa,dah gitu mungkin Dara anak Dewa n Karin
2025-02-20
0
Sri Raganti Ols
Rasya kalem yaa jgn ambekan terus,,wikwik
2022-11-30
2
Nurhalimah Al Dwii Pratama
lucu😂😂😂
2022-02-21
0