"Rili, udahlah gak usah nangis gini. Biasanya lo juga gak baperan kan?" Nana kini menemani Rili duduk di taman belakang sekolah.
Rili masih saja mengusap air matanya yang mengalir tanpa permisi.
"Emangnya ciuman Zaki barusan kena? Lo udah ngeles kan?"
Rili hanya menggelengkan kepalanya.
"Emang kurang ajar tuh Zaki."
Rili masih saja merenungi dirinya. Sebenarnya dia itu menangis karena siapa sih?
"Eh, tunggu dulu. Lo itu nangisin tindakan Zaki atau patah hati sama Alvin sih sebenarnya?"
Rili kini menatap Nana. Dia semakin mewek saja.
"Ya ampun, bener loh lo patah hati sama Alvin."
"Jangan asal lo kalau ngomong." Rili mengusap sisa-sisa air matanya. Dia berusaha menahannya agar tidak mengalir lagi. "Orang nyebelin kayak gitu, ngapain di tangisin." Selalu, lain di mulut lain di hati. Rili ingat, Alvin kemarin hanya bilang akan membantunya. Ya, membantu dengan jalan menyakitkan seperti ini.
"Rili!!" Kini Rasya datang dan berdiri di dekatnya. "Tadi teman aku bilang kamu diganggu sama Zaki lagi? Iya?"
Rili hanya menganggukkan kepalanya.
"Kurang ajar dia!! Ini gak bisa dibiarin. Dia gak ada kapoknya deketin kamu!"
Kali ini Rili tidak menahan Rasya untuk membuat perhitungan dengan Zaki.
"Udah jangan nangis. Kamu ke kelas ya." Rasya mengusap pelan pipi Rili.
"Patah hati tuh, Kak." Goda Nana.
"Patah hati?"
"Nana, apaan sih." Rili kini berdiri dan melangkahkan kakinya pergi.
"Patah hati sama Alvin, Kak." Nana masih saja menggoda lalu mengikuti langkah Rili.
"Nana, udah jangan nyebar gosip."
Rasya melipat tangannya sambil melihat punggung adiknya yang kian menjauh.
Kayaknya Rili beneran udah jatuh cinta sama Alvin...
...***...
Setelah dari kantin, Dara kembali ke kelas sedangkan Alvin kini menuju toilet yang kebetulan dia berpapasan dengan Zaki. Dia menarik paksa Zaki masuk ke dalam toilet yang sepi.
"Apaan lo?!" Zaki berusaha melepaskan sergapan Alvin.
Tanpa bicara lagi, Alvin langsung mendaratkan pukulan keras di pipi Zaki yang membuat Zaki terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Maksud lo apa?"
"Lo jangan pernah ganggu Rili lagi!!" Alvin menuding Zaki di depan wajahnya. Dia memperingatkan Zaki cukup keras.
"Lo aja pacaran sama cewek lain. Kenapa gue gak boleh deketin Rili?!" Zaki kembali menantang Alvin.
Satu pukulan kembali didaratkan Alvin. "Karna Rili gak suka lo deketin. Jangan pernah maksa dia!!"
Zaki mengusap bibirnya yang berdarah. Dia kini berniat membalas pukulan Alvin tapi gagal dengan cepat Alvin menahan tangan Zaki.
"Mau lawan gue, jangan harap." Alvin menepis tangan Zaki lalu dia keluar dari toilet.
Beberapa saat kemudian, ada Rasya yang datang menemui Zaki. Dia tidak kalah marahnya seperti Alvin. "Lo jangan pernah dekati Rili!!" Ingin dia juga menghajar Zaki tapi terhenti karena Rasya melihat luka lebam di wajah Zaki.
Siapa yang sudah hajar Zaki? Apa Alvin?
"Maaf Kak. Bukan maksud aku ganggu Rili. Tapi aku masih cinta sama Rili."
"Kalau Rili gak mau jangan maksa dia!!" Setelah memperingatkan Zaki, Rasya membalikkan badannya lalu berjalan kembali menuju kelasnya.
Sebenarnya Rasya masih penasaran dengan Alvin. Kalau dia memang suka sama Rili kenapa dia harus kembali dengan Dara.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Bagai macan yang lepas dari kandang. Murid SMA ini dengan cepat keluar dari sekolah. Tapi siswi cantik satu ini malah berjalan seperti siput saat melihat dua pasang manusia yang berjalan beberapa meter di depannya.
Sampai pulang harus bersama gitu. Ah, lagian ngapain sih kayak sengaja banget jalan berdua di depan gue. Emang sih hantu itu gak muncul lagi, udah ada pawangnya. Tapi.. Duh, perasaan gue kalang kabut gini.
"Rili!!" panggilan Rasya membuat Rili terkejut. "Jalan pelan banget. Ayo!!" Rasya menarik tangan Rili agar berjalan dan mendahului mereka.
Mereka sama-sama berhenti di tempat parkir. Kedua kakak adik ini sebenarnya masih saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Alvin dan Dara. Bahkan sampai mereka berboncengan dan pergi dari tempat parkir.
Backsound lagunya Armada dengan judul Harusnya Aku seolah-olah terdengar di telinga mereka.
Rili kini beralih melirik Rasya yang sedang mengunci sepeda motor. Rasya masih saja menautkan alisnya seolah memikirkan sesuatu.
"Kak Rasya kenapa? Cemburu ya?"
Rasya beralih menatap Rili. "Gak kebalik? Tadi siapa yang nangis-nangis liat Alvin sama Dara."
Rili memukul lengan Rasya untuk menutupi tuduhan itu benar adanya. "Apaan sih. Aku gak nangis."
Rasya memakai helmnya lalu naik ke atas motor. "Kamu jangan terlalu berharap sama Alvin. Sakit sendiri kan jadinya."
"Siapa yang berharap." Setelah memakai helmnya Rili naik ke boncengan Rasya. "Udah yuk, cepat pulang. Aku ngantuk mau tidur."
"Dasar tukang molor." Motor Rasya akhirnya melaju meninggalkan sekolah.
...***...
Alvin menghentikan motornya di depan rumah Dara.
"Kak Alvin, mampir yuk?" Ajak Dara setelah turun dari motor Alvin.
"Boleh."
Setelah Dara membuka pintu pagar rumah, Alvin memarkirkan motornya di halaman teras rumah Dara. Setelah itu Alvin mengikuti langkah Dara untuk masuk ke dalam rumah yang telah terbuka.
"Dara pulang sama siapa?" tanya Mama Dara yang saat itu sedang duduk di ruang tamu.
Alvin tersenyum sambil mencium tangan Mama Dara. "Apa kabar tante?"
"Loh, ini Alvin yang dulu itu? Kalian satu sekolah sekarang?" Ya, dulu Mamanya Dara memang sempat bertemu dengan Alvin beberapa kali.
"Iya tante."
"Duduk dulu ya.." Mama Dara kini berdiri dan mempersilahkan Alvin duduk. "Kalian ngobrol dulu biar tante buatkan minum."
"Tidak perlu repot-repot tante."
"Iya gak papa." Mama Dara masuk ke dalam dan menuju dapur.
"Kak, aku ganti baju dulu ya."
"Iya."
Dara masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Alvin kini matanya sibuk menelusuri setiap sudut rumah Dara. Banyak foto-foto yang berjajar di tembok maupun di bufet.
Alvin berdiri dan berjalan menuju bufet. Terlihat foto-foto lama yang berjajar di sana.
Kayaknya ini foto Papanya Dara waktu muda. Alvin menyentuh dan mengamati foto itu satu- persatu, hingga tangannya terhenti pada salah satu foto keluarga. Gadis ini? Alvin mengambil bingkai foto itu dan semakin mendekatkan penglihatannya untuk memastikan. Kayak dia? Dengan cepat Alvin mengambil ponselnya dan memotretnya.
"Kak Alvin lihat apa?"
Alvin sedikit terkejut dengan kedatangan Dara. Dia cepat-cepat kembali menyimpan ponselnya. "Lagi lihat-lihat foto. Ini foto Papa kamu waktu masih muda ya? Ganteng ya..." Alvin sedikit basa-basi.
"Sekarang juga masih ganteng." Kata Dara sambil tersenyum.
"Iya sih. Kalau ini siapa?" Alvin menunjuk foto seorang gadis yang berdiri di samping Papa Dara.
"Ooo, itu kakaknya Papa."
Alvin meletakkan kembali bingkai foto itu lalu kembali duduk. Dia harus bisa mengorek informasi lebih lanjut. "Kamu cuma tinggal bertiga di sini?"
"Iya."
"Kakek sama nenek kamu tetep di Surabaya?" Kali ini Alvin harus banyak bertanya. Dia ingat dulu Dara masih tinggal dengan Kakek dan Neneknya di Surabaya.
"Nenek udah gak ada. Kalau Kakek sekarang tinggal sama Adiknya di Surabaya."
"Kalau kakaknya Papa kamu?"
"Itu..."
Perkataan Dara terputus karena Mama Dara datang sambil membawa dua gelas minuman dingin lalu meletakkan di atas meja. "Diminum ya.."
"Terima kasih, Tante."
Alvin menghela napas panjang. Sedikit lagi informasi penting itu akan dia dapat.
💞💞💞
Sudah ada titik terang ya guys... 🤭🤭🤭
Ayo Alvin, bantu Rili dengan jalan yg menyakitkan.. Eh... 😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Beneran ngena bgt baca sambil dengerin lagu armada "Harusnya Aku",perih thor 😭,,trus ada yg janggal mama nya dara bukanya karin ya apa dewa ga jadi nikahnya,nah loh ini misteri juga ya,,lanjut thor
2022-12-01
0
➷𝕯𝖊𝖜𝖎 ๖ۣۜℜin∂u❀
mungkin dewi minta cincin nya dikembalikan
2022-06-09
0
Dewi Kartika
koq busa Dewi jadi jahaat... bukanny kmren dia yg mnta tlong sama Lisa mamanya rili ..huufg
2022-05-23
0