Rili menatap tajam ke arahnya. "Lo ngapain duduk di sebelah gue?!"
Alvin dengan senyum manisnya menjawab pertanyaan Rili dan menunjukkan nomor kursi yang dia pegang. "Nomor 38."
"Lo sengaja mau duduk sama gue?"
Alvin menyandarkan dirinya pada kursi. "Pede banget lo."
Rili kini berdiri dan akan pindah dari tempat duduknya. "Gue mau pindah."
"Gak bisa, udah aturan." Alvin menutup akses Rili untuk keluar.
"Gue mau pindah!!!" Rili sedikit mengeraskan suaranya yang membuat beberapa temannya menoleh ke arahnya termasuk Dara.
"Gak bisa!!"
Tiba-tiba bus berjalan yang membuat Rili kehilangan keseimbangannya. Dia terjatuh ke badan Alvin hanya kedua tangan Rili yang menahannya agar dada mereka tidak bersentuhan. Lagi, pandangan mereka bertaut sebelum akhirnya dibuyarkan oleh sorakan teman-teman lainnya.
"Ciee.. Ciee.. Awalnya sih berantem tapi lama-lama pasti juga suka."
Rili kembali duduk di tempatnya. Pipinya terasa memerah. Dia kini membuang wajahnya menatap luar jendela. Sial!!! Kenapa jantung ini detak cepat banget gini sih. Duh, nih orang sebelah gue nyusahin banget.
"Sekarang siapa yang cari kesempatan. Hmmm.." Alvin mendekatkan dirinya dan sedikit berbisik di telinga Rili.
Rili menolehnya lalu seketika mendorong wajah Alvin dengan kasar agar menjauh. "Gak sopan banget!!"
"Lo jadi cewek kasar banget."
"Lagian lo ngapain sih dekat-dekat gue terus. Udah kayak hantu yang gentayangan aja."
Alvin hanya tertawa mendengar kecerewetan Rili.
Rili tiba-tiba terdiam saat menyadari tatapan marah dari Dara yang berada 4 kursi di depan sebelah kanan. Rili baru teringat bahwa manusia yang menyebalkan di sampingnya itu milik Dara.
"Kok diem? Udah capek berargumen."
Rili kini menatap tajam Alvin. "Gue gak mau dikira jadi pelakor. Lo mau duduk sama Dara, biar gue duduk sama Nana."
Alvin memutar bola matanya. "Dara?"
"Iya, Dara kan pacar lo. Jangan sampai nama gue rusak gara-gara dicap pelakor."
Alvin justru tertawa. Dia merasa semakin gemas dengan Rili. "Dara itu masa lalu gue. Ah, lo kalau cemburu sama gue jangan asal gitu. Makanya tanya dulu daripada salah paham. Hasil info dari nguping aja dipercaya."
"Apa? Cemburu lo bilang? Mimpi!!" Rili membuang wajahnya lagi. Dia menatap jalanan sambil melipat tangannya. Setidaknya masih butuh waktu dua jam untuk sampai di tempat perkemahan.
"Dulu gue emang pernah ada hubungan sama Dara. Waktu gue masih SMP. Tapi itu udah berlalu, dia cuma cinta monyet gue aja."
"Gak ada manfaatnya juga lo cerita sama gue." Rili masih saja mengalihkan pandangannya. "Lagian cintanya juga gak ada tapi monyetnya ada di sebelah gue."
Alvin semakin gregetan dengan keaktifan Rili berbicara. Dia kini mendekatkan dirinya lagi dan berbisik lembut. "Jadi maunya apa? Cintanya yang ada di sini?"
Rili kini menoleh Alvin. Lagi, mereka saling bertatapan beberapa saat.
"Kembalikan!!!"
Suara itu...
Rili kini meluruskan pandangannya. Ada asap hitam yang menyelimuti Dara. Asap hitam itu semakin lama semakin nyata dan berubah menjadi sosok mengerikan yang selama ini berada dalam mimpinya.
Gak mungkin!! Ini pasti mimpi. Ini pasti hanya mimpi!!!
Sosok itu menatap tajam Rili dengan seringainya. Rili semakin menegang. Dia tahan dirinya untuk tidak berteriak.
Ini mimpi kan? Ini mimpi kan?
Rili mencoba mencubit lengannya sendiri tapi terasa sakit. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Apalagi saat Rili melihat sosok itu mulai menunjukkan kuku-kuku tajamnya.
"Lo kenapa?" tanya Alvin yang melihat raut ketakutan Rili.
Rili hanya bisa mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Tapi rasa merinding itu masih sangat terasa. Dia justru melihat bayangan sosok itu di kaca. Rili tersentak, dia menyembunyikan wajahnya di pundak Alvin.
"Rili..." panggil Alvin.
Rili kembali menegakkan duduknya dan masih memejamkan matanya. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya.
Dia mencoba membuka matanya lagi tapi sosok itu masih ada. Dia masih terlihat sangat marah bahkan dia mulai memajukan tangannya dan melayang ke arahnya.
"Tenangin diri lo!" Alvin menutup kedua mata Rili dengan tangannya. "Tenang. Jangan mikir apa-apa."
Rili menarik napas dalam lalu membuangnya. Beberapa saat kemudian Alvin melepas tangannya. Keadaan kembali seperti semula. Sosok hantu itu sudah tidak ada.
Rili kini beralih menatap Alvin. Apa dia tahu dengan apa yang dia lihat? Tapi Alvin begitu tenang, tidak ada ketegangan sama sekali di wajahnya.
Rili mencari minumannya di tas kecil yang dia bawa. "Ya, lupa. Ada dalam tas di bagasi." Rili hanya bisa menelan ludahnya sendiri yang hampir mengering.
Seperti tanggap apa yang dibutuhkan Rili, Alvin menawarkan air mineral yang ada dalam botolnya. "Mau minum?"
Rili hanya melihatnya saja, tanpa mengambilnya.
"Tenang aja, belum gue minum kok."
Rili berpikir sejenak, akhirnya dia mengambil botol itu dari tangan Alvin lalu meminumnya sampai habis setengah. "Makasih." Rili meletakkan botol itu di dekat jendela. Tak disangka Alvin justru mengambilnya dan langsung meminumnya.
"Loh, itu kan?" Rili melebarkan matanya. Bagaimana tidak, Alvin justru meminum botol bekas bibirnya.
"Kenapa? Gue juga haus. Lo gak punya virus kan?" Kata Alvin setelah botol itu kosong. Alvin kini tersenyum menggoda Rili.
"Gak taulah." Rili kembali membuang wajahnya. Dia kini menatap pemandangan di luar jendela yang membuatnya semakin mengantuk. Dia sandarkan kepalanya di jendela walau terasa getaran di setiap jalanan yang tidak rata, dia tetap bisa tertidur.
Alvin menatap gadis yang ada di sebelahnya. Bisa ya tidur kayak gini. Emang dasar tukang molor. Dia merasa kasihan. Dengan perlahan dia pindahkan kepala Rili ke bahunya. Urusan lo marah belakangan, yang penting lo nyaman dulu.
Alvin menatap gadis yang sekarang tidur dengan nyaman di bahunya. Entah kenapa sejak pertama bertemu dengan Rili, dia seperti menemukan seseorang yang berbeda. Dia seperti tertantang untuk menaklukkan hati Rili. Seandainya saja dia bukan adik Rasya pasti dia akan bersikap lembut tanpa ada pertengkaran yang sok sweet seperti sekarang.
Satu jam telah berlalu. Bus telah berhenti di area parkir kawasan perkemahan. Beberapa penumpang bus sudah turun. Tapi Rili belum juga bangun dari tidurnya.
"Masih molor aja nih anak. Tidur apa pingsan." Antara tega dan tidak tega, Alvin membangunkannya meski dengan kata-kata kasar. "Woy, bangun!! Lo kira gue bantal!!"
Teriakan Alvin di dekat telinganya berhasil membangunkan Rili. Dia mengerjapkan matanya. Bukan terkejut dengan suara Alvin tapi dia sangat terkejut dengan posisinya yang sedang bersandar di bahu Alvin.
"Astaga!!" Rili menegakkan dirinya. "Lo udah apain gue!!"
"Hah?? Lo yang tidur malah gue yang dituduh. Terserah lo!" Alvin berdiri lalu keluar dari bus.
Rili masih terbengong. Masak iya, dia bisa menyandarkan dirinya di pundak Alvin. Dia merasa tidur yang singkat itu sangat nyaman, bahkan semua mimpi-mimpi buruknya seolah terlupakan.
💞💞💞
Alvin 😍
Jangan lupa like dan komen...
update setiap hari jam 12 siang ya..
Jangan lupa yang belum baca cerita sebelumnya cus mampir ke Aku Melihatmu dulu..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Erna M Jen
bagus ceritanya ..ada lucunya dan seru bikin penasaran
2024-07-31
0
mommyanis
mgknkah Dara ad hubungan dg bayangan hitam itu ????? 🤔🤔🤔🤔.ditunggu kelanjutanx y thor 👍👍👍👍👍
2022-12-03
1
Sri Raganti Ols
Aahh Alvin,,meni jadi syuka ma Alvi ih,,ternyata dia juga mirip mirip rizal sikapnya,,galak tapi perhatian,,terutama dia lbh peka ternyata ma yg dirasain,ketakutan rily,,cpt jadian yaa,,pingin berbunga bunga lagi thor,,,heheh,,,tapi thor penasaran knp arwah dewi ko jd galah,menyeramkan,apa jgn jgn bukan arwah dewi tp apa nenek moyang dewa,dewi gt,ga terima jika cincin keturunannya dipake org lain?? lanjut aja penasaran thor heheh
2022-11-30
2