"Alvin, lo ngapain ke rumah gue?" tanya Rasya saat melihat Alvin berada di depan rumahnya. Rasya menghampiri Alvin karena Alvin beberapa kali melambaikan tangannya ke arah balkon kamar Rili.
"Gue, mau ketemu Rili."
Rasya kini melihat ke arah atas, ternyata Rili sudah tidak ada di depan kamarnya. "Kalau mau bertamu itu yang sopan! Lagian lo ngapain mau ketemu adik gue? Sampai bela-belain ke rumah gue." Bagai seorang satpam penjaga rumah, Rasya terus menginterogasi Alvin.
"Ya, mau tahu keadaannya," jawab Alvin. Meski sebenarnya dalam hati dia mendumel karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan Rasya.
"Gak usah sok care lo. Mending lo pulang aja."
"Lo kenapa usir gue, gue itu mau ketemu sama Rili bukan lo." Alvin akan melangkahkan kakinya menuju pintu tapi lagi-lagi dicegah oleh Rasya.
"Rasya ada siapa?" tanya Rizal yang mendengar ada sedikit keributan. Dia akhirnya keluar dan menemui Alvin. "Ada teman kamu kok gak di suruh masuk?"
Alvin tersenyum dengan ramah lalu mencium tangan Rizal. "Maaf Om, saya mau bertemu dengan Rili. Apa boleh?"
Rizal ingat betul, dia adalah cowok yang sempat Rili perhatikan secara diam-diam itu. "Iya boleh. Silahkan masuk."
"Saya tunggu di teras depan saja, Om."
"Gak papa masuk saja. Saya panggilkan Rili dulu ya." Rizal masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Rasya.
"Kok Papi malah panggilin Rili. Alvin itu rival Rasya, Pi."
"Dia rival kamu, bukan rival adik kamu kan? Sudah biarkan saja, keliatannya dia juga anak baik-baik." Rizal naik ke atas menuju kamar Rili.
Akhirnya Rasya menyerah dan membiarkan Rili bertemu dengan Alvin.
"Rili ada teman kamu." Rizal mengetuk pintu kamar Rili.
Sebenarnya Rili memang sudah bersiap untuk keluar kamar. Dia membuka pintunya dan berpura-pura tidak tahu siapa yang datang. "Siapa, Pi?"
"Cowok yang kamu taksir." Goda Rizal pada putrinya ini.
"Papi.." Pipi Rili merona dia melangkah cepat lalu turun dari tangga. Melihat ke ruang tamu, sosok Alvin tidak ada, ternyata Alvin tengah duduk di kursi teras depan rumah.
"Rili.." Alvin tersenyum saat Rili kini sudah duduk di dekatnya.
"Kenapa gak masuk ke dalam?"
Alvin menggelengkan kepalanya. Bukannya dia sungkan atau malu tapi dia tahu pasti Rasya akan berusaha untuk menguping. "Di sini aja. Gue cuma bentar kok."
Ngapain cuma bentar ke rumah gue? Eh, duh ngapain juga gue ngarep dia lama-lama. Dia kan calon buaya.
"Gimana keadaan lo? Udah sembuh?" Pertanyaan Alvin membuyarkan keinginan semu Rili.
"Udah. Lo ada perlu apa ke rumah gue?"
"Ya, ingin tahu keadaan lo. Semalam gue gak bisa tidur mikirin lo."
Rili mengernyitkan dahinya. Haruskah dia percaya dengan calon buaya satu ini. "Kalau jenguk orang sakit itu bawa oleh-oleh."
Alvin tersenyum. Ya, tentu saja itu tidak terpikirkan olehnya. "Oiya, gue lupa. Nanti aja ya nyusul."
"Nggak usah. Gue cuma bercanda."
Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Lisa keluar dan sudah membawa segelas minuman dingin. "Kok ngobrol di luar? Masuk ke dalam gih?" Suruh Lisa setelah meletakkan segelas minuman di depan Alvin.
"Saya cuma sebentar tante. Di sini saja."
"Ya sudah. Diminum ya."
"Terima kasih, tante. Maaf merepotkan."
"Gak papa." Setelah itu Lisa kembali masuk ke dalam rumah.
Rili hanya memutar bola matanya. Sekarang kedua orang tuanya sudah tahu wujud Alvin. Pasti setelah ini mereka akan terus menggodanya.
"Orang tuanya aja masih muda dan cakep pantesan anaknya high quality." Kata Alvin dengan suara pelan tapi nyaris saja ditangkap oleh telinga Rili.
"Apa lo bilang?"
"Hmm, nggak. Apa lo semalam mimpi hantu itu lagi?" tanya Alvin menuju topik yang sebenarnya ingin dia bahas.
Rili menatap Alvin sesaat. Bayangan mimpi itu masih saja teringat. "Iya, lebih menakutkan dari pada hantu." Karena sosok dalam mimpi yang sekarang ada di hadapannya ini sudah mampu membuat hatinya resah dan galau tanpa alasan.
"Serius?"
Rili terdiam. Sebenarnya dia ingin bertanya pada Alvin, apa dia akan kembali bersama Dara? Tapi jelaslah, itu tidak mungkin dia tanyakan.
"Gue akan bantu lo."
"Dengan cara apa lo akan bantu gue?"
Alvin terdiam. Dia hanya menatap Rili sambil tersenyum. "Lo tenang aja ya. Pokoknya gue akan bantu lo."
"Lo akan kembali sama Dara?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir Rili yang sedari tadi dia tahan. Dia tahu, itu hak Alvin jika memang ingin kembali pada Dara. Toh, Rili juga bukan siapa-siapanya.
Alvin hanya terdiam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan dari Rili.
"Kalau iya, lo habisin minuman lo terus lo pulang." Rili mengambil keputusannya sendiri. Bagi dia, diam sama dengan iya. Rasa marah tanpa alasan itu lagi-lagi muncul.
"Kok lo marah?"
"Di sini bukan penangkaran buaya."
"Hah?" Memang perkataan Rili itu lebih dahsyat dari perkiraan Alvin. Dia kini meminum segelas minuman itu sampai habis sambil menatap Rili yang masih terlihat bad mood. Satu senyuman terulas di bibir Alvin setelah meletakkan gelas yang telah kosong ke meja. "Memang cctv lo lebih canggih dari pada apapun. Lo tenang aja, gak usah cemburu gitu."
"Siapa yang cemburu. Itu juga bukan urusan gue!!"
"Oke." Alvin kini berdiri. "Kalau gitu gue pulang sekarang. Orang tua lo mana, gue mau pamit."
"Gak usah. Gak penting juga lo." Rili membuang mukanya dari Alvin.
Alvin justru berjalan mendekati Rili dan membungkukkan dirinya untuk berbicara di dekat telinga Rili. "Semua yang akan gue lakuin itu buat lo. Lo jangan marah.."
"Siapa yang..." Mata Rili membulat saat dia memutar kepalanya justru wajah Alvin berada di dekatnya. Berani sekali dia dekat-dekat di depan rumahnya. Secara reflek Rili mendorong Alvin cukup keras hingga dia jatuh ke belakang.
Kebetulan Rizal saat itu keluar dari rumah karena mendengar mereka masih saja mengobrol di luar rumah. "Rili, ada apa?"
Seketika Alvin berdiri lalu tersenyum malu.
"Dia kurang ajar, Pi."
Rizal kini beralih menatap Alvin.
"Maaf Om. Bukan maksud saya kurang ajar sama Rili. Maaf.."
"Rili, jangan terlalu kasar gitu ya..." Memang sifat Rili sangat berbanding terbalik dengan Maminya yang lemah lembut.
Rili kini berdiri. "Udah, lo pulang aja!" Lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Sabar ya. Rili memang anak yang terlalu aktif." Rizal menepuk pundak Alvin sesaat.
Aktif? Iya, dari bicara sampai tingkah lakunya Rili memang sangat aktif. "Iya Om saya sudah mengerti. Saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu anak, Om." Alvin mencium tangan Rizal untuk berpamitan lalu berjalan menuju motornya.
Rizal melipat kedua tangannya sambil melihat Alvin yang telah mengendarai motornya keluar dari rumahnya.
Dasar, anak muda...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Alvin lbh baik jgn pura pura balikan ma dara,karna sama aja ngash harepan trus nyakitin hati dara dong,cari cara lain aja ya vin,smga alvin bisa nyari jln kluar lainya jd bisa jaga dua hati sekaligus,,,
2022-12-01
2
Noviani
rili cemburu 🤭
2022-01-28
0