Pagi itu, seperti biasa Rasya dan Rili berangkat bersama menuju sekolah. Jalanan yang cukup ramai membuat Rasya tidak bisa melajukan motornya dengan cepat.
"Hari Senin macet banget!!" Rasya mulai mendumel sendiri. Dia sangat tidak sabaran saat menunggu mobil di depannya yang gagal dia selip.
"Santai aja Kak, kan masih pagi." Kata Rili yang berada di belakang Rasya.
Beberapa saat kemudian mobil yang berada di depan Rasya berhenti di depan sekolah mereka. Rasya semakin memelankan laju motornya saat melihat Dara keluar dari dalam mobil itu.
Rasya kini menjalankan motornya dan sedikit berhenti di samping mobil Papa Dara. Kaca mobil Papa Dara memang terbuka waktu itu membuat Rasya bisa melihat siapa sebenarnya Papa Dara.
Om Dewa...
Rasya membulatkan matanya. Memang benar dugaannya selama ini bahwa Dara adalah anak dari Dewa, sahabat kedua orang tuanya yang sudah seperti keluarga sendiri bagi mereka. Sudah hampir 5 tahun mereka tidak menjalin komunikasi lagi.
Tiinnn!!! Suara klakson yang cukup keras kini membuat motor Rasya kembali melaju dan berbelok memasuki gerbang sekolah.
Motor Rasya parkir dengan mulus di tempat parkir sekolah. Dia masih saja memikirkan Om Dewa yang tiba-tiba seperti menghilang dan menjauh dari keluarganya ditambah Dara yang seolah-olah sudah melupakannya.
"Kak Rasya melamun aja dari tadi. Kenapa?" tanya Rili yang kini sudah turun dari motor Rasya dan membuka helmnya.
"Gak papa. Kamu duluan aja ya."
"Oke." Rili kini berjalan meninggalkan Rasya. Bukan berjalan ke kelas tapi justru dia kini mengikuti seseorang yang sangat ingin dia ketahui apa yang akan dilakukannya dengan Dara. Alvin?
Rili mengikuti mereka sampai ke taman belakang sekolah dan bersembunyi di balik tembok.
Jadi bener Alvin mau balikan lagi sama Dara?
"Ra, aku sebenarnya mau bicara sama kamu dari kemarin."
Dara menghela napas panjang. "Apalagi Kak? Bagi aku udah jelas. Aku hanya masa lalu kan?"
"Bukan itu maksud aku. Kita bisa mulai semua dari awal lagi."
"Dari awal lagi?"
"Iya." Alvin meraih kedua tangan Dara dan menggenggamnya. "Kita mulai dari awal bukan hanya sekedar cinta monyet seperti dulu. Kamu mau kan kembali bersama aku?"
"Lalu Rili?"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Rili bukan siapa-siapa aku."
Walau ini semua sudah menjadi skenario dalam mimpinya tapi mengapa rasanya masih teramat sakit. Hati Rili bagai diiris sembilu. Pangeran yang akan selalu melindunginya kini telah hilang.
Ini air mata rese' banget sih. Gue itu bukan cewek cengeng!!
Rili mengusap asal air matanya yang berhasil lolos beberapa bulir. Dia membalikkan badannya yang justru menabrak Rasya.
"Kamu ngapain di sini?"
Rili hanya menggelengkan kepalanya sambil mengalihkan wajahnya agar Rasya tidak melihat mata merahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Rasya tapi Rili justru melangkahkan kakinya lebar untuk pergi.
Rasya kini beralih melihat apa yang dilihat Rili. Saat itu, Alvin masih menggenggam tangan Dara. Sedangkan Dara dia masih saja menatap Alvin dengan senyum bahagianya.
Rasya mengepalkan tangannya.
Alvin apa lo cuma mau mainin Rili!!
Ingin dia menghajar Alvin saat itu, tapi dia berusaha meredam emosinya sendiri. Dia tidak mau merusak kebahagiaan Dara. Walau hatinya sendiri terasa tercabik.
Dia ingat, senyuman itu pernah dia dapat dari Dara di lima tahun yang lalu saat dia berkunjung ke Surabaya bersama Papinya. Walau saat itu Rasya masih bocah SMP, dia sudah menyukai Dara. Senyuman Dara dan genggaman tangan Dara yang hangat kala itu mampu mencairkan hatinya yang dingin.
Itu hanya masa lalu, sekarang saat mereka bertemu lagi semua sudah berubah. Dara berubah menjadi sangat dingin padanya bahkan seolah Dara tidak mengenal Rasya sama sekali.
Rasya membalikkan badannya dan berjalan pelan. Membiarkan dua insan yang Rasya anggap sedang jatuh cinta itu bersama.
...***...
"Jari gue kenapa sakit gini sih." Rili membasuh jarinya yang tersemat cincin itu lalu berusaha melepas cincinnya. "Masak iya baru beberapa hari cincin ini makin kecil."
Rili masih berusaha dengan keras melepas cincin itu sampai jarinya memerah karena cincin itu terasa semakin kencang melingkar di jarinya. "Ini gimana bisa lepas sih! Sakit gini. Gak cuma hati gue aja yang sakit ternyata." Rili semakin uring-uringan akhirnya dia mematikan kran wastafel dan membiarkan cincin itu masih melekat di jarinya.
Rili keluar dari toilet. Dia berjalan menuju kelas. Dia masih saja merutuki dirinya sendiri, mengapa juga hati ini bisa sakit.
Langkahnya terhenti sesaat ketika dia berpapasan dengan Alvin. Mereka saling pandang beberapa detik sebelum akhirnya Rili membuang muka dan berjalan melewati Alvin.
Alvin menghentikan langkahnya. Dia sempatkan dirinya untuk menoleh Rili walau yang nampak kini hanya punggung Rili yang kian menjauh.
You will be okey, Rili...
...***...
Saat istirahat, suasana hiruk pikuk kantin tak mengganggu konsentrasi Rili mengaduk minuman dinginnya dalam gelas plastik waktu itu.
"Kusut banget mukanya kayak pakaian belum di setrika. Masih gak enak badan?" tanya Nana yang duduk di sebelah Rili sambil makan bakso. "Nih, bakso pedes mau? Biar fresh?"
Rili hanya menggelengkan kepalanya. Pandangannya kini beralih pada dua manusia yang duduk tak jauh darinya.
"Ra, kamu masih tetep suka es jeruk?" tanya Alvin.
"Kak Alvin juga kan?"
"Iya, kita samaan.."
Telinga Rili semakin memanas mendengar percakapan mereka berdua. "Na, gue balik ke kelas dulu ya.."
"Tunggu dulu, nih bentar lagi habis. Lagian lo kena-pa..." Nana melihat apa yang dilihat Rili. "Hah? Alvin sama Dara? Mereka pacaran?"
Rili tak menjawab. Dadanya semakin terasa sesak saja mendengar pertanyaan Nana.
Nana memelankan suaranya, "Li, kemaren-kemaren lo kan deket sama Alvin. Emang Alvin lo tolak sampai dia putar haluan?"
"Tolak apaan? Orang nyatain cinta aja belum." Rili menutup mulutnya. Hah, memang mulut tak bisa dijaga. Terlihat sangat berharap kan jadinya.
Nana tertawa cukup keras. "Oh, cintaku gugur sebelum berbunga..."
"Nana, jangan keras-keras..." Rili kini berdiri karena dia tidak mau Nana semakin menggodanya.
Saat melangkahkan kakinya pergi, lagi-lagi dia terhalang oleh Zaki. Dia selalu muncul di saat yang tidak tepat.
"Minggir!!" Rili mengambil langkah di sebelah Zaki tapi lagi Zaki menghalanginya.
"Lo lihat kan? Yang katanya calon pacar lo, dia malah pacaran sama cewek lain." Perkataan Zaki membuat Alvin kini menoleh ke arahnya.
Rili berusaha meredam amarahnya. "Bukan urusan lo!! Lo minggir!!"
"Gue mau lo kasih gue satu kesempatan lagi, please. Gue akan buktiin kalau gue bukan seorang buaya."
Rili justru mencibir. "Buayanya mau berubah jadi seekor kadal, Iya? Sama-sama pendusta." Rili akan melangkahkan kakinya lagi tapi dengan cepat Zaki menarik lengan kiri Rili lalu secara spontan menciumnya.
Untung dengan cepat Rili menghindar hingga yang terkena bibir Zaki hanya sebelah bibirnya.
"Plak!!!" Satu tamparan keras kini didapat Zaki. "Lo jadi cowok kurang ajar banget!!"
"Gue cuma mau lo tahu, kalau gue itu cinta sama lo."
"Gak kayak gini caranya!!" Rili mendorong Zaki cukup keras agar memberinya jalan. Dia mengusap asal air matanya yang berhasil lolos lagi.
"Zaki, gila lo!!" Nana kini berlari menyusul Rili.
Alvin hanya bisa mengepalkan tangannya. Ingin dia menghajar Zaki tapi dia tahan karena dia tidak mau usahanya mendekati Dara sia-sia.
💞💞💞.
.
Waduh, Kak Rasya ternyata bucin dari kecil ya... 🤭🤭
Alvin tolong jangan sakiti Rili.. 😊 Nyusahin banget yak jadi orang. Bukan siapa-siapa tapi udah buat nyesek.. 🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Sedih ih thor,,mewek aku,,rasanya perih jadi rili,walau alvin pernah bilng itu demi kebaikan rili tapi rasanya sakit sprti disayat,patah hati,,alvin maaf agk kesel rasanya ni ma kamu walau tau alasanya,,rasya juga patah hati,,klian jadian tp du hati juga ada yg patah,,ah pokonya part ini bikin patah hati masal,,huhuhu😭😭
2022-12-01
1
Noviani
penasaran bgt sebenarnya apa si permasalahannya sampe jd rumit bgt kyknya..
semangat thor up lg yg bnyk episode nya juga tambahin🤭
2022-01-28
1
🎎 Lestari Handayani
bingung sama Alvin. apa sih maunya...
semangat terus Thor
2022-01-28
1